NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Sidang

Minggu pagi di kediaman Ardiansyah terasa begitu tenang. Suara kicauan burung gereja di dahan pohon mangga bersahutan dengan bunyi gemericik air yang menghantam bodi logam motor kustom milik Zidan. Zidan, yang hanya mengenakan celana pendek hitam dan kaos singlet putih yang memperlihatkan otot lengannya, sedang asyik membasuh busa sabun dari velg motornya.

Ia sedang bersiul pelan, menikmati momen santainya sebelum nanti sore harus mulai mencicil memindahkan barang-barang ke rumah baru mereka. Namun, ketenangan itu pecah dalam sekejap.

"MASSS!!!"

Suara melengking itu menggelegar dari arah pintu depan, disusul suara derap langkah kaki yang berlari kencang di atas ubin teras.

Zidan yang sedang fokus menyemprot bagian rantai tersentak hebat. Refleks tangannya yang memegang selang air bergerak tidak terkontrol ke arah asal suara.

Syuuuuttt!

"MASSS!!! BAJU AKU BASAHHH!!!"

Shakira mematung di tengah teras dengan napas terengah, sementara kaos rumahannya yang berwarna putih kini basah kuyup di bagian depan akibat siraman air yang tak sengaja itu. Ia mengerucutkan bibirnya, menatap Zidan dengan pandangan yang antara kesal dan bersemangat.

Zidan langsung mematikan keran air dengan terburu-buru, wajahnya tampak sangat bersalah namun juga menahan tawa. "Eh! Ya ampun! Maaf, maaf, Sayang! Aku kaget banget tadi, kamu keluar rumah kayak dikejar debt collector gitu," ujar Zidan sambil menghampiri istrinya, mencoba mengelap air di wajah Shakira dengan tangan kosongnya.

"Kamu mah! Main semprot aja!" gerutu Shakira, namun raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan binar kebahagiaan yang meluap-luap.

"Iya, maaf. Habisnya kamu dari dalem teriak-teriak gitu. Kenapa sih, Sayang? Ada kecoa? Atau kamu nemu harta karun di bawah kasur?" tanya Zidan sambil memegang kedua bahu Shakira, menatap istrinya dengan penuh perhatian.

Shakira tiba-tiba melompat kecil, ia menunjukkan ponselnya yang masih menyala ke depan wajah Zidan. "Mas... Skripsi aku! Skripsi aku di-acc total! Email dari dosen pembimbing baru masuk, dan... besok aku sidang, Mas! Besok!"

Zidan terdiam sejenak, memproses informasi itu, lalu senyum lebarnya terkembang sempurna. Tanpa memedulikan baju Shakira yang basah atau tangannya yang masih licin karena sisa sabun, Zidan langsung merengkuh tubuh mungil istrinya itu ke dalam pelukan erat.

"Serius, Ra? Besok banget?" Zidan mengangkat tubuh Shakira dan memutarnya satu kali di udara.

"Iya, Mas! Besok jam sembilan pagi!" Shakira membalas pelukan Zidan, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang hangat. "Besok temenin ya? Kamu harus temenin aku pokoknya. Titik! Nggak boleh ada alasan bengkel rame atau mesin mobil mogok. Please, aku deg-degan banget tahu, Mas. Rasanya perut aku kayak diaduk-aduk."

Zidan menurunkan Shakira perlahan, namun tangannya tetap melingkar posesif di pinggang istrinya. Ia menatap mata Shakira dengan dalam, memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan gadis itu.

"Sayang, denger ya," bisik Zidan, suaranya terdengar sangat tulus. "Jangankan cuma sidang skripsi, kalau kamu disuruh presentasi di depan presiden pun, aku bakal tutup bengkel seharian buat jagain kamu di barisan paling depan. Aku bakal jadi seksi sibuk yang bawain tas kamu, bawain minum kamu, sampai bawain bunga paling gede buat kamu."

"Bener ya? Janji?" Shakira menatap Zidan dengan mata berkaca-kaca karena terharu.

"Janji, Nyonya Zidan yang paling pinter," Zidan mengecup kening Shakira lama. "Besok pagi aku yang anter, aku tungguin di depan ruang sidang sampai kamu keluar dengan gelar baru. Kamu udah berjuang hebat sejauh ini, Ra. Besok cuma tinggal tahap 'servis terakhir' sebelum kamu resmi lulus."

Shakira tertawa kecil mendengar istilah mekanik suaminya. "Servis terakhir ya? Semoga pengujinya nggak se-galak kamu kalau lagi marah di bengkel ya, Mas."

"Kalau pengujinya galak, kasih tau aku. Biar aku kirim Bobby buat bongkar AC ruangannya biar mereka kepanasan terus pengen cepet-cepet lulusin kamu," canda Zidan yang disambut tawa renyah Shakira.

