Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 09
SEDIKIT DEMI SEDIKIT
Matteo menyeringai kecil melihat kepergian Aria dan melihat mimik wajah Loren yang seolah tengah menahan emosi.
“Jadi... Kau menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab. Apa dia benar-benar hamil?” kata Matteo yang masih duduk santai dan menatap pria berkemeja hitam yang berdiri di depannya saat ini.
Lorenzo menatapnya diam, tatapan yang santai seolah menikmati semuanya.
“Apa?” tanya heran Matteo yang sejak tadi ditatap oleh Lorenzo.
Pria itu memperhatikan sejenak kamar tersebut, lalu kembali menatap adik tirinya. “Kau punya pistol?”
“Aku menaruhnya di mobil.”
Lorenzo kembali diam beberapa detik. “Katakan kepada yang lain, untuk tidak membuka suara kalau kau yang menghamilinya. Jika tidak, maka kau yang akan mati.” kata Loren sekedar memberi peringatan.
Matteo tersenyum kecil. “Kenapa kau tidak menghabisi nya saja? Lagi pula aku tidak bisa mengingat wajah wanita itu.” ucap Matteo dengan entengnya.
Namun ucapannya itu membuat Lorenzo diam menatapnya. Hingga ia seketika mengeluarkan pistol dari belakang tubuhnya dan mulai memeriksa peluru.
Tapi hal itu malah membuat Matteo terkejut hingga sontak menatap Loren dengan sedikit tubuh yang mundur nan waspada ketika pria itu berjalan mendekat sambil berkutat pistol.
“Ap-apa yang sedang kau lakukan?” tanya Matteo dengan was-was.
Lorenzo langsung meletakkan pistol itu ke nakas panjang. “Kau tahu setiap orang di rumah ini membawa pistol untuk berjaga, tak terkecuali.” ujar Loren mengingatnya.
Matteo terpaku saat Lorenzo menatapnya dingin. “Berhati-hatilah.” lanjutnya sebelum akhirnya Loren berbalik badan menuju ke pintu sambil berkata. “Jauhi istriku.”
Tentu saja Matteo langsung memejamkan matanya.
Untuk sesaat dia pikir Lorenzo benar-benar berbuat gila dan nekat. Karena dia tahu, pria itu ditakuti dirumah ini, apalagi ketika marah.
.
.
.
Berada di kamar, Monica dengan piyama hitamnya, kini dia berdiri saat melihat suaminya baru saja masuk dengan pakaian kemeja putih.
“Kau belum tidur?” tanya tegas Emilio.
“Belum.” jawab Monica yang kini dia diam sembari memperhatikan gerakan suaminya yang mulai membuka vest nya hingga pergi ke kamar mandi, setelah itu keluar dalam piyama hitam senada dan duduk di kursi singel, menikmati segelas beer.
Sadar sejak tadi Monica menunggunya, pria itu menatap wanita paruh baya yang masih awet muda itu.
“Kau ingin bertanya apa?”
Monica menghela panas nafasnya dan duduk berhadapan dengan Emilio. “Soal wanita yang Lorenzo nikahi.”
“Ada apa dengannya?”
“Kita tahu, Loren tidak pernah menutupi apapun darimu. Apa wanita itu... wanita yang dihamili oleh Matteo?” tanya Monica dengan penasaran dan hati-hati.
Emilio meletakkan gelasnya, lalu menatap lurus.
“Ya.”
“Kenapa dia tidak menghabisi nya saja? Bukankah Lorenzo tidak ingin terikat dalam pernikahan.” tegas Monica yang nampak panik sendiri.
pria tua itu berkerut alis menatap istrinya. “Kau terdengar lebih kejam jika membunuh wanita hamil. Matteo yang menghamilinya, tapi Lorenzo yang harus menanggungnya. Dan sekarang...” nada suara Emilio tinggi di akhir kalimatnya. “Apa yang kau takutkan sebenarnya, Monica?”
Wanita itu langsung diam dan tak berani menatap suaminya.
“20 tahun apa itu tidak cukup untuk menekan putra Leonor. Jangan membuat ku sakit kepala dengan sikap aroganmu itu.”
”Aku tidak arogan, Emilio. Aku tidak takut.” balas Monica dengan tegas dan tatapan marah.
