Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bittersweet
Vanya melakukan pemeriksaan cukup lama. sampai Raka, Nana dan Irgi bosan, padahal mereka sudah bermain game online tapi karna terlalu lama mereka sampai tak tau lagi harus apa. beberapa kali Danu dan Ratih juga mengajak mereka makan, tapi mereka takut bagaimana jika Vanya keluar dari ruang pemeriksaan dan tidak ada mereka, Vanya pasti akan sangat marah.
"Kalian beneran gamau makan, ini udah siang loh" Ratih masih mencoba membujuk Raka, Nana dan Irgi untuk makan.
"Nanti aja Mah, nanti kalo Vanya keluar kita ga ada yang ada dia ngambek lagi" Kata Raka mencoba memberikan penjelasan kepada Ratih.
"Yaudah kita bagi 2 aja mamah sama papah makan duluan, kalo kita udah balik kalian gantian makan ya" akhirnya Danu memberikan solusi.
"oke" jawab Raka, Nana, dan Irgi berbarengan.
Ratih dan Danu pergi meninggal kan anak anaknya sebentar. sedangkan mereka bertiga kembali lagi bermain game untuk menghilangkan rasa bosan yang sedang melanda.
Tak lama, Vanya keluar dari ruangan. Raka dengan sigap menghampiri Vanya untuk menanyakan hasil nya. "Gimana Van?"
"hmm.... Nanti aja bang tanya dokter nya aja" Vanya tak tahu harus bagaimana menjelaskan kondisi nya saat ini.
"Yaudah duduk dulu, mamah sama papah lagi makan dulu sebentar"
"loh kalian ga ikut makan? "
"kalo kita ninggalin lo pasti lo ngambek kan?" Tanya Irgi dengan nada bicara meledek.
"hehehe iya sih"
"Yaudah kita susul aja tante Ratih sama om Danu"
"Yaudah ayo"
...☘️☘️☘️...
Vanya langsung menangis saat melihat mamah nya. Tuhan ia benar benar lelah meminum obat obatan yang sangat banyak itu, entah sampai kapan ia bisa berhenti mengkonsumsi obat.
"kenapa sayang?" Tanya Danu dan Ratih yang khawatir melihat anak kesayangan nya menangis sesenggukan. Bahkan Raka, Nana, dan Irgi langsung menghentikan langkah nya waktu melihat Vanya menangis.
Vanya hanya bisa menggeleng pelan. ia tak mengerti kenapa air mata nya mengalir cukup deras.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Ratih dengan suara yang sangat lembut. suara yang selalu berhasil menenangkan Vanya di saat ia benar benar merasa lelah dengan hidupnya.
"Vanya gak papa mah, Vanya capek aja harus terus minum obat" jawab Vanya dengan tertatih.
Ratih dan Danu hanya terdiam dan saling pandang. mereka memeluk Vanya untuk menenangkan nya. Rasa nya sangat percuma jika menanggapi Vanya dengan kata kata penenang karna Vanya bukan lagi anak kecil yang bisa mereka kelabui dengan kata kata lagi.
Vanya mengusap air mata nya dan tersenyum ke arah orang tau nya. "Ayo kita makan, aku laper nih" senyum yang terlihat sangat menyedihkan.
Semua orang berusaha untuk ikut tersenyum meskipun terasa sangat berat.
...☘️☘️☘️...
Vanya menghabiskan sisa hari nya dengan menonton bioskop bersama Raka, Nana, dan Irgi sedangkan orang tua nya kembali ke rumah karna ada pekerjaan yang belum selesai.
"Bang abis nonton kita karaoke yuk" ajak Vanya dengan penuh semangat.
Nana, Raka, dan Irgi langsung membulat kan mata. Tak mengerti lagi harus bagaimana mereka menanggapi Vanya. jika ia menolak pasti Vanya akan merasa sedih dan langsung ngambek, membujuk wanita yang ngambek adalah hal yang sangat sulit.
"ih kok diem sih, gamau ya" Vanya langsung memasang wajah kesal.
"Yaudah kal-"
"Mau" Jawab ketiga nya dengan kompak, sebelum hal buruk terjadi pada mereka, mereka sudah dengan sigap Menangkis nya.
