"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: TANAH AIR YANG BERDARAH
BAB 24: TANAH AIR YANG BERDARAH
Roda pesawat jet pribadi itu menyentuh aspal landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan guncangan yang cukup keras, seolah memberikan peringatan bahwa tanah air tidak lagi menyambut Alana dengan pelukan hangat. Di luar jendela, langit Jakarta tampak kelabu, tertutup polusi dan mendung yang menggantung rendah, menciptakan suasana klaustrofobik yang mencekam.
Alana Roseline von Heist—atau yang selama sepuluh tahun ini lebih dikenal sebagai Alana Adiwangsa—berdiri di samping tandu medis Kenzo. Ia mengenakan kacamata hitam besar, mencoba menyembunyikan matanya yang sembab dan lelah. Di balik blazer hitamnya yang elegan, ia menggenggam sebuah botol kecil berisi obat penenang yang diberikan Maximilian; ia membutuhkannya untuk menenangkan jantungnya yang berdegup liar sejak pesawat memasuki wilayah udara Indonesia.
"Kita sudah sampai, Kenzo," bisik Alana sambil membelai rambut Kenzo yang masih terbaring lemah.
Kenzo membuka matanya sedikit, mencoba memberikan senyum tipis meski selang oksigen masih terpasang di hidungnya. "Jangan lepaskan tanganku, Alana. Di sini... musuh kita memiliki seribu wajah."
Pintu pesawat terbuka, dan tangga hidrolik perlahan menurun. Namun, alih-alih disambut oleh karpet merah atau barisan pelayan, mereka disambut oleh pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri. Di sekeliling landasan pacu, tiga unit mobil taktis baja milik Dirgantara Group sudah bersiaga, lengkap dengan belasan pria bersenjata laras panjang yang mengenakan rompi anti-peluru.
Di tengah barisan itu, berdiri keenam kakak Alana. Elvan, Satya, Gio, Bima, Arya, dan Bastian. Wajah mereka tidak menunjukkan kegembiraan; mereka tampak seperti jenderal yang sedang menunggu kepulangan prajurit yang terluka di medan perang.
"Alana!" Gio, si bungsu yang paling emosional, berlari mendekat begitu kaki Alana menyentuh aspal. Ia ingin memeluk adiknya, namun langkahnya terhenti saat melihat tatapan dingin Alana.
"Jangan sekarang, Gio," ucap Alana datar. "Bantu tim medis memindahkan Kenzo ke ambulans baja. Kita tidak aman di tempat terbuka seperti ini."
Elvan maju, memegang bahu Alana dengan kuat. "Kau benar. Satya baru saja mendeteksi sinyal pelacak ilegal yang mengarah ke koordinat jet ini sejak kita melewati wilayah udara Singapura. Seseorang di dalam sistem bandara telah membocorkan kedatangan kalian."
"Raka?" tanya Alana singkat.
"Bukan hanya dia," sahut Satya sambil menunjukkan tabletnya yang penuh dengan barisan kode. "Raka hanyalah kurir. Ada aliran dana besar dari Jerman yang masuk ke rekening-rekening organisasi dunia bawah di Jakarta. Wilhelm benar-benar serius dengan 'hadiah' yang ia janjikan untuk kepalamu, Alana."
Di Sebuah Mobil Boks Tua – 500 Meter dari Landasan Pacu.
Raka Ardiansyah mengintip melalui lensa binokular militer yang ia beli di pasar gelap. Matanya yang memerah dan cekung karena efek narkoba dan dendam, terpaku pada sosok Alana.
"Lihat dia, Siska..." desis Raka, suaranya terdengar seperti gesekan amplas. "Dia tampak seperti ratu sekarang. Sombong sekali. Dia pikir dengan dikelilingi kakak-kakaknya dan pasukan Kenzo, dia aman?"
Siska, yang meringkuk di pojok mobil boks dengan pakaian yang sudah kusam dan bau, hanya bisa menangis tanpa suara. Ia melihat Raka mengeluarkan sebuah detonator kecil dari sakunya.
