NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 15

Pery Permata tidak menyerah begitu saja. Ketika jalur hukum mulai melambat dan opini publik berbalik melawan mereka, Herman beralih ke strategi yang lebih gelap: mencari celah di masa lalu Andi yang tidak tercatat dalam buku sejarah sekolah.

Sore itu, sebuah amplop cokelat besar tiba di meja perpustakaan Andin. Di dalamnya terdapat salinan berkas kepolisian lama—kasus perkelahian jalanan yang melibatkan "Sang Cobra" belasan tahun lalu, disertai foto-foto Andi yang tampak beringas dengan luka di wajahnya. Ada juga catatan tentang kematian seorang preman pelabuhan yang secara teknis tidak pernah terbukti sebagai kesalahan Andi, namun cukup untuk menghancurkan reputasi seorang pengelola yayasan pendidikan.

"Andi, mereka mulai menggali liang lahatmu," bisik Andin, tangannya gemetar memegang berkas itu. "Herman mengancam akan menyebarkan ini ke media jika kita tidak mencabut gugatan atas IMB mereka."

Andi mengambil berkas itu, menatap foto dirinya yang lebih muda. Mata dalam foto itu tampak penuh kebencian dan keputusasaan—sosok yang kini ia pandangi seperti orang asing.

"Aku memang pernah menjadi monster itu, Ndin," jawab Andi pelan. "Herman benar. Secara hukum, aku bersih karena semua kasus ini ditutup karena kurang bukti atau pembelaan diri. Tapi secara moral... publik akan melihat seorang kriminal yang berpura-pura menjadi guru."

Di saat yang sama, Elena berlari masuk ke perpustakaan dengan wajah panik. "Andi! Herman baru saja mengadakan konferensi pers mendadak di kantor pusat Pery Permata. Dia tidak menunjukkan berkas itu secara langsung, tapi dia mulai melempar narasi tentang 'keamanan anak-anak di bawah bimbingan seseorang dengan masa lalu yang kelam'. Dia mencoba menghancurkan kepercayaan orang tua murid!"

Andi berdiri, mengambil jaket flanelnya. "Dia ingin aku bersembunyi. Dia ingin aku takut pada bayanganku sendiri."

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Andin cemas.

"Aku akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang guru: menceritakan kebenaran," Andi menoleh ke arah Rian yang berdiri di pintu. "Rian, siapkan pemancar radio. Dan undang semua orang tua murid ke lapangan sekolah malam ini. Aku sendiri yang akan membacakan isi amplop ini di depan mereka."

Malam itu, di bawah lampu lapangan yang temaram, suasana sekolah terasa sangat tegang. Ratusan warga dan orang tua murid berkumpul. Herman juga hadir di sana, berdiri di pojok dengan senyum penuh kemenangan, yakin bahwa Andi akan berlutut memohon agar rahasianya tidak disebar lebih luas.

Andi naik ke panggung kecil. Ia tidak membawa draf pembangunan atau dokumen hukum. Ia hanya membawa amplop cokelat itu.

"Selamat malam semua," suara Andi menggema melalui pengeras suara. "Pery Permata ingin kalian tahu siapa sebenarnya orang yang memimpin sekolah anak-anak kalian. Mereka ingin kalian tahu tentang 'Sang Cobra'."

Andi mulai membacakan satu per satu catatan kriminalnya. Ia menceritakan setiap perkelahian, setiap luka, dan alasan mengapa dulu ia memilih kekerasan sebagai satu-satunya cara untuk bertahan hidup di dermaga yang kejam. Keheningan yang jatuh di lapangan itu begitu berat hingga suara deburan ombak di kejauhan terdengar jelas.

"Saya menceritakan ini bukan untuk membela diri," lanjut Andi, menatap mata para orang tua satu per satu. "Saya menceritakan ini agar kalian tahu bahwa sekolah ini berdiri justru karena saya tidak ingin anak-anak kalian menjadi seperti saya dulu. Saya ingin mereka punya pilihan yang tidak pernah saya miliki."

Andi mengangkat amplop itu tinggi-tinggi. "Herman dari Pery Permata mengira masa lalu saya adalah senjata untuk menghancurkan sekolah ini. Tapi bagi saya, masa lalu ini adalah alasan mengapa sekolah ini harus tetap berdiri. Jika kalian merasa saya tidak layak, saya akan mundur malam ini juga. Tapi jangan biarkan sekolah ini roboh karena kesalahan masa muda saya."

Suasana membeku. Herman menanti sorakan kemarahan warga, namun yang terjadi justru sebaliknya. Seorang ibu yang anaknya sekolah di sana berdiri, air mata mengalir di pipinya. "Bang Andi... kami tahu siapa Abang sekarang. Kami melihat bagaimana Abang mengobati luka anak kami, bagaimana Abang mengajari mereka tentang harga diri. Kami tidak peduli siapa Cobra, kami peduli siapa Andi yang ada di depan kami hari ini!"

Satu per satu warga berdiri, membentuk barisan yang rapat di depan panggung. Mereka membelakangi Herman dan menghadap Andi, simbol perlindungan yang nyata.

