"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: SIMFONI PENGKHIANATAN KEDUA
BAB 32: SIMFONI PENGKHIANATAN KEDUA
Hujan di Jakarta belum juga reda, justru semakin lebat seolah ingin menenggelamkan sisa-sisa aroma asam dan mesiu dari pabrik kimia itu. Alana duduk di dalam mobil SUV antipeluru milik Elvan, tubuhnya dibalut selimut tebal, namun kedinginan yang ia rasakan berasal dari dalam sumsum tulangnya. Di sampingnya, Kenzo terlelap karena pengaruh obat pereda nyeri, napasnya berat dan tidak teratur.
Alana menatap pantulan dirinya di jendela mobil yang gelap. Wajahnya pucat, dengan goresan luka di pipi dan lengan, tapi matanya... mata itu tidak lagi mencerminkan wanita yang ragu.
"Nona Alana," suara Satya dari kursi depan memecah keheningan. "Kami sudah melacak istilah 'Mawar Putih' yang disebutkan dalam rekaman Bram. Itu bukan sekadar nama sandi. Itu adalah unit paramiliter elit bentukan Dirgantara dan Von Heist yang berisi orang-orang yang memiliki 'hutang nyawa' pada mereka. Mereka terlatih, tidak memiliki identitas resmi, dan mereka sudah bergerak."
Alana mengepalkan tangannya. "Ke mana mereka bergerak, Kak?"
"Ke rumah utama Adiwangsa," jawab Satya dengan nada tegang. "Bima dan Arya sudah di sana untuk memperketat penjagaan, tapi ada satu hal yang mengganjal. Sistem keamanan kita di rumah utama... seseorang telah mengganti protokol daruratnya dari dalam tiga jam yang lalu."
Darah Alana terasa membeku. "Bram sudah tertangkap. Siapa lagi yang bisa melakukannya?"
Satya menggeleng lemah. "Hanya ada tiga orang yang punya otoritas itu: aku, Elvan, dan... Bastian."
Alana tersentak. Bastian Adiwangsa. Kakak kelimanya. Kakak yang paling pendiam, yang paling jarang bicara, tapi paling jenius dalam hal sistem digital dan administrasi keluarga. Bastian adalah orang yang selama ini mengelola seluruh "keran" keuangan dan logistik Adiwangsa.
"Tidak mungkin," bisik Alana. "Bastian sangat menyayangiku. Dia yang selalu membelikanku buku-buku lama saat aku depresi karena Raka. Dia tidak mungkin mengkhianati kita."
"Aku harap aku salah, Al," sahut Satya lirih. "Tapi saat ini, Bastian tidak bisa dihubungi. Dia menghilang dari radar tepat setelah pabrik kimia meledak."
Mansion Adiwangsa – Pukul 04:30 Pagi.
Mansion mewah itu tampak seperti benteng yang tak tertembus dari luar, namun di dalamnya, suasana sangat mencekam. Bima dan Arya berdiri di aula utama dengan senjata lengkap, mengawasi setiap sudut melalui kamera pengawas.
"Ada yang aneh," geram Bima sambil menatap monitor CCTV yang tiba-tiba berkedip. "Unit Mawar Putih seharusnya sudah sampai, tapi kenapa radar depan bersih?"
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar menuruni tangga utama. Sosok pria dengan kacamata berbingkai perak dan kemeja rapi muncul. Itu Bastian. Wajahnya tampak tenang, hampir tanpa emosi.
"Bastian? Kau dari mana saja? Satya mencarimu!" seru Arya sambil mendekati adiknya itu.
Bastian berhenti di anak tangga terakhir. Ia menatap kedua kakaknya dengan tatapan datar. "Satya selalu terlalu banyak bicara. Dia tidak mengerti bahwa dunia ini sedang berubah. Adiwangsa sudah terlalu tua, Kak. Kita butuh fondasi baru."
"Apa maksudmu?" Bima mulai merasakan firasat buruk. Ia mengangkat senjatanya, namun terlambat.
Lampu di seluruh mansion padam seketika. Suara desisan gas tidur mulai memenuhi ruangan melalui ventilasi udara. Bima dan Arya terbatuk-batuk, pandangan mereka mulai kabur.
"Bastian... kau..." Arya jatuh bertumpu pada lututnya, mencoba meraih kakinya yang lemas.
"Maafkan aku, Kak," ucap Bastian tenang. "Tapi Wilhelm memberikan penawaran yang masuk akal. Dia tidak ingin menghancurkan Adiwangsa. Dia hanya ingin Alana. Dan jika aku memberikan Alana, dia akan memastikan Dirgantara Group jatuh ke tanganku, bukan ke tangan Kenzo. Kita butuh pemimpin yang logis, bukan pemimpin yang digerakkan oleh cinta buta."
