Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Sore itu, suasana di kediaman Mettond yang biasanya tenang berubah menjadi tegang. Liam dan Angelina baru saja tiba dengan keadaan basah kuyup. Liam telah meminta pelayan untuk segera membawakan handuk hangat dan menyiapkan air panas untuk Angelina. Ia sendiri bahkan belum sempat mengganti pakaiannya yang lembap, masih sibuk memastikan Angelina tidak terserang flu.
Namun, ketenangan itu hancur saat suara derit ban mobil yang mengerem mendadak terdengar dari halaman depan. Tak lama kemudian, pintu utama terbuka dengan kasar.
"Liam! Liam Cavanaugh!"
Suara Clarissa melengking, bergema di langit-langit tinggi mansion Mettond. Ia masuk dengan wajah memerah, napas tersengal, dan mata yang berkilat penuh amarah. Di tangannya, ia meremas tas desainer mahal, sementara tumit sepatunya berbunyi tajam saat ia melangkah menuju ruang tengah di mana Liam sedang menyelimuti bahu Angelina dengan kain tebal.
Liam berdiri, menghalangi pandangan Clarissa dari Angelina. "Clarissa? Kenapa kau ke sini dengan cara seperti ini?"
"Cara seperti ini? Kau tanya kenapa?!" Clarissa berteriak, mengabaikan fakta bahwa ada beberapa pelayan yang memperhatikan. "Kau menutup teleponku, Liam! Kau membiarkanku bicara sendiri seperti orang gila, lalu kau mematikan ponselmu! Kau tahu betapa malunya aku menunggu penjelasanmu?!"
"Ponselku rusak, Clarissa. Terjatuh ke dermaga karena aku harus menolong Angelina," jawab Liam dengan nada suara yang rendah namun sarat akan peringatan. "Dia tenggelam. Dia hampir celaka."
Clarissa tertawa sumbang, sebuah tawa sinis yang membuat Angelina—yang sedang duduk di sofa—sedikit mengerutkan kening. Clarissa melangkah maju, mencoba mengintip ke arah Angelina yang nampak pucat.
"Tenggelam? Atau sengaja menjatuhkan diri?" tuduh Clarissa tajam. "Aku tidak bodoh, Liam! Aku melihat bagaimana dia selalu menempel padamu. Dan sekarang? Di danau yang tenang itu, seorang gadis yang tumbuh besar di sana tiba-tiba 'tergelincir' tepat saat kau sedang bicara denganku? Itu trik murahan, Angelina!"
Angelina tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan selimutnya, menunduk dalam hingga rambutnya yang masih lembap menutupi wajahnya. Bahunya bergetar sedikit—bukan karena takut, tapi karena ia sedang menata emosinya.
"Jaga bicaramu, Clarissa!" bentak Liam. Suaranya menggelegar, membuat Clarissa tersentak mundur. "Kau menghina adikku di rumahnya sendiri? Kau menuduhnya melakukan hal berbahaya hanya untuk perhatian? Kau benar-benar sudah gila karena cemburu."
"Aku tidak cemburu, aku realistis!" Clarissa membalas, air mata mulai menggenang karena harga dirinya terluka dibentak oleh Liam di depan saingannya. "Dia parasit, Liam! Seperti kata teman-temannya di sekolah, dia hanya benalu yang tidak tahu kapan harus melepaskanmu! Dia sengaja melakukan ini agar kau merasa bersalah dan tetap berada di bawah ketiaknya!"
"CUKUP!"
Bukan Liam yang berteriak kali ini. Angelina berdiri dari sofa. Ia melepaskan selimutnya, menatap Clarissa dengan mata yang berkaca-kaca—sebuah tatapan yang nampak sangat terluka dan rapuh.
