Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota dan Kode-kode Rahasia
Pagi di Jakarta menampakkan dirinya lewat langit mendung dan aroma aspal basah setelah gerimis semalam. Jalan-jalan besar dipenuhi kendaraan yang merayap, klakson berbunyi seperti orkestra tak berirama. Gedung pencakar langit menjulang, jembatan-jembatan layang membentang bagaikan naga besi. Di salah satu sudut kota, tepatnya di sebuah hotel kecil dekat Bundaran HI, rombongan kecil yang biasanya berkeliaran di ladang dan hutan sekarang berusaha beradaptasi dengan hiruk pikuk ibu kota. Mereka duduk di ruang sarapan, memandang menu yang dipenuhi roti, sereal, dan bubur manado. Budi memegang sendok, menatap croissant dengan wajah ragu. “Ini roti apa? Bentuknya kayak tanduk,” katanya, mengendus. Perikus tertawa. “Kalau roti Jawa, bentuknya bulat,” jawabnya. Mereka tertawa pelan.
Mereka berada di Jakarta karena presiden akan mengadakan konferensi pers besar tentang kasus B16. Mereka diundang sebagai saksi dan perwakilan korban. Selain itu, mereka memiliki misi lain: rumor beredar bahwa formula asli B16 akan diselundupkan keluar negeri melalui jalur diplomatik, diperkirakan menggunakan koper diplomatik, yang tidak bisa diperiksa di bandara. Maya menemukan email rencana keberangkatan seorang diplomat dari kedutaan negara di Eropa. Mereka harus memeriksa apakah koper itu mengandung formula. “Kita akan ke Bandara Soekarno-Hatta,” kata Profesor. “Jika kita melihat sesuatu mencurigakan, kita laporkan ke pihak berwenang. Tapi kita harus hati-hati, karena koper diplomatik dilindungi hukum. Kita tidak bisa seenaknya membuka.”
Setelah sarapan, mereka berangkat ke Istana Negara. Mereka melewati barisan beton, polisi bersenjata, dan wartawan yang sudah berkumpul. Budi melihat kamera dan menunduk, menatap sepatunya yang sudah dipoles. Perikus melihat patung-patung putih di halaman istana, teringat cerita sejarah. Mereka masuk ke ruangan konferensi, duduk di kursi baris ketiga. Di depan, kursi-kursi untuk pejabat tinggi sudah terisi. Di belakang, wartawan memasang tripod dan mikrofon. Suasana formal, udara dingin karena AC, aroma parfum pejabat bercampur dengan aroma kopi dan karpet baru.
Presiden memasuki ruangan dengan langkah mantap, menatap hadirin dengan mata serius. Beliau mengenakan jas hitam, dasi merah. Juru bicara membuka acara, lalu Presiden mulai bicara, suaranya tenang namun tegas. “Rakyat Indonesia yang saya cintai,” katanya. “Kasus B16 telah mengguncang negara kita dan dunia. Ini tragedi yang tidak dapat diterima. Pemerintah telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh, menahan pihak-pihak terkait, dan bekerja sama dengan lembaga internasional untuk memastikan keadilan ditegakkan. Hari ini, saya umumkan: Direktur utama PT. Farma Vita, beberapa pejabat terkait, dan Dr. Anand Singh telah ditahan. Kami akan menindak tegas oknum aparat yang terlibat. Tidak ada satu pun pejabat yang kebal hukum. Kami juga memerintahkan pencabutan izin PT. Farma Vita.”
Tepuk tangan meriah terdengar. Kamera-kamera klik. Namun, di antara gemuruh itu, Budi berbisik pada Tento. “Apa kita percaya? Atau ini baru permukaan?” katanya. Tento mengerutkan kening. “Kita lihat hasilnya. Omongan indah itu mudah, tindakan sulit,” balasnya.
Sesi pertanyaan wartawan dimulai. “Bapak Presiden, apakah pemerintah akan memberi kompensasi kepada korban?” tanya seorang reporter. “Ya, kami akan memberikan bantuan kepada korban dan keluarga,” jawab Presiden. “Kami juga akan memperkuat regulasi obat dan meningkatkan pengawasan laboratorium.” Pertanyaan lain: “Apakah ini berarti kita akan membenahi sistem kesehatan?” Presiden menjawab diplomatis. Tidak semua puas, tetapi ini langkah penting. Setelah konferensi, mereka berfoto. Budi berdiri di ujung, senyum kaku, merasa seperti aktor tambahan di film politik.
