NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Mulai Bergerak

Hari-hari setelah kejadian di sekolah terasa… tenang.

Terlalu tenang.

Dan Kevin paling benci ketenangan seperti itu.

Karena bagi orang seperti Surya, diam bukan berarti menyerah.

Diam berarti mengintai.

Sore itu Cantika pulang dengan langkah pelan.

Biasanya pintu baru terbuka saja sudah terdengar, “Ma, Pa! Hari ini aku dapet bintang!”

Tapi kali ini… sunyi.

Siska langsung merasa nggak enak.

“Cantika?” suaranya lembut tapi cemas.

Cantika duduk, memeluk tasnya.

“Tadi ada om-om di depan sekolah…”

Kalimat itu bikin Kevin yang baru masuk ruang tamu langsung berhenti.

Udara seperti membeku.

“Om-om gimana, sayang?” suara Kevin ditahan, tapi tegangnya terasa.

“Dia bilang kenal Papa…” Cantika menatap polos.

“Papa dulu pernah tinggal jauh dari rumah, ya?”

Deg.

Jantung Kevin seperti jatuh ke lantai.

Siska langsung pucat. “Dia ngomong apa lagi?”

“Enggak lama kok. Satpam nyuruh dia pergi.”

Satpam.

Untung masih ada jarak.

Tapi jarak itu mulai menyempit.

Kevin langsung menghubungi pihak sekolah. Sistem keamanan ketat. Orang itu tidak masuk ke dalam.

Tapi pesannya jelas.

Surya mulai bermain lebih dekat.

Malam itu, rumah terasa berbeda.

Bukan hangat.

Tapi seperti ada mata tak terlihat yang mengawasi.

“Aku nggak mau dia deketin Cantika lagi,” suara Siska gemetar.

Kevin duduk di depannya. “Dia cuma mau kita panik.”

“Tapi aku panik, Kev!” Siska membalas cepat. “Dia nyentuh wilayah anak kita!”

Kevin terdiam.

Kali ini bukan soal ego.

Ini soal anak.

“Kalau perlu kita pindah sekolah,” ucap Siska.

“Kalau perlu kita tambah pengamanan,” jawab Kevin.

“Kita harus lapor polisi.”

“Aku sudah bergerak.”

Siska menatapnya lama.

“Ini nggak akan selesai, ya?”

Kevin menarik napas dalam.

“Mungkin bukan soal selesai. Tapi soal siapa yang berhenti duluan.”

Keesokan harinya, Arman memanggil Kevin ke ruang kerja.

“Kamu mulai merasakan tekanannya?” tanya Arman tenang.

Kevin mengangguk. “Aku mau ini berhenti.”

Arman menatapnya tajam.

“Surya menyerang mental dulu. Dia ingin kamu merasa kecil. Takut. Ragu.”

“Aku nggak takut.”

Arman tersenyum tipis.

“Bagus. Karena rasa takut itu yang dulu hampir menghancurkan kita.”

Kevin mengepalkan tangan.

“Aku nggak akan biarin Cantika hidup dalam bayangan yang sama.”

Tanpa Kevin tahu, Siska juga bergerak.

Ia menemui ayahnya diam-diam.

“Surya punya kelemahan apa?” tanyanya langsung.

Ayahnya terdiam lama.

“Dia kehilangan banyak hal. Tapi egonya masih utuh. Dan itu yang paling berbahaya.”

“Dia mulai mendekati Cantika.”

Kalimat itu cukup membuat wajah pria tua itu mengeras.

“Baik. Ayah cari tahu.”

Untuk pertama kalinya, Siska tidak lari.

Ia memilih berdiri.

Beberapa hari berlalu.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Lalu malam itu datang.

Lampu padam.

Bukan cuma listrik.

Sistem keamanan ikut mati.

Alarm tidak berbunyi.

Kevin langsung bangun.

“Sistemnya mati semua,” katanya pelan tapi tajam.

Ia berlari ke kamar Cantika.

Anaknya masih tidur.

Tapi…

Jendela sedikit terbuka.

Angin malam masuk perlahan.

Dan di lantai… ada secarik kertas.

Kevin mengambilnya.

Tulisan tangan berantakan.

“Aku bilang, kebahagiaan itu cuma jeda.”

Siska menutup mulutnya menahan tangis.

“Dia masuk?” bisiknya.

Kevin menatap luar jendela.

Gelap.

Sepi.

“Mungkin cuma halaman,” katanya.

Tapi itu cukup.

Ini bukan lagi provokasi.

Ini ancaman.

Malam itu juga Kevin turun ke ruang kerja Arman.

“Aku nggak mau nunggu lagi.”

Arman menatap anaknya lama.

“Kamu mau cari dia?”

Kevin mengangguk.

“Bukan buat balas dendam. Tapi buat akhiri ini.”

Hening.

Lalu Arman tersenyum tipis.

“Sekarang kamu benar-benar siap.”

Di kamar, Siska memeluk Cantika yang masih tertidur.

Air matanya jatuh pelan.

Ia pernah lari dari masa lalu.

Tapi kali ini, ia memilih berdiri.

Kevin masuk dan duduk di sampingnya.

“Aku akan selesaikan ini.”

Siska menggeleng pelan.

“Kita selesaikan ini.”

Kevin tersenyum kecil.

“Iya. Kita.”

Di luar rumah, angin malam berdesir lebih kencang.

Di suatu tempat yang gelap, seseorang sedang tersenyum melihat hasil permainannya.

Tapi ia lupa satu hal.

Kevin bukan lagi anak kecil yang bisa dipatahkan.

Dan kali ini—

Jika Surya mengira mereka masih rapuh…

Ia akan sadar.

Yang ia bangunkan bukan rasa takut.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Tekad seorang ayah.

Dan itu… tidak pernah main-main.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!