not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,
cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska
ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Suasana di ruang tamu mendadak mencekam. Rezky tetap pada pendiriannya, ia tampak tidak tergoyahkan meski melihat ketakutan di mata putrinya sendiri.
"Maaf Al, Ayana, tapi keputusan kami sudah bulat. Reva akan ikut kami ke luar kota lusa. Semakin cepat dia ikut, semakin cepat dia terbiasa dengan orang tua aslinya. Anak kecil itu cepat lupa, nanti juga dia akan terbiasa tanpa kalian," ucap Rezky dengan nada dingin yang menusuk hati Ayana.
Alya mencoba meraih tangan Reva yang masih bersembunyi di balik pundak Ayana. "Sayang, ayo sama Mama Alya... kita pergi ke rumah baru yang banyak mainannya, yuk?"
Namun, saat tangan Alya menyentuh lengannya, Reva justru berteriak histeris.
"NGGAK MAU! MAU SAMA MAMA AYANA! PAPA AL!" tangis Reva pecah seketika. Ia memeluk leher Ayana sekuat tenaga, wajahnya memerah dan air matanya membanjiri baju Ayana.
"Reva, ini Mama, Sayang..." Alya mencoba membujuk lagi, namun Reva malah semakin menjerit.
"PERGI! JANGAN BAWA LEVA! MAMA... JANGAN KASI LEVA KE TANTE ITU!" teriak Reva. Sebutan 'tante' yang keluar dari mulut Reva bagaikan tamparan keras bagi Alya.
Reva benar-benar tidak mengenali ibu kandungnya sendiri sebagai seorang ibu.
Ayana yang tak tega melihat Reva menangis kejang langsung berdiri dan menjauhkan Reva dari jangkauan Alya. "Cukup! Lihat kan? Dia ketakutan! Bang Rezky, Kak Alya, kalian nggak bisa paksa anak sekecil ini! Dia bukan barang yang bisa kalian ambil begitu saja hanya karena kalian merasa punya hak!"
Al pun berdiri, menghalangi langkah Rezky yang hendak maju. Sorot mata Al terlihat sangat tajam dan mengancam. "Kalau kalian paksa bawa dia dalam keadaan trauma begini, saya nggak akan tinggal diam. Reva butuh rasa aman, dan saat ini, rasa aman itu ada di Ayana, bukan di kalian yang baru datang setelah setahun menghilang!"
Rezky terdiam, nafasnya memburu karena emosi, namun ia tersentak melihat Reva yang sampai sesenggukan dan memohon-mohon pada Ayana agar tidak ditinggalkan. "Mama... jangan pelgi... Leva mau sama Mama Ayana aja..." bisik Reva di sela tangisnya yang mulai melemah karena lelah.
Ayana mendekap Reva erat, air matanya sendiri ikut jatuh. Ia menatap Alya dan Rezky dengan tatapan penuh luka. "Tolong... punya hati sedikit. Jangan hancurkan dunianya dalam satu malam."
Keributan yang pecah di ruang tamu akhirnya memancing langkah terburu-buru dari arah dalam. Mama Al dan Papa Al muncul dengan raut wajah cemas sekaligus kaget melihat pemandangan di depan mereka—Reva yang menangis histeris di pelukan Ayana, sementara Alya dan Rezky berdiri mematung
"Ada apa ini? Kenapa Reva sampai jerit-jerit begini?" tanya Papa Al dengan suara baritonnya yang tegas, membuat suasana mendadak hening sejenak.
Mama Al langsung menghampiri Ayana, mencoba mengelus punggung Reva yang masih sesenggukan. "Ya ampun, Sayang... kenapa cucu Oma nangisnya sampai begini?"
Rezky mencoba menjelaskan dengan nada yang tetap keras kepala. "Pa, Ma... kami mau bawa Reva pulang ke rumah kami di luar kota lusa. Tapi Reva sepertinya belum mengerti."
"Bawa pulang?" Papa Al mengernyitkan dahi, menatap Rezky dan Alya bergantian. "Kalian baru sampai setelah setahun lebih menghilang, dan sekarang mau langsung bawa anak ini pergi jauh? Apa kalian nggak lihat dia ketakutan begitu?"
"Tapi kami orang tuanya, Pa! Kami punya hak," sela Alya dengan suara serak.
