NovelToon NovelToon
Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Wanita Karir / Time Travel
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"

Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.

Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.

Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUNGAN DI RUANG DEWAN

Lord Chancellor Edmund membaca dokumen yang diserahkan Catharina dengan sangat teliti dan penuh konsentrasi. Ruang kerjanya yang biasanya sangat tenang dan sedikit berdebu kini terasa seperti medan pertempuran kecil yang penuh ketegangan. Di luar jendela, suara aktivitas istana yang sangat sibuk terdengar sayup-sayup.

Catharina duduk dengan sangat tegak di kursinya, menunggu dengan sabar meski jantungnya berdegup sangat keras. Lucian berdiri di belakangnya, tangannya sesekali menyentuh bahu Catharina sebagai dukungan diam-diam yang sangat berarti.

Lord Chancellor akhirnya meletakkan dokumen itu dan menatap Catharina dengan tatapan yang sangat sulit dibaca.

"Argumen hukumnya sangat kuat," ujarnya akhirnya dengan nada yang sangat hati-hati. "Pasal 47 memang masih mengikat secara hukum. Dan ada preseden historis yang jelas bahwa pasal ini pernah digunakan bahkan setelah Raja meninggal, selama ujian berdasarkan kemampuan belum selesai sepenuhnya."

"Maka Anda setuju bahwa Alexander tidak bisa sebelah pihak mengklaim tahta hari ini?" tanya Catharina.

"Secara teknis, tidak bisa sama sekali. Tapi secara praktis..." Lord Chancellor menghela napas yang sangat panjang. "Alexander sudah punya dukungan dari sepertiga anggota dewan dan sebagian besar komandan militer. Kalau kita memaksa konfrontasi sekarang, ini bisa berakhir dengan kekerasan yang sangat berdarah."

"Dan kalau kita tidak memaksa konfrontasi, Alexander akan terus mengkonsolidasikan kekuasaannya sampai tidak ada yang bisa menghentikannya lagi," balas Catharina dengan sangat tegas.

Lord Chancellor terdiam sangat lama. Pria tua itu terlihat seperti menanggung beban yang sangat berat di pundaknya yang sudah bungkuk.

"Lady Catharina, aku sudah melayani kerajaan ini selama empat puluh tahun penuh. Aku sudah melihat sangat banyak hal. Dan aku bisa katakan bahwa ini adalah momen paling kritis yang pernah kuhadapi dalam seluruh karirku."

"Maka jadilah sisi yang benar dari sejarah, Yang Mulia Lord Chancellor."

Pria tua itu menatap Catharina dengan tatapan yang penuh dengan sesuatu yang Catharina tidak bisa langsung artikan. Kagum? Rasa hormat? Atau mungkin sedikit rasa takut pada wanita muda yang berbicara dengan begitu yakin di depannya?

"Baiklah," ujarnya akhirnya dengan suara yang mantap. "Aku akan mengadakan sidang dewan darurat dalam dua jam. Semua anggota harus hadir tanpa kecuali. Dan kita akan menyelesaikan ini secara hukum dan layak, bukan dengan kekerasan atau intimidasi."

Catharina bangkit dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. "Terima kasih, Yang Mulia Lord Chancellor. Kerajaan akan sangat berterima kasih atas keberanian Anda."

***

Dua jam kemudian, ruang dewan penuh sesak dengan semua anggota yang hadir. Suasananya jauh lebih tegang dari sidang sebelumnya yang sudah sangat tegang. Beberapa anggota dewan terlihat sangat terintimidasi, melirik ke arah faksi Alexander dengan sangat cemas. Yang lain terlihat sangat bertekad, duduk tegak di pihak Cassian.

Alexander datang dengan rombongan yang sangat besar, termasuk beberapa komandan militer yang berdiri di belakangnya sebagai pamer kekuatan yang sangat tidak halus. Wajahnya menampilkan ekspresi bosan seolah semua ini adalah ketidaknyamanan kecil yang harus dia toleransi sebelum akhirnya mendapat apa yang menurutnya sudah jelas menjadi haknya yang mutlak.

