novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Magnus melirik Lyra sebentar dari balik kemudi. Tatapannya yang tajam dan dingin tadi berubah menjadi lebih terukur. Ia melihat betapa kacau namun tetap "hidup" sosok perempuan di sampingnya ini.
"Sebenarnya," Magnus bersuara sambil memacu sedannya melewati jalanan London yang makin padat mendekati area Westminster. "Saya harus hadir di dalam ruangan sebagai perwakilan dari Metropolitan Police. Mengingat asisten Dokter Pharma seharusnya ada di sana, dan saya tidak mungkin meninggalkan kamu di parkiran dengan kondisi begini... kamu ikut saya masuk."
Lyra hampir saja tersedak udara. "HAH?! Bapak bercanda?! Pake piyama ini? Bapak mau gue jadi pusat perhatian seantero Inggris apa gimana? Entar dikira gue asisten yang kabur dari RSJ lagi!"
"Gaya bicaramu memang unik," Magnus menyahut tipis, hampir seperti senyum yang tersembunyi. "Tapi dengarkan saya. Kalau kamu pulang sekarang, Pharma akan menang. Dia merasa berhasil membuangmu. Tapi kalau kamu masuk bersama saya, kamu menunjukkan bahwa kamu tidak butuh tumpangannya untuk menginjakkan kaki di istana itu."
Lyra terdiam. Logika Magnus yang sangat taktis mulai meresap ke otaknya yang lagi tantrum.
(YOO ASUUU!! Bener juga ni Polisi! Kalau gue balik ke hotel, si Pharma sama Tante Gatel itu pasti bakal ketawa-tawa menang. Mereka mikir gue nangis di pojokan kamar, padahal gue bisa masuk lewat jalur VIP bareng idola London!)
"Tapi Pak... baju gue..." Lyra menatap sedih piyama satinnya.
"Di kursi belakang ada mantel wol hitam milik saya. Pakai itu," Magnus memberi instruksi tanpa menoleh. "Kancingkan sampai atas. Itu akan menutupi piyamamu. Kamu akan terlihat seperti tamu yang sedang kedinginan, bukan orang yang baru bangun tidur."
Lyra langsung menyambar mantel wol yang baunya maskulin banget wangi kayu cendana dan aroma bersih. Pas dia pakai, mantel itu kebesaran banget di tubuh mungil Lyra, tapi justru bikin dia kelihatan misterius dan elegan secara nggak sengaja.
"Gila, mantel Bapak anget banget," gumam Lyra sambil membenamkan wajahnya di kerah mantel. "Oke, Pak Inspektur. Gue ikut tantangan lo. Gue bakal masuk ke sana, berdiri di samping lo, dan gue mau liat muka Pharma pas liat asisten yang dia buang di jalan tiba-tiba muncul bareng Polisi paling keren se-Inggris."
"Bagus. Tetaplah di samping saya. Jangan bicara sembarangan di depan bangsawan kecuali mereka bertanya padamu," Magnus memperingatkan saat gerbang emas istana mulai terlihat di depan mata.
(OKE PHARMA!! SIAP-SIAP LO COPOT JANTUNG!! Lo kasih gue neraka di jalanan, Tuhan kasih gue malaikat pelindung yang spek-nya jauh di atas lo!!) batin Lyra sambil nyengir licik.Magnus tiba-tiba memutar setir dengan tajam, berbelok menjauh dari jalur utama menuju istana. Lyra yang lagi asyik membenamkan muka di mantel wol Magnus langsung tersentak kaget.
"Eh, eh! Pak Polisi! Ini kan arah istana ke sana, kenapa kita malah belok ke sini? Mau dibuang juga gue?!" seru Lyra dengan nada asbun-nya yang langsung naik.
"Saya tidak membuang orang, Lyra," jawab Magnus tenang, matanya fokus menatap jalanan distrik Mayfair yang penuh dengan deretan toko-toko bermerek dunia. "Tapi saya juga tidak mungkin membawa seseorang dengan piyama ke dalam Gala Dinner kerajaan. Itu namanya bunuh diri sosial bagi kamu, dan penghinaan bagi protokol."
Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di depan sebuah butik mewah dengan eksterior kaca yang sangat elegan. Di papan namanya tertulis nama desainer kelas dunia yang kalau Lyra liat harganya di majalah, dia langsung pengen tipes.
"Turun," perintah Magnus singkat.
"Gila ya?! Bapak mau ngerampok toko ini buat gue?!" Lyra melongo, masih dibalut mantel wol kegedean milik Magnus.
"Saya polisi, bukan kriminal. Pemilik butik ini adalah kenalan saya," Magnus keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Lyra.
Begitu mereka masuk, seorang pelayan butik berpakaian sangat rapi langsung membungkuk hormat. "Inspector Magnus! Senang melihat Anda. Ada yang bisa kami bantu?"
Magnus menunjuk Lyra dengan dagunya. "Cari gaun yang paling elegan, tertutup tapi berkelas untuknya. Waktu kita hanya lima belas menit. Dan pastikan dia terlihat seperti tamu kehormatan, bukan asisten medis."
Lyra yang dari tadi cuma bisa planga-plongo akhirnya buka suara. "E-eh, bentar Pak Inspektur! Ini harganya pasti mahal banget kan? Gaji gue di Delphi nggak bakal cukup buat bayar kancingnya doang! YOO ASUUU!! Bapak jangan bikin gue terlilit pinjol internasional dong!"
Magnus menoleh ke arah Lyra, menatapnya datar namun dalam. "Ini perintah inspektur, bukan permintaan. Anggap saja ini investasi untuk menjatuhkan harga diri pria yang sudah meninggalkan kamu di jalanan. Soal biaya, itu urusan saya."
(ANJIRRR!! NI ORANG SPEK DEWA APA GIMANA?!) Lyra langsung ditarik oleh dua pelayan butik ke arah ruang ganti eksklusif.
Di dalam hatinya, Lyra udah teriak-teriak nggak karuan. (PHARMA!! LIAT NIH!! Lo pelitnya minta ampun, cuma kasih perhiasan buat pamer, tapi Magnus langsung bawa gue ke butik sultan! Siap-siap ya Pharma, bentar lagi asisten lo yang lo panggil sampah bakal jadi berlian yang bikin mata lo buta!!)
Sambil ditarik-tarik buat dicobain berbagai macam kain mahal, Lyra tetep sempat ngebatin asbun: (Gue harap gaunnya nggak warna merah kayak si Tante Gatel Veronica. Gue mau warna yang bikin Pharma nyesel udah lahir ke dunia!)