NovelToon NovelToon
Jerat Sentuhan Berbahaya

Jerat Sentuhan Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Harem
Popularitas:945
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"

"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."

"Hentikan! Jangan sentuh aku!"

"Jika aku tak mau?"

"Kau tidak waras!"

Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.

Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.

Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Malam yang tak terlupakan

Kabut tipis menggantung di atas hutan pinggiran London malam itu. Dari atas, gereja batu kecil yang tua tampak sunyi di antara pepohonan tinggi yang berderet. Lampu-lampu kuning redup menyala di sepanjang jalan sempit menuju halaman gereja, menciptakan bayangan panjang di tanah basah oleh embun malam.

Angin dingin menggeser ranting-ranting pohon, membuat suasana semakin terasa sepi dan rahasia.

Mobil hitam yang dikendarai Rodrigo akhirnya berhenti di depan bangunan gereja kecil itu.

Valeria yang duduk di kursi penumpang mengernyit bingung. “Apa ini?” gumamnya pelan sambil melihat ke luar jendela.

Rodrigo tidak langsung menjawab. Wajah pria itu terlihat tenang, terlalu tenang, seolah semuanya sudah direncanakan sejak lama.

“Turun dulu,” ucap Rodrigo singkat.

“Aku pikir kita ke rumah sakit. Kau mengatakan ingin memeriksa luka tusukanmu,” protes Valeria sambil menatap perut Rodrigo yang beberapa hari lalu masih diperban.

Rodrigo hanya tersenyum tipis. “Lukanya sudah jauh lebih baik.”

Valeria semakin curiga. “Apa kita tersesat?”

Rodrigo membuka pintu mobil dan keluar tanpa menjawab. Tak lama kemudian dua wanita datang menghampiri mobil.

Salah satu dari mereka membuka pintu di sisi Valeria.

“Nona Valeria?” tanya wanita itu ramah.

Valeria mengangguk ragu. “Kami diminta membantu Anda bersiap.”

“Bersiap? Untuk apa?”

“Kejutan kecil,” jawab wanita lain sambil tersenyum misterius penuh rahasia. Valeria menoleh ke arah Rodrigo yang berdiri beberapa meter dari sana.

“Rodrigo! Apa yang kau lakukan?”

Pria itu hanya mengangkat bahu santai. “Percayalah padaku.”

Kalimat itu justru membuat jantung Valeria berdebar tidak nyaman. Ia akhirnya dibawa masuk ke sebuah ruangan kecil di samping gereja. Ruangan itu hangat, dengan meja rias besar dan cermin bundar yang memantulkan cahaya lampu kuning lembut. Berbagai alat makeup tertata rapi.

Valeria duduk perlahan di kursi rias. “Aku masih belum mengerti. Kenapa kalian merias aku?”

Wanita yang lebih tua tersenyum lembut. “Hanya riasan ringan. Akan ada pesta kecil malam ini.”

“Pesta?” ulang Valeria curiga.

Sikat halus mulai menyentuh pipinya. Riasannya tipis, elegan, dan terlalu sempurna untuk sekadar pesta biasa.

Valeria menatap dirinya di cermin. Rambutnya ditata lembut. Bibirnya diberi warna merah muda natural. Gaun putih sederhana yang tadi dibawa salah satu wanita kini dikenakan padanya. Gaun itu jatuh indah sampai lantai. Mata Valeria membulat sempurna.

“Tunggu ini seperti—” Ia menelan ludah. “Seperti gaun pengantin.”

Dua wanita itu saling melirik lalu terkekeh pelan. “Cantik sekali,” kata salah satu dari mereka.

Valeria berdiri tiba-tiba. “Tidak. Tidak, tunggu dulu. Kalian harus menjelaskan semuanya.”

Sebelum mereka menjawab, pintu ruangan terbuka perlahan. Salah satu wanita memberi isyarat. “Sudah waktunya.”

Valeria semakin bingung. “Apa maksudnya sudah waktunya?” Namun mereka sudah menggandeng lengannya dengan lembut.

“Percayalah, ini akan menjadi malam yang tidak akan Anda lupakan.”

Langkah Valeria terasa berat saat mereka berjalan keluar menuju aula gereja.

Pintu kayu besar perlahan terbuka. Lampu lilin menyala di sepanjang lorong. Cahaya keemasan memantul di lantai batu yang tua.

Dan di ujung altar, Rodrigo berdiri di sana. Mengenakan jas hitam elegan. Di sampingnya berdiri seorang pendeta tua yang memegang kitab.

Valeria berhenti berjalan. Tubuhnya terasa membeku.

“Tidak mungkin!” bisiknya pelan.

Degup jantungnya berdentum keras di telinganya. Ia menoleh panik ke kiri dan kanan. Gereja itu kosong. Tidak ada tamu. Tidak ada keluarga. Hanya mereka.

Valeria menatap Rodrigo dengan mata membulat.

“Kau serius?”

Rodrigo melangkah turun satu anak tangga dari altar. Tatapan pria itu tajam. Namun lembut pada saat yang sama.

“Lebih serius dari apa pun dalam hidupku.”

