Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Neraka di Atas Ombak
Kapal pesiar The Predator oleng hebat. Dentuman ledakan dari bagian lambung kapal membuat struktur baja itu mengerang, seolah-olah raksasa besi ini sedang sekarat di tengah lautan yang gelap. Asap hitam mengepul pekat dari dek bawah, menelan cahaya lampu pesta yang tadi berpendar mewah. Sekarang, kemewahan itu telah berganti menjadi panggung pembantaian.
Arga berdiri di tengah dek yang basah oleh air laut dan cipratan darah. Di belakangnya, Rio Hardianto masih terduduk lemas, wajahnya pucat pasi, menatap Arga dengan pandangan yang tak lagi angkuh. Ia baru saja melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Arga mencabik-cabik tiga penyerang profesional dengan tangan kosong—sebuah kecepatan dan kebrutalan yang tidak masuk akal bagi seorang manusia.
"Kau... apa kau ini?" bisik Rio, suaranya parau.
Arga tidak menoleh. Matanya yang berkilat emas terus memindai kegelapan, mencari celah dari serangan berikutnya. “Dia hanya domba yang ketakutan, Inang. Jangan habiskan waktumu dengan omong kosong. Aroma pengkhianat di kapal ini... baunya berasal dari ruang kemudi,” bisik Macan Kencana. Suara itu kini terdengar begitu nyata, seolah-olah ada sosok besar yang membisikkannya tepat di balik telinga Arga.
Arga mengabaikan Rio dan segera bergerak menuju ruang kemudi. Setiap langkahnya meninggalkan retakan tipis pada dek kayu yang ia pijak. Ia harus mencapai ruang kendali sebelum kapal ini tenggelam total. Jika mereka kehilangan kontrol, arus laut akan menyeret mereka ke wilayah perairan dalam yang tidak terjamah radar.
Brak!
Arga mendobrak pintu ruang kemudi dengan satu tendangan yang menghancurkan engsel baja. Di dalam, ia menemukan kapten kapal sedang diikat di kursi, sementara seorang pria dengan setelan rapi sedang mencoba memutus sistem navigasi dan komunikasi satelit. Pria itu adalah salah satu tangan kanan Direktur Keuangan Wijaya Holdings—orang yang tadi pagi sempat Arga lihat di berkas intelijen Clarissa.
"Jadi, kau tikusnya," desis Arga.
Pria itu menoleh. Senyum sinis tersungkur di bibirnya. "Arga Satria? Atau seharusnya aku memanggilmu 'anjing peliharaan' Clarissa? Sayang sekali, kau datang terlalu cepat. Kapal ini sudah dipasang peledak waktu. Dalam sepuluh menit, kau, Rio, dan semua saksi di sini akan terkubur di dasar laut."
"Aku tidak butuh waktu sepuluh menit untuk membunuhmu," balas Arga dingin.
Tanpa basa-basi, Arga melesat. Namun, pria itu ternyata bukan amatir. Ia mengeluarkan sebuah perangkat pemancar sonik dari sakunya. Saat diaktifkan, frekuensi tinggi yang memekakkan telinga merambat di udara.
Arga menjerit tertahan. Frekuensi itu tepat menyasar indra pendengaran yang kini jauh lebih sensitif akibat pengaruh Mustika. Ia jatuh berlutut, kepalanya terasa seperti akan meledak dari dalam. Pandangannya menjadi buram. Bayangan Sari muncul kembali di depan matanya, namun kali ini sosok itu mulai terbakar oleh api yang berkobar di dalam kabin.
“Arga! Lupakan dia! Fokus pada frekuensi itu! Hancurkan pemancarnya!” Macan Kencana meraung, ikut merasakan siksaan dari frekuensi tersebut.
Arga memejamkan mata, memaksakan kesadarannya untuk tidak pudar. Ia tidak boleh melupakan Sari. Sari adalah alasan kenapa ia masih berusaha menjadi manusia. Ia memusatkan seluruh energi panas dari Mustika di dadanya ke ujung jarinya, lalu dengan sisa tenaga yang ada, ia menyabetkan tangannya ke arah pemancar sonik di tangan pria itu.
Zzzzzzt!
Pemancar itu hancur berkeping-keping. Arga tidak memberi jeda. Ia bangkit, mencekik leher pria itu dengan satu tangan, dan mengangkatnya ke udara.
"Siapa yang memerintahkanmu?" tanya Arga, matanya kembali menyala dengan warna emas yang sangat dominan.
