Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Lembah di kaki Gunung Sandaran menyimpan sebuah danau besar yang airnya tenang bagaikan cermin raksasa. Namanya Danau Sunyi. Di sinilah Ki Kusumo berhenti. Ia duduk di atas batu besar, meminum sisa arak dari botolnya, lalu menunjuk ke tengah danau.
"Ujian Kedelapan. Ujian terakhir sebelum kau benar-benar berbaur dengan manusia," suaranya datar. "Seberangi danau ini. Sampai ke tepian seberang. Syaratnya sederhana: kakimu tidak boleh basah kuyup."
Aku menatap permukaan air itu. Jaraknya sekitar lima ratus meter. "Hanya itu? Aku bisa melakukannya dengan sekali lompatan, Ki."
Ki Kusumo tertawa meremehkan. "Coba saja."
Aku mengambil ancang-ancang. Dengan sekali sentak, tubuhku meluncur ke depan. Namun, saat kakiku menyentuh permukaan air, permukaan itu mendadak tidak stabil. Airnya tidak menahan berat tubuhku, melainkan beriak hebat, menciptakan pusaran yang menghisap kakiku ke dalam.
Byur!
Aku jatuh tenggelam sampai pinggang sebelum berhasil melompat kembali ke daratan dengan napas terengah-engah. Celanaku basah kuyup.
"Kau menggunakan ototmu," ucap Ki Kusumo tanpa menoleh. "Air adalah zat yang paling tidak stabil di dunia. Jika kau mencoba menahannya dengan kekuatan fisik, kau akan tenggelam. Jika kau mencoba melawannya, dia akan menelanmu. Kau harus menjadi bagian dari air itu sendiri."
Aku berdiri, memeras air dari kain rami yang kupakai. Aku mengatur napas. Level 6-ku, Tahap Inti Sejati, memungkinkanku mengendalikan energi di sekitar, tapi menyeimbangkan berat tubuh di atas permukaan cair adalah perkara kontrol frekuensi, bukan sekadar tenaga.
Aku mencoba lagi. Kali ini, aku tidak memusatkan energi di otot kaki. Aku melepaskan aura tipis dari Inti Sejati di dadaku, membiarkan energi itu menyebar ke telapak kakiku dan menciptakan bantalan udara yang tipis namun padat di atas permukaan air.
Aku melangkah.
Plak.
Kakiku menapak. Air di bawahnya bergetar, tapi tidak tenggelam. Aku mengambil langkah kedua. Kali ini lebih mantap. Namun, saat aku mencapai tengah danau, angin mulai bertiup. Permukaan air menjadi tidak rata. Keseimbanganku goyah. Pusaran air di bawahku mulai menarik energi yang kuciptakan.
Srett!
Aku kembali tergelincir. Kali ini, aku sengaja tidak melompat. Aku membiarkan diriku merosot hingga air mencapai lutut, lalu dengan cepat menyalurkan Qi Level 6-ku untuk membekukan riak air di bawah telapak kakiku dalam milidetik. Aku berdiri tegak di atas permukaan yang bergetar itu.
"Jangan hanya berdiri, Qinar! Bergeraklah!" teriak Ki Kusumo dari kejauhan.
Aku mulai berlari. Setiap langkah adalah koordinasi yang presisi. Aku menyalurkan energi ke telapak kaki sebelum menyentuh air, lalu menariknya kembali tepat saat aku akan melangkah ke depan. Ritmenya harus sempurna. Jika detak jantungku sedikit saja tidak sinkron, aku akan ambles.
Semakin cepat aku berlari, semakin ringan tubuhku. Aku merasa seolah gravitasi telah kehilangan pegangannya padaku. Di langkah ke seratus, aku tidak lagi merasakan air di bawah kakiku. Aku merasa sedang berlari di atas lantai marmer yang elastis.
Aku mencapai tepian seberang dengan sekali lompatan terakhir yang anggun. Aku mendarat di atas rumput tanpa meninggalkan jejak air sedikit pun di kainku.
Ki Kusumo muncul di sampingku hanya dalam satu kedipan mata, entah bagaimana dia bisa berpindah tempat secepat itu. Ia menatap celanaku yang kering, lalu menatap mataku yang kini memancarkan cahaya perak keunguan.
"Kau hampir mencapai batas itu, Qinar," bisik Ki Kusumo. "Hanya tinggal selangkah lagi. Satu lonjakan terakhir, dan kau akan menyentuh ambang batas Kultivator setengah dewa."
Aku menatap tanganku. Di balik kulit itu, aku bisa merasakan detak energi yang begitu besar, seolah-olah ada naga yang sedang tertidur di dalam sumsum tulangku. Sembilan tahun. Aku sudah menempuh perjalanan yang bagi orang biasa mungkin membutuhkan waktu seratus tahun.
"Apa yang harus kulakukan untuk level terakhir itu, Ki?" tanyaku dengan suara tenang.
Ki Kusumo menatap cakrawala di mana gerbang kota sudah mulai terlihat siluetnya. "Kau tidak perlu melakukannya di sini. Kau akan menemukannya di tengah hiruk-pikuk manusia. Sekarang, lepaskan aura emasmu. Kita berjalan sebagai orang biasa."
Aku menekan pusat energiku, menutup semua pancaran kekuatan yang kubangun selama bertahun-tahun hingga aku tampak seperti bocah biasa yang lemah. Kami mulai berjalan kaki menuju Gerbang Utara Kerajaan Geedapa yang sudah terlihat di depan mata.