"oke" Vanya kembali tersenyum dan melanjutkan menonton film nya.
Dengan kompak Raka, Nana, dan Irgi menghembuskan Napas kasar.
sampai larut malam mereka ber 4 baru sampai di rumah Vanya. bahkan tiga laki laki sudah tepar tak berdaya di dalam mobil yang di kendarai pak Agus, hanya Vanya yang masih dengan semangat menceritakan kegiatan nya hari ini kepada pak Agus. dan Pak Agus tak pernah bosan mendengarkan cerita cerita random yang selalu Vanya ceritakan setiap kali berpergian bersama pak Agus.
"trus mas Nana gimana tuh neng" tanya pak Agus yang masih tetap fokus ke jalan.
"Nana jatuh pak sampe nyungsep hampir kena Irgi. trus dia di ketawain anak kecil hahaha"
"Hahaha pasti mas Nana malu banget itu neng"
Pak Agus tak henti hentinya tertawa mendengar cerita Vanya hari ini.
"eh kita udah sampe nih neng ga berasa ya cepet banget" kata pak Agus yang seketika menyadari mereka sudah berada di depan komplek.
"eh iya ya pak cepet banget"
"mau di bangunin apa nanti aja nih" kata pak Agus sambil melirik ke arah 3 cowok yang sekarang sudah tertidur pulas.
"Nanti aku bangunin"
Tak lama mereka sampai di depan rumah Vanya. pak Agus keluar untuk membuka gerbang sedangkan Vanya mencoba membangunkan yang lain.
"abang bangun" Vanya membangunkan Raka terlebih dahulu agar Raka bisa membantu nya membangunkan Nana dan Irgi.
"udah sampe?" tanya Raka yang belum tersadar sepenuhnya.
"udah ayo bantuin bangunin yang lain"
"Na, Gi bangun woi udah sampe" Vanya dan Raka sedikit menggoyangkan bahu Nana dan Irgi.
"Udah sampe?" tanya Nana dan Irgi yang langsung duduk dengan tegap.
"udah, pada ngantuk banget ya?" tanya Vanya yang sedikit merasa bersalah karna membuat mereka kelelahan.
"aman kok Van"
Pak Agus kembali kedalam mobil "Mas Nana sama Mas Irgi pak Agus anter aja ya kerumah, kan pada ngantuk bahaya kalo bawa motor nanti motornya tinggal di sini aja ya. Nanti pagi kalo mau ambil motor pak Agus jemput lagi mau ga?"
"Gausah pak nanti malah ngerepotin"
"iya pak rumah kita juga ga begitu jauh"
"bahaya mas, mending pak Agus anter aja ya" bujuk pak Agus yang tak tega melihat wajah kelelahan Nana dan Irgi.
"Gak papa pak aman kok, ya kan Na? "
"iya pak"
pada akhirnya pak Agus mengalah. ia tak mau membuat Nana dan Irgi merasa tak nyaman karna terus di paksa.
Danu dan Ratih langsung keluar rumah saat mendengar pintu gerbang di buka.
"mau langsung pada pulang?" tanya Danu saat melihat Irgi dan Nana sedang mengeluarkan motor nya masing masing.
"eh om tante kirain udah tidur" kata Nana yang langsung bersalaman pada Danu dan Ratih.
"Iya om kita balik dulu ya" Irgi dan Nana langsung berpamitan. mengingat besok adalah hari senin dan merek juga harus bangun pagi. jadi Danu dan Ratih tak bisa menahan mereka untuk beristirahat sejenak.
"Yaudah hati hati loh di jalan, mata nya pada merah merah banget ngantuk ya?" tanya Ratih yang menyadari mereka kelelahan.
"Gamau di anter pak Agus aja?" Danu menawarkan hal yang sama yang sudah mereka tolak tadi.
"Gausah om gak papa aman kok"
"Yaudah deh ati ati ya jangan ngebut ngebut bawa motor nya"
Nana dan Irgi akhirnya pulang setelah berpamitan dengan Raka dan Vanya. tak lupa Nana membisikkan kata kata romantis dulu di telinga Vanya yang membuat Vanya tersipu malu.
"Istirahat yang cukup ya sayang, love you jangan lupa mimpiin aku" bisik Nana yang berhasil membuat muka Vanya memerah.