Cassian datang jauh lebih sederhana, hanya ditemani Victoria, Seraphina, dan beberapa bangsawan pendukung. Tapi ada sesuatu di cara Cassian berjalan yang sangat berbeda dari biasanya. Lebih berat, lebih matang, lebih penuh beban. Kesedihan kehilangan ayahnya kemarin seperti telah mengubah sesuatu yang sangat mendalam di dalam dirinya.

Lord Chancellor membuka sidang dengan ketukan palu yang sangat keras.

"Sidang dewan darurat ini diadakan untuk membahas satu agenda: status suksesi kerajaan pasca wafatnya Raja Edward yang sangat mulia, semoga beliau tenang di alam sana yang kekal."

Beberapa anggota dewan spontan membungkuk kepala sebagai tanda hormat yang mendalam pada mendiang Raja.

"Pangeran Cassian telah mengajukan tantangan formal terhadap klaim Pangeran Alexander berdasarkan Pasal 47 yang masih aktif dan berlaku. Sebelum kita melanjutkan, aku ingin mendengar dari kedua pihak. Pangeran Alexander, silakan."

Alexander berdiri dengan langkah yang sangat diperhitungkan, berjalan ke podium dengan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke matanya yang dingin.

"Para anggota dewan yang sangat terhormat, ini sebenarnya sederhana saja. Hukum suksesi tradisional sangat jelas. Putra pertama adalah pewaris tahta yang sah. Sudah begitu selama berabad-abad lamanya. Pasal 47 adalah peraturan darurat untuk situasi yang sangat tidak biasa, bukan untuk digunakan sebagai alat manuver politik oleh pihak yang tidak puas dengan tatanan alami yang sudah ada."

Alexander menatap ke arah Cassian dengan tatapan yang sangat meremehkan.

"Adikku adalah pria yang baik. Sangat idealis. Tapi idealisme bukan yang dibutuhkan kerajaan sekarang. Kerajaan butuh stabilitas, kesinambungan, dan kepemimpinan yang kuat. Bukan eksperimen yang tidak pernah diuji."

Beberapa anggota dewan dari faksi konservatif mengangguk setuju dengan sangat jelas.

"Dan aku ingatkan semua yang hadir di sini," lanjut Alexander dengan nada yang sedikit lebih mengancam, "bahwa militer kerajaan sudah menyatakan loyalitas mereka pada pewaris yang sah. Keputusan yang tidak mengikuti tatanan alami bisa sangat membahayakan stabilitas yang kita semua jaga dengan susah payah."

Ada yang namanya ancaman halus dan ada yang namanya sangat tidak halus sama sekali. Pernyataan Alexander tadi termasuk yang kedua. Beberapa anggota dewan yang tadinya masih ragu terlihat semakin tidak nyaman dan ketakutan.

Cassian berdiri untuk giliran bicaranya. Dia tidak langsung berjalan ke podium. Sebaliknya, dia berdiri di tempatnya dan berbicara dengan suara yang sangat tenang namun jelas terdengar di seluruh ruangan.

"Ayah baru saja meninggal kemarin. Jenazah beliau bahkan belum dikebumikan dengan layak. Dan hari ini, kita semua sudah dipaksa hadir dalam sidang untuk membicarakan siapa yang akan duduk di takhtanya."

Suasana ruangan berubah dengan sangat drastis. Ada rasa tidak enak yang sangat kuat menyebar di antara anggota dewan.

"Aku tidak akan berbicara tentang hak atau klaim yang sah. Aku hanya akan bertanya satu pertanyaan kepada semua yang hadir di sini hari ini." Cassian menatap satu per satu anggota dewan yang hadir. "Ketika rakyat di provinsi utara kelaparan karena kekeringan parah, siapa yang pergi ke sana? Ketika konvoi bantuan disabotase dan penjaga terluka sangat parah, siapa yang tetap di sana untuk memastikan rakyat mendapat bantuan? Dan ketika ada yang perlu dikerjakan untuk rakyat, siapa yang menggulung lengan baju dan bekerja bersama mereka?"

Hening seluruhnya.