Valeria menggeleng cepat. “Rodrigo, ini tidak lucu.”

“Aku tidak bercanda.”

“Bukankah kau mengatakan kita akan membicarakan ini terlebih dahulu!”

Rodrigo tersenyum kecil.b“Aku berubah pikiran.”

“Aku tidak bisa menikah malam ini!” suara Valeria meninggi.

“Aku bahkan tidak tahu kita berada di gereja mana!”

Rodrigo menjawab tenang. “Gereja tua di pinggir hutan London. Tidak banyak orang yang tahu tempat ini.”

Valeria menatapnya tidak percaya. “Jadi kau menculikku ke sini untuk menikah?”

“Bukan menculik,” jawab Rodrigo santai. “Aku membawamu ke masa depan kita.”

“Rodrigo!”

Pendeta tua itu berdeham pelan. “Kalian bisa berdebat setelah upacara selesai.”

Valeria memejamkan mata frustasi. “Aku bahkan tidak punya pilihan.”

Rodrigo berjalan mendekat hingga hanya beberapa langkah dari Valeria. “Ada.”

“Apa?”

“Katakan tidak.”

Valeria menatapnya tajam. “Kau pria sinting.”

Rodrigo terdiam sejenak. Kemudian tersenyum tipis.

“Terserah kau mengatakan apa.”

Valeria menghela napas panjang. “Kau benar-benar gila.”

Rodrigo menatapnya dalam-dalam. “Mungkin.”

Ia mengulurkan tangannya. “Aku tergila-gila padamu, Valeria.”

Hening sejenak memenuhi gereja kecil itu. Lilin-lilin bergetar pelan tertiup angin dari jendela kaca patri. Valeria menatap tangan Rodrigo yang terulur. Jantungnya masih berdebar tidak karuan.

“Kalau aku mengatakan ya” gumamnya pelan.

Rodrigo menunggu.

“Kau berjanji tidak akan membuat hidupku lebih kacau dari sekarang?”

Rodrigo tersenyum samar. “Tidak.”

Valeria menatapnya tajam. “Rodrigo!”

“Tapi aku berjanji akan selalu ada di sampingmu.”

Valeria terdiam. Kemudian perlahan, sangat perlahan

Ia meletakkan tangannya di tangan Rodrigo.

Pendeta tersenyum hangat.

“Baiklah kita mulai.”

Rodrigo menggenggam tangan Valeria dengan erat.

Seolah takut wanita itu akan menghilang. Dan di tengah hutan sunyi London malam itu, Sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan oleh Valeria akhirnya dimulai.

Lilin-lilin kecil bergetar lembut di sepanjang lorong gereja tua yang tersembunyi di pinggiran hutan London. Udara malam merayap masuk dari jendela kaca patri yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Valeria berdiri di depan altar dengan tangan masih berada dalam genggaman Rodrigo. Jantungnya masih berdetak kacau.

Pendeta membuka kitabnya perlahan, suaranya tenang namun tegas di dalam gereja yang sunyi.

“Pernikahan adalah janji yang tidak boleh diucapkan dengan main-main,” kata pendeta itu. “Apakah kalian berdua datang ke sini dengan kemauan sendiri?”

Valeria hampir tertawa getir. Dengan kemauan sendiri?

Ia menoleh tajam ke Rodrigo.

“Menurutmu aku datang dengan kemauan sendiri?” bisiknya kesal.

Rodrigo menatapnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Kau datang karena kau peduli padaku.”

Valeria menahan napas, berusaha menahan emosi yang mendidih.

Pendeta kembali berbicara. “Tuan Rodrigo, silakan ucapkan sumpah Anda terlebih dahulu.”

Rodrigo menatap Valeria lama. Tatapan pria itu serius, jauh berbeda dari sikap santainya tadi. Ia menggenggam kedua tangan Valeria sekarang.

“Valeria.” Suara Rodrigo rendah, hampir seperti bisikan yang memenuhi ruangan.

“Aku tahu cara kita berdiri di sini tidak sempurna.”

Valeria mendengus kecil. “Tidak sempurna adalah kata yang sangat halus.”

Rodrigo tetap melanjutkan. “Aku tahu kau marah.”

“Tentu saja aku marah!”

“Dan aku tahu kau takut.”

Valeria langsung menegang.bRodrigo menatap matanya dalam-dalam.

“Kau takut orang lain akan salah paham.”

Nama itu akhirnya keluar dari bibir Valeria. “Sera.”

Hening sejenak memenuhi gereja. Mata Valeria mulai berkaca-kaca. “Aku tidak ingin dia berpikir aku merebutmu darinya,” ucap Valeria pelan, suaranya bergetar.

Rodrigo mengernyit. “Apa?”

“Kau tahu betul dia tunanganmu, dan kau baru saja memutuskannya secara sepihak. Lalu sekarang kau menikahiku.” lanjut Valeria. “Apa kau ingin mempermalukan aku.”

Air mata akhirnya jatuh dari sudut mata Valeria. “Aku tidak mau menjadi alasan kehancuran hubungan kalian.”

Rodrigo menatapnya lama. Kemudian ia menghela napas pelan. “Valeria!”

