NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 34

"Bukan memanen dalam arti yang kita pahami, Pan," suara Laras terdengar hampa saat "Mawar Hitam" meluncur keluar dari permukaan laut, membelah ombak dengan kecepatan yang membuat cakrawala tampak melengkung. "Bukan seperti memetik buah. Tapi seperti memurnikan emas. Mereka mengambil inti sari, dan membuang ampasnya."

"Dan ampasnya... adalah kita?" Dio menatap layar komunikasinya yang masih dipenuhi data terdistorsi dari dasar palung. "Data dari mesin perunggu itu menunjukkan pola yang mengerikan. Setiap kali Para Pencipta mendatangi sebuah planet, biodiversitas planet itu melonjak drastis selama satu siklus, lalu... lenyap. Yang tersisa hanya batu mati yang kaya akan mineral Arca murni."

"Kita dijadikan pabrik biologis," geram Pandu. "Tanah Amazon, 'Jantung Arca' di Palung Jawa, bahkan kita sendiri—kita hanya katalis untuk mematangkan energi Arca sebelum mereka ambil kembali."

Astra Mawar kini terlihat di depan mata, namun stasiun itu tidak lagi tampak seperti tempat perlindungan. Di sekelilingnya, beberapa kapal kecil milik Para Pencipta melayang-layang seperti lebah yang menjaga sarang.

"Paman Aan tidak menjawab komunikasiku," Dio memukul konsol dengan frustrasi. "Sinyalnya diblokir oleh protokol harmonik mereka."

Laras tidak menggunakan radio. Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya meluas melampaui lambung kapal, menembus dinding logam Astra Mawar. Ia merasakan detak jantung pamannya—lemah, melambat, seolah-olah sedang tertidur dalam mimpi yang dalam.

"Mereka sedang menidurkan semua orang di stasiun," bisik Laras. "Proses 'sinkronisasi' sudah dimulai. Mereka sedang menyelaraskan frekuensi otak manusia dengan jaringan Arca global. Jika ini selesai, kita tidak akan punya kehendak bebas lagi. Kita akan menjadi bagian dari sistem pemrosesan energi mereka."

"Mawar Hitam" mendarat di hanggar tanpa izin. Pintu palka terbuka, dan Laras melompat keluar bahkan sebelum tangga turun sepenuhnya. Di dalam hanggar, para teknisi dan penjaga berdiri tegak seperti patung, mata mereka terbuka namun kosong, berpendar dengan cahaya biru yang sama dengan yang ada di langit Jakarta.

Laras berlari menuju ruang kontrol utama. Di sana, Aan duduk di kursi kerjanya, tangannya masih memegang mikroskop digital, namun kepalanya terkulai. Sebuah drone cahaya kecil melayang di atasnya, memancarkan nada lembut yang membuat udara terasa berat.

"Berhenti!" Laras mengibaskan tangannya, melepaskan gelombang energi emas yang langsung menghancurkan drone tersebut.

Aan tersentak bangun, terengah-engah seolah baru saja muncul dari permukaan air. "Laras? Apa... apa yang terjadi? Aku merasa seperti sedang melihat seluruh sejarah alam semesta dalam satu detik."

"Paman, kita harus pergi," Laras menarik tangan pamannya. "Para Pencipta bukan penyelamat. Mereka adalah petani kosmik, dan Bumi adalah ladang yang sudah siap panen."

"Aku tahu," Aan mengusap wajahnya, matanya merah. "Aku baru saja mengakses arsip terlarang yang mereka pancarkan ke otakku saat aku 'tertidur'. Laras... Arca emas yang mereka berikan padamu di Jakarta, itu bukan benih kehidupan. Itu adalah 'paku' gravitasi. Begitu benih itu tumbuh sepenuhnya, ia akan menarik seluruh energi bio-magnetik Bumi ke satu titik, lalu meledakkannya untuk dikirim kembali ke asal mereka."