"Tante Clarissa... maafkan aku," suara Angelina bergetar, ia sengaja menggunakan panggilan 'Tante' yang terdengar sopan namun menjauhkan jarak, sekaligus mengingatkan Clarissa bahwa dia adalah orang luar di lingkaran ini. "Aku benar-benar tergelincir. Aku tidak bermaksud mengganggu kencan telepon kalian. Aku... aku hanya takut tadi."
"Jangan panggil aku Tante! Kita seumuran!" Clarissa mendesis marah.
"Liam, biarkan dia," Angelina menyentuh lengan Liam dengan jari-jarinya yang dingin. "Mungkin Clarissa benar. Aku terlalu sering merepotkanmu. Sebaiknya kau pergi bersamanya sekarang. Aku tidak apa-apa sendiri di sini."
Melihat Angelina yang begitu 'pasrah' dan 'baik hati' justru membuat amarah Liam mencapai puncaknya. Ia melihat betapa tulusnya Angelina (dalam penglihatannya) dan betapa jahatnya serangan Clarissa.
"Kau dengar itu?" Liam menoleh ke Clarissa. "Dia masih memikirkanmu bahkan setelah kau menghinanya. Pulanglah, Clarissa. Aku tidak ingin melihatmu atau bicara denganmu untuk saat ini. Hubungan kita... kita butuh waktu untuk berpikir."
Clarissa membelalak. "Kau memutuskan aku? Demi dia?!"
"Aku memintamu pergi karena kau sudah kehilangan rasa hormatmu pada orang yang paling berharga bagiku," tegas Liam.
Clarissa menatap Liam dengan benci, lalu beralih ke Angelina yang kini berdiri di belakang bahu Liam. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Clarissa melihat sesuatu yang tidak dilihat Liam. Di balik wajah polos dan air mata Angelina, ada sebuah kilat kemenangan yang dingin. Sebuah senyum miring yang sangat tipis yang hanya ditujukan untuk Clarissa.
Clarissa tersadar. Ia sedang dijebak. Tapi sudah terlambat. Liam sudah memalingkan wajah darinya.
"Kau akan menyesal, Liam! Gadis ini akan menghancurkanmu!" teriak Clarissa sebelum berbalik dan lari keluar dari mansion Mettond sambil menangis sesenggukan.
Suasana kembali hening. Liam menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berbalik dan kembali memeluk Angelina. "Maafkan dia, Angel. Aku tidak tahu dia bisa sekasar itu."
"Tidak apa-apa, Liam. Dia hanya sangat mencintaimu," bisik Angelina di dada Liam.
Wajahnya tersembunyi, sehingga Liam tidak bisa melihat bahwa air mata yang tadi ada di pipi Angelina kini sudah kering. Angelina tersenyum di dalam dekapan Liam. Clarissa sudah melakukan kesalahan fatal: dia menunjukkan taringnya terlalu cepat di depan seorang Cavanaugh yang sangat protektif.
Kau yang parasit, Clarissa, batin Angelina dingin. Dan kau baru saja mengusir dirimu sendiri dari hidup Liam.
Malam itu, Liam benar-benar tidak meninggalkan sisi Angelina. Ia bahkan meminta izin pada Adrian dan Julie untuk tidur di sofa kamar Angelina, hanya untuk memastikan gadis itu tidak mengalami trauma atau demam setelah kejadian di danau.
Saat Liam sudah terlelap di sofa, Angelina duduk di tepi ranjangnya yang hitam. Ia menatap siluet Liam di bawah cahaya lampu tidur. Ia menyadari satu hal; jalannya masih panjang untuk benar-benar memiliki Liam seutuhnya tanpa gangguan wanita lain, namun hari ini ia telah memenangkan satu pertempuran besar.
Ia adalah seorang Mettond. Dan seperti ayahnya yang pernah berjuang mendapatkan cinta ibunya, Angelina akan menggunakan setiap cara—baik yang manis maupun yang manipulatif—untuk memastikan bahwa hanya ada satu wanita di takhta hati Liam Cavanaugh. Dan wanita itu adalah dirinya sendiri.