السلام عليكم ورحمة الله وبراكته :)
Selamat datang di novel perdana saya...
Salam kenal semuanya yaa... Semoga para pembaca dapat menikmati karya saya dengan baik.
Novel ini menceritakan tentang seorang dosen wanita disebuah Universitas swasta. Dosen ini merupakan salah satu dosen terfavorit dikampus. Wajah yang anggun, cantik, dan menggemaskan membuat siapa saja yang melihatnya untuk pertama kali tidak percaya jika ia dosen. Selain dosen, ia juga seorang Hafidhoh.
Universitas swasta ini merupakan yang terbaik di Indonesia. Universitas ini dikelola oleh seorang dosen sekaligus rektor yang sangat luar biasa. Keren, tampan, pokoknya luar biasa deh... Ia menggantikan sang ayah yang awalnya menjabat sebagai rektor.
Bagaimana kisah mereka para penjaga hati yang sama-sama menolak untuk dekat atau berhubungan hati dengan lain jenis? Mereka yang sama-sama memiliki keilmuan agama yang kental.
#Muhammad Farhan Al-Faridz
Biasanya dipanghil Faridz oleh Anisa. Dan dipanggil Farhan oleh yang lain.
#Annisa Azzahra
Biasanya dipanggil Anisa/Ica/Anis
Mari kita simak bersama-sama kisah dalam novel ini.
#Selamat membaca
:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lhu-Lhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih di Jakarta
Pengumuman sedikit: Author minta maaf perihal cover, Author juga gak tahu kenapa bisa berubah sendiri. Author juga kecewa. Sama seperti kalian... Author masih menanyakan perihal ini kepada yang bersangkutan. Mohon bersabar...
Kaaan, jadi gak semangat mau up! Gegara kalian neror aku semua.
Aku gak sanggup dihujat gaeesss.....
Salam dari Lhu-Lhu yang hanya seonggok debu ditengah kebun bunga.
Masuk Part Nih:
Sinar mentari di kota Jakarta begitu menyengat kali ini. Anisa tengah memasukkan barang-barangnya kedalam koper. Tak banyak, makanya Anisa bisa cepat selesai.
Selepas membereskan barang-barangnya, Anisa pergi ke kamar para mahasiswa. Memastikan jika mereka telah berberes.
"Mbak, saya ke kamar adik-adik dulu yaa. Assalamu'alaikum". Pamit Anisa.
"Iya Nis, wa'alaikumussalam". Jawab Bu Reza yang tengah berberes.
Anisa menyusuri lorong hotel untuk menuju kamar para mahasiswa. Walaupun satu lantai, tapi jarak kamar mereka tak berdekatan.
CKLEK!
Suara pintu terbuka. Muncul sesosok Farhan dihadapan Anisa.
"Astaghfirullah!". Ujar Farhan kaget.
Anisa hanya diam mematung. Ia juga kaget sebenarnya. Kebetulan yang luar biasa.
"Kamu ngagetin aja Nis. Kamu kok bengong sih! Tersepona dengan saya ya?". Sambung Farhan dengan kepedeannya. Tumben sekali jiwa kepedeannya muncul.
"Aku juga kaget. Bukan terpesona. Ya udah mas, aku mau ke kamar adik-adik mahasiswa dulu. Assalamu'alaikum". Pamit Anisa.
"Wa'alaimumussalam. Habis beres-beres ke kantin yaa, kita sarapan". Jawab Farhan.
"Siap bos". Jawab Anisa dan berlalu ke kamar para mahasiswa.
"Permisi? Adik-adikku". Sapa Anisa dengan mengetok pintu. Anisa sengaja tak mengucapkan salam, sebab didalam kamar tersebut tidak semuanya muslim.
"Eh, kak Anisa? Mari masuk". Ujar Hasna.
"Assalamu'alaikum". Ucap Anisa pada Hasna.
"Wa'alaikumussalam". Jawab Hasna dengan senyumnya. Mereka memasuki kamar.
"Sudah siap semua? Astaghfirullah! Masih pada tidur?". Ujar Anisa melihat teman-teman Hasna yang tertidur pulas.