Selesai konferensi, mereka bergerak cepat ke Bandara Soekarno-Hatta. Mereka naik mobil sewaan, melewati jalan tol yang dipenuhi truk dan mobil pribadi. Billboard raksasa memajang iklan parfum, minuman, dan film. Radio di mobil menyiarkan lagu pop dan berita tentang PT. Farma Vita. “Kita ke Terminal 3, Gate E,” kata Maya melalui telepon. “Penerbangan diplomatik jam 5 sore. Diplomat bernama Mr. Alvarez akan membawa koper. Koper diplomatik itu dihandle oleh petugas khusus. Kalian tidak bisa memeriksa langsung. Kalian harus memotret koper itu, merekam proses, dan jika bisa, menempelkan pelacak. Pelacak kalian kecil, bisa ditempel di pegangan koper. Tapi ingat, jangan sampai tertangkap. Jika tertangkap, bisa jadi masalah internasional.”
Mereka tiba di bandara pukul tiga sore. Bandara ini besar, modern, dengan langit-langit tinggi, jendela kaca, dan lantai mengkilap. Papan jadwal menampilkan keberangkatan ke Tokyo, Amsterdam, Kuala Lumpur. Aroma parfum duty-free, kopi Starbucks, dan donat manis tercium. Mereka membagi peran: Budi dan Perikus akan menyamar sebagai petugas kebersihan, mengenakan rompi oranye dan sarung tangan, mendorong troli pembersih; Tento akan berpura-pura menjadi pengantar penumpang, membawa papan nama; Profesor akan memantau dari kafe. Mereka berjalan ke toilet bandara, berganti pakaian. Budi memasang topi dengan logo cleaning service, menatap cermin. “Aku tampak seperti bapak-bapak,” katanya. Perikus menepuk bahunya. “Kamu memang bapak-bapak di dalam jiwamu,” candanya. Mereka tertawa.
Mereka masuk ke area keberangkatan. Mereka melihat diplomat yang tinggi, berambut hitam beruban, mengenakan jas abu-abu, didampingi dua pria muda. Salah satu membawa koper kecil dengan roda, berwarna coklat, terlihat biasa. Tetapi koper itu dilabeli “Diplomatic Bag.” Mereka berjalan ke jalur fast track. “Itu dia,” bisik Tento. Budi dan Perikus menyorongkan troli pembersih, membersihkan area sekitar jalur diplomatik. Mereka melirik koper. Pegangan koper terbungkus kulit. Petugas bandara memeriksa paspor diplomat, memindai ID. Diplomat tersenyum sopan.
Maya berbicara melalui earphone kecil di telinga Budi. “Sekarang atau tidak pernah.” Budi menggoyangkan troli, seolah-olah ada air tumpah. Air pembersih menetes ke lantai, menyebar. “Ups!” teriak Budi, pura-pura panik. Diplomat dan petugas menoleh. “Maaf Pak, ada sedikit tumpahan. Satu menit,” katanya, membungkuk, menyeka lantai dengan kain pel. Saat ia membungkuk, tangan kiri Budi meraba pegangan koper, menempelkan pelacak magnetik kecil dengan jari. Gerakannya cepat seperti pesulap. Diplomat memandang sejenak, kemudian melanjutkan. Budi mengangkat kain pel, menunjukkan lantai bersih. “Silakan, Pak,” katanya. Diplomat mengangguk, berjalan. Pelacak terpasang. Jantung Budi berdegup. Ia berjalan menjauh, mendorong troli, menahan senyum.
Sementara itu, di sudut lain bandara, seseorang memotret kejadian itu. Sepasang mata asing mengikuti gerakan Budi dan Perikus. Orang itu memakai jaket kulit, memegang ponsel. Ia mengirim pesan: “Pelacak terpasang. Mereka mengetahui.” Di lantai atas, seorang pria berkaca mata memandang monitor CCTV, memegang radio. “Ada orang-orang yang bergerak. Pastikan mereka tidak masuk ke pesawat,” katanya. Mereka tidak tahu, mereka sedang diawasi.
Budi kembali ke meja Profesor di kafe, menatap layar ponsel. Aplikasi pelacak menunjukkan titik bergerak di bandara. “Pelacak bekerja,” katanya. “Dia bergerak ke lounge diplomat.” Mereka menunggu. Beberapa menit kemudian, pesan dari Maya: “Pelacak terdeteksi. Mereka mencoba memindahkan koper ke ruang diplomatik, tempat X-ray khusus. Aku hack sistem. Aku akan mematikan X-ray saat koper lewat. Aku akan menyimpan gambarnya.” Mereka kagum. Maya membuat keajaiban dari kejauhan.
