seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 9
Strategi Elena membawa mereka ke sebuah kafe tua di kawasan Kota Tua yang jarang dikunjungi orang. Di sana, ia memperlihatkan hasil pelacakannya pada sebuah laptop kecil.
"Mobil itu terdaftar atas nama Nusantara Development Group," Elena berbisik sambil memutar layar ke arah Andi dan Andin. "Mereka adalah pemegang saham minoritas di PT. Delta yang selama ini bergerak di bawah radar. Namun, ada satu nama di jajaran direksi yang membuatku merinding."
Elena membuka sebuah kliping koran digital dari tahun 1994. Di sana, terdapat foto pemotongan pita sebuah proyek pelabuhan. Di samping ayah Andi, berdiri seorang pria muda berkacamata dengan senyum yang sangat tipis.
"Haryo Subroto," gumam Andi, membacakan nama di bawah foto itu.
"Dia adalah sahabat ayahmu di serikat buruh dulu," Elena menjelaskan. "Setidaknya itu yang diketahui publik. Tapi data finansial yang baru saja kudapatkan menunjukkan bahwa Haryo adalah orang yang membocorkan posisi ayahmu kepada PT. Delta malam itu. Dia menjual nyawa sahabatnya untuk kursi direktur di Nusantara Group."
Andi merasakan dadanya sesak. Bukan karena debu kafe, tapi karena pengkhianatan yang baru saja terungkap. Ayahnya tidak hanya dibunuh oleh korporasi yang kejam, tapi dikhianati oleh tangan yang pernah ia jabat dengan penuh kepercayaan.
"Jadi dia yang menyuruh membungkam berita pagi ini?" tanya Andin dengan suara bergetar.
"Lebih dari itu," Elena menutup laptopnya. "Haryo ingin lahan itu bukan karena nilainya, tapi karena di bawah fondasi gudang literasi yang kalian temukan, terkubur dokumen asli kepemilikan saham Nusantara Group yang seharusnya menjadi hak para buruh. Ayahmu menyembunyikannya di sana agar suatu saat bisa digunakan untuk kesejahteraan bersama."
Andi terdiam, menatap keramaian di luar jendela kafe. Ia menyadari bahwa pertempuran ini kini menjadi sangat pribadi. Ia tidak lagi hanya melawan sistem, tapi melawan sisa-sisa persahabatan yang busuk.
"Apa rencana kita?" Andin bertanya, tangannya menggenggam tangan Andi yang tegang.
"Kita tidak akan menunggu mereka menyerang lagi," Andi berdiri, suaranya kembali ke nada rendah yang penuh otoritas. "Haryo mengira dia sudah membungkam media. Tapi dia lupa bahwa di pelabuhan, berita menyebar lewat mulut ke mulut, lewat keringat, dan lewat solidaritas."
Andi menoleh ke arah Rian yang sedang menunggu di motor di luar kafe. "Rian!"
Remaja itu segera masuk. "Ya, Bang?"
"Besok, kumpulkan anak-anak muda pelabuhan. Kita tidak hanya akan membangun tembok sekolah. Kita akan membangun stasiun radio komunitas di sana. Kita akan menyiarkan kebenaran dari tanah kita sendiri, langsung ke telinga setiap buruh di Jakarta Utara. Biarkan Haryo mencoba membungkam gelombang udara jika dia berani."
Elena tersenyum lebar. "Radio komunitas... mereka tidak bisa mematikan itu semudah menekan tombol di dewan redaksi televisi."
Malam itu, mereka kembali ke lahan tersebut. Di bawah sinar bulan, Andi melihat bayangan ayahnya bukan lagi sebagai korban, melainkan sebagai arsitek dari sebuah revolusi kecil yang tertunda.
Andi mengambil secarik kertas dari kantongnya—surat terakhir yang ditemukan di mesin ketik tua itu. Ia menyadari sekarang, sekolah itu bukan hanya tempat belajar membaca, tapi sebuah benteng pertahanan terakhir bagi martabat manusia.
"Haryo," bisik Andi ke arah kegelapan pelabuhan yang luas. "Kau membunuh seorang pejuang, tapi kau tidak sadar kau telah menanam benih yang akan meruntuhkan seluruh gedung pencakar langitmu."
