Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: PROTOKOL AYAH SIAGA DAN DEBU DI SEPATU ARKLAN
Pagi di kediaman Arkananta biasanya dimulai dengan suara kicauan burung pemakan madu yang hinggap di pohon kamboja. Namun, sejak pengumuman kehamilan kedua Arumi satu bulan yang lalu, ritme rumah itu berubah total. Jika dulu Arlan adalah singa bisnis yang dingin dan tak tersentuh, kini ia telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih merepotkan: Ayah Siaga dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) Militer.
Arumi terbangun bukan karena alarm, melainkan karena aroma jahe hangat dan lemon yang sudah tersedia di meja riasnya. Di samping gelas itu, terdapat sebuah tablet kecil yang menampilkan grafik: Detak Jantung Ibu, Kadar Oksigen Kamar, dan Jadwal Nutrisi Pagi.
"Arlan, ini berlebihan," gumam Arumi sambil melihat suaminya yang sedang sibuk memeriksa ventilasi udara kamar dengan pembersih udara portabel.
Arlan berbalik, wajahnya sangat serius. "Dokter bilang trimester pertama adalah masa paling krusial, Sayang. Aku sudah meminta Raka memasang sensor kelembapan di seluruh lantai atas. Jika udara terlalu kering, sistem akan menyemprotkan uap aromaterapi secara otomatis."
Arumi tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bantal. "Aku ini perawat senior, Arlan. Aku tahu kapan tubuhku butuh air dan kapan butuh istirahat. Kau tidak perlu bertingkah seolah aku sedang membawa hulu ledak nuklir di perutku."
"Bagi dunia, mungkin itu bayi. Tapi bagiku, ini adalah kelanjutan dari keajaiban Salsabila," jawab Arlan sambil mengecup kening istrinya.
"Sekarang, minum jahenya. Aku sudah menghitung suhunya tepat 45°C agar tidak melukai kerongkonganmu."
Di lantai bawah, Leon duduk di tengah hamparan balok kayu koleksinya. Alih-alih membangun gedung universitas seperti biasanya, ia sedang mencoba membangun sesuatu yang menyerupai ranjang kecil dengan pagar-pagar tinggi.
"Paman Dante, kalau nanti Adik bayi lahir, apa dia boleh main balok Leon?" tanya Leon pada Dante yang sedang menyesap kopi di meja makan.
Dante menurunkan korannya, menatap bocah itu dengan senyum tipis yang jarang terlihat. "Tentu boleh, Leon. Tapi kau harus menjaganya. Bayi itu kecil, seperti... seperti anak kucing. Jangan sampai tertimpa balokmu."
Leon mengangguk mantap. "Leon akan buatkan benteng. Supaya Adik bayi tidak digigit nyamuk."
Dante terkekeh. "Kau benar-benar anak Arlan. Semuanya harus pakai benteng dan perlindungan."
Namun, di balik keceriaan itu, Dante tetaplah Dante. Matanya sesekali melirik ke arah monitor keamanan di sudut ruangan. Meskipun Aditya sudah di penjara dan aset Victoria dibekukan, ia tahu bahwa dunia bisnis Arlan masih menyisakan beberapa kerikil tajam. Tugasnya kini bukan lagi menghalau peluru, melainkan memastikan tidak ada satu pun debu stres yang menyentuh Arumi.
Ketenangan pagi itu terusik oleh sebuah panggilan telepon dari Raka. Arlan segera mengangkatnya di ruang kerja, menjauh dari jangkauan pendengaran Arumi.
"Ada masalah di kampus, Arlan," suara Raka terdengar gusar. "Bukan sabotase besar seperti kemarin. Tapi ini soal pemasok bahan makanan di kantin mahasiswa. Ada laporan bahwa beberapa mahasiswa dari daerah pelosok mengalami gangguan pencernaan karena kualitas beras yang buruk. Pemasoknya ternyata kerabat dari salah satu donatur kecil kita yang merasa punya 'hak istimewa'."
Arlan mengerutkan kening. Baginya, Universitas Medis Salsabila (UMS) adalah institusi suci.
"Siapa donaturnya?"
"Pak Broto. Dia menyumbang untuk pembangunan perpustakaan, tapi sekarang dia menekan pengelola kantin agar menggunakan jasa katering istrinya yang ternyata jauh dari standar kesehatan kita."
Arlan terdiam sejenak. Ini adalah jenis konflik yang membosankan namun berbahaya bagi reputasi yayasan. Ia tidak bisa menggunakan kekerasan seperti saat menghadapi Aditya. Ia harus menggunakan cara yang lebih halus namun mematikan.
"Raka, jangan putuskan kontraknya secara sepihak sekarang. Undang Pak Broto dan istrinya makan siang di kampus besok. Katakan bahwa aku dan Arumi—tidak, jangan bawa Arumi—katakan aku dan tim auditor medis ingin mencicipi menu unggulan mereka."
Keesokan harinya, Arlan tiba di kantin UMS tanpa pengawalan mencolok. Pak Broto dan istrinya menyambut dengan wajah sumringah, mengira akan mendapat pujian atau kontrak tambahan.
"Ini beras organik pilihan kami, Pak Arlan. Sangat pulen," promosi istri Pak Broto sambil menyodorkan sepiring nasi dan lauk-pauk.
