NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Puncak Gunung Es

Fajar baru saja menyingsing di cakrawala Kota Oksis ketika Arlan sudah berdiri di depan gerbang utara kota. Udara pagi itu terasa sangat tajam, membawa aroma es yang berasal dari pegunungan jauh di utara. Arlan mengenakan jubah wol kasar yang baru saja dia beli kemarin menggunakan sisa uang peraknya. Di pundaknya, dia memanggul sebuah tas kulit berisi perbekalan makanan kering, botol air, dan bahan kimia yang dia dapatkan dari toko Timbangan Emas. Meskipun tubuhnya masih terasa sedikit kaku akibat pertarungan di gang semalam, Arlan merasa jauh lebih segar. Energi dari Gerbang Kedua yang mulai stabil di dalam tubuhnya memberikan kemampuan regenerasi yang jauh melampaui manusia biasa.

Kakek tua itu muncul dari balik bayangan menara penjaga dengan tangan yang masih memegang sepotong dendeng daging. Dia menatap Arlan dengan pandangan yang tajam, seolah sedang memeriksa kesiapan mental muridnya itu. Kakek itu tidak membawa barang bawaan apa pun, seolah olah dia hanya sedang ingin pergi berjalan-jalan santai di taman. Namun, Arlan tahu bahwa di balik penampilan santai itu, sang kakek adalah sosok yang bisa menempuh jarak ratusan mil tanpa berkeringat sedikit pun.

"Perjalanan ke Puncak Gunung Es akan memakan waktu tiga hari jika kita berjalan dengan kecepatan normal," ucap kakek itu sambil mulai melangkah keluar dari gerbang kota. "Tapi aku tidak ingin kita sampai di sana dalam tiga hari. Aku ingin kita sampai di sana besok malam. Itu berarti kamu harus berlari mendaki gunung tanpa berhenti sedetik pun."

Arlan tidak membantah. Dia sudah tahu bahwa setiap kata dari kakek ini adalah sebuah bentuk latihan. Arlan segera menyesuaikan langkahnya, mengikuti kakek itu yang mulai bergerak dengan kecepatan yang konstan. Mereka meninggalkan hiruk pikuk Kota Oksis dan mulai memasuki wilayah kaki pegunungan yang gersang. Tanah di sini tidak lagi ditumbuhi rumput hijau, melainkan bebatuan tajam dan pasir kelabu yang kering.

Seiring mereka mendaki lebih tinggi, suhu udara mulai turun secara drastis. Angin yang bertiup tidak lagi sekadar dingin, namun terasa seperti silet yang mengiris kulit wajah Arlan. Di sinilah Arlan benar-benar menguji kegunaan Gerbang Kedua. Gerbang Istirahat memungkinkannya untuk mengatur distribusi panas di dalam tubuhnya. Dia memusatkan aliran darahnya agar tetap hangat di organ-organ vital, sementara saraf di permukaan kulitnya dibuat sedikit mati rasa agar rasa sakit akibat kedinginan tidak mengganggu fokusnya.

"Ingat, Arlan," suara kakek itu terdengar jelas di tengah desiran angin kencang. "Gerbang Ketiga yang akan kita buka di puncak nanti disebut sebagai Gerbang Kehidupan. Gerbang ini terletak di dekat jantung. Jika Gerbang Pertama meningkatkan kekuatanmu dan Gerbang Kedua memberikan stamina, maka Gerbang Ketiga akan memberikanmu kendali atas energi kehidupan itu sendiri. Kamu akan bisa memulihkan luka luar secara instan, namun risikonya sangat besar. Jika jantungmu tidak cukup kuat menahan tekanan energinya, kamu akan meledak dari dalam."

Arlan mendengarkan sambil terus mengatur napasnya yang mulai beruap. Di kehidupan sebelumnya, Adit pernah mendengar pepatah bahwa apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat. Di dunia ini, pepatah itu adalah sebuah hukum yang mutlak. Dia tidak takut akan kematian. Dia justru lebih takut jika harus kembali menjadi orang yang lemah dan tidak bisa melindungi apa yang dia miliki.

Memasuki hari kedua perjalanan, medan yang mereka lalui menjadi semakin berbahaya. Mereka harus melewati jembatan es alami yang sangat licin di atas jurang yang dalamnya tidak terukur. Arlan harus menggunakan jari-jari tangannya untuk mencengkeram dinding es yang membeku. Tangannya yang tidak menggunakan sarung tangan mulai membiru, namun dia terus menekan energinya untuk menjaga agar aliran darahnya tidak berhenti membeku.

Di tengah pendakian yang melelahkan itu, Arlan tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Berkat indra yang dipertajam oleh Gerbang Kedua, dia merasakan ada getaran halus di udara yang tidak berasal dari angin. Ada seseorang atau sesuatu yang sedang mengikuti mereka dari jarak yang cukup jauh di bawah sana. Arlan tidak langsung menoleh. Dia tetap bergerak mengikuti kakek tua itu, namun fokusnya kini terbagi.

"Kakek, kita diikuti," bisik Arlan saat mereka sedang berhenti sejenak di sebuah gua kecil untuk menghindari badai salju sesaat.

Kakek tua itu terkekeh sambil menyandarkan punggungnya ke dinding gua. "Aku tahu sejak kita keluar dari gerbang kota. Mereka adalah Ksatria Bayangan dari kerajaan. Sepertinya kabar tentang keponakan jenderal pengkhianat yang memiliki kekuatan aneh sudah sampai ke telinga raja."

Arlan mengepalkan tangannya. "Apakah mereka kuat?"