Pria itu tertawa meski napasnya terputus-putus. "Kau pikir kau menang? Ini baru permulaan. Keluarga Wijaya akan runtuh dari dalam. Dan kau... kau hanyalah tumbal yang akan dibuang saat mereka tidak lagi membutuhkanmu."
Pria itu menggigit sesuatu di balik gerahamnya—kapsul sianida. Tubuhnya mengejang hebat sebelum akhirnya terkulai lemas di tangan Arga. Arga melepaskannya dengan perasaan jijik.
Ia segera mendekati sistem navigasi. Meski ia tidak ahli dalam sistem kapal modern, ia tahu bahwa ia harus mematikan protokol self-destruct tersebut. “Gunakan sentuhanmu, Inang. Alirkan auramu ke dalam sistem kelistrikan kapal. Pahami polanya.”
Arga meletakkan kedua tangannya di atas panel kontrol. Ia memejamkan mata, membiarkan energi emasnya merambat masuk ke kabel-kabel tembaga. Ia bisa merasakan aliran listrik seperti nadi di bawah kulitnya. Ia menemukan pemicu ledakan tersebut—sebuah timer digital yang terhubung dengan detonator di lambung kapal. Dengan satu sentakan aura, ia membakar rangkaian sirkuit di dalam detonator tersebut.
Ledakan tidak terjadi.
Arga menarik napas lega, namun tubuhnya langsung limbung. Kekuatan yang ia keluarkan barusan hampir menguras seluruh cadangan energi manusianya. Ia jatuh terduduk, napasnya tersengal.
Saat ia mencoba berdiri, ia mendengar langkah kaki di belakangnya. Rio Hardianto masuk ke dalam ruang kemudi, memegang sebuah pistol dengan tangan yang gemetar.
"Aku melihat semuanya," ujar Rio. "Aku melihat bagaimana kau menghancurkan orang itu, dan aku melihat bagaimana kau menghentikan ledakan itu dengan cara yang tidak mungkin dilakukan manusia. Siapa kau sebenarnya, Arga?"
Arga menoleh, matanya masih memancarkan kilau emas yang perlahan memudar. "Aku adalah orang yang baru saja menyelamatkan nyawamu, Rio. Apa yang akan kau lakukan? Menembakku?"
Rio terdiam. Ia menatap pistol di tangannya, lalu menatap Arga yang tampak begitu lelah namun memiliki aura yang membuat nyalinya ciut. "Tidak. Jika aku membunuhmu, siapa yang akan melindungiku dari orang-orang yang ingin membunuhku sekarang? Kau harus memberiku penjelasan, atau aku akan melaporkan ini pada pihak otoritas."
"Laporkan saja," Arga bangkit dengan susah payah, berjalan melewati Rio menuju pintu keluar. "Tapi ingat, jika mereka tahu kau selamat, mereka akan mengirim orang yang lebih ahli daripada 'Taring Hitam'. Kau hanya punya satu pilihan: bersekutu denganku untuk mencari tahu siapa di jajaran direksi Wijaya yang bermain di balik layar."
Rio menurunkan pistolnya. Ia tahu Arga benar. "Aku punya informasi tentang pertemuan rahasia di gedung pusat Wijaya Holdings malam ini. Seseorang yang memiliki akses ke kode akses utama akan berada di sana."
"Siapkan transportasi," perintah Arga. "Kita akan kembali ke daratan. Dan Rio... jangan pernah mencoba mengarahkan senjata itu padaku lagi. Jika kau melakukannya, kau tidak akan sempat menarik pelatuknya."
Arga berjalan keluar menuju dek. Di tengah malam yang dingin, ia memandang laut yang luas. Ia merasa kehilangan sesuatu yang besar lagi di dalam kepalanya. Sebuah nama. Nama guru SD yang dulu selalu ia ingat, kini benar-benar terhapus. Ia mencoba membayangkan wajah Sari, namun yang ia dapatkan hanyalah siluet yang semakin samar.
“Satu memori lagi yang hilang untuk satu nyawa yang selamat,” suara Macan Kencana terdengar puas. “Kau semakin kuat, Arga. Tapi ingat, semakin kau kuat, semakin sedikit dari dirimu yang tersisa.”
Arga mengepalkan tangan, menahan rasa sakit di dadanya. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus terus berjalan di jalan berdarah ini, karena jika ia berhenti, ia akan mati sebagai pecundang. Dan ia bersumpah, ia akan menemukan pengkhianat itu, meski ia harus mengorbankan setiap inci ingatannya tentang siapa dirinya yang dulu.
Malam itu, kapal pesiar mewah itu berbalik arah, membawa Arga kembali ke Jakarta, ke pusat dari segala konspirasi yang menunggu untuk menghancurkannya.