Arlan menatap piring itu dengan dingin. Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari sakunya—sebuah sensor portabel pendeteksi residu pestisida dan jamur yang baru saja dikembangkan di laboratorium riset UMS.
"Mari kita lihat seberapa 'organik' beras ini," ucap Arlan tenang.
Layar perangkat itu menyala merah dalam hitungan detik. Angka-angka kimia muncul, menunjukkan tingkat aflatoksin yang tinggi karena penyimpanan yang lembap.
Wajah Pak Broto memucat. "Itu... mungkin alatnya salah, Pak Arlan."
"Alat ini dibuat oleh mahasiswa beasiswa yang Anda beri makan dengan beras busuk ini, Pak Broto," suara Arlan mendadak merendah, penuh ancaman. "Mahasiswa di sini dididik untuk menjadi dokter. Jika mereka sakit karena makanan di rumah mereka sendiri, itu adalah kegagalan saya. Dan saya tidak suka gagal."
Arlan berdiri, merapikan jasnya. "Putuskan kontrak katering ini hari ini juga. Kembalikan seluruh dana sumbangan perpustakaan yang Anda berikan, saya akan menggantinya dengan uang pribadi saya. Saya tidak ingin sepeser pun uang dari orang yang mencari keuntungan di atas piring mahasiswa saya. Raka, pastikan nama mereka masuk dalam daftar hitam yayasan."
Tanpa teriakan, tanpa baku tembak. Arlan menyelesaikan konflik itu dengan presisi seorang ahli bedah.
Sore harinya, Arlan kembali ke rumah dengan perasaan menang. Namun, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai saat ia masuk ke kamar.
Arumi duduk di tepi tempat tidur dengan wajah yang sulit diartikan. "Arlan..."
"Ya, Sayang? Ada apa? Apa mualnya kambuh?Perlu aku panggil dokter?" Arlan langsung panik, tangannya sudah memegang ponsel.
"Tidak... aku hanya... aku ingin rujak," bisik Arumi.
Arlan menghela napas lega. "Hanya rujak? Aku akan suruh koki pribadi membuatkan rujak paling higienis di dunia."
"Tidak mau buatan koki," sela Arumi cepat. "Aku ingin rujak ulek yang dijual di gerobak depan pasar lama Bogor. Yang penjualnya pakai topi caping dan sambalnya diulek di cobek batu besar. Aku ingat rasanya saat dulu masih dinas lapangan."
Arlan mematung. "Pasar lama? Bogor? Sore-sore begini? Arumi, tempat itu sangat berdebu, ramai, dan... higienitasnya tidak terjamin."
"Tapi bayi ini yang mau, Arlan. Bukan aku," Arumi menggunakan senjata pamungkasnya—tatapan mata sayu yang membuat jantung Arlan meleleh.
Setengah jam kemudian, sebuah mobil antipeluru meluncur menuju pasar lama Bogor. Dante yang menyetir tidak bisa berhenti tertawa melihat bosnya yang biasanya duduk di ruang rapat mewah, kini tampak gelisah karena memikirkan debu pasar.
"Diamlah, Dante. Ini demi anakku," gerutu Arlan.
Saat sampai di lokasi, Arlan sendiri yang turun—dengan masker medis dan pembersih tangan di saku. Ia berdiri di depan gerobak rujak yang sederhana, di bawah tatapan heran para pengunjung pasar.
"Pak, rujak satu. Buahnya dicuci pakai air mineral ini, ya," ucap Arlan sambil menyodorkan botol air premium ke penjual rujak yang kebingungan.
"Dan tolong, ulekannya disiram air panas dulu."
Dante yang mengawasi dari kejauhan hanya bisa menggeleng. "Pria terkaya di sektor energi, berdebat soal kebersihan cobek di pasar Bogor.
Malam harinya, Arumi menikmati rujak pasar itu dengan lahap di bawah pohon beringin kampus yang kini sudah sepi. Arlan duduk di sampingnya, merasa puas meskipun sepatunya yang seharga puluhan juta kini terkena noda lumpur pasar.
Leon berlari-lari kecil di sekitar mereka, mencoba menangkap kunang-kunang yang dilepaskan Raka dari kotak penangkaran untuk menghibur Arumi.
"Enak?" tanya Arlan lembut.
"Sangat enak. Terima kasih, Ayah Siaga," Arumi menyuapkan sepotong mangga muda ke mulut Arlan.
Arlan mengunyah mangga yang sangat pedas itu tanpa mengeluh sedikit pun. Baginya, rasa pedas dan asam ini adalah harga kecil untuk sebuah kebahagiaan. Di kejauhan, gedung universitas Salsabila berdiri megah, lampu-lampunya menyala seperti mercusuar harapan.
"Arlan," bisik Arumi.
"Ya?"
"Nanti kalau bayi ini lahir perempuan... aku ingin menamainya Nirmala. Nirmala Salsabila Arkananta."
Arlan tersenyum, menatap langit malam yang tenang. "Nama yang indah. Suci dan tak bercela. Seperti janji kita untuk dunia ini."
Di bawah naungan harapan yang mereka bangun sendiri, keluarga Arkananta akhirnya benar-benar menemukan makna dari kata "pulang".