"Aku tidak bicara ini untuk menyombongkan diri. Aku bicara ini karena itulah yang akan terus aku lakukan kalau dipercaya memimpin kerajaan ini. Bukan karena kewajiban, tapi karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan."

Cassian berjalan ke podium dan meletakkan sebuah dokumen yang sangat tebal.

"Ini adalah rencana komprehensif untuk mengatasi krisis di provinsi utara, lengkap dengan anggaran, garis waktu, dan hasil yang diproyeksikan. Ini juga berisi reformasi kebijakan yang aku usulkan untuk pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat. Semua dengan detail yang bisa ditinjau dan dikritik. Bukan janji kosong tanpa dasar."

Beberapa anggota dewan dari faksi yang masih ragu mulai membaca dokumen yang dibagikan oleh pembantu Cassian ke seluruh ruangan.

"Pasal 47 tidak diajukan untuk menghalangi tatanan alami. Pasal 47 diajukan karena dewan sendiri yang memutuskan bahwa situasi ini memerlukan pengawasan ekstra. Tiga minggu yang tersisa bukan tentang aku melawan Alexander. Ini tentang memberikan rakyat kesempatan untuk melihat siapa yang sebenarnya akan memimpin mereka."

Saat Cassian duduk, Victoria menyentuh tangannya sebentar dengan sangat bangga.

Pembahasan dewan berlangsung dengan sangat panas dan sengit selama dua jam berikutnya. Berbagai argumen hukum dilontarkan dari kedua sisi dengan sangat tajam. Kubu Alexander mencoba berbagai cara untuk berargumen bahwa Pasal 47 tidak berlaku dalam situasi ini. Victoria yang duduk sebagai penasihat hukum Cassian membantah satu per satu dengan sangat teliti dan artikulatif.

Di luar ruang dewan, Catharina menunggu bersama Lucian dan Raphael yang datang menyusul. Mereka tidak diizinkan masuk karena bukan anggota dewan, tapi dari ekspresi orang-orang yang keluar masuk, Catharina bisa membaca bahwa situasinya sangat seimbang lima puluh-lima puluh.

"Ini terlalu lama," ujar Raphael dengan sangat gelisah.

"Proses hukum yang layak memang lama," jawab Catharina. "Itu justru bagus. Berarti tidak ada yang bisa memutuskan sepihak."

Tiba-tiba, pintu ruang dewan terbuka dan seorang pembantu keluar dengan sangat tergesa-gesa menghampiri Catharina.

"Lady Catharina, Lord Chancellor meminta kehadiran Anda sebagai saksi untuk sesuatu yang sangat mendesak."

Catharina dan Lucian saling berpandangan, lalu Catharina berdiri dan masuk ke ruangan.

Di dalam, semua mata langsung tertuju padanya. Di tengah meja dewan, ada seseorang yang Catharina tidak sama sekali perkirakan untuk melihat di sini. Seorang wanita tua dengan rambut putih dan wajah yang sangat familiar.

Catharina mengenalinya dari memori asli Catharina. Ini adalah Duchess Eleanor, saudara perempuan mendiang Raja Edward. Wanita yang selama ini tinggal di perkebunan pedesaannya dan sangat jarang terlibat dalam politik kerajaan.

"Duchess Eleanor," Monolog Catharina.

Wanita tua itu berdiri dengan sangat anggun dan menatap seluruh ruangan dengan otoritas yang sangat alami.

"Para anggota dewan yang sangat terhormat, aku datang membawa sesuatu yang belum pernah kalian lihat. Sebuah surat dari mendiang Raja Edward, adikku, yang ditulis dua minggu yang lalu saat beliau masih dalam kondisi yang sangat sekarat."

Ruangan langsung sunyi sepenuhnya.

Duchess Eleanor mengeluarkan sebuah surat yang disegel dengan lilin stempel kerajaan yang asli. Dengan gerakan yang sangat tenang dan penuh perhitungan, dia membuka surat itu dan mulai membacanya dengan suara yang jelas.

