Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta uang
Sibuk dengan urusannya di ruang kerja sore ini pekerjaan kantor yang di bawanya pulang ke rumah James tidak bisa fokus lagi setelah biang onar mengetuk pintu dan memanggilnya terus.
"Ayah.. "
"Ayah aku masuk ya, ayah sudah pulang ada didalam?"
Suaranya benar-benar nyaring bangkan pintu tebal dengan dua daun pintu itu tak bisa menahan suara kerasnya.
"Saya dengan Tuan sangat sibuk Nona bagaimana kalo kita menundanya saja. "
"Tidak bisa kak Mina, Ya kan Kak Nena. "
Kedua pelayan diam bingung berpandangan.
"Ayah!"
"Astaga kepalaku, buka saja pintunya Silva. "
Di buka pintunya ternyata ayahnya duduk di kursi kerja dengan kemeja berantakan dasi tak simetris dan kancing terbuka beberapa helai, lalu Silva yang berdiri membukakan pintu untuknya.
"Eh kok ayah berantakan, Paman Silva masih rapi, ahah ayah!"
"Kau tidak berpikir macam-macam ?"
"Ah apa nya?"
Matanya licik melirik kanan kiri.
Silva merasa dirinya terancam, lebih baik tersenyum saja akan aman dari pada banyak bicara.
"Nona anda mau apa datang kemari, tujuan anda?"
Memukul angin.
"Oh yaa untung diingatkan, ayah terlalu berantakan pakaiannya sedikit menarik dan keren aku lupa. "
"Alasan. "
"Iyaa ayah, kenapa ayah tidak percaya denganku. "
"Kau terlalu sering berkata manis. "
"Heummm... Tebak aku belajar dari siapa bicara manisnya ?"
Melangkah kedekat Sofa duduk santai disana dan James memperhatikannya dari tempatnya.
"Ayah aku minta uang. "
Silva terkejut.
James juga kaget dengan ekspresi anehnya.
"Kau? Minta uang?"
"Kau selama ini jajan tinggal bilang maumu apa, apa kau sekarang sadar kalo aku sumber uang mu. "
"Pasti kau belajar semua itu dari panti asuhan kan?"
"Haisshuhsssht"
"Eh!"
Anisa yang melompat berdiri diatas sofa empuk dengan sepatunya untung bahannya kulit mahal yang tebal jadi tak mudah robek jika kotor tinggal di lap bersih dengan cai4an pembersih dan air.
"Yaa aku belajar kata-kata manis yang indah dan kebohongan memang dari panti asuhan tapi, kata-kata manis lainnya lagi kan dari ayah, lalu masalah uang, ayah memang sumber uangku, jika tidak ada uang ayah kita akan miskin. "
Penampakan di kepala Anisa kalo mereka miskin seperti gelandangan dengan pakaian compang camping memegang mangkok kotor dengan bau tak sedap di tambah dengan wajah ayahnya jelek jenggotan panjang.
"Huwahahahahahah! Ayah jadi tua bangka jelek hahahah!"
Baru kali ini ia merasa terhina sejauh ini, umurnya tak setua itu baru juga tigapuluh satu tahun.
"Kau mau apa lagi hah setelah memuji kau menghina lalu apa lagi ?"
Anisa menyisakan geli dengan perlahan mengusap air matanya saking gelinya tertawa.
"Yaa aku tidak mengulanginya, maaf ayah. "
Ada bayarannya seperti biasa. " James mendekatkan pipinya untuk Anisa cium.
Anisa yang paham segera mendekat dan menarik tangan ayahnya mencium punggung tangannya dan mencium pipinya menarik dasi ayahnya.
"Aku sudah makan banyak dan aku juga sering tumbuh ke atas, kenapa ayah duduk saja aku masih tidak sampai, ayah terlalu tinggi. "
"Kau tidak tumbuh keatas tapi, kesamping!"
"Haah... Ayah!"
menendang kaki ke sofa.
"Hahahah pendek!"
Gantian James mengejek Anisa mengatainya pendekkan.
Keluar ruangan ayahnya membanting pintu tapi, berbalik lagi masuk dan menutupnya pelan.
Semua masih kaget karena tutupan pintu suara keras.
Pintu yang terbuka dengan di tutup lagi pelan.
"Minta duit ayah!"
"Iyaa. "
Berdiri James ke lemarinya mengambil kartunya Anisa berlari mendekat tertawa.
"Ciumannya dulu baru kartunya. "
Tangan kecil yang mekar mengepal keduanya tak sabar menerima kartu tapi, yang sudah di berikan di tarik lagi mendekatkan pipi kanan dan wajah pamrihnya.
