Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran dari Kegelapan
Matahari Jakarta terasa menyengat kulit Reynald saat ia melangkah keluar dari gedung konstruksi tempat ia melihat Tania kemarin. Pertemuan singkat tanpa kata itu meninggalkan lubang menganga di dadanya.
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor logistik dengan bus yang pengap, bayangan Tania yang begitu berwibawa di tengah proyek besar itu terus menghantuinya.
Sesampainya di apartemen rusun yang ia tempati, Rey mendapati ibunya sedang terbatuk-batuk hebat di atas kasur tipis yang mulai berbau apek.
"Rey ... obat Ibu habis ... dadak Ibu sesak sekali," rintih ibunya dengan suara parau.
Rey mengecek dompetnya. Hanya ada beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Gajinya sebagai konsultan data rendahan baru akan turun dua minggu lagi, dan uang itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu tabung oksigen kecil. Rasa tidak berdaya itu mencekik lehernya. Pria yang dulu bisa menggerakkan pasar saham dengan satu telpon, kini tidak bisa menyelamatkan napas ibunya sendiri.
Tiba-tiba, pintu unit rusunnya diketuk. Seorang pria berpakaian necis dengan koper kulit mahal berdiri di sana. Namanya Aris, seorang pengacara firma hukum yang dulu pernah menangani beberapa urusan kecil di Pratama Group, tapi dipecat oleh dewan komisaris karena reputasinya yang licik.
"Tuan Reynald, pemandangan yang sangat menyedihkan untuk seorang mantan raja properti," ujar Aris sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan, memandang sekeliling ruangan yang hanya seukuran kamar mandi di rumah lama Rey.
"Mau apa kamu ke sini, Aris? Aku sudah tidak punya aset untuk kamu urus," sahut Rey lemas.
Aris tersenyum simpul, ia mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya. "Justru karena kamu tidak punya apa-apa, aku datang membawa harapan. Apakah kamu ingat lahan di kawasan Sudirman yang dulu ayahmu beli atas nama yayasan keluarga sebelum beliau wafat? Lahan itu tidak masuk dalam daftar aset yang disita bank karena statusnya adalah hibah tertunda."
Rey mengernyit. "Aku ingat. Tapi itu aset yayasan, bukan milikku pribadi."
"Benar. Tapi dalam akta yayasan itu, disebutkan bahwa pengalihan hak harus disetujui oleh 'istri sah' dari ahli waris tunggal. Dan karena saat yayasan itu dibentuk kamu masih menikah dengan Tania Putri, secara hukum posisi Tania masih dianggap sebagai pemberi persetujuan mutlak. Aset itu nilainya sekarang mencapai 60 miliar rupiah, Rey."
Jantung Rey berdetak kencang. 60 miliar? Itu angka yang bisa mengubah hidupnya kembali ke puncak dalam semalam.
"Masalahnya, Tania tidak akan pernah mau menandatanganinya untukku. Dia membenciku," gumam Rey.
Aris mendekat, suaranya berubah menjadi bisikan yang menggoda sekaligus mengancam. "Kita tidak perlu meminta bantuannya secara baik-baik. Kita bisa melayangkan gugatan perdata. Kita klaim bahwa Tania secara sengaja menyembunyikan informasi aset ini saat proses perceraian untuk kepentingan pribadinya. Dengan nama Tania yang sekarang sedang naik daun sebagai desainer internasional, dia pasti tidak mau reputasinya hancur karena skandal penggelapan warisan. Dia akan dipaksa menandatangani atau membayar kompensasi jika tidak ingin kasus ini masuk ke pengadilan."
Rey terdiam. Menyerang Tania yang baru saja pulang dengan prestasi besar? Itu terdengar sangat jahat, tapi suara batuk ibunya di