NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.

PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertelan (Bag 11)

Suaranya begitu nyaring hingga membuat gendang telinga mereka perih. Getarannya terasa hingga ke lantai. Seolah-olah pemilik suara itu sedang berdiri tepat di balik pintu, siap menggergaji pintu itu menjadi dua kapan saja.

Krrrt... krrrt... srak!

"AKU TAHU KALIAN ADA DI SANA!!!"

Teriakan gaib itu meledak, beradu dengan suara mesin. Suaranya berat, garang, dan sangat akrab.

Deri menjerit ketakutan, memeluk kepalanya. "Itu lagi-lagi suara Anda Bos! Itu suara yang pernah kita dengar sebelumnya."

Sulaiman sendiri merinding hingga seakan pori-pori di tubuhnya membesar. Ia mengenali suaranya sendiri, tapi itu bukan dia. Seakan-akan kegaiban sedang mempertunjukkan versi gelap darinya. Versi yang sudah mati, yang menjadi bagian dari hutan ini.

"KELUAR!!! KITA HARUS MEMOTONG POHON!!!" teriak suara itu lagi.

Dan tiba-tiba...

Gedebuk! Gedebuk! Gedebuk!

Sesuatu yang berat menghantam pintu dari luar. Bukan dengan gergaji mesin, tapi seolah-olah seseorang sedang menendang ke pintu berkali-kali. Pintu bambu itu berderit kencang, anyamannya mulai longgar, dan tanah di luar tiba-tiba terdengar seperti sedang digilas alat berat.

"Jangan keluar! Jangan terpancing!" teriak Sulaiman, keringat dingin membasahi punggungnya. "Itu cuma suara! Itu ilusi! Kalau kalian keluar, kalian yang bakal dipotong!"

Tapi gangguan itu tidak berhenti. Malah semakin menjadi-jadi.

Suara gergaji mesin itu kini terdengar dari segala arah. Atas, bawah, kiri, kanan. Seolah-olah mereka sedang dikepung oleh ratusan gergaji mesin yang menyala serentak. Suaranya tumpang tindih, membentuk dengungan raksasa yang membuat kepala terasa mau meledak.

Dan di tengah kebisingan itu, muncul visualisasi yang mengerikan.

Melalui celah-celah dinding bambu dan jendela, mereka melihat bayangan di luar.

Bukan bayangan pohon. Tapi bayangan manusia yang sangat besar, hitam pekat, memegang benda panjang di bahu. Bayangan itu berjalan berkeliling, berhenti, lalu menebas ke arah angin. Gerakannya persis seperti gerakan penebang pohon.

Dan setiap kali bayangan itu menebas, terdengar suara SRAKK yang keras, disusul suara ranting patah, seperti ada pohon besar yang tumbang tepat di samping bangunan gubuk, padahal tidak ada pohon yang benar-benar tumbang.

"Makhluk itu mengincar kita..." gumam Deri histeris. "Dia mau memotong kita... mereka mau jadikan kita kayu..."

"DIAM DER! JANGAN BICARA SEMBARANGAN!" bentak Sulaiman, tapi suaranya tertelan oleh deru suara gergaji di luar yang menderu kencang.

Umar pun akhirnya menangis sejadi-jadinya.

"Heeeeaaa... Haaaaeeee..."

Sosok bayangan hitam itu mulai berjalan mendekati dinding. Langkah bebas gravitasinya berjalan lambat, kaku, seperti boneka arang yang menahan agar tidak patah.

"Dia mendekat! Dia mendekat!" Deri sudah kehilangan kendali. Ia pun ikut menangis dan menjerit tak karuan. "Bos! Halangi pintu! Jangan biarkan makhluk itu masuk! Hehhh hehhh!"

Sulaiman tahu, ini adalah ujian mental terberat mereka. Jika mereka menyerah pada rasa takut ini, mereka akan gila sebelum matahari terbit.

"Lihat aku! Lihat ayah, nak. Hey semua. Lihat aku...!!!!!" teriak Sulaiman sekuat tenaga, mencoba menembus kebisingan itu. Ia mencoba menyakinkan Umar putra kecilnya, lalu menepuk pipi Herman dan Deri keras-keras. "Fokus! Fokus pada api! Fokus pada suara napas kita sendiri! Itu semua bukan nyata! Itu cuma permainan jin! Hutan ini mau kita gila! Kita tidak boleh gila!"

Sulaiman lalu mengambil keputusan nekat. Ia tidak akan membiarkan suara-suara gaib itu mendominasi malam ini.

"KALAU MAU BISING, KITA BISING BERSAMA-SAMA!!!" teriaknya.

Dengan cepat, ia menarik engkol gergaji mesin miliknya sendiri.

TARAK! TARAK! WRRRRRRRRRRR!!!!!!!

Mesin oranye itu menyala dengan ganas. Suaranya meledak keras di dalam ruangan sempit itu, beradu dengan suara dari luar.

Sulaiman berdiri tegak di tengah api, memegang mesin yang menderu itu tinggi-tinggi. Wajahnya memerah, matanya memancarkan amarah yang tak terbendung. Ia berteriak di atas suara mesin.