Siaran itu dimulai tepat pukul delapan malam, saat shift pergantian buruh pelabuhan sedang berada di titik puncaknya. Di sebuah ruangan kecil di sudut bangunan yang baru setengah jadi, Andi berdiri di depan mikrofon perak tua yang ia temukan di gudang literasi. Rian sibuk dengan kabel-kabel pemancar rakitannya, sementara Andin memegang catatan yang akan mereka bacakan.
"Tes, satu... dua..." suara berat Andi menggema di ribuan radio saku dan ponsel para buruh di sepanjang dermaga.
"Selamat malam, kawan-kawan pelabuhan. Ini bukan berita dari gedung tinggi di pusat kota. Ini suara dari tanah yang kalian jaga tadi pagi. Ini adalah Radio Cahaya Bahari."
Di luar, aktivitas bongkar muat seolah melambat. Para sopir truk mematikan mesin mereka, mendengarkan frekuensi yang baru saja menyusup ke telinga mereka.
"Mungkin kalian mengenal saya sebagai Cobra," lanjut Andi. "Tapi hari ini, saya bicara sebagai putra dari Sulistyo. Seseorang yang kalian panggil kawan, seseorang yang dikhianati oleh orang yang dia anggap saudara."
Andi memberikan isyarat kepada Elena yang berada di luar ruangan. Melalui koneksi internet darurat, Elena mulai mengunggah salinan dokumen yang ditemukan di bawah fondasi gudang ke situs web rahasia yang tautannya disiarkan berulang kali oleh Andi.
"Malam ini, kami tidak hanya bicara tentang sekolah. Kami bicara tentang hak kalian yang dicuri. Haryo Subroto, jika kau mendengarkan ini, ketahuilah bahwa rahasia yang kau kubur tiga puluh tahun lalu kini telah melihat cahaya."
Di sebuah kantor mewah di lantai lima puluh sebuah gedung di Sudirman, Haryo Subroto berdiri mematung di depan jendela kaca besar. Di tangannya, sebuah radio transistor tua—benda yang ia simpan sebagai kenang-kenangan masa lalunya yang miskin—mengeluarkan suara Andi dengan jernih. Wajahnya yang tenang kini pucat pasi.
"Andi..." bisik Haryo, jemarinya gemetar.
Kembali di pelabuhan, suasana semakin panas. Para buruh mulai berkumpul di depan sekolah, bukan dengan senjata, tapi dengan solidaritas yang tenang namun mematikan bagi citra korporasi.
"Haryo mengira dia bisa membungkam televisi," suara Andin menyela, lembut namun tegas. "Tapi dia tidak bisa membungkam hati kita. Lahan ini adalah milik kita bersama. Sekolah ini adalah bukti bahwa kita tidak bisa lagi dibeli."
Rian memberikan tanda jempol. Sinyal mereka sudah menembus blokade digital. Di media sosial, tagar #SuaraCahayaBahari mulai meledak.
Namun, di tengah keberhasilan itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Andi. Pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal:
> "Kau punya suara, tapi aku punya kendali atas tanah yang kau injak. Lihat ke arah laut."
>
Andi menoleh ke arah jendela. Di kejauhan, di tengah gelapnya laut utara, tampak lampu-lampu dari beberapa kapal tunda (tugboat) besar yang bergerak menuju dermaga sekolah. Mereka tidak membawa logistik. Mereka membawa beton-beton raksasa untuk menutup akses laut sekolah tersebut, sebuah upaya untuk mengisolasi lahan itu secara fisik dari dunia luar.
"Mereka mau mengurung kita," bisik Rian, matanya kembali menajam.
Andi melepaskan headphone-nya. Ia menatap Andin dan Rian dengan ketenangan yang menakutkan. "Mereka pikir mereka bisa mengurung cahaya. Mereka lupa bahwa cahaya justru paling terang saat dikelilingi kegelapan."
Andi kembali ke mikrofon. "Kawan-kawan di dermaga empat dan lima! Kapal-kapal Haryo mencoba menutup akses kita! Siapa yang hari ini masih memegang kemudi kapal tunda? Siapa yang hari ini masih memegang kunci barikade?"
Suara sorakan terdengar dari kejauhan, membalas seruan Andi melalui frekuensi udara. Puluhan kapal nelayan kecil dan kapal pandu mulai menghidupkan mesin, membentuk barisan di depan dermaga sekolah, menghadang kapal-kapal besar milik Nusantara Group.
Pertempuran bukan lagi soal hukum atau berita. Ini adalah perang posisi di atas air yang menghidupi mereka selama ini.