NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Us

---

Pukul 06.30 pagi, rumah nomor 9 biasanya masih sunyi.

Irene dan Elgi masih menikmati sisa-sisa mimpi, sementara Rafa—anak ajaib mereka yang berusia empat tahun—masih tidur dengan posisi superman, kaki mengangkang, tangan terentang, boneka beruang biru kesayangannya tergeletak di lantai karena terlempar saat tidur.

Tapi hari ini berbeda.

"BU! BU! RAFAAAA BANGUN!"

Jeritan itu memecah kesunyian. Irene tersentak bangun, hampir jatuh dari ranjang. Elgi juga terbangun dengan mata terbelalak.

"Ada apa? Ada apa?" tanya Elgi panik.

Irene sudah berlari ke kamar Rafa. Di sana, Rafa berdiri di atas tempat tidurnya dengan wajah berseri-seri, seolah baru menemukan harta karun.

"Bu, Rafa mimpi! Rafa mimpi jadi superhero!" teriaknya.

Irene menghela napas lega. "Ya ampun, Ra. Kagetin Mama aja."

Rafa melompat dari tempat tidur, langsung memeluk kaki Irene. "Bu, Rafa mau sarapan! Rafa laper!"

Irene mengelus kepala Rafa. "Iya, iya. Mama buatin sarapan. Tapi mandi dulu, ya."

"Mandi? Nggak mau!"

"Ra, mandi dulu. Nanti badan wangi."

"Nggak mau! Rafa mau main!"

Elgi muncul di ambang pintu, masih dengan rambut berantakan. "Ada apa, rame-rame?"

Rafa berlari ke arah Elgi. "Ay! Rafa mau main! Ayo main!"

Elgi menggendong Rafa. "Mainnya nanti, Nak. Sekarang mandi dulu, biar wangi. Nanti kalau wangi, Ayah beliin es krim."

Mata Rafa berbinar. "Es krim? Beneran?"

"Beneran. Tapi mandi dulu."

Rafa langsung turun dari gendongan Elgi dan berlari ke kamar mandi. "Rafa mandi! Cepet!"

Irene dan Elgi saling pandang, tersenyum. "Es krim jam 7 pagi?" tanya Irene.

"Nggak apa-apa, nanti dikit aja." Elgi tersenyum. "Yang penting dia mau mandi."

---

Pukul 07.15, Rafa selesai mandi. Rambutnya masih basah, handuk masih melingkar di leher, tapi ia sudah siap dengan misinya: es krim.

"Ay! Es krim! Rafa udah mandi!"

Elgi mengeluarkan satu sendok es krim cokelat dari freezer. "Ini, tapi makan pelan-pelan, ya. Nanti sakit perut."

Rafa menerima es krim itu dengan mata berbinar. Ia duduk di kursi makannya, menikmati es krim dengan lahap, sesekali bergoyang-goyang senang.

Irene sibuk di dapur, menyiapkan sarapan sungguhan—nasi goreng dengan telur mata sapi. Ia mengawasi Rafa dari kejauhan, tersenyum melihat tingkah anaknya.

"Ra, abis es krimnya, cuci tangan, ya. Terus makan nasi goreng."

"Iya, Bu!"

Tapi Rafa, dengan segala konsentrasinya pada es krim, hanya menjawab tanpa benar-benar mendengar.

---

Pukul 07.30, bencana dimulai.

Rafa selesai dengan es krimnya. Tangannya lengket, mulutnya belepotan cokelat. Ia turun dari kursi dan berlari ke ruang tamu.

"Ra, cuci tangan dulu!" panggil Irene.

Rafa tidak menggubris. Ia sudah mengambil mainan mobil-mobilannya dan mulai bermain di karpet ruang tamu—dengan tangan masih lengket cokelat.

Irene menghela napas panjang. "Rafandra!"

Rafa menoleh. "Iya, Bu?"

"Cuci tangan. Itu tangan kotor."

Rafa melihat tangannya, lalu kembali ke mobil-mobilan. "Nanti aja, Bu."

Irene mendekat, menarik tangan Rafa dengan lembut. "Sekarang. Nanti karpetnya kotor."

Rafa mulai merengek. "Tapi Rafa lagi main!"

"Mainnya nanti lagi. Sekarang cuci tangan."

Rafa menggerutu, tapi menurut. Ia berjalan ke kamar mandi dengan langkah lambat, menunjukkan protesnya.