"HEY!!! KALIAN PARA BANGKAI MATI!!! DENGAR!!! INI SUARA YANG ASLI!!! SUARA YANG BISA MEMOTONG KALIAN JADI DUA!!!"

Ia mengayunkan gergaji itu ke udara, ke dinding, ke segala arah.

"PERGI!!! PERGI DARI SINI!!! AKU BUKAN KAYU!!! PUTRAKU DAN TEMAN-TEMANKU BUKAN KAYU!!! KAMI MANUSIA!!! DENGAR ITU!!! KAMI MANUSIA!!!"

Keajaiban terjadi.

Seolah-olah terintimidasi oleh keberanian nekat Sulaiman, atau karena suara mesin asli itu lebih nyata dan keras, suara-suara gergaji dari luar perlahan mulai mereda. Satu per satu hilang.

Bayangan hitam mengerikan di luar sana berhenti bergerak. Lalu berdiri diam sejenak, sebelum perlahan-lahan memudar, larut kembali ke dalam kabut dan kegelapan malam.

Namun... mereka tidak pergi sepenuhnya.

Mereka hanya mundur. Menunggu.

Suara gergaji mesin misterius itu tidak hilang total. Ia berubah menjadi dengungan pelan di kejauhan. Seperti suara jangkrik tapi jauh lebih menyeramkan. Wrr... wrr... wrr... konstan, terus menerus, tanpa henti, menjadi latar belakang suara malam yang menyiksa telinga dan pikiran.

Mereka tahu, makhluk-makhluk itu masih di luar sana. Mengintai. Menunggu. Menunggu salah satu dari mereka menutup mata, atau menunggu kehabisan tenaga.

Sulaiman lalu mematikan mesinnya untuk menghemat bensin, tapi dengungan di luar tetap ada. Mereka terpaksa duduk bersandar satu sama lain, dengan Sulaiman mengasuh Umar putranya; mata mereka tetap terbuka lebar, tangan tetap menggenggam senjata.

Setiap kali ada angin berhembus, mereka melompat kaget. Setiap kali ada daun jatuh, jantung mereka copot. Suara wrrrr... wrrrr... itu terus menghantui pikiran mereka, masuk ke dalam alam bawah sadar, membuat mereka berhalusinasi.

Deri mulai berbicara sendiri, mengigau. "Jangan potong aku... aku mau pulang... pohonnya berdarah... jangan..."

Herman hanya bisa menunduk, matanya berkaca-kaca, dan ia berdoa agar waktu cepat berlalu.

Si kecil Umar, ia telah kembali lelap dalam tidurnya, wajah bulat mungilnya berkeringat dan tampak sangat kelelahan.

Sulaiman sendiri merasa kepalanya terasa berdenyut. Suara gergaji itu seolah sudah masuk ke dalam otaknya, berputar-putar, memotong-motong ingatannya. Ia melihat bayangan-bayangan wajah anak-anak yang sama sekali tak pernah ia kenal, melihat visual dirinya sendiri yang sedang menertawakan dirinya sendiri, dan juga melihat ular-ular yang berubah menjadi tangan manusia.

Ini adalah siksaan psikis murni. Tidak ada luka fisik, tapi jiwa mereka tersayat-sayat perlahan.

Berjam-jam mereka lewati dalam penyiksaan sunyi itu. Tubuh mereka kaku, dingin, dan bau. Tapi mereka bertahan. Bertahan karena satu alasan: Matahari.

Dan akhirnya...

Kukuruyuk...

Lagi-lagi, suara ayam misterius yang tidak diketahui dengan pasti asal usulnya, terdengar berkokok samar dari kejauhan.

Lalu disusul yang datang dari arah seberang yang berbeda. Kukuruyuk! Kukuruyuk!

Seketika itu juga, dengungan suara gergaji mesin yang terus menderu BERHENTI TOTAL.

Hening.

Hening yang sunyi senyap. Tidak ada suara apa pun. Seolah dunia mati sejenak.

Sulaiman mengangkat kepalanya perlahan. Umar yang ada di pangkuannya pun terbangun, "Apa sekarang kita sudah di rumah, ayah?" Tanyanya sedikit terkejut. "Pssstt, kamu tenang dulu nak." Balas ayahnya, sambil menyentuh matanya yang perih dan bengkak. Ia lalu berdiri menatap celah-celah dinding.

Warna hitam pekat di luar perlahan berubah menjadi biru kelabu. Kabut putih tipis mulai turun lagi, tapi kali ini tidak menyeramkan. Itu adalah kabut pagi yang biasa, seperti pagi yang mereka temui sebelumnya.

1
Mommy Dza
Baca sejak awal thor
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?
Mommy Dza
👍💪💪💪💪
Mommy Dza
Semangat
Mommy Dza
👍👍💪
Mommy Dza
😱🥹
Mommy Dza
😱😱😵‍💫 Lariii
Mommy Dza
Teror baru dimulai
Mommy Dza
Wah penasaran dgn akhir ceritanya
Mommy Dza
Semangat Thor 💪
Mommy Dza
Waahhhh 💪
Mommy Dza
🥹🥹 Waahhh
Mommy Dza
Lanjut 💪
Mommy Dza
Horor
Mommy Dza
Teror baru dimulai 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!