Tiba-tiba, suara harmonik yang indah namun mematikan bergema di seluruh ruangan. Proyeksi siluet cahaya itu muncul kembali, kali ini lebih padat dan lebih mengancam.

"Kau melihat terlalu banyak, Penjaga Kecil," suara itu kini tidak lagi terasa seperti bisikan, tapi seperti tekanan fisik yang menghimpit dada mereka. "Keberadaanmu adalah anomali yang berguna, tapi anomali harus tetap berada dalam batas fungsinya. Kau telah menanam benihnya. Tugasmu selesai."

"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan rumah kami!" teriak Laras, cahaya emas di tubuhnya meledak, menentang tekanan dari entitas tersebut.

"Hancur? Tidak," sosok itu melangkah maju, dan setiap langkahnya membuat logam di bawah kaki mereka berderit. "Kami hanya memanen hasil kerja jutaan tahun. Kalian seharusnya bangga. Kehidupan kalian akan menjadi energi yang menghidupkan galaksi lain."

"Dio! Pandu! Sekarang!" Laras berteriak.

Dio melemparkan sebuah perangkat kecil—modifikasi dari mesin perunggu purba yang mereka ambil di Palung Jawa—ke tengah ruangan. Perangkat itu mengeluarkan frekuensi 'sumbang' yang langsung mengacaukan bentuk cahaya sang Pencipta.

"Jika kami adalah hama," Laras menggertakkan gigi, "maka bersiaplah untuk merasakan gigitan hama yang tidak mau mati!"

"Benih itu bukan di Jakarta lagi, Lar!" teriak Dio sambil mempertahankan stabilitas frekuensi 'sumbang' dari perangkat perunggu yang mulai memanas. "Sejak kau menanamnya, akarnya sudah menyatu dengan sistem saraf planet. Mencabutnya sekarang sama saja dengan mencabut jantung Bumi!"

Sosok cahaya itu kembali memadat, menahan gangguan frekuensi dengan lambaian tangan yang tenang. "Sia-sia. Kalian mencoba melawan gravitasi dengan kerikil. Benih emas itu kini telah menjadi bagian dari kerak bumi kalian."

Laras menatap telapak tangannya. Pendar emas di bawah kulitnya berdenyut selaras dengan getaran di bawah lantai stasiun. Ia menyadari satu hal yang tidak disadari oleh sang Pencipta: jika benih itu adalah paku gravitasi, maka ia adalah kuncinya.

"Paman, berapa lama sampai proses panen mencapai titik kritis?" tanya Laras tanpa menoleh.

"Dua belas menit," suara Aan bergetar saat ia membaca data pada monitor yang berkedip. "Begitu frekuensi mencapai puncak harmonik, seluruh energi bio-organik Bumi akan ditarik ke Monas dan ditembakkan ke ruang hampa. Setelah itu... Bumi hanya akan jadi bola batu tanpa nyawa."

"Kita tidak akan mencabutnya," kata Laras pelan, suaranya kini terdengar sangat tenang, membuat Pandu dan Dio terdiam. "Kita akan 'meracuninya'."

"Meracuninya?" Pandu mengerutkan kening. "Maksudmu menghancurkannya?"

"Tidak. Para Pencipta menginginkan energi yang murni, harmonis, dan mudah diproses," Laras melangkah maju, mendekati siluet cahaya yang kini tampak waspada. "Mereka menginginkan simfoni. Tapi Bumi... Bumi bukan simfoni yang rapi. Bumi adalah kekacauan. Bumi adalah kemarahan, cinta, duka, dan sejarah pengkhianatan di Palung Jawa."

Laras memutar tubuhnya menghadap Dio. "Dio, gunakan sistem transmisi Astra Mawar. Jangan kirim frekuensi harmonis Europa. Kirimkan semua memori kasar yang kita ambil dari mesin perunggu purba. Kirimkan rasa sakit dari tanah Amazon yang terbakar. Kirimkan setiap detak jantung manusia yang sedang ketakutan saat ini."