"Iya kak. Saya sudah membangunkan mereka, tapi malah tidur lagi". Jawab Hasna.
"Huufft. Hallo? Adik-adik, Eiji? Akira? Jasyi? Ayo bangun". Anisa berusaha membangunkan mereka.
"Hey? Kita kan mau berangkat ke Jombang. Ayo siap-siap. Kalian juga belum sarapan lhoo". Anisa sedikit mengguncangkan pundak mereka satu persatu dengan bantuan Hasna.
"Kaak, lima menit lagi". Ujar Akira.
"Ya sudah. Kalian gak dapat jatah sarapan hari ini". Ujar Hasna.
"Seharusnya kemarin kita gak usah ke Ancol. Kalau nggak ke Ancol, gak akan tidur seperti ini". Sambung Hasna. Hasna tak benar-benar menyalahkan keadaan. Ia hanya bercanda, agar teman-temannya segera bangun.
"Eh! Gak salah kok ke Ancol kemarin. Iya-iya, kami bangun. Weee! Bangun dong guys". Ucap Jasy.
"Nah, sekarang kalian mandi. Sambil nunggu giliran, kalian beresin dulu barang-barangnya". Ujar Anisa.
Mereka menuruti Anisa. Mereka mandi, sambil menunggu giliran, membereskan barang-barangnya. Anisa duduk di kursi yang telah disediakan. Sesekali mereka bercerita bersama.
Para mahasiswa memang begitu nyaman bercerita dengan terbuka pada Anisa. Mereka juga menanyakan solusi dari masalah yang mereka hadapi. Dengan senang hati Anisa membantunya.
Setelah semuanya beres, mereka pergi ke kantin.
"Lama sekali kalian? Masak jam 8 baru sarapan". Ujar Hasan.
"Maaf semuanya". Ucap Eiji.
"Mari kita sarapan. Setelah sarapan kita berangkat ke bandara ya. Supaya tidak terburu-buru nantinya". Ujar Farhan.
"Baik pak". Jawab mereka semua.
Selepas sarapan, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk mengambil barang.
Sesampainya di bandara mereka tak menunggu waktu lama. Mereka segera mencari tempat duduk masing-masing. Ketika Anisa hendak duduk,
"Mas Faridz?". Ujar Anisa.
"Kamu disini?". Tanya Farhan dengan menunjuk tempat duduk disampingnya. Anisa mengangguk.
"Mas, aku pengen di deket jendela". Ujar Anisa.
"Ya udah, sini. Kita tukaran tempat duduk". Jawab Farhan.
"Waaah! Makin nampak nih". Ujar Pak Anam yang duduk di sebrang mereka.
"Apa sih pak, gak usah ngada-ngada deh". Jawab Farhan.
"Saya doakan semoga lancar". Ujar Pak Anam.
"Gak usah ngelunjaak". Sambung Farhan.
Anisa hanya diam mendengarkan ujaran dua sejoli itu.
Setelah percakapan Farhan dan Pak Anam, belum ada percakapan sama sekai antara Farhan dan Anisa.
"Kamu kenapa diam terus?". Tanya Farhan.
"Ntar kalau kita ngobrol, diledekin lagi sama Pak Anam". Jawab Anisa.
"Permisi, minumannya mas, mbak?". Tawar seorang pramugari.
"Mau minum apa Nis?". Tanya Farhan pada Anisa.
"Emm, jus jeruk aja mas". Ujar Anisa.
Farhan mengambil jus jeruk untuk Anisa dan dirinya.
"Terima kasih mbak". Ujar Anisa. Pramugari itu mengangguk dan menuju ke penumpang lainnya.
"Peppeet terooos". Sindir Pak Anam sambil melihat Anisa dan Farhan.
Farhan dan Anisa hanya memutar bola mata dengan jengah.
Perjalanan selama satu jam, akhirnya mereka sampai di Jombang. Mereka disambut oleh Pak Afif, pimpinan Universitas bersama beberapa dosen lainnya.