Zidan kembali memperhatikan baju Shakira yang basah kuyup, yang kini mulai menempel ketat di tubuhnya. Tatapan Zidan yang tadinya bangga perlahan berubah menjadi sedikit... menggelap.

"Ra," panggil Zidan serak.

"Kenapa, Mas?"

"Itu... bajunya basah banget. Tembus pandang," ujar Zidan sambil berdeham pelan. Ia menarik Shakira lebih dekat, seolah ingin menyembunyikan istrinya dari pandangan dunia luar, meskipun di depan rumah mereka sepi.

Shakira menunduk melihat bajunya, lalu wajahnya kembali memerah. "Iya, ini gara-gara kamu! Aku mau ganti dulu!"

"Bentar," Zidan menahan langkah Shakira. Ia melirik ke arah pintu rumah yang terbuka, lalu kembali menatap istrinya dengan senyum miring yang sangat nakal. "Karena besok kamu mau sidang dan pasti bakal stres banget... gimana kalau hari ini kita 'pemanasan' otak dulu di dalem? Biar syaraf kamu nggak tegang pas jawab pertanyaan dosen."

"Mas Zidan! Ini masih pagi! Kamu baru aja nyuci motor!" protes Shakira, namun ia tidak menolak saat Zidan mulai menuntunnya masuk ke dalam rumah.

"Mandi bareng sekalian ganti baju, Ra. Hemat air," bisik Zidan tepat di telinga Shakira sebelum menutup pintu depan dengan satu tendangan kaki yang lincah.

Di balik pintu yang tertutup rapat, tawa Shakira dan bisikan rendah Zidan menyatu. Hari itu, kecemasan tentang sidang esok hari seolah terbang tertiup angin, digantikan oleh dukungan tanpa batas dari sang suami yang selalu punya cara unik untuk menenangkan hatinya—sekaligus membuatnya "berantakan" dalam cara yang paling indah.

***

Koridor lantai dua gedung fakultas itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya, setidaknya begitulah yang dirasakan Shakira. Suara deru AC sentral yang biasanya terdengar seperti latar belakang, kini terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur waktu eksekusinya.

Shakira duduk di deretan kursi besi, mengenakan kemeja putih bersih yang disetrika sangat rapi, rok hitam formal, dan almamater kebanggaannya. Di tangannya, draf skripsi yang sudah dijilid rapi itu kini sedikit lembap karena keringat dingin dari telapak tangannya.

Zidan duduk di sampingnya, tampak sangat kontras dengan lingkungan akademis itu. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang yang membuat tubuh tegapnya terlihat lebih berwibawa, meskipun rambutnya tetap ditata sedikit berantakan khas dirinya.

"Mas... tangan aku dingin banget," bisik Shakira sambil menyodorkan telapak tangannya.

Zidan langsung menyambar tangan mungil itu, menggenggamnya dengan kedua tangan besarnya yang hangat. Ia menggosok-gosok telapak tangan Shakira dengan lembut. "Tarik napas, Ra. Buang pelan-pelan. Kamu itu udah khatam isi skripsi ini. Ingat, kamu yang ngetik tiap katanya sampai begadang, kamu yang riset, kamu yang debat sama dosen pembimbing. Dosen penguji di dalem itu cuma mau denger cerita kamu, bukan mau makan kamu."

"Tapi kalau mereka nanya yang nggak ada di bab empat gimana? Kalau aku mendadak blank terus cuma bisa melongo gimana?" tanya Shakira dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena panik.

"Nggak akan," potong Zidan tegas namun lembut. Ia menangkup wajah Shakira, memaksa istrinya untuk menatap matanya. "Kalau kamu blank, inget muka aku. Inget gimana susahnya kita bikin pempek subuh-subuh kemarin. Kalau kamu bisa naklukin dapur dan naklukin Mas Karatan ini, dosen-dosen di dalem itu cuma masalah kecil, Sayang."

Di sudut lain, Nina tampak sibuk dengan ponselnya. Wajahnya juga tegang, namun ia mencoba tetap produktif. "Halo, Ma? Iya, ini Nina udah di depan ruang sidang. Bentar lagi giliran Nina. Doain ya, Ma... Iya, Shakira juga bareng Nina. Doain kita berdua ya!"

Setelah menutup telepon, Nina mendekat ke arah kursi Shakira dan Zidan. "Ra, sumpah, gue rasa jantung gue udah pindah ke tenggorokan. Ini kenapa lama banget sih yang di dalem?"

"Sabar, Nin. Mungkin lagi dikuliti pelan-pelan," celetuk Zidan asal.

