Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ujang tiba di rumah gadai Griya Harta Emas dengan selamat. Ia berhasil membawa cetak biru yang dibutuhkan, meski benaknya masih diliputi kecemasan luar biasa mengingat betapa tingginya risiko dari misi berbahaya ini.
Tak lama setelah Ujang tiba, Reyhan pun melangkah masuk ke dalam rumah gadai. Ia langsung bertanya pada Bibi Sinta mengenai keberadaan Gilang. Kebetulan, pada saat yang bersamaan Gilang juga baru saja tiba di rumah. Kondisinya nampak sangat mengenaskan,wajahnya babak belur bersimbah darah. Tanpa banyak bicara, Gilang melangkah pincang menaiki tangga menuju ruangannya di lantai dua.
Mata Ujang dan Reyhan membelalak lebar menyaksikan kondisi Gilang. Dengan sigap, Bibi Sinta menahan Reyhan dan memintanya untuk menunggu di bawah.
Di dalam kamar, Gilang segera melepas jasnya yang terkoyak. Tubuhnya yang atletis dan berotot kini dipenuhi lebam kebiruan, serta luka sayatan katana yang cukup menganga di bagian perut kirinya.
Gilang memejamkan mata erat-erat, menahan rasa sakit membakar yang menyengat di sekujur tubuhnya. Dengan tangan kanan yang gemetar hebat, ia meraih serbuk putih obat di atas kain lalu menaburkannya tepat di atas luka terbuka tersebut. Tangan kirinya berusaha menahan gulungan perban. Ia mendesis kesakitan, dadanya naik turun diiringi hembusan napas yang berat.
Bibi Sinta melangkah masuk dan segera menghampirinya. Ia mengambil alih gulungan perban baru dari tangan Gilang, lalu dengan hati-hati membantu memasang dan membalut luka di perut keponakannya itu.
“Apa sekarang kau akan sering terluka begini?” gumam Bibi Sinta pelan, matanya menerawang memikirkan marabahaya yang akan terus mengintai Gilang di masa depan.
Beberapa saat kemudian, Ujang menyusul naik ke lantai dua. Wajahnya memerah padam menahan murka melihat bosnya kembali dalam keadaan hancur babak belur. Ia sungguh tidak terima ada orang yang berani menyentuh Gilang.
“Astaga! Kurang ajar! Bajingan mana, hah, yang sudah berani melukai Mas Gilang begini?!” maki Ujang meledak-ledak.
Ujang berbalik berniat ngeloyor pergi. “Tunggu sebentar, aku akan melaporkan ini ke polisi!”
“Ayo ke rumah sakit dulu! Siapkan mobilnya!” perintah Bibi Sinta memotong langkah Ujang.
“Oh iya, benar! Rumah sakit! Iya, iya, benar!” gumam Ujang panik seraya menepuk jidatnya.
“Dan cetak biru gedungnya? Apa kau dapat?” potong Gilang dengan suara parau.
“Tentu saja aku dapat. Cetak birunya sudah ada di bawah,” jawab Ujang yang sudah mengamankan dokumen penting itu.
Gilang sama sekali tidak mempedulikan rasa perih luar biasa yang meremukkan perutnya. Ia bersikeras bahwa kondisinya baik-baik saja dan ingin segera bergerak mengeksekusi rencana malam ini juga. Ia mendesak Ujang untuk menunjukkan cetak biru tersebut sekarang.
Namun, Bibi Sinta langsung memarahinya. Di dalam benak Bibi Sinta, ia terus bertanya-tanya apakah perempuan itu jauh lebih penting daripada nyawa Gilang sendiri. Ia menatap Gilang tajam, menuntut pria itu untuk pergi ke rumah sakit terlebih dahulu.
“Disinfektan dan antibiotik tidak cukup untuk luka begini,” ucap Bibi Sinta pelan, suaranya sarat akan rasa cemas dan keputusasaan.
Gilang merawat lukanya seadanya lalu meraih kemeja putih bersih. Ia mengenakannya perlahan, memasang kancing bajunya satu per satu meski jemarinya gemetar menahan nyeri. “Kita tidak punya banyak waktu. Ini hampir jam sepuluh malam,” sergah Gilang dingin.
“Mas Gilang…” gumam Bibi Sinta pelan, hatinya teriris prihatin melihat luka parah yang disembunyikan keponakannya di balik kain kemeja.
“Tolong berikan cetak birunya!!” bentak Gilang keras, tidak mempedulikan lagi bujukan Bibi Sinta yang menyuruhnya berobat terlebih dahulu.