Ia mengangkat tangan dan menghapus air mata yang mengalir di pipi wanita itu.

“Kau benar-benar keras kepala.” Valeria langsung menepis tangannya.

“Jangan ubah topiknya!”

“Tidak ada yang direbut.”

Valeria menggeleng keras. “Rodrigo, kau tidak mengerti.”

“Aku mengerti lebih dari yang kau kira.” Rodrigo melangkah sedikit lebih dekat. “Sera bukan alasan aku berdiri di sini.”

“Lalu apa?”

“Kau.”

Valeria menatapnya tajam. “Jangan mengatakan itu hanya untuk membuatku merasa lebih baik.”

“Aku tidak pernah melakukan sesuatu sebesar ini hanya untuk membuat seseorang merasa lebih baik.”

Pendeta yang sejak tadi menunggu hanya tersenyum kecil, seolah sudah sering melihat pasangan berdebat sebelum sumpah pernikahan.

Rodrigo kembali menggenggam tangan Valeria dengan lebih lembut. “Dengarkan sumpahku.”

Valeria diam, meski napasnya masih tidak stabil. Rodrigo menatapnya dengan serius.

“Aku, Rodrigo, berjanji akan tetap berdiri di samping Valeria.”

Ia berhenti sebentar. “Bahkan ketika dia sedang marah padaku seperti sekarang.”

Valeria mendengus kesal. Pendeta hampir tertawa.

Rodrigo melanjutkan. “Aku berjanji akan melindunginya.”

“Sombong sekali,” gumam Valeria.

Rodrigo mengabaikannya. “Aku berjanji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.”

Tatapannya menjadi lebih dalam. “Termasuk siapapun itu.”

Air mata Valeria kembali jatuh. “Dan jika suatu hari dunia memutuskan melawannya.”

Rodrigo meremas tangannya sedikit. “Aku akan menjadi orang pertama yang berdiri di depannya.”

Valeria menggigit bibirnya. Air matanya jatuh semakin deras.

“Aku juga berjanji akan menanggung semua kekacauan yang mungkin terjadi setelah malam ini.”

Valeria tertawa kecil di tengah tangisnya. “Itu pasti banyak.”

“Ya.”

Rodrigo tersenyum tipis. “Tapi aku tidak menyesal.”

Ia menatap langsung ke mata Valeria. “Aku memilihmu.”

Kalimat itu membuat Valeria benar-benar terdiam membisu.

Pendeta lalu menoleh padanya. “Nona Valeria, apakah Anda ingin mengucapkan sumpah Anda?”

Valeria mengusap air matanya dengan cepat. “Ini benar-benar gila,” gumamnya.

Rodrigo mengangkat alis. “Itu bukan sumpah.”

Valeria menatapnya tajam. “Kau yang membuat semuanya gila.” Ia menarik napas panjang.

Kemudian akhirnya berbicara. “Aku tidak tahu apakah ini keputusan yang benar.”

Rodrigo tetap diam mendengarkan.

“Aku tidak tahu apakah aku siap menjalani hidup bersama pria yang bahkan bisa menyeretku ke gereja di tengah hutan tanpa peringatan.” Valeria merasa ragu. Entah bagaimana dengan keputusan yang terpaksa ia harus ambil ini benar atau salah.

Rodrigo tersenyum kecil.

“Tapi.” Valeria menatap matanya. “Aku tahu satu hal.”

Pendeta dan Rodrigo menunggu.

Valeria menghela napas pelan. “Aku tidak bisa meninggalkanmu.”

Rodrigo terlihat lega untuk pertama kalinya malam itu.

Valeria mengangkat dagunya sedikit. “Tapi kalau Sera benar-benar terluka karena ini—”

Rodrigo memotong pelan. “Aku yang akan menjelaskannya. Seharusnya setelah kemarin dia mengerti."

Valeria menatapnya lama. “Aku tidak mau dia membenciku.”

Rodrigo menjawab tegas. “Kalau ada yang harus dia benci, biarkan itu aku.”

Valeria memejamkan mata sejenak. Kemudian ia membuka kembali matanya yang masih basah.

“Baiklah.”

Pendeta tersenyum hangat. “Kalau begitu kita lanjutkan upacaranya.”

Rodrigo menggenggam tangan Valeria lebih erat. Untuk pertama kalinya sejak tiba di gereja itu, Valeria tidak mencoba melepaskan tangannya lagi.

Di tengah hutan sunyi di pinggiran London malam itu, di bawah cahaya lilin yang bergetar lembut, dua orang yang dipenuhi keraguan, kemarahan, dan perasaan yang belum sepenuhnya selesai akhirnya mengucapkan sumpah yang akan mengikat hidup mereka selamanya.

1
ArhanDyy ArhanDyy
pasti nyesek banget tuh si Valeria
Agus Tina
mampir thor bagus kayaknya 😍
Lilyyy: halo say silahkan yah jangan lupa nanti rating 😍🙏
total 1 replies
Dewi wijayanti Ryan setiawan
lanjut thor😍
Lilyyy: ih makasih kak komentar kakak semangat aku 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!