"MAS ZIDAN!" teriak Shakira dan Nina berbarengan.

"Eh, sori, sori! Maksud aku... lagi dikasih masukan konstruktif," ralat Zidan sambil nyengir, mencoba mencairkan suasana. "Udah, daripada stres, mending dengerin ini."

Zidan mengeluarkan earphone miliknya, memasangkannya ke telinga Shakira satu, dan ke telinganya satu. Alunan lagu instrumen yang menenangkan mulai terdengar.

"Mas, kamu dapet dari mana lagu ginian?" tanya Shakira, sedikit lebih tenang.

"Tadi malem aku tanya Bobby, lagu apa yang bikin orang nggak jadi marah. Dia kasih daftar lagu meditasi ini. Katanya biar syaraf kamu nggak kayak kabel korslet," jawab Zidan jujur.

Shakira tersenyum kecil, ia menyandarkan kepalanya di bahu Zidan sejenak. "Makasih ya, udah mau nungguin. Padahal tadi Indra bilang ada mobil masuk yang mau turun mesin."

"Turun mesin bisa besok, Ra. Tapi liat istri aku pake baju sidang gini cuma sekali seumur hidup. Aku nggak mau ngelewatin semenit pun," Zidan mengecup pelipis Shakira, memberikan kekuatan yang luar biasa melalui tindakan sederhana itu.

Tiba-tiba, pintu kayu besar di depan mereka terbuka. Seorang mahasiswa keluar dengan wajah pucat namun tampak lega, menyeka keringat di dahinya.

"Selanjutnya... Shakira Naomi," panggil seorang staf administrasi dari balik pintu.

Jantung Shakira seolah berhenti berdetak sesaat. Ia langsung berdiri tegak, merapikan roknya dan memegang draf skripsinya erat-erat. Ia menatap Zidan dengan pandangan minta tolong.

Zidan berdiri, merapikan kerah almamater Shakira yang sedikit miring. Ia menangkup kedua pipi istrinya, lalu mencium keningnya dengan sangat lama. "Masuk sana. Tunjukin siapa Nyonya Zidan Ardiansyah sebenarnya. Aku tunggu di sini, tepat di depan pintu ini. Aku nggak akan beranjak setapak pun."

"Doain aku ya, Mas," bisik Shakira.

"Selalu, Ra. Setiap detik," jawab Zidan mantap.

Nina memberikan jempolnya. "Semangat, Ra! Habis ini giliran gue! Lo buka jalan yang enak ya buat gue!"

Shakira menarik napas panjang, menghembuskannya pelan, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Cklek. Pintu tertutup rapat.

Satu jam berlalu. Bagi Zidan, satu jam itu terasa seperti seharian penuh bongkar mesin truk. Ia mondar-mandir di depan pintu, sesekali menguping namun tidak terdengar apa-apa selain gumaman rendah. Nina sudah dipanggil ke ruang sebelah sepuluh menit setelah Shakira masuk.

Zidan duduk kembali, meremas tangannya sendiri. Ia tidak pernah se-nervous ini, bahkan saat pertama kali menyatakan cinta pada Shakira dulu. Ia terus melihat jam di pergelangan tangannya.

Tiba-tiba, gagang pintu bergerak.

Cklek.

Pintu terbuka perlahan. Shakira melangkah keluar. Wajahnya menunduk, rambutnya sedikit menutupi matanya. Ia berdiri mematung di ambang pintu tanpa mengeluarkan suara.

Zidan langsung berdiri tegak, jantungnya berdegup kencang. Ia mendekat dengan ragu. "Ra? Gimana? Sayang?"

Shakira perlahan mengangkat kepalanya. Matanya merah dan sembap, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya menatap Zidan dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ra... nggak apa-apa. Apapun hasilnya, aku tetep bangga sama kamu. Sini..." Zidan merentangkan tangannya, siap menerima segala kesedihan istrinya.

Shakira tiba-tiba melepaskan draf skripsinya ke kursi besi, lalu berlari dan menghambur ke pelukan Zidan, menangis sesenggukan di dada suaminya.

"Mas... hiks... mereka... mereka tadi..." suara Shakira terputus-putus.

Zidan mendekapnya erat, mengelus rambutnya dengan penuh proteksi. "Sshhh, udah. Nggak apa-apa. Ada aku di sini. Udah ya, jangan nangis."

Zidan tidak tahu apa yang terjadi di dalam, tapi melihat Shakira menangis seperti ini, ia sudah bersiap untuk membawa istrinya pulang dan menghiburnya seharian penuh. Namun, tepat saat itu, Shakira mendongak, wajahnya yang penuh air mata kini dihiasi oleh senyum paling lebar yang pernah Zidan lihat.