Dalam beberapa detik, Maya mengirim foto koper diplomat terbuka. Didalamnya bukan dokumen, melainkan botol cairan ungu kecil, sekumpulan USB drive, dan selembar kertas yang dilaminasi. “Ini formula B16,” tulis Maya. “Aku mengambil gambar, lalu menghapus log. Sekarang koper ditutup lagi. Petugas tidak tahu. Kita punya bukti.”
Namun, keberhasilan ini tidak tanpa risiko. Beberapa menit kemudian, dua orang berseragam hitam mendekat ke meja mereka di kafe. “Maaf, kami dari keamanan bandara,” katanya. “Tadi kami melihat kalian membersihkan area diplomatik. Kami ingin memeriksa ID kalian.” Profesor menelan ludah. Budi mengacungkan ID palsu. Petugas memindai. “Ini ID palsu,” kata petugas dengan suara dingin. “Kami mohon ikut kami ke ruang keamanan.”
Di ruang keamanan, dinding putih dan kamera. Mereka duduk, berhadapan dengan petugas. “Kami curiga kalian terlibat. Kalian boleh bicara sekarang,” kata petugas. Profesor mengambil napas. “Kami memang berada di sana. Tapi kami bukan pencuri. Kami aktivis yang sedang mengungkap konspirasi. Kami bekerja sama dengan Interpol. Kami baru dari Istana. Silakan hubungi juru bicara presiden atau LPSK,” katanya. Petugas memandangi mereka, ragu. Budi mengeluarkan kartu jurnalis Mas Jati. “Ini kartu pers internasional,” tambahnya. Petugas memanggil atasan. Situasi tegang. Mereka terkurung di ruangan dengan jendela kecil, aroma sabun dan kertas dokumen.
Sementara itu, di luar, Maya mengirim pesan ke LPSK. “Teman kalian tertahan di Soetta. Tolong bantu,” tulisnya. LPSK cepat bergerak. Dalam sepuluh menit, pejabat tinggi dari Kementerian Hukum dan LPSK datang ke ruang keamanan. Mereka menunjukkan surat tugas, kartu identitas, surat perintah dari istana. “Lepaskan mereka,” kata pejabat itu tegas. “Mereka saksi yang dilindungi. Apakah kalian ingin menahan saksi istana?” Petugas keamanan panik, membebaskan mereka. Profesor menegakkan punggung, menatap petugas. “Lain kali, pelajari identitas tamu kalian sebelum menahan,” katanya. Mereka keluar, lega namun kesal. “Hampir saja,” bisik Budi. Mereka tertawa gugup.
Misi di bandara berhasil: formula di foto, pelacak terpasang. Namun, mereka tetap curiga. Maya memberi tahu: “Diplomat itu hanya kurir. Formula cadangan masih di pabrik kecil di kawasan industri Cikarang. Aku mendengar ada pengiriman malam ini. Jika kalian mau, bisa pergi.” Mereka saling menatap. “Tidak ada waktu istirahat,” kata Tento, tersenyum pahit. Mereka memutuskan: Profesor dan Rina akan menghadiri sesi dengar pendapat di DPR esok hari; Budi, Perikus, dan Pak Hadi akan pergi ke Cikarang bersama beberapa aktivis lokal.
Sore itu, mereka menunggu laporan Interpol tentang kapal. Berita muncul di televisi: Interpol menahan kapten, menemukan dokumen. Dr. Singh diekstradisi ke Indonesia. Pemerintah Filipina mendukung. Jalan menuju keadilan terlihat lebih jelas, namun masih panjang. Presiden berterima kasih kepada Interpol, menandatangani perintah penghentian sementara ekspor produk farmasi tertentu. Namun, netizen tetap curiga. “Kenapa tidak dari dulu?” tulis mereka.
Di malam hari, jalan ke Cikarang berkelok-kelok melewati pabrik-pabrik. Lampu jalan remang. Udara panas, bau pabrik plastik dan logam. Mereka berada di mobil pick-up, menyembunyikan wajah. Mobil berhenti di depan pabrik kecil dengan plang “PT. Mega Lab”. Pagar tinggi, kamera CCTV. Mereka memeriksa. “Saya kenal tempat ini,” bisik salah satu aktivis lokal. “Ini pabrik perakitan elektronik. Tapi belakangan ramai orang asing keluar masuk.” Mereka merayap di sisi pagar, mencari celah. Mereka menemukan selokan kecil. Mereka menyingkirkan besi, merangkak masuk.