Mereka menuju Universitas untuk melakukan penyambutan internal. Khusus untuk para dosen. Hari esok baru akan diadakan penyambutan resmi. Supaya mereka istirahat terlebih dahulu.
Tak lama acara penyambutan dilangsungkan hanya sekedar perkenalan biasa. Setelah mengantarkan para mahasiswa di penginapan, Anisa berencana pulang menggunakan gojek.
"Nak?". Panggil Ayah Farhan pada Anisa.
"Eh, Ayah?". Jawab Anisa. Ia menyalami Ayah.
"Bagaimana selama di Jakarta?". Tanya Ayah.
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar yah, apalagi diberi kesempatan untuk jalan-jalan, hehehe". Jawab Anisa.
"Farhan gimana?". Tanya Ayah lagi.
"Gimana... Maksudnya gimana apanya yah?". Tanya Anisa tak paham.
"Yaaaa, Abi kamu kan minta Farhan jagain kamu". Sambung Ayah.
"Alhamdulillah, Anisa masih utuh, hehehe". Jawab Anisa.
"Yuk, pulang sama Ayah. Ayah pengen ngantar kamu". Ujar Ayah.
"Anisa naik gojek aja yah, gak papa kok". Jawab Anisa.
"Ayah gak mau ditolak". Ujar Ayah.
Akhirnya Anisa menuruti Ayah.
"Kok tu anak malah deket sama Pak Afif sih? Dasar! Bukan hanya anaknya, bapaknya pun jadi". Gumam bu Anggun yang sedang memperhatikan Anisa dari ruangannya.
Mereka sesekali bercakap-cakap selama perjalanan. Terlihat sangat akrab sekali.
"Oh iya yah, Mas Faridz pulangnya gimana dong?". Tanya Anisa. Ia baru sadar jika mereka hanya pulang berdua dengan Ayah yang mengemudikan mobil.
"Hallah! Biarin ajah. Dia pakai mobil sendiri. Kemarin waktu berangkat, mobilnya ditaruh di kampus". Jawab Ayah.
"Nah! Sudah sampai". Ujar Ayah.
"Ayah, mau ke rumah dulu?". Tawar Anisa setelah turun dari mobil.
"Fif. Sini mampir dulu". Sambar Abi yang tiba-tiba di samping Anisa. Anisa menyalami Abi dan Abi mencium Anisa.
"Kenapa? Saya belum pulang sama sekali lho habis hari kampus". Jawab Ayah.
"Pengen curhat". Jawab Abi.
"Abi mah, nglawak aja deh. Udah tua masih curhat-curhatan". Ujar Anisa dengan tawanya.
"Heh! Ngawur. Abi belum tua. Anak Abi aja belum ada yang nikah kok". Jawab Abi.
Disambung dengan tawaan Ayah.
"Sudah-sudah. Ayo aku mau dengar curhatan kamu". Jawab Ayah.
Kami masuk ke rumah. Ayah dan Abi langsung ke teras belakang. Anisa mencari Umi, di dapur.
"Assalamu'alaikum Umi". Sapa Anisa.
"Wa'alaikumussalam, lhoo sudah pulang. Sama siapa? Dijemput kak Ical atau Abi?". Tanya Umi.
Anisa menyalami Umi dan berpelukan.
"Anisa diantar Ayah tadi. Tuh lagi curhatan sama Abi". Jawab Anisa.
"Oalah, ya sudah sana istirahat. Umi mau buatin minuman sama cemilan". Ujar Umi.
"Oke mi, oh iya! Hati-hati, nanti Abi berpaling sama Ayah, hahaha". Canda Anisa.
"Hus! Ngawur. Udah sana". Jawab Umi.
Anisa kembali ke kamarnya, sedangkan Umi membuatkan makanan dan minuman untuk tamu.
Bersambung....
Novel yg kubaca rata rata selalu visual nya artis manca negara.
Kalau gak Korea,China atau Turki.Toh orang lokal pun cantik cantik dan tampan.👍👍👍
selain hiburan baca novel sambil nuntut ilmu juga