Herman terperangah. Senjata terakhirnya justru menjadi perekat yang membuat dukungan warga semakin tak tergoyahkan. Ia menyadari satu hal yang tidak pernah ia pahami: di pelabuhan ini, orang lebih menghargai kejujuran seorang mantan preman daripada kebohongan seorang pengusaha berdasi.

"Rencana kita jalan terus, Aris," ucap Andi pada sang arsitek sambil turun dari panggung. "Besok, kita bawa proposal Kampung Bahari ini ke Balai Kota. Kali ini, kita tidak hanya membawa draf bangunan, tapi kita membawa kepercayaan seribu warga yang sudah tahu sisi tergelap pemimpinnya."

Gagalnya serangan pribadi Herman justru menjadi katalisator bagi warga. Alih-alih mundur, semangat kerja bakti di pelabuhan meledak. Andi menyadari bahwa mereka tidak bisa hanya menunggu keputusan birokrasi; mereka harus menciptakan realitas baru di lapangan.

"Rian," panggil Andi di pagi buta. "Bawa anak-anak bengkel. Kita tidak akan menunggu semen dari Pery Permata. Kita mulai renovasi dermaga publik hari ini menggunakan material sisa logistik yang kita kumpulkan."

Rian tersenyum lebar. Inilah momen yang ia tunggu. Di bawah bimbingan Aris sang arsitek, pemuda-pemuda pelabuhan mulai bergerak. Mereka tidak lagi hanya memperbaiki mesin, tetapi mulai membangun struktur. Aris membagi mereka ke dalam beberapa tim: tim penguat fondasi, tim penghijauan, dan tim instalasi air mandiri.

Di tengah kesibukan itu, sebuah mobil hitam mewah—kali ini bukan milik Herman—berhenti di depan sekolah. Sosok yang turun adalah Ibu Diana, pimpinan tertinggi Pery Permata Group yang selama ini hanya mengawasi dari balik meja di pusat kota. Ia datang tanpa pengawal berseragam, hanya membawa asisten pribadinya.

Andi menemui Diana di teras sekolah yang masih berbau cat basah.

"Tuan Andi," suara Diana tenang namun memiliki wibawa yang jauh melampaui Herman. "Saya melihat apa yang terjadi semalam melalui media sosial. Pengakuan Anda... itu adalah langkah yang sangat berani, atau mungkin sangat nekat."

"Di pelabuhan ini, kejujuran adalah satu-satunya mata uang yang tidak bisa dipalsukan, Bu Diana," jawab Andi datar.

Diana menatap maket Kampung Bahari yang dipajang di lobi sekolah. Ia terdiam cukup lama, mempelajari setiap detail yang digambar Aris. "Herman melihat lahan ini sebagai angka. Saya melihatnya sebagai investasi. Tapi jujur saja, draf arsitek Anda ini... secara ekonomi jauh lebih berkelanjutan daripada rencana perumahan eksklusif kami yang hanya akan memicu konflik sosial berkepanjangan."

Andi sedikit terkejut, namun tetap waspada. "Apa maksud Anda?"

"Pery Permata tidak suka kekalahan, tapi kami lebih benci kerugian reputasi," Diana menoleh ke arah Andi. "Saya menawarkan kesepakatan baru. Kami akan mencabut rencana perumahan eksklusif itu. Sebagai gantinya, Pery Permata akan menjadi mitra utama dalam membangun Kampung Bahari Terintegrasi ini. Kami punya modal dan teknologi; Anda punya kepercayaan warga dan visi."

Andin yang berdiri di ambang pintu mendekat. "Dengan syarat apa, Bu Diana? Kami tidak ingin sekolah ini hanya menjadi pajangan di brosur pemasaran Anda."

"Syaratnya sederhana," Diana tersenyum tipis. "Kepemilikan lahan dermaga tetap di tangan yayasan, namun pengelolaan kawasan wisata dan komersialnya akan menjadi bagi hasil. Kami akan membangun hunian vertikal untuk warga secara gratis sebagai bagian dari CSR kami, asalkan kami diizinkan membangun satu blok apartemen semi-elit di sisi paling utara lahan."

Andi menatap Rian yang sedang bekerja, lalu menatap warga yang sedang gotong-royong. Ini adalah tawaran yang sangat menggiurkan sekaligus berisiko. Menolak berarti perang panjang yang melelahkan; menerima berarti harus berbagi ruang dengan raksasa yang dulu ingin menghancurkan mereka.

"Saya butuh satu syarat tambahan," ucap Andi tegas.

"Sebutkan."

"Pusat pelatihan mekanik di sekolah ini harus menjadi pemasok tenaga kerja utama untuk seluruh pemeliharaan properti Pery Permata di Jakarta. Anak-anak saya tidak boleh hanya jadi penonton; mereka harus jadi penggeraknya."

Diana mengulurkan tangannya. "Sepakat. Kita akan buat sejarah baru di Jakarta Utara."

Saat Andi menjabat tangan Diana, ia tahu bahwa babak baru telah dimulai. Perjuangan fisik mungkin telah usai, namun perjuangan diplomasi dan pembangunan baru saja bermuara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!