Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 12 — Luka Tak Terjawab
Waktu berlalu bukan sebagai penyembuh, melainkan sebagai pengikis perlahan yang meninggalkan luka terbuka. Hari-hari di rumah tua itu berjalan seperti jam rusak—berulang, berat, dan tanpa kepastian. Tidak ada terobosan. Tidak ada jawaban. Hanya ingatan yang semakin sering menyelinap, menusuk di saat-saat paling sunyi.
Sudah berbulan-bulan sejak malam ketika Aluna mengetukkan bunyi tok… tok… itu. Sejak saat itu, ketenangan semu yang sempat mereka rasakan runtuh pelan-pelan.
Digo berubah paling jelas.
Ia sering duduk menghadap jendela, kursi rodanya mengunci di tempat yang sama, menatap halaman yang ditumbuhi rumput liar. Pandangannya kosong, seperti menunggu sesuatu yang tak pernah datang. Ada hari-hari ketika ia menolak makan. Ada malam-malam ketika ia terbangun dengan napas memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya.
“Kalau malam itu aku lebih cepat…” Digo sering bergumam, kalimatnya terputus sebelum selesai. “Kalau aku lebih kuat…”
Dimas selalu memotongnya. “Kamu sudah menyelamatkan kami,” katanya tegas, meski di dalam dadanya sendiri ada suara yang sama, menggerogoti. “Aku hidup karena kamu.”
Namun kata-kata itu makin lama makin terdengar kosong, bahkan bagi dirinya sendiri.
Aluna pun tidak membaik. Justru sebaliknya.
Ada hari-hari ketika ia tenang, duduk menggambar kupu-kupu dengan krayon yang Dimas belikan, menyanyikan lagu masa kecil dengan nada lirih. Tapi ada juga hari-hari ketika ia mengamuk tanpa sebab, menutup telinga, menangis sambil berteriak ketakutan. Malam-malam tertentu, ia bangun dan berjalan mondar-mandir di lorong, mengetuk dinding dengan ritme yang membuat jantung Dimas berdegup terlalu keras.
Tok… tok…
Dimas mulai membenci bunyi apa pun yang berirama.
Ia sudah mencoba segalanya. Membaca ulang laporan polisi lama. Menghubungi orang-orang yang pernah terlibat dalam kasus itu—kebanyakan sudah pindah, meninggal, atau memilih lupa. Nama Marco selalu muncul di tepi pembicaraan, tapi tak pernah cukup jelas untuk dijadikan tuduhan. Tidak ada bukti. Tidak ada saksi yang berani bicara.
Seolah malam pembantaian itu memang sengaja ditelan waktu.
Suatu sore, hujan turun deras. Atap rumah bocor di beberapa titik, meneteskan air ke ember-ember yang berderet di lantai. Dimas berdiri di dapur, menatap dinding kosong sambil menggenggam secangkir kopi yang sudah dingin.
Di ruang tengah, Digo menatap lantai.
“Aku capek, Mas,” ucapnya tiba-tiba. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi. “Capek bangun tiap hari dengan pertanyaan yang sama.”
Dimas tidak langsung menjawab.
“Kalau memang pelakunya tidak pernah ditemukan,” lanjut Digo, “apa gunanya kita terus menggali?”
Dimas menoleh. “Karena kalau kita berhenti, mereka menang.”
Digo tersenyum pahit. “Dan kalau kita terus menggali, apa yang kita dapat? Luka baru?”
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan menyakitkan. Dimas tahu Digo tidak salah. Ia melihat sendiri bagaimana pencarian ini menggerogoti mereka bertiga.
Malam itu, setelah Digo tertidur lebih awal karena kelelahan emosional, Dimas duduk di samping Aluna yang sedang menggambar. Tangannya bergetar halus, garis-garis di kertas sering melenceng.
“Apa yang kamu gambar?” tanya Dimas lembut.
“Kupu-kupu,” jawab Aluna tanpa menoleh.
“Masih tiga sayap?”
Aluna berhenti menggambar. Ia menatap kertas itu lama, lalu menggeleng. “Sekarang dua.”
Dimas menelan ludah. “Kenapa?”
“Yang hitam sudah pergi,” jawab Aluna pelan. “Tapi dia suka balik kalau Mas diam.”
Kata-kata itu membuat bulu kuduk Dimas berdiri. Ia memegang tangan Aluna, memastikan adiknya menatapnya.
“Mas tidak akan diam,” katanya tegas, lebih kepada dirinya sendiri. “Mas janji.”
Malam itu, Dimas tidak tidur. Ia membuka semua catatan yang ia kumpulkan: buku lagu ibu, diary misterius, gambar-gambar Aluna dari panti, potongan laporan polisi. Ia menyusunnya di lantai seperti puzzle yang belum lengkap.
Satu hal mulai terasa semakin jelas: pelaku bukan orang luar. Ia seseorang yang dekat. Seseorang yang tahu kebiasaan rumah. Seseorang yang tidak menimbulkan kecurigaan.
Orang dekat bisa menghancurkan segalanya.
Kalimat dari diary itu kembali menggema.
Dimas mengepalkan tangan. Selama ini ia terlalu berhati-hati. Terlalu takut menuduh tanpa bukti. Terlalu sibuk menjaga agar luka tidak terbuka lebih lebar.
Tapi luka itu sudah terbuka sejak awal.
Ia berdiri, mengambil jaketnya. Di luar, hujan masih turun, membasahi halaman dan menenggelamkan suara langkahnya.
“Mas?” Aluna memanggil dari ruang tengah. “Mau ke mana?”
Dimas menoleh, tersenyum kecil. “Cari jawaban.”
“Jangan lama,” kata Aluna. “Kalau lama… sayap hitam datang.”
Dimas mendekat, menunduk sejajar dengannya. “Mas akan cepat. Dan Mas tidak akan biarkan siapa pun menyakiti kamu lagi.”
Ketika ia menutup pintu dan melangkah ke malam yang basah, tekadnya mengeras.
Ia tidak lagi mencari kebenaran untuk dirinya sendiri.
Ia mencari untuk Digo, yang perlahan hancur oleh rasa bersalah.
Untuk Aluna, yang ingatannya dikubur hidup-hidup.
Dan untuk keluarganya—yang selama dua puluh lima tahun tidak pernah mendapatkan keadilan.
Apa pun risikonya, Dimas akan menemukan pelaku sebenarnya.