"Kau mau mengirimkan 'polusi' emosional ke dalam jaringan mereka?" Dio mulai memahami rencana gila itu.

"Jika mereka ingin memanen energi kita, biarkan mereka merasakan apa artinya menjadi kita," desis Laras.

Laras memejamkan mata dan kembali menghubungkan sarafnya dengan "Mawar Hitam" dan seluruh jaringan Arca. Kali ini, ia tidak mencoba menenangkanbadai di dalam dadanya. Ia justru membukanya lebar-lebar. Ia memanggil setiap memori tentang perjuangan, tentang air mata, tentang kegagalan manusia, dan mengalirkannya langsung ke dalam benih emas di Jakarta melalui jalur yang telah disediakan Para Pencipta.

Seketika, sosok cahaya di depan mereka bergetar hebat. Bentuknya yang sempurna mulai retak, memancarkan kilatan hitam yang tidak beraturan.

"Hentikan!" suara entitas itu kini tidak lagi harmonis; ia terdengar seperti gesekan logam yang memekakkan telinga. "Frekuensi ini... ini tidak murni! Ini korosif!"

"Itulah kehidupan!" teriak Laras. "Kehidupan bukan hanya cahaya perak dan nada indah. Kehidupan adalah luka yang sembuh! Dan kalian tidak akan bisa memanen apa yang tidak bisa kalian pahami!"

Di Bumi, Menara cahaya di Monas yang tadinya berwarna emas murni mulai berubah warna menjadi merah darah dan biru gelap yang kacau. Akar-akarnya yang merambat di seluruh Jakarta mulai berdenyut dengan ritme yang liar. Kapal-kapal kelopak di langit mulai terombang-ambing, sistem navigasi mereka lumpuh oleh beban emosional yang masuk ke dalam mesin mereka.

"Lar! Kau kelelahan! Detak jantungmu di zona bahaya!" Pandu mencoba memegang bahu Laras, namun energi yang keluar dari tubuh gadis itu melemparkannya ke belakang.

"Sikit lagi, Dio! Masukkan semuanya!"

Guncangan dahsyat melanda Astra Mawar. Salah satu kapal kelopak di luar stasiun meledak karena tidak mampu menahan beban data yang dikirimkan Laras. Sosok cahaya di ruang kontrol mulai memudar, hancur menjadi partikel-partikel redup.

"Kalian... makhluk... gagal..." itu adalah kata terakhir yang terdengar sebelum entitas itu lenyap sepenuhnya.

Namun, Laras ambruk ke lantai. Pendar di matanya padam. Benih emas di Jakarta telah berhenti memancarkan sinyal panen, namun ia kini tetap berdiri di sana sebagai monumen yang gelap dan diam.

"Lar! Laras!" Aan memangku kepala keponakannya.

Laras membuka mata sedikit, napasnya tersengal. "Apakah... apakah mereka pergi?"

Pandu melihat keluar jendela hanggar. Kapal-kapal Para Pencipta yang tersisa mulai mundur, melesat menjauh dari atmosfer Bumi seolah-olah mereka baru saja menyentuh bara api yang sangat panas.

"Mereka pergi," bisik Pandu. "Tapi mereka akan ingat rasa sakit ini."

"Bumi selamat?" tanya Dio, tangannya masih gemetar di atas konsol.

Laras tersenyum lemah, menatap langit-langit hanggar yang kini sunyi. "Bumi tidak lagi murni. Kita telah mengotori 'kebun' mereka dengan sejarah kita. Mereka tidak akan kembali untuk memanen... tapi kita harus hidup dengan apa yang telah kita tanam di Jakarta."

Di pusat Jakarta, pohon raksasa itu tidak lagi bercahaya perak. Ia kini berwarna seperti kayu tua yang kuat, dengan daun-daun hijau yang tumbuh alami dari celah-celahnya. Ia bukan lagi mesin alien. Ia telah menjadi bagian dari Bumi—monumen atas kemenangan hama yang menolak untuk dipanen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!