"Mas... aku lulus! Aku lulus dengan nilai A!" teriak Shakira di tengah tangis bahagianya.

Zidan terpaku. "Hah? Jadi... tangisannya ini karena...?"

"Karena aku seneng banget, Mas! Dosen pengujinya bilang skripsi aku luar biasa!" Shakira tertawa sambil menangis, memeluk leher Zidan semakin erat.

Zidan menghela napas lega yang sangat panjang, ia tertawa kencang lalu mengangkat Shakira tinggi-tinggi, memutarnya di koridor fakultas yang mulai sepi itu tanpa memedulikan tatapan orang lain.

"Gila! Kamu bikin aku jantungan, Ra! Aku kira kamu kenapa-napa!" Zidan menciumi seluruh wajah Shakira dengan gemas. "Selamat, Sarjana kesayangan aku! Sekarang kamu resmi jadi orang pinter di rumah kita!"

Shakira tertawa, menghapus air matanya di bahu Zidan. "Makasih, Mas. Makasih udah tungguin aku."

Tepat saat itu, Nina keluar dari ruangan sebelah dengan wajah yang sama hebohnya. "RAAAA!!! GUE JUGA LULUSSS!!!"

Keduanya berpelukan dan berjingkrak bersama, sementara Zidan berdiri di samping mereka dengan senyum bangga yang tak luntur. Namun, di balik senyum itu, Zidan diam-diam merencanakan sesuatu. Sesuatu yang sudah ia siapkan di bagasi mobil dan di rumah baru mereka.

"Ra," panggil Zidan saat euforia itu sedikit mereda.

"Ya, Mas?"

"Karena kamu udah resmi lulus... sekarang giliran aku yang kasih 'sidang' buat kamu di rumah. Tapi sidangnya... sidang pleno spesial ulang tahun kelulusan," bisik Zidan dengan kerlingan nakal yang membuat Shakira langsung tahu bahwa malam ini tidak akan berjalan dengan tenang.

"Mas Zidan! Masih di kampus!" bisik Shakira sambil menyubit pinggang Zidan, namun hatinya dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran.

Hari itu, koridor kampus menjadi saksi selesainya satu perjuangan besar, dan dimulainya babak baru yang jauh lebih manis bagi sang mekanik dan sang sarjana barunya.

1
Rita Rita
lama nunggu up mas karatan akhirnya AQ suka tipe tipe suami yg meratukan istri nya. mas Zidan,mas ajudan. definisi istri adalah rumah untuk pulang,,😍😍
Penulis GenZ: karena kita juga pengennya dapet lagi kayak gitu kan🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya pasutri karat ini up lagi🤭
Penulis GenZ: ditunggu terus yaaa
total 1 replies
apiii
kangen bngt sama mas karatan beberapa hati ga up🥲
Penulis GenZ: sabar ya kak. nanti aku usahain hari ini double hehe. tungguin trs sampe ada baby zidan
total 1 replies
Rita Rita
semangat kerja untuk ngeraih rezeki buat pak boss dan Bu bos Zidan.💪💪😍😍
Rita Rita
disini mas Zidan karatan sedang ngadain syukuran dan sebelah mas Langit lagi konser tunggal bersikipapap,,🤭🤣🤣
Rita Rita: sedikit jujur Thor 🤭🤣
total 2 replies
apiii
gaada notif🥲
apiii
semangat ya mas zidan🥲
apiii
semangat terus ya qq, aku tunggu mas mekanik sama istri sarjana tataboga up lagi ❤️
Rita Rita
tetap semangat Thor,, di tunggu up nya dan AQ mau mampir di novel author yg baru up keknya
Penulis GenZ: boleh mampir silakan.. kasih riview jangan lupa hehe
total 1 replies
Nurminah
semangat
Rita Rita
asyik banget jadi mas Zidan,,, semoga rumah tangga nya samawa 🤲❤️
apiii
mentang" dirumah sendiri main dimna pun di gas wkwkw
apiii
kasian bngt yg abis turun mesin🤣
apiii
aduhhh🤣
Rita Rita
dikasih kode mas suami langsung gass poll 🤭🤣🤣 gacor syukuran nya🤭🤣🤣🤣😍
Rita Rita
gemes banget dengan pasangan ini mas karatan dan Bu pelicin 🤭🤣🤣😍
Rita Rita
makin gacor aja tuh syukuran paksu makin dingin makin anget 🤭🤣😍😍
apiii
ayo guys kasih komentar dan like nya biar author semangat up nya❤️
apiii
makin suka sama pasangan ini😍
Rita Rita
pokoknya mas Zidan suami idaman banget,,, peka terhadap pasangan 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!