"Kepada dewan dan rakyat kerajaan yang kucintai. Jika kalian membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada lagi. Ada hal yang ingin aku sampaikan sebelum pergi. Mengenai suksesi kerajaan, aku percayakan keputusan ini pada kebijaksanaan dewan, bukan pada tradisi semata. Namun aku ingin kalian tahu bahwa dalam hati seorang ayah, aku melihat masa depan kerajaan ini paling jelas di mata putraku Cassian. Bukan karena dia putra pertama, tapi karena dia putra yang selalu meletakkan kepentingan rakyat di atas kepentingannya sendiri. Putuskan dengan bijak."

Ruangan sontak meledak.

Alexander berdiri dengan wajah yang sangat merah. "Surat ini bisa dipalsukan dengan mudah!"

"Ini menggunakan stempel pribadi Raja yang hanya beliau sendiri yang punya akses," jawab Duchess Eleanor dengan sangat tenang. "Dan aku adalah saksi langsung ketika beliau menulisnya."

Lord Chancellor memeriksa surat itu dengan sangat teliti, membandingkan stempel dengan stempel asli yang ada di arsip dewan.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti bertahun-tahun, Lord Chancellor mengangkat kepalanya.

"Surat ini benar-benar asli."

Tepuk tangan dari faksi Cassian langsung meledak. Beberapa anggota dewan yang tadinya masih ragu terlihat sudah memutuskan ke mana mereka akan berpihak.

Alexander masih berdiri dengan wajah yang menunjukkan kemarahan yang sangat terkontrol.

"Ini belum selesai sama sekali," ujarnya dengan nada yang sangat dingin sebelum keluar dari ruangan bersama para pendukungnya.

Catharina menatap punggung Alexander yang menjauh dengan perasaan yang sangat campur aduk. Mereka menang dalam sidang ini. Tapi dari cara Alexander berbicara tadi, ini jelas bukan akhir dari segalanya.

Justru mungkin ini baru permulaan dari yang terburuk.

***

BERSAMBUNG

1
Dedi Dahlia
lihat saja kemenangan kebaikkan yang menang apa kejahatan yang menang semangat 💪💪
Dedi Dahlia
seandainya lucian tidak bisa percaya yang kamu katakan,tinggalkan dia masih banyak lelaki di dunia ini yang lebih baik dari lucian,up semangat 😁😁💪💪
Dedi Dahlia
jangan biarkan kejahatan menang thorr,buat Lucian ingat bukti kejahatan Elise dan Alexander kejahatan selama ini lanjut semangat./Smile//Smile//Pray//Pray/
Murni Dewita
👣
falea sezi
kapok salah sendiri tergoda ma pembokat gatel
CaH KangKung,
👣👣
Wega Luna
belajar beladiri berpedang,otak boleh maju kalo GK diimbangi bela diri sama saja nyetor nyawa,aku punya feeling kalo nanti si Elise di bebaskan Alexander😌 jangan sampai yh thor
putmelyana
next Thor ceritanya
Ayu Padi
yaaah Thor gimn bisa begitu...mereka minum racun ...GK rela laah Thor masa pelayan menang...
Nabil Az Zahra
baru bab 1 mudah"n seterusnya mnarik,
Ayu Padi
sama Thor ...GK sabar ...hrs putus sama Duke ...payah terkenal kejam dingin tp luluh sama pelayan yg penuh drama...
Wega Luna
boleh kah nonjok Alexander,,,,😒😒😒😒💀💀
partini
mati dua kali weh
Wega Luna
jangan sampai Thor ada korban ,
partini
lah pake cara lama dasar Kunti
Fatur Fatur
bikin eliese yang terkena racunnya sendiri thor
Rina Yuli
mampir thor ✋✋✋✋
Wega Luna
si Elise ini bener bener pick me🤣🤣🤣🤣🤣🤣,entah di novel atau di dunia nyata yg namanya Elise itu bikin naik darah
Wega Luna: bener🤣🤣🤣🤣, karena dari dunia nyata sekitar mangkanya aku berani bilang gitu
total 2 replies
partini
kalau terpuruk dan lari ke pelayanan fixx Duk Duk emang rendahan
partini
good story
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!