Mama Al menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca menatap Ayana yang terus mendekap Reva. "Hak apa, Alya? Hak untuk membuat anak sendiri trauma? Selama setahun ini, Ayana yang jadi ibunya. Dia yang begadang kalau Reva demam, dia yang suapi Reva tiap hari. Kamu nggak bisa datang begitu saja dan memutus ikatan mereka dalam satu malam."
Papa Al menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Rezky. "Rezky, dengar Papa. Kamu laki-laki, harusnya kamu lebih bijak. Anak itu bukan barang. Kalau kamu paksa sekarang, Reva akan benci kalian selamanya. Apa itu yang kalian mau?"
Rezky terdiam, kata-kata Papa Al seolah menampar logikanya. Sementara itu, Reva semakin erat memeluk leher Ayana, seolah takut jika ia melepaskannya, ia akan langsung dibawa pergi.
"Mama... jangan kasih Leva... Leva mau sama Mama Ayana aja," rintih Reva pelan, suaranya sudah serak karena terlalu banyak menangis.
Ayana menatap mertuanya dengan tatapan memohon. "Ma, Pa... tolong. Reva nggak mau ikut. Jangan biarkan mereka paksa Reva."
Suasana di ruang tamu itu kini benar-benar buntu. Kehadiran orang tua Al membuat posisi Rezky dan Alya semakin tersudut oleh kenyataan bahwa mereka telah kehilangan kepercayaan dari anak mereka sendiri.
Ucapan Rezky yang sangat tidak berperasaan itu membuat suasana di ruang tamu mendadak sunyi senyap. Kata-katanya bukan hanya kasar, tapi juga sangat merendahkan martabat Ayana dan Al sebagai manusia.
"Kenapa kalian jadi repot begini? Kalian kan sudah menikah, ya tinggal buat anak sendiri saja! Jangan tahan anak kami terus, Reva itu darah daging saya!" seru Rezky dengan nada tanpa beban, seolah Reva adalah barang yang bisa ditukar ganti begitu saja.
Mendengar itu, Ayana tersentak. Air matanya yang tadi mengalir deras mendadak terhenti karena rasa syok. Hatinya seperti disayat sembilu; bagaimana bisa seorang ayah kandung bicara sekasar itu tentang anaknya sendiri?
Al yang biasanya bisa menahan emosi, kali ini benar-benar kehilangan kendali. Rahangnya mengeras, dan urat di lehernya menonjol. Ia melangkah maju dan langsung mencengkeram kerah baju Rezky dengan kuat.
"Jaga mulut kamu, Bang!" desis Al dengan suara yang sangat rendah namun mematikan. "Reva bukan barang yang bisa kamu tukar-tukar. Kamu pikir dengan membuat anak baru, kasih sayang kami ke Reva bisa hilang? Kamu benar-benar tidak punya hati!"
Papa Al yang mendengar ucapan menantunya itu pun langsung berdiri dengan wajah merah padam. "Rezky! Cukup! Papa tidak pernah mendidik kamu untuk bicara sekurang ajar itu! Keluar dari rumah ini sekarang juga sebelum Papa sendiri yang panggil polisi!"
Alya hanya bisa menangis ketakutan melihat suaminya hampir dipukul oleh Al. Rezky, meski tampak tersudut, tetap memasang wajah menantang sebelum akhirnya Al menyentaknya menjauh menuju pintu.
"Keluar! Jangan pernah injakkan kaki di sini lagi kalau tujuan kamu cuma untuk menghina istri saya!" bentak Al sambil menunjuk ke arah gerbang.
Setelah Rezky dan Alya pergi dengan perasaan dongkol, Al langsung berbalik menghampiri Ayana yang masih mematung memeluk Reva. Ayana tampak sangat terpukul dengan ucapan Rezky tadi.
"Ayana... jangan dengerin dia," bisik Al sambil mengelus pundak Ayana yang gemetar. "Reva tetap anak kita, nggak ada yang bisa gantiin dia."
Malam itu, luka di hati Ayana semakin dalam. Bukan hanya karena takut kehilangan Reva, tapi karena ia sadar bahwa orang tua kandung Reva ternyata jauh lebih dingin dan kejam dari yang ia bayangkan.