Di dalam, ruangan penuh mesin, bau solder, dan resin. Mereka melihat peti-peti kayu berlabel “Spare Parts.” Mereka membuka salah satu: di dalam, kotak plastik berisi vial kecil cairan ungu. Mereka memotret, merekam. Tiba-tiba, seorang pria berjas putih muncul di ujung lorong. “Hei! Apa kalian lakukan?!” Dia berteriak. Mereka menahan napas. Itu bukan Singh, tetapi salah satu ilmuwan. Pria itu mendekat. Perikus mengangkat tangan, tersenyum. “Maaf, Pak. Kami tersesat,” katanya. Pria itu melihat ke rak, wajahnya curiga. “Kalian bukan pekerja,” katanya. “Panggil keamanan!” Terjadi kejar-kejaran. Mereka berlari, napas terengah, melewati mesin, menghindari peti.
Pak Hadi, yang berumur lima puluh lima, ternyata cepat. Ia berlari duluan, mencari pintu keluar. Mereka melihat pintu belakang terbuka, mungkin untuk ventilasi. Mereka melompat keluar, berlari ke semak-semak. Mereka mendengar teriakan, tetapi mereka terus lari. Mereka naik ke mobil, melaju. Peluh mengucur. “Kita hampir ketangkap,” kata Budi sambil tertawa lega. “Aku merasa seperti di film action.” Mobil bergerak meninggalkan pabrik, lampu-lampu kota Cikarang mengecil di belakang. Mereka menatap langit malam. Awan melintas, menutupi bulan. Namun, bintang-bintang masih terlihat, seolah menonton mereka.
Keesokan paginya, DPR mengadakan rapat dengar pendapat. Profesor dan Rina duduk di meja saksi, ditemani oleh Joko yang hadir dengan kursi roda. Widya hadir dengan penjaga, wajahnya tampak lelah tetapi teguh. Televisi menyiarkan langsung. Warga berkumpul di warung-warung kopi, menonton. Ada yang marah, ada yang menangis. Budi, Perikus, dan yang lain menonton dari mobil sementara mereka mengejar pengiriman. Mereka mendengar suara Profesor yang tenang, menjelaskan detail, menyerahkan bukti, menjawab pertanyaan. Mereka mendengar suara keras politisi yang marah, menuduh, membela, bersandiwara. Mereka mendengar suara Widya yang serak, mengakui salah, meminta maaf. Mereka melihat Joko menunduk, menahan air mata, kemudian bersuara: “Kami bukan binatang. Kami manusia. Kami punya keluarga. Tolong, jangan biarkan ini terjadi lagi.” Rapat dengar pendapat menjadi dramatis. Ada tepuk tangan, ada caci maki. Namun, itu mencatat sejarah: untuk pertama kalinya, korban miskin berbicara di parlemen, menuntut keadilan.
Di luar gedung, massa mahasiswa kembali berkumpul, membawa poster baru: “Kita tidak akan diam!” Mereka bernyanyi, menari, menggelar orasi. Rina keluar dari gedung, wajahnya lelah tetapi tersenyum, disambut oleh sorakan. “Kalian luar biasa!” seru seseorang. Rina menjawab, “Ini baru permulaan! Kita akan terus awasi!” Suara gemuruh membalas. Mereka mendukung.
Malam hari, mereka berkumpul di hotel, lelah namun lega. Mereka memeriksa pesan: Interpol menangkap Singh; Kedutaan Eropa memecat diplomat; pemerintah membentuk tim reformasi; Joko mulai pulih; Widya akan masuk program perlindungan saksi. Mereka saling memandang. “Kita sudah jauh,” kata Tento. “Tapi perjalanan masih panjang. Banyak yang harus diperbaiki. Sistem, budaya, hukum. Tapi kita tahu satu hal: kita bisa melakukannya jika kita bersama.”
Budi mengangkat segelas teh manis. “Untuk soto ayam, reog, drone jatuh, dan keberanian,” katanya. Mereka tertawa, mengangkat gelas. “Untuk Budi yang selalu menemukan humor,” tambah Rina dari video call. “Untuk Perikus yang membawa minyak kayu putih,” sambung Karin dari rumah sakit. Mereka tertawa lebih keras. “Dan untuk Pak Hadi, yang berlari seperti atlet,” kata Budi sambil menepuk punggung Pak Hadi. Pak Hadi tertawa, mengusap mata.
Hari itu diakhiri dengan pemandangan malam Jakarta: lampu-lampu gedung menyala, mobil-mobil bergerak perlahan, suara musik dari kafe, dan gemuruh lembut hujan yang mulai turun. Di antara hiruk pikuk, ada sekelompok orang biasa yang telah bergerak melampaui batas mereka untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Mereka tidur lelap, memimpikan dunia yang lebih adil, sementara di luar, suara hujan meninabobokan kota yang masih terjaga.