“Kita juga sudah tahu sendiri. Alasan kenapa Lorenzo tidak akan menikah, karena dia tidak boleh punya keturunan! Ini kesepakatan kita, Emilio!” kata Monica yang mulai berdiri, sementara Emilio masih duduk dan menatapnya marah.
“Aku membiarkannya menjadi pewaris de Santos, tapi sebagai gantinya, keturunan Matteo yang akan meneruskannya jika dia tewas suatu hari nanti. Itu sudah adil untukku, dan untuk istri pertama mu, Leonor.” kata Monica dengan kesal dan akhirnya keluar dari kamar.
Kini, Emilio benar-benar lelah dengan semuanya. Masa lalu masih menghantuinya, meski apa yang Monica ucapkan itu benar. Dia sudah berjanji dan harus memberikan hak yang adil juga pada Monica.
Sementara di kamar lain. Aria baru saja mengganti bathrobe dengan piyama dress diatas lutut, warna hitam, dengan rompinya berlengan panjang yang baru ia ikat area pinggang nya.
Cklek!
“Lain kali, mintalah bantuan pada pelayan atau siapapun sebelum kau menyesali sesuatu, Nyonya Vence.” tegas Lorenzo yang tiba-tiba masuk dan langsung menyambar bak petir hingga mendekatinya.
Aria menatap dalam mata marah itu. “Aku tidak pernah dan tidak akan menyesali apapun, karena penyesalan terbesar dalam hidupku adalah kau, Tuan de Santos.” balas Aria yang berbalik ke arah meja rias. “Dan berhentilah memanggil ku Vence, karena sekarang aku adalah Nyonya de Santos.”
“Kalau begitu berhentilah memanggil ku de Santos. Karena namaku Lorenzo de Santis.” tegas pria itu menatap tajam lewat pantulan cermin dan membuat Aria menatap balik sedikit tercengang karena nama Loren berbeda sendiri.
“Kau mau ke mana?” tanya Aria ketika melihat pria itu hendak keluar.
Namun Loren tak membalasnya dan langsung pergi. Tentu saja Aria mencibir kesal, hingga ia mulai mual dan segera pergi ke kamar mandi.
Selang beberapa detik, dia muntah. Kini wanita itu memegangi perutnya yang benar-benar merasa tak enak sekali. “Ada apa dengannya?” gumam Aria terheran akan janin di dalam perutnya.
“Beritahu aku, apa yang kau mau?” tanya nya menatap perutnya sendiri dengan heran.
Tak ingin merasakan sesuatu yang tak enak diperutnya, akhirnya Aria memutuskan untuk berbaring di kasur empuk. Ia terdiam memandangi atap, lalu menatap sekeliling ruangan tersebut yang nampak elegan, bersih dan tenang. Tidak ada warna cerah seperti di kamarnya.
Ia memejamkan matanya. -‘Ibu, kau menginginkan seorang cucu, dan aku sudah memiliki yang kau mau. Walaupun dengan cara yang tidak kumau.’ batin Aria yang mengingat akan ibunya. sudah 9 bulan ibunya meninggal.
***
Mobil hitam melaju kencang di malam hari. Lorenzo terdiam, sementara Fabio fokus menyetir dalam tenang.
“Anda yakin tidak perlu membawa pasukan?”
“Untuk apa? Kita hanya akan bernegosiasi dengan mereka. Jika itu gagal, maka tinggal membunuh atau dibunuh.” ujar Lorenzo seperti seseorang yang bosan hidup.
Mendengar itu, Fabio melirik sekilas ke bosnya, seakan-akan dia tak terima bila hal itu terjadi.
“Lalu bagaimana dengan rencana awal, Tuan? Bagaimana jika kehamilan nyonya Aria terbongkar?” tanya Fabio yang mulai cemas, karena semua itu tidak akan bertahan lama.
“Aku hanya menunggu anak itu keluar, Fabio. Setelah itu semuanya aman. Hanya 9 bulan, 9 bulan.” ujar Lorenzo yang mengernyit dan menoleh ke jendela mobil.
Pria rambut cepak bernama Fabio itu mengerti, dia hanya perlu menunggu perintah dari Lorenzo saja. 9 bulan sangatlah sebentar bagi mereka yang tidak menunggu, tapi 9 bulan bagi Lorenzo seperti sebuah lingkaran bahaya.
Apalagi dia harus menjaga anak di dalam perutnya Aria hingga benar-benar lahir dengan sehat.