Irene kembali ke dapur, mengaduk nasi goreng. Tiba-tiba, ia mendengar suara air mengucur deras dari kamar mandi. Terlalu deras.

"Ra? RAFA?"

Irene berlari ke kamar mandi. Di sana, Rafa sedang "mandi" lagi—dengan baju masih lengkap, menyiram-nyiramkan air ke dinding sambil tertawa.

"Ra! Itu air, bukan mainan!"

Rafa menatap ibunya dengan polos. "Tapi Rafa mau main air, Bu."

Irene mematikan keran. Sekarang Rafa basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Air menggenang di lantai kamar mandi.

"Ya Allah, Rafa..." Irene memegang jembatan hidungnya. Sabar, sabar, sabar.

Elgi yang mendengar keributan datang. Melihat pemandangan itu, ia tertawa.

"Lo ketawa?" Irene menatapnya tajam. "Ini bukan lucu!"

"Iya, iya. Tapi lucu." Elgi mengambil handuk, mengelap Rafa. "Nak, kenapa main air?"

"Rafa mau jadi superhero air!" jawab Rafa bangga.

Elgi tertawa lagi. "Superhero air? Kayak Aquaman?"

"Iya! Aquaman!"

Irene menghela napas panjang. Ini baru jam 7.45 pagi, dan ia sudah lelah.

---

Pukul 08.00, Rafa akhirnya duduk di kursi makannya dengan baju ganti yang kedua. Rambutnya sudah dikeringkan, tangan sudah bersih. Irene menyuapinya nasi goreng dengan sabar.

"Ra, besok kalau mau main air, bilang Mama dulu. Nanti Mama siapin. Jangan main sendiri."

"Iya, Bu."

"Terus, habis makan es krim, cuci tangan. Biar nggak lengket."

"Iya, Bu."

"Dan jangan lari-lari kalau lagi bawa makanan."

"Iya, Bu."

Rafa menjawab semua dengan patuh, tapi Irene tahu, besok ia akan melakukan hal yang sama lagi. Begitulah anak empat tahun.

Elgi duduk di samping mereka, sudah siap kerja. "Sayang, aku berangkat, ya."

"Iya, Mas. Hati-hati."

Elgi mencium kening Irene, lalu mencium pipi Rafa. "Rafa, jagain Mama, ya. Jangan nakal."

"Rafa nggak nakal! Rafa baik!"

Elgi tertawa. "Iya, iya, Rafa baik. Bye-bye."

Setelah Elgi pergi, rumah terasa lebih sepi. Tapi tidak lama. Rafa sudah selesai makan dan siap untuk petualangan berikutnya.

"Bu, main yuk!"

Irene menghela napas. "Mau main apa?"

"Main bola di halaman!"

"Tapi udah panas, Ra."

"Sebentar aja! Sebentar!"

Irene menyerah. "Oke, sebentar. Tapi pake topi."

Mereka bermain bola di halaman depan selama 15 menit, sampai Irene kepanasan dan memutuskan untuk masuk. Rafa protes, tapi ia tahu kalau ibunya sudah berkata "masuk", tidak ada tawar-menawar.

---

Pukul 10.00, Jane datang dengan Hannah. Rafa langsung lari menyambut.

"Tante Jane! Adek Hannah!" teriaknya.

Hannah, yang baru berusia dua bulan, menatap Rafa dengan mata bingung. Ia belum mengerti banyak hal, tapi suara Rafa sudah mulai dikenalnya.

"Ra, jangan kenceng-kenceng, nanti Hannah kaget." Irene mengingatkan.

Rafa menurunkan volumenya. "Iya, Bu." Lalu berbisik pada Hannah, "Halo, Dek. Rafa main, yuk?"

Hannah hanya menatapnya.

Jane tertawa. "Dia belum bisa main, Ra. Masih kecil."

"Kapan bisa main?"

"Nanti kalau udah gede. Satu tahun lagi."

"Satu tahun? Lama banget."

Jane dan Irene tertawa. Perspektif anak kecil tentang waktu memang unik.

Irene dan Jane duduk di teras, mengobrol sambil mengawasi Rafa yang bermain di halaman. Hannah tidur di gendongan Jane.

"Gimana jadi ibu dua anak?" tanya Irene.

