NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami

​Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
​Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.

​Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: MATA BADAI DI ANTARA SAUDARA

Udara di lantai dasar kantor A&A Venture mendadak berubah statis. Alarm sunyi bergetar di pergelangan tangan Arlan, sebuah denyut frekuensi tinggi yang hanya terhubung ke sensor gerak termal di lift privat. Arlan segera menarik tangannya dari rambut Arumi. Matanya yang tadinya lembut berubah menjadi sekeras baja.

​"Raka, status?" bisik Arlan ke mikrophon kecil di kerah kemejanya.

​"Tuan, ada pergerakan di tangga darurat. Empat orang. Mereka menggunakan pengacak sinyal frekuensi militer. Kamera kita membeku dalam putaran sepuluh detik," suara Raka terdengar di antara derau statis.

​Arlan menatap Arumi yang mulai menggeliat bangun dari sofa. Wajahnya yang polos tampak bingung melihat ketegangan di wajah suaminya.

"Arlan? Ada apa? Kenapa lampunya redup?"

​"Ssst," Arlan meletakkan jari di bibirnya, lalu menunjuk ke arah boks bayi Leon. "Ambil Leon. Masuk ke ruang kedap suara di balik rak buku itu. Sekarang, Arumi. Jangan bertanya."

​Naluri bertahan hidup Arumi segera bangkit. Ia melihat kilatan senjata di pinggang Arlan—sesuatu yang biasanya disembunyikan pria itu dengan rapi. Tanpa suara, Arumi menyambar Leon yang masih tertidur dan menyelinap ke balik pintu rahasia yang menyamar sebagai dekorasi dinding.

​Tepat saat pintu itu mengunci, pintu kaca utama laboratorium pecah berkeping-keping.

Dua pria dengan pakaian taktis hitam dan topeng balaclava merangsek masuk. Mereka tidak membawa pistol biasa, melainkan senapan serbu laras pendek dengan peredam suara. Arlan berguling ke balik meja kerja marmer, mencabut Glock 17 miliknya, dan melepaskan dua tembakan terukur.

​Phut! Phut!

​Satu penyerang tumbang, namun yang lain segera membalas dengan rentetan peluru yang menghancurkan peralatan medis mahal di atas meja. Serpihan kaca terbang ke segala arah. Arlan terjepit. Ia tahu penyerang ini bukan amatir kiriman Victoria; ini adalah tentara bayaran profesional dari sindikat farmasi internasional yang disebutkan Dante.

​"Cari wanitanya! Ambil datanya!" teriak salah satu penyerang dalam bahasa Inggris dengan aksen Eropa Timur.

​Arlan menggertakkan gigi. "Langkahi mayatku dulu, keparat!"

​Saat Arlan bersiap untuk melakukan serangan balik yang nekat, sebuah ledakan kecil terjadi di pintu darurat. Sesosok bayangan melompat masuk dengan gerakan yang sangat lincah, memegang pisau komando di satu tangan dan pistol di tangan lainnya.

​Itu adalah Dante.

​Dengan kecepatan yang hampir tidak manusiawi, Dante menebas pergelangan tangan penyerang kedua dan menghantamkan kepalanya ke sudut meja. Dalam hitungan detik, ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara desis oksigen yang bocor dari tabung yang tertembak.

​Dante berdiri di tengah reruntuhan, menyeka darah dari pisaunya ke celana taktisnya. Ia menatap Arlan yang perlahan berdiri dari balik meja.

​"Kau terlambat dua menit, Saudaraku," ucap Dante dingin.

​"Aku tidak memintamu datang ke sini," balas Arlan, meski dalam hati ia tahu kehadiran Dante menyelamatkan nyawanya.

​"Kau punya alat pelacak di saku istri tercintamu, bodoh," Dante menunjuk ke arah jas dokter Arumi yang tergantung. "Jika aku bisa melacaknya, sindikat itu juga bisa. Kau terlalu sibuk bermain CEO hingga lupa cara menjadi predator."

