NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Baron Senior membawa mereka ke dalam katakombe di bawah kapel tua. Tempat itu dipenuhi dengan sketsa-sketsa dinding yang menggambarkan silsilah keluarga Adwan yang sebenarnya—sebuah garis keturunan yang ternyata sudah melakukan eksperimen manipulasi manusia sejak zaman penjajahan.

"Anakku, Baron, hanyalah seorang amatir yang haus harta," ujar pria tua itu sambil menyalakan obor minyak. "Dan cucuku, Adwan, dia hanya seorang pemimpi yang gila estetika. Tapi Arkana... mereka mengambil esensi dari kegilaan kami dan mengubahnya menjadi kode biner."

Adella menatap sketsa di dinding. Ada gambar seorang wanita yang sangat mirip dengannya di bagian paling awal silsilah. "Siapa wanita ini?"

"Itu adalah Adella Pertama," sahut Baron Senior. "Dia adalah nenek buyutmu. Dia adalah satu-satunya orang yang berhasil mengembangkan 'Resonansi Biologis' secara alami tanpa bantuan mesin. Arkana menginginkan darahnya, tapi dia memilih menenggelamkan diri di laut ini daripada menjadi budak mereka. Kamu, Adella... kamu bukan hasil rekayasa klinik. Kamu adalah reinkarnasi genetik yang mereka tunggu-tunggu."

Adella merasa dunianya berputar. Jadi, semua eksperimen itu, semua pengejaran Aristho, bukan untuk menciptakan sesuatu yang baru, tapi untuk mengembalikan sesuatu yang lama.

"Valerius tidak akan hanya menangkapmu," lanjut Baron Senior. "Dia akan membawamu ke Menara Babel—markas utama Arkana di Pegunungan Himalaya—untuk melakukan ekstraksi memori genetik. Jika itu terjadi, Lukas dan anak-anak seperti dia akan menjadi wadah kosong yang diisi oleh kesadaran kolektif Arkana."

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari permukaan pulau. Guncangan hebat membuat debu-debu jatuh dari langit-langit katakombe.

"Mereka sudah di sini," bisik Viona sambil melihat ke arah tangga. "Tapi bagaimana mungkin? Tanpa sinyal, bagaimana mereka menemukan kita?"

"Mereka tidak menggunakan sinyal digital," Lukas menunjuk ke arah dadanya. "Mereka menggunakan getaran darah. Mereka memiliki sensor yang bisa mendeteksi frekuensi genetik keluarga Adwan."

Valerius Arkana telah mendarat. Bukan dengan helikopter, melainkan dengan tim hunter-killer yang menggunakan pakaian kamuflase optik. Di tangan mereka, mereka memegang senjata yang tidak mengeluarkan suara, melainkan gelombang kejut yang bisa menghancurkan organ dalam manusia.

"Adella, dengarkan aku," Baron Senior memegang bahu Adella dengan tangannya yang kasar. "Di balik altar kapel ini, ada sebuah terowongan bawah air yang menuju ke sisi lain pulau. Bawa anak itu dan pergilah. Aku akan memberikan mereka 'sambutan' terakhir dari generasi lama."

"Tapi Tuan—"

"Pergilah! Masa depan bukan milik orang mati sepertiku!" teriak Baron Senior.

Adella menarik Lukas dan Viona menuju terowongan. Saat mereka mulai merangkak masuk, ia mendengar suara ledakan besar di atas. Baron Senior rupanya telah memasang jebakan peledak kuno di seluruh kapel.

Di tengah kegelapan terowongan yang sempit dan lembap, Adella terus bergerak. Ia bisa mendengar suara air yang mulai masuk ke dalam terowongan—jebakan Baron Senior juga dirancang untuk menenggelamkan siapa pun yang mencoba mengejar.

Begitu mereka keluar di sisi lain pulau yang berkarang tajam, Adella melihat sebuah kapal selam hitam kecil muncul ke permukaan. Pintu palka terbuka, dan Valerius Arkana berdiri di sana, memutar koin peraknya dengan tenang.

"Sangat mengesankan, Adella. Kamu bahkan bisa menemukan kakek buyutmu yang sudah lumutan itu," suara Valerius terdengar jernih meski tanpa pengeras suara. "Tapi petualangan di pulau ini sudah berakhir. Mari kita bicara tentang masa depan di tempat yang lebih... tinggi."

Adella tidak punya pilihan. Di belakangnya adalah hutan yang terbakar, dan di depannya adalah moncong senjata berat kapal selam. Namun, saat ia hendak menyerah, sebuah jet tempur tanpa tanda pengenal melesat rendah di atas mereka, melepaskan rudal yang menghantam air di dekat kapal selam.

"Siapa lagi itu?!" teriak Viona.

Sebuah suara baru masuk ke frekuensi radio darurat di jam tangan Adella—sebuah frekuensi yang sangat ia kenal.

"Bab 33: Munculnya Sang Sekutu yang Terbuang. Adella, butuh tumpangan?"

Itu suara Julian Mahendra. Pria itu ternyata tidak mati atau dipenjara; ia telah membelot dan membentuk faksi perlawanannya sendiri.

Adella menatap jet tempur yang mulai menurunkan tali evakuasi. Ia berada di antara dua predator: Valerius yang ingin mengekstrak jiwanya, dan Julian yang pernah mencoba mengontrolnya.

"Lompat, Adella! Pilih iblis yang kamu kenal!" teriak Viona.

Adella mencengkeram tali itu, menarik Lukas bersamanya saat jet itu mulai menanjak tajam, meninggalkan Valerius yang menatap mereka dengan kemurkaan yang tertahan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!