"Raka... tolong berhenti. Kita lari saja... jangan bunuh mereka," isak Siska.
"Diam kau!" Raka menendang kaki Siska hingga wanita itu tersungkur. "Mereka telah menghancurkan hidupku! Kenzo mengambil hartaku, Alana mengambil harga diriku! Sekarang, aku akan mengambil apa yang ada di dalam tubuh Alana. Darahnya adalah tiket kita menuju surga, dan kematian mereka adalah bonusnya!"
Raka menekan tombol di radio panggilnya. "Grup Satu, mangsa sudah bergerak menuju tol dalam kota. Lakukan serangan pengalihan di pintu tol pertama. Aku ingin ambulans itu terpisah dari iring-iringan pengawal."
Konvoi mobil hitam itu melaju kencang membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Ambulans yang membawa Kenzo berada di tengah, diapit oleh dua SUV antipeluru milik Adiwangsa. Alana duduk di dalam ambulans, menggenggam tangan Kenzo yang kini mulai berkeringat dingin.
"Semuanya akan baik-baik saja, Kenzo. Kita sebentar lagi sampai di rumah sakit pribadi Dirgantara," ucap Alana menenangkan, meski ia sendiri merasa ada yang tidak beres.
Tiba-tiba, sebuah truk kontainer besar di depan mereka mengerem mendadak, menyebabkan ban-bannya mencit nyaring dan mengeluarkan asap putih. Di saat yang sama, dua sepeda motor sport melesat dari arah belakang, melemparkan sesuatu ke bawah kolong mobil SUV paling depan.
BOOM!
Ledakan itu tidak menghancurkan mobil, tapi menciptakan kepulan asap tebal yang membutakan pandangan.
"Serangan! Mundur! Mundur!" teriak sopir ambulans melalui radio.
Namun, dari arah samping, sebuah mobil jip menabrak sisi ambulans dengan sangat keras hingga kendaraan medis itu terdorong keluar jalur dan menghantam pembatas jalan tol. Alana terlempar ke arah dinding ambulans, kepalanya terbentur keras hingga pandangannya mengabur.
"Alana..." suara Kenzo terdengar parau di tengah dentuman jantung Alana yang memekakkan telinga.
Pintu belakang ambulans didobrak paksa dari luar. Sosok pria dengan penutup wajah muncul, namun Alana segera mengenali matanya. Mata yang penuh dengan kegilaan dan kebencian.
"Raka..." desis Alana sambil mencoba bangkit, darah mengalir dari pelipisnya.
Raka tertawa, suaranya melengking di tengah kekacauan lalu lintas tol yang terhenti. Ia memegang sebuah pistol penenang dan sebuah tas medis berisi peralatan pengambilan darah. "Hai, Istriku tercinta. Oh, maaf... mantan istri. Aku merindukanmu. Lebih tepatnya, aku merindukan apa yang mengalir di dalam nadimu."
"Kau gila, Raka! Kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup!" teriak Alana.
"Aku tidak peduli tentang hidup atau mati, Alana! Tapi kau... kau akan menjadi penyelamatku," Raka melangkah masuk ke dalam ambulans yang miring itu.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang lemas namun kuat mencengkeram kaki Raka. Kenzo, dengan sisa tenaganya, mencoba menarik Raka jatuh. "Jangan... sentuh... dia..."
Raka melirik Kenzo dengan jijik. Ia menendang luka operasi di bahu Kenzo dengan sepatu botnya tanpa belas kasihan. Kenzo berteriak kesakitan, dan darah segar kembali merembes dari perbannya.
"Kenzo!" Alana menerjang Raka, mencakar wajah pria itu dengan kuku-kukunya.
Raka yang terkejut segera memukul wajah Alana hingga wanita itu tersungkur kembali. Namun, aksi Alana memberikan waktu bagi pengawal Adiwangsa untuk mendekat. Terdengar rentetan tembakan dari arah luar.