“Mas Gilang, tolonglah!!” balas Bibi Sinta membentak balik, matanya berkaca-kaca menahan emosi karena Gilang begitu keras kepala menantang maut.
Ujang yang berdiri di ambang pintu terpaku tak bergeming. Ia tak berani mengeluarkan sepatah kata pun, hanya bisa menyaksikan ketegangan yang terjadi.
“Memangnya apa yang lebih penting dari nyawamu sendiri, hah?! Apa yang membuat Emma pantas, hingga kau terluka dan bertaruh nyawa seperti ini?!” bentak Bibi Sinta lagi, meluapkan seluruh kegundahannya.
“Bibi Sinta…” gumam Gilang pelan, suaranya melembut namun menyiratkan keteguhan yang tak tergoyahkan.
“Aku tidak mau dengar! Diamlah dan ke rumah sakit dulu. Kau paham?!” bujuk Bibi Sinta setengah memohon, masih bersikeras menyelamatkan nyawa Gilang.
Gilang berbalik penuh menghadap Bibi Sinta. Ia menghela napas panjang dan berat. Ia tidak akan pernah membiarkan pihak Jepang merampas apa yang menjadi haknya dan rumah gadai ini.
“Benar. Kau benar, Bibi Sinta. Emma mungkin tidak ada artinya buatku. Tapi… para begundal itu memanfaatkan dia untuk merampas milikku! Mereka mengklaim milikku sebagai milik mereka tanpa rasa malu!” desis Gilang, tatapannya menyala menahan geram.
“Mereka mencuri negara kita, Gilang! Semua bisa dirampas oleh mereka!” timpal Bibi Sinta dengan nada bergetar.
Mata Gilang membelalak tajam. Ia terus menatap Bibi Sinta erat-erat sambil merapatkan kedua alisnya. “Benar. Tapi… aku mau mempertahankan milikku! Mereka bisa menghajar dan menjatuhkanku, tapi aku akan tetap berjuang demi apa yang menjadi hakku!”
Bibi Sinta menatap Gilang tanpa kedip. Matanya berkaca-kaca, tak mampu lagi menahan rasa haru sekaligus takut yang membuncah.
“Jika aku kabur saat diancam dan menuruti semua keinginan mereka…” Gilang mengernyitkan dahinya, nada suaranya makin menekan, “bagaimana aku bisa memberi mereka pelajaran? Iya, kan?!”
“Kau…” ucap Bibi Sinta sangat pelan. Air matanya kini benar-benar tergenang di sudut mata, menahan tangis yang hampir pecah. “Kau ditikam, Gilang! Lukamu itu parah, tahu! Hah?!”
“Luka begini tidak membuatku sakit,” Gilang menggelengkan kepala pelan dengan senyum tipis yang getir. “Yang membuatku sakit bukan sabetan pedang… tapi harga diriku.”
Kata-kata itu mengunci mulut semua orang. Mereka bertiga berdiri diam, dan suasana ruangan seketika menjadi senyap mencekam.
Di luar ruangan, Reyhan mendengarkan seluruh perdebatan itu dari balik pintu. Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, ia berbalik dan berjalan menjauhi pintu kamar. Ia terdiam menatap belokan menuju lorong.
Dari arah tangga, tampak Salsa sedang berjalan menghampirinya. Wanita itu terlihat anggun mengenakan gaun hijau tua, dipadukan dengan anting-anting hitam dan hiasan bulu burung gelap yang menghiasi kepalanya.
Ujang, Bibi Sinta, dan Gilang serentak menoleh saat melihat Reyhan melangkah kembali masuk bersama Salsa ke dalam ruangan.
“Kau Salsa, kan?” tanya Bibi Sinta memastikan, memecah kecanggokkan.
Salsa tersenyum tipis nan tenang. “Maaf aku bertamu larut malam. Sebenarnya ada yang ingin bertemu dengan Mas Gilang,” ujarnya pelan.
Gilang mengerutkan alisnya dalam-dalam. Siapa gerangan orang yang mencarinya malam-malam begini?
Salsa membalikkan badannya, terlihat sosok pria dibelakang punggung Salsa tengah berjalan pelan.
Astaga! Akhirnya!
Sachimoto melangkah memasuki ruangan. Ia mengenakan kemeja putih yang dilapisi jaket coklat rapi, dengan gaya rambut pendek klasik khas era 1940-an yang disisir klimis ke belakang dengan belahan samping. Pria Jepang itu berdiri diam sambil menundukkan kepalanya sejenak.
Gilang menatap Sachimoto dengan seksama, matanya memancarkan cahaya penuh harapan baru di tengah luka dan kepungan marabahaya malam itu.