Pintu depan mansion terbuka perlahan. Puluhan pria berpakaian serba putih dengan topeng porselen masuk tanpa suara. Inilah Unit Mawar Putih. Mereka bergerak dengan presisi militer, melucuti Bima dan Arya yang sudah tak sadarkan diri.
Di Tengah Jalan Menuju Mansion.
Mobil yang membawa Alana dan Kenzo tiba-tiba direm mendadak oleh Satya. Di depan mereka, dua truk besar melintang menutupi jalan tol yang sepi.
"Serangan!" teriak Satya.
Kenzo terbangun seketika, insting tempurnya langsung aktif meski tubuhnya masih lemah. "Alana, merunduk!"
Peluru-peluru menghujam bodi mobil antipeluru itu, menciptakan suara dentuman logam yang memekakkan telinga. Satya mencoba memutar balik mobil, namun dari arah belakang, sebuah mobil jip menabrak mereka dengan keras.
"Keluar! Sekarang!" perintah Satya.
Mereka bertiga keluar dari mobil yang mulai berasap, berlindung di balik pembatas jalan tol. Dari arah truk, muncul sosok pria dengan pakaian putih yang sangat rapi. Ia tidak memakai topeng.
Alana terbelalak melihat pria itu. Bukan karena ia musuh baru, tapi karena pria itu adalah Dokter Adrian, dokter pribadi yang selama ini merawat lukanya dan luka Kenzo sejak mereka kembali ke Jakarta.
"Dokter Adrian?" Alana berteriak di tengah suara desingan peluru. "Kau juga bagian dari mereka?!"
Adrian tersenyum tipis, memegang sebuah alat suntik otomatis di tangannya. "Saya bukan bagian dari mereka, Alana. Saya adalah pemimpin Unit Mawar Putih. Tugas saya sederhana: membawa Anda kembali ke laboratorium Wilhelm dalam keadaan utuh. Darah Anda terlalu berharga untuk tercecer di aspal ini."
Kenzo berdiri di depan Alana, melindungi wanita itu dengan tubuhnya sendiri. "Kau harus melangkahi mayatku dulu, Adrian!"
"Dengan senang hati, Tuan Muda Kenzo," balas Adrian dingin. "Tapi Tuan Besar Dirgantara memberikan perintah khusus: Anda tidak boleh mati. Anda hanya perlu dibuat cacat agar tidak bisa lagi mengejar Alana."
Adrian memberi isyarat, dan anak buahnya mulai merangsek maju. Pertempuran di jalan tol itu pecah dengan sangat brutal. Kenzo bertarung dengan sisa tenaganya, melakukan gerakan bela diri jarak dekat yang sangat teknis. Satya memberikan perlindungan tembakan dari samping.
Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Alana menyadari bahwa jika ini terus berlanjut, Kenzo akan benar-benar terbunuh.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah melesat kencang dari arah berlawanan, menabrak barisan Unit Mawar Putih. Mobil itu berhenti tepat di depan Alana. Pintunya terbuka, dan muncullah sosok yang paling tidak terduga.
Siska.
Wanita itu tampak berantakan, wajahnya penuh memar, namun di tangannya ia memegang sebuah senapan mesin ringan. "Masuk! Cepat!" teriak Siska.
Alana ragu. "Siska? Kau melarikan diri dari polisi?!"
"Raka memang mati, tapi dia meninggalkan rahasia padaku!" jerit Siska sambil menembakkan senjatanya ke arah anak buah Adrian. "Aku lebih baik membantu kalian daripada harus mati di tangan orang-orang Wilhelm! Masuk atau kita semua akan jadi mayat!"
Kenzo menarik Alana masuk ke dalam mobil Siska, diikuti oleh Satya. Mereka melesat menjauh dari lokasi penyergapan.
Di Dalam Mobil Siska.
Hening sesaat menyelimuti kabin mobil yang melaju gila-gilaan. Alana menatap Siska dengan penuh kecurigaan. "Kenapa kau menolong kami, Siska? Kau membenciku."
Siska tertawa pahit, air mata mengalir di pipinya yang kusam. "Aku memang membencimu, Alana. Aku iri padamu sampai rasanya ingin mati. Tapi Raka... sebelum dia jatuh ke tangki itu, dia membisikkan sesuatu padaku. Dia bilang Wilhelm sudah menyiapkan 'pembersihan total'. Termasuk aku, karena aku tahu terlalu banyak."
Siska mencengkeram kemudi dengan kencang. "Aku tidak menolongmu karena aku baik. Aku menolongmu karena kau adalah satu-satunya orang yang punya cukup kekuatan untuk menghancurkan Wilhelm. Dan aku ingin melihat pria tua itu membusuk di penjara sebelum aku masuk ke sana."