"Sial!" kutuk Raka. Ia menyadari waktunya habis. Ia tidak sempat mengambil darah Alana di sana. Ia segera menyambar tas tangan Alana yang terjatuh—tas yang berisi dokumen identitas Von Heist dan kunci akses brankas pribadi—lalu melompat keluar ambulans menuju motor yang sudah menunggunya.
Sepuluh menit kemudian, area tol tersebut sudah dikepung oleh polisi dan pasukan Adiwangsa. Elvan berlari menuju ambulans yang ringsek, menarik Alana keluar dari reruntuhan.
"Alana! Kau terluka?!" Elvan memeriksa wajah adiknya dengan panik.
Alana tidak memedulikan lukanya sendiri. Ia menunjuk ke dalam ambulans. "Kenzo... lukanya terbuka lagi. Cepat panggil dokter!"
Petugas medis segera mengangkat Kenzo yang sudah tak sadarkan diri kembali. Elvan memeluk Alana yang gemetar hebat.
"Ini baru permulaan, Kak," bisik Alana di pundak Elvan. "Raka tidak takut lagi pada polisi. Dia bekerja untuk Wilhelm. Dia mengambil dokumenku. Dia tahu ke mana aku akan pergi setelah ini."
"Dia tidak akan sempat menggunakannya, Al," geram Elvan. "Aku sudah memerintahkan Satya untuk membakar seluruh Jakarta jika perlu untuk menemukan persembunyiannya."
Malam Harinya – Di Rumah Sakit Pusat Dirgantara (Lantai Steril).
Kenzo telah kembali stabil setelah menjalani prosedur penutupan luka darurat. Alana duduk di sampingnya, menatap ke arah jendela yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta. Namun, kali ini, ia tidak lagi tampak seperti wanita yang ketakutan.
Ia memegang sebuah pisau lipat kecil di tangannya, memutar-mutarnya dengan tatapan kosong.
"Tuan Elvan," panggil Alana tanpa menoleh saat kakaknya masuk ke ruangan.
"Ya, Al?"
"Cari tahu di mana Siska berada. Jika Raka tidak bisa disentuh karena dia selalu berpindah tempat, maka kita cari titik terlemahnya. Siska adalah satu-satunya orang yang tahu di mana tikus itu bersembunyi."
Elvan tertegun melihat perubahan nada bicara Alana. "Kau ingin kami melakukan apa?"
"Bawa dia padaku," ucap Alana, suaranya sedingin es. "Aku ingin bicara padanya sebagai sesama 'korban' Raka. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa menjadi pelakor bagi pria seperti Raka adalah tiket menuju neraka yang paling dalam. Aku akan menggunakan Siska untuk memancing Raka ke dalam jebakan kita."
Alana berdiri, mendekati cermin di ruangan itu. Ia menghapus darah di pelipisnya, lalu merapikan rambutnya.
"Mulai malam ini, tidak ada lagi Alana yang malang. Tidak ada lagi Rosalina yang pasif. Jika mereka ingin darahku, mereka harus membayarnya dengan nyawa mereka sendiri. Dan aku ingin kakak-kakakku berhenti melindungiku seperti bayi."
"Maksudmu?"
"Berikan aku akses ke jaringan senjata Adiwangsa. Berikan aku tim taktis milik Bima dan Arya. Aku akan memimpin perburuan ini sendiri. Kenzo terluka karena aku, dan aku tidak akan membiarkan dia terluka lagi saat dia bangun nanti."
Elvan menatap adiknya dengan rasa bangga sekaligus ngeri. Alana telah benar-benar berubah. Pengasingan di Jerman dan serangan di tol tadi telah membakar habis sisa-sisa kelembutannya. Kini, yang tersisa hanyalah seorang wanita yang siap menjadi monster demi orang yang dicintainya.
Di sudut ruangan, monitor jantung Kenzo berdetak stabil. Di luar sana, Raka sedang menatap dokumen Von Heist dengan tawa kemenangan, tidak menyadari bahwa mangsa yang ia buru kini telah berubah menjadi pemburu yang jauh lebih mematikan.