Jane tersenyum. "Hannah mah masih easy. Tidur terus. Rafa yang... ya gitu."

Irene tertawa. "Iya, dia emang aktif banget. Kadang aku kewalahan."

"Tapi itu wajar, Mba. Anak laki-laki emang biasanya lebih aktif."

"Iya, sih. Tapi kadang aku ngerasa... gagal gitu lho. Kok anakku susah diatur."

Jane meraih tangan Irene. "Mba, lo ibu terbaik buat Rafa. Lihat dia? Bahagia, ceria, sehat. Itu karena lo."

Irene terharu. "Makasih, Jan."

"Serius. Aku aja belajar banyak dari lo."

Mereka berdua tersenyum. Di halaman, Rafa jatuh dari sepedanya. Ia menangis sebentar, lalu bangkit lagi dan lanjut main.

"Itu dia. Tangguh." Jane menunjuk.

Irene tersenyum. Iya, anaknya memang tangguh. Dan ia bangga.

---

Siang harinya, setelah Jane pulang, Irene membereskan rumah sambil sesekali mengawasi Rafa yang main di ruang tamu. Tiba-tiba, ia mendengar suara aneh dari dapur.

"Ra, kamu di mana?"

"Nggak di mana-mana, Bu!"

Irene bergegas ke dapur. Di sana, Rafa sedang berdiri di depan kulkas yang terbuka. Di tangannya, sebotol saus sambal—dan di lantai, genangan saus sambal merah.

"Ra... itu apa?"

Rafa menatap ibunya dengan polos. "Rafa mau bikin saus, Bu. Buat makan siang."

Irene memejamkan mata. Sabar, sabar, sabar. "Ra, itu saus sambal. Bukan mainan."

"Tapi warnanya bagus, Bu. Merah."

Irene mengambil botol itu dari tangan Rafa. "Sekarang, duduk di kursi. Mama bersihin dulu."

Rafa duduk manis, merasa tidak bersalah. Irene sibuk membersihkan lantai yang belepotan saus. Dalam hati, ia menghitung sampai sepuluh.

Setelah selesai, ia duduk di depan Rafa. "Ra, dengar. Saus itu buat makanan. Bukan buat main. Nanti sayang, buang-buang."

"Iya, Bu. Maaf."

"Mama maafin. Tapi lain kali, kalau mau ambil sesuatu, bilang Mama dulu."

"Iya, Bu."

Rafa memeluk Irene. "Mama, Rafa sayang Mama."

Irene meleleh. Semua lelah hilang. "Mama juga sayang Rafa."

---

Sore harinya, Elgi pulang kerja. Ia disambut oleh Irene yang sudah kelelahan dan Rafa yang masih penuh energi.

"Hari gimana?" tanya Elgi.

Irene menceritakan semua kejadian hari itu: dari es krim, mandi dadakan, main air, sampai saus sambal. Elgi mendengarkan dengan tertawa.

"Lo kok malah ketawa?" protes Irene.

"Maaf, maaf. Tapi lucu. Anak kita kreatif."

"Kreatif atau nakal?"

"Kreatif. Sedikit nakal, tapi kreatif." Elgi memeluk Irene. "Lo hebat, Sayang. Nahan sabar seharian."

Irene menghela napas. "Iya, tapi aku sayang dia."

"Itu yang penting."

Malam harinya, setelah Rafa tidur, Irene dan Elgi duduk di teras. Irene menyesap teh hangat, Elgi minum kopi.

"Mas, kita bakal baik-baik aja, ya? Jadi orang tua?"

"Iya, Sayang. Kita bakal baik-baik aja." Elgi meraih tangan Irene. "Kita belajar bareng."

"Rafa beruntung punya ayah kayak lo."

"Rafa beruntung punya ibu kayak lo."

Mereka tersenyum. Di dalam kamar, Rafa tidur dengan posisi superman lagi, boneka beruang biru di pelukan. Mungkin ia mimpi jadi superhero. Mungkin ia mimpi main air lagi.

Tapi apapun mimpinya, ia tahu, esok hari ia akan bangun dengan orang tua yang sama—yang lelah, tapi selalu sayang.

Di Griya Asri, malam turun dengan damai. Dan di rumah nomor 9, keluarga kecil itu bersiap untuk petualangan baru esok hari.

Karena dengan anak usia empat tahun, setiap hari adalah petualangan.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!