"Ah yaa, sini... "
Anisa mengalah mengambil wajah ayahnya lebih dekat mencium lagi seluar wajahnya bonus memeluk leher James erat-erat.
Kartu di berikan langsung melompat kegirangan keluar ruangan ayahnya.
Di tempat belanja alat kerajinan dan juga alat jahit dan busana.
"Nona, anda bisa mengatakan pada pelayan kita tinggal duduk saja, nanti pelayan toko akan membawakan katalog dan juga model manik atau hiasan yang nona mau. "
Anisa mengangguk mengikuti Sol yang mengajaknya ke ruangan sepetinya di gunakan untuk tamu khusus.
"Saat ini duduk diruangan tunggu menunggu menager kami sebentar yaa, nyonya dan nona. "
Persilakan pelayan pada keduanya terdengar sangat ramah.
Anisa juga melihat pelayan toko lainnya memberikan Tel dan juga buah dan kueh kering tinggal mencicipi nya.
"Nenek Sol ini boleh di makan. "
Menoleh ke pelayan menoleh lagi pada Anisa tersenyum.
"Tentu nona. "
Menatap sekitar ruangan ini banyak sekali pajangan perhiasannya dan juga busana yang mewah dan ada sepatu gelang dan juga bandana aksesoris.
Setelah manager masuk membawa troli katalog yang begitu banyak sampai mata Anisa kaget menatapnya bergantian menatap Sol.
"Silakan Nona, anda pilih yang Anda suka. "
Anisa membuat para pelayan toko dan manager sedikit berkeringat karena mereka sendiri tahu siapa yang di bawa Sol kemari mereka juga tak berharap akan ada kunjungan secepat ini dari putri kesayangan seorang James Arthur.
Manager laki-laki dan perempuan yang mengawasi Anisa merasakan debaran jantung tak biasa, mereka takut jika Anisa akan mengamuk nangis dan tak nyaman tapi, kekhawatiran mereka semua tak berguna saat wajah Anisa sumringah.
"Paman dan Bibi Manager melakukan hal baik aku ingin membawa beberapa dengan warna yang sudah aku pilih dan juga aku suka gaun disini, aku ingin tapi, tak ada yang ukurannya sepertiku. "
"Ah tidak nona, anda memiliki ukuran nya kami akan bantu anda mencarinya, ikut bermana Nala ia akan membantu anda Nona. "
Manager perempuan yang bernama Nala usianya sepertinya seumuran dengan Sol.
"Nenek Sol, apa aku boleh beli baju juga?"
"Tentu nona, Tuan sudah menyiapkan untuk anda. " mengeluarkan kartu hitam yang di gunakan ya untuk berbelanja ini.
Silau mata Anis, senyumannya licik.
Selesai belanja dan juga berjalan masuk menggunakan pakaian yang bagus, Anisa Tampa berkilau tak seperti biasa, Ia jadi pusat perhatian para pelayan yang lalu lalang.
"Ayah... Lihat aku!" Teriakannya sangat keras saat tidak menemukan ayahnya dimanapun ternyata ayahnya ada di ruang latihan bela diri.
"Ah yaa aku melihatnya. "
"Kau tidak menatap putrimu dengan benar ayah, kau memunggungi ku Ayah!"
Membalik badannya sambil menerima sebotol air dingin dan handuk.
"Iya aku lihat, berapa banyak yang kau habiskan?"
"Hahah sangat banyak, Aku membersihkan kartu ayah, aku sudah seperti anak orang kaya dengan uang tidak terbatas ya kan, yaa... "
"Kau memang anak orang kayak. "
Anisa mengamuk mengoceh dengan kata kasar sampai para bawahan ayahnya sedikit menjauh menjaga jarak.
"Haah... Lihat. "
Anisa mendekat dengan wajah masih emosi, James menyentuh bahunya memutarnya kanan kiri dan menemukan label belum di lepas.
"Kau mempermalukan ku. "
"Hah.. Ayah... Sebegitu bencinya aku tidak memakai pakaian seksibtahu!"
Suara sesuatu putus dan membuat retakan di hati Anisa.
"Tidakkkk.... "
"Ayah merobeknya, tidak mungkin, ayah jahat... Aku harus membelinya yang baru ayah jahat... Ayah tidak berperasaan... "
"Brisik, " ucapnya membungkam mulut yang bersuara keras tanpa batas pita suara yang sehatnitu.
"Label pakaiannya belum kau lepas kau berjalan dengan pakaian baru itu jelas jadi pusat perhatian, kau bodoh sih. "
"Apa!"
Kembali pengang kuping James mendengar teriakan Anisa.
"Kau juga terlihat seperti anak gendut, babi. "
"Ayah.... "
Tahan tawanya James senang menggoda Anisa.