"Jauh lebih kuat daripada preman yang kamu hadapi di gang itu," jawab kakek itu santai. "Mereka dilatih khusus untuk membunuh tanpa suara. Mereka memiliki berkah tipe bayangan dan menggunakan mana yang sudah dimurnikan. Tapi jangan khawatir, mereka tidak akan menyerang saat kita masih di lereng ini. Mereka sedang menunggu saat kita sudah mencapai puncak dan dalam kondisi paling lemah setelah mencoba membuka Gerbang Ketiga."

Arlan menatap ke luar gua, ke arah kabut salju yang putih pekat. Di kehidupan lamanya, Adit selalu merasa cemas saat tahu ada pesaing yang sedang merencanakan sesuatu di belakangnya. Namun sekarang, Arlan justru merasa tenang. Mengetahui ada musuh yang mengincar justru membuatnya semakin waspada dan tidak ceroboh.

"Biarkan mereka datang," ucap Arlan dingin. "Aku akan menggunakan darah mereka untuk menghangatkan tubuhku di puncak nanti."

Kakek itu tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Arlan. "Itu semangat yang bagus! Tapi untuk sekarang, hemat lah energimu. Kita akan memulai pendakian terakhir menuju Puncak Gunung Es. Area di depan adalah wilayah tanpa oksigen yang cukup. Kamu harus bisa bernapas menggunakan energi internal mu sendiri."

Mereka keluar dari gua dan melanjutkan perjalanan. Tanjakan yang mereka hadapi kini hampir vertikal. Arlan harus memanjat menggunakan kekuatan otot tangan dan kakinya sepenuhnya. Setiap tarikan napas terasa sangat berat, seolah olah dia sedang menghirup pecahan kaca yang menusuk paru parunya. Dinginnya udara di sini sudah mencapai tingkat di mana air ludah akan membeku sebelum menyentuh tanah.

Di bawah bimbingan kakek tua, Arlan mulai mempraktikkan teknik pernapasan batin tingkat lanjut. Dia tidak lagi mengambil udara dari luar secara besar besaran, melainkan memutar kembali sisa oksigen di dalam darahnya menggunakan tekanan energi dari Gerbang Kedua. Ini adalah proses yang sangat menyakitkan karena menciptakan tekanan tinggi di dalam pembuluh darahnya, namun ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di ketinggian seperti ini.

Setelah melalui perjuangan yang sangat berat selama belasan jam, mereka akhirnya mencapai sebuah dataran datar yang luas di puncak pegunungan. Tempat itu disebut sebagai Altar Es. Di tengah dataran tersebut terdapat formasi batu kristal alami yang memancarkan cahaya biru yang sangat indah namun mematikan. Suhu di sini sangat ekstrem sehingga salju pun tidak bisa jatuh ke tanah; salju itu langsung menguap menjadi kristal es kecil yang melayang di udara.

Arlan berdiri di tengah Altar Es itu. Tubuhnya tertutup oleh lapisan es tipis di sekujur pakaiannya. Dia merasa seluruh tubuhnya mati rasa, kecuali bagian dadanya di mana jantungnya berdetak dengan sangat kencang.

"Inilah tempatnya," ucap kakek itu dengan nada bicara yang berubah menjadi sangat serius. "Arlan, duduklah di tengah formasi kristal itu. Aku akan membantumu mengarahkan energi alam ke dalam tubuhmu untuk memancing terbukanya Gerbang Ketiga. Tapi ingat, saat proses dimulai, rasa sakitnya akan seratus kali lipat dari apa yang pernah kamu rasakan. Jika kamu kehilangan kesadaran sedikit saja, jantungmu akan berhenti berdetak selamanya."

Arlan berjalan menuju tengah formasi kristal. Dia melepas jubah wolnya, menyisakan pakaian tipis di tubuhnya agar energi es bisa bersentuhan langsung dengan kulitnya. Dia duduk bersila, menutup matanya, dan mulai melakukan meditasi.

"Kakek," ucap Arlan tepat sebelum dia memasuki kondisi meditasi dalam. "Jika Ksatria Bayangan itu menyerang saat aku sedang berproses, jangan bantu aku. Aku ingin tahu apakah insting bertahan hidupku cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri saat aku sedang berada di ambang kematian."

Kakek tua itu terdiam sejenak, lalu dia mengangguk pelan. "Baiklah, bocah keras kepala. Aku akan menjaga area luar, tapi apa yang terjadi pada tubuhmu adalah tanggung jawabmu sendiri."

Seketika, kakek itu meletakkan tangannya di atas kepala Arlan. Energi yang sangat besar, sejuk namun tajam, mulai mengalir masuk ke dalam ubun-ubun Arlan. Di saat yang sama, kristal-kristal es di sekeliling mereka mulai bercahaya terang, merespons aliran energi tersebut.

Arlan merasakan seolah olah seluruh darah di tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi es yang mengalir. Rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya, tepat di lokasi Gerbang Ketiga berada. Dia merasa jantungnya dipaksa untuk berdetak jauh lebih cepat dari batas normal. Arlan menggigit bibirnya hingga pecah, mencoba mempertahankan kesadarannya di tengah serangan rasa sakit yang membabi buta.

Di kegelapan di sekitar Altar Es, tiga sosok bayangan mulai muncul dari balik bebatuan. Mereka mengenakan pakaian khusus yang mampu menyerap cahaya dan mana mereka hampir tidak terdeteksi. Mereka adalah pembunuh terbaik kerajaan, dan mereka sedang menatap Arlan yang sedang dalam kondisi paling rentan dengan mata yang haus akan darah.

Badai es besar mulai menderu di puncak gunung, mengiringi awal dari perjuangan hidup dan mati Arlan untuk membuka Gerbang Kehidupan. Di kehidupan keduanya ini, Arlan sekali lagi harus menantang maut untuk mendapatkan haknya untuk tetap berdiri tegak di atas dunia yang mencoba menghancurkannya.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!