Kenzo menatap Siska dengan waspada. "Ke mana kita akan pergi?"
"Ke tempat yang tidak akan pernah terpikirkan oleh Bastian atau Adrian," jawab Siska. "Ke apartemen rahasia Raka yang dulu digunakan untuk menyembunyikan selingkuhan-selingkuhannya yang lain. Ironis, bukan? Tempat paling menjijikkan adalah tempat paling aman sekarang."
Apartemen Rahasia Raka – Pukul 06:00 Pagi.
Tempat itu sempit, berbau rokok dan parfum murah, namun memiliki sistem komunikasi satelit yang masih aktif. Alana duduk di tepi tempat tidur, kepalanya berdenyut.
"Jadi Bastian berkhianat..." bisik Alana. "Kakakku sendiri."
Satya sedang sibuk dengan laptopnya yang berhasil ia selamatkan. "Al, aku baru saja menemukan sesuatu yang mengerikan. Bastian tidak hanya menjualmu. Dia sedang mentransfer seluruh aset likuid Adiwangsa ke rekening bodong di luar negeri. Dia ingin membuat Elvan bangkrut dalam semalam."
Tiba-tiba, pintu apartemen itu diketuk. Bukan ketukan paksa, melainkan sebuah pola ketukan yang sangat dikenal Alana.
Tuk... tuk-tuk... tuk.
Itu adalah pola ketukan yang sering digunakan oleh Bi Sumi saat Alana masih kecil. Tapi Bi Sumi ada di penjara, kan?
Satya membuka pintu dengan senjata di tangan. Di sana berdiri seorang gadis muda, sekitar usia 20-an, dengan wajah yang sangat mirip dengan Bi Sumi.
"Siapa kau?" tanya Satya tajam.
"Namaku Ratih," ucap gadis itu dengan suara gemetar. "Aku putri Bi Sumi. Ibuku mengirim pesan lewat pengacaranya semalam. Dia bilang... jika terjadi sesuatu padanya, aku harus memberikan ini pada Nona Alana."
Gadis itu menyerahkan sebuah buku harian tua yang sampulnya sudah mengelupas.
Alana mengambilnya dan membukanya. Di halaman pertama, ia melihat foto ibunya, Elena Roseline, sedang memeluk seorang bayi... dan di samping ibunya, berdiri Ayah Kenzo dengan senyum yang sangat tulus.
Namun, yang membuat jantung Alana berhenti adalah sebuah catatan di bawah foto itu:
"Alana bukan hasil eksperimen medis. Alana adalah satu-satunya keberhasilan dari percobaan untuk membuktikan bahwa cinta bisa mengubah susunan genetik. Dia adalah anak dari Elena dan... Tuan Besar Dirgantara."
Alana menjatuhkan buku itu. Ia menatap Kenzo dengan pandangan yang kosong.
"Kenzo..." bisik Alana. "Jika catatan ini benar... kita bukan hanya kekasih yang terkutuk. Kita adalah... saudara tiri?"
Kenzo tertegun, wajahnya menjadi seputih kertas. Siska yang duduk di pojokan tertawa mengejek. "Wah, plot twist yang luar biasa. Jadi drama asmara ini ternyata adalah sebuah tragedi keluarga?"
Di tengah syok yang luar biasa itu, apartemen tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah suara pengeras suara terdengar dari luar gedung.
"Alana, Kenzo... ini Bastian. Aku tahu kalian di dalam. Jangan buat ini menjadi sulit. Serahkan buku harian itu dan ikutlah denganku, atau aku akan meledakkan seluruh lantai ini dalam lima menit."
Alana menatap buku harian itu, lalu menatap Kenzo, dan terakhir menatap pengkhianat baru yang muncul di monitor CCTV apartemen: Elvan.
Ya, di monitor itu, Elvan berdiri di samping Bastian dengan wajah dingin.
"Kak Elvan?!" teriak Satya tak percaya. "Kau juga?!"
Elvan menatap kamera CCTV seolah ia bisa melihat mata adik-adiknya. "Maafkan aku, Alana. Tapi demi menyelamatkan keluarga Adiwangsa dari kebangkrutan yang dibuat Bastian, aku harus menyerahkanmu pada ayah kita... Tuan Besar Dirgantara."
Satu demi satu pelindung Alana tumbang. Dari Raka, Bi Sumi, Bram, Bastian, hingga kini Elvan. Alana menyadari bahwa di dunia yang penuh dengan kegelapan ini, tidak ada satu pun orang yang bisa dipercaya kecuali dirinya sendiri dan Kenzo—yang kini mungkin adalah saudaranya sendiri.