Setelah area dinyatakan aman oleh Raka dan timnya, Arlan membuka pintu rahasia. Arumi keluar dengan tubuh gemetar, mendekap Leon yang mulai menangis karena kaget. Ia menatap Dante dengan pandangan penuh selidik dan ketakutan.

​"Siapa dia, Arlan?" tanya Arumi.

​"Dia... dia sekutu kita untuk saat ini," jawab Arlan pendek. Ia tidak siap menjelaskan bahwa pria berbahaya ini adalah saudara tirinya.

​Dante melangkah mendekati Arumi, namun Arlan segera menghalanginya. Dante hanya terkekeh. "Tenang, Arlan. Aku tidak tertarik pada istrimu.

Aku tertarik pada apa yang ada di kepala ibunya."

​Dante beralih menatap Arumi. "Nona Arumi, ibumu bukan koma karena kecelakaan biasa. Dia disuntik dengan neurotoxin eksperimental yang mengunci memorinya. Victoria ingin dia tetap seperti itu karena ibumu memegang kunci enkripsi skandal 'Arkananta-Plus'. Tapi ada satu masalah... zat itu perlahan membunuh sel otaknya. Jika tidak segera dinetralkan, dia akan mati dalam 48 jam."

​Arumi memucat. Sebagai mahasiswa kedokteran, ia memahami istilah itu. "Bagaimana kau tahu semua ini?"

​"Karena aku yang mencuri jurnal penelitian ayah kita dari brankas rahasia Victoria," Dante melempar sebuah buku kecil bersampul kulit hitam ke atas meja. "Di sana tertulis penawarnya. Tapi hanya seseorang dengan keahlian bedah syaraf presisi yang bisa menyuntikkannya langsung ke ventrikel otak tanpa membunuhnya."

​Arumi mengambil buku itu, jemarinya bergetar saat membaca catatan medis yang sangat teknis tersebut. "Ini... ini prosedur yang sangat berbahaya. Tingkat kegagalannya 80 persen."

​"Dan 100 persen jika kau tidak melakukannya," potong Dante.

Sepanjang sisa malam itu, Arlan dan Arumi terjaga di samping tempat tidur Nyonya Salsabila. Arlan memegang tangan Arumi, memberikan kekuatan yang ia sendiri hampir kehabisan.

​"Arlan, jika aku melakukan ini dan gagal, aku akan membunuh ibuku sendiri," bisik Arumi. Air mata jatuh ke pipinya. "Tapi jika aku tidak melakukannya, dia akan pergi selamanya tanpa pernah tahu bahwa aku sudah menemukan Leon."

​Arlan menatap istrinya dalam-dalam. "Arumi, kau adalah alasan Leon hidup. Kau adalah alasan aku masih berdiri di sini. Kau memiliki tangan seorang penyembuh. Percayalah pada dirimu sendiri sebagaimana aku mempercayaimu."

​Arlan kemudian menoleh pada Raka. "Siapkan ruang operasi di bawah. Sterilisasi total. Dante, kau tetap di sini sebagai pengamanan lapis luar. Jika satu lalat pun masuk, aku akan menuntut kepalamu."

​Dante hanya mengangguk, bersandar di dinding dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam mengawasi setiap sudut ruangan. Ada rasa hormat yang tumbuh secara enggan di antara kedua saudara itu.

Pukul 04.00 pagi. Arumi mengenakan pakaian bedah hijau. Masker menutupi wajahnya, menyisakan matanya yang penuh tekad. Di bawah lampu operasi yang terang, ibunya terbaring pasrah.

​Arlan memperhatikan dari balik kaca ruang observasi. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu bahwa di luar gedung ini, Victoria sedang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang saham A&A Venture dan mungkin mengirimkan gelombang pembunuh kedua. Tapi di sini, di ruangan ini, satu-satunya hal yang berarti adalah ujung jarum di tangan Arumi.

​"Mulai," ucap Arumi pelan melalui interkom.

​Prosedur itu berlangsung lambat. Arumi harus menembus lapisan pelindung otak dengan akurasi milimeter. Keringat membanjiri dahinya. Suster Sarah terus mengelap keringatnya agar tidak jatuh ke area steril.

​Tiba-tiba, monitor jantung berbunyi nyaring.

Beep-beep-beep-beep!

​"Tekanan intrakranial meningkat! Dia mengalami kejang!" seru Suster Sarah.

​"Jangan panik! Berikan manitol 20 persen! Aku harus menyelesaikan suntikannya sekarang atau semuanya sia-sia!" teriak Arumi.

​Di ruang observasi, Arlan mencengkeram pinggiran meja hingga kayu itu retak. "Ayo, Arumi... kau bisa..."

​Setelah sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun, bunyi monitor kembali stabil. Arumi menarik jarumnya keluar dengan tangan yang lemas. Ia menatap layar monitor yang menunjukkan gelombang otak ibunya mulai berfluktuasi—bukan lagi garis datar yang lesu, melainkan pola yang aktif.

​Ibunya membuka mata sedikit. Sangat sedikit. Namun di sana, ada pengenalan.

​"A...ru...mi..." bisik ibunya dengan suara yang hampir tak terdengar.

​Arumi jatuh terduduk di lantai ruang operasi, menangis tersedu-sedu. Ia telah melakukannya. Ia telah merebut kembali ibunya dari kegelapan.

Namun, kebahagiaan mereka singkat. Dante masuk ke ruang observasi dengan wajah yang lebih gelap dari biasanya.

​"Arlan, kita punya masalah besar. Victoria baru saja mengumumkan konferensi pers darurat. Dia menuduhmu melakukan malapraktik pada ibumu sendiri dan menyekapnya di sini. Polisi dan media sedang dalam perjalanan ke gedung ini."

​Arlan berdiri tegak, membenahi kemejanya. Ia menatap Arumi di bawah sana yang masih memeluk ibunya, lalu menatap Dante.

​"Biarkan mereka datang," ucap Arlan dengan senyum paling mematikan yang pernah ia miliki.

"Ibu ingin drama? Aku akan memberinya tragedi. Dante, buka semua data 'Arkananta-Plus' ke setiap kantor berita di dunia sekarang juga. Raka, siapkan dokumen pengalihan aset. Saat matahari terbit, nama Arkananta akan menjadi sejarah, dan kita akan membangun sesuatu yang baru dari abunya."

​Dante tersenyum sinis. "Sekarang kau baru bicara seperti saudaraku."

1
Ariany Sudjana
wah mimpi apa penjual rujak di pasar ketemu dengan pembeli yang sangat mengutamakan higienis 😂😂
Liza Syamsu
keren, alur cerita jelas, arlan CEO yg karakter nya pemimpin sejati
Liza Syamsu
ini seperti membaca trailer film action, bagus thor semangat walaupun yg like bisa dihitung pakai jari
Liza Syamsu
bagus banget ini karakter arlan ayo like yg sdh baca
Liza Syamsu
kenapa Victoria ingin menghancurkan leon dan arlan,apa arlan bukan anak kandung Victoria
Liza Syamsu
jangan sampai thor biar terbukti dulu leon anak arumi nanti baru konflik, bukannya brm sdh diamankan oleh arlan kno bisa dgn siska lagi
Nur Janah
haddeehhhhh...Siska dan Bram lg
Liza Syamsu
sumpah ini cerita nya bagus kenapa yg like sedikit, came on kawan jika sdh baca dilike dong
Ariany Sudjana
setuju dengan Dante, saat situasi tidak menentu, kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, waspada terus Arumi
awesome moment
jgn tll baik hati. waspada tu perlu. bohing adalah akar smua masalah
Nur Janah
kan udah pake keamanan militer paling canggih Thor kok si Bram masih bisa tau
Nur Janah
buktikan PD Arlan Arumi bahwa bram penghianat
Nur Janah
ada bau" penghianat nih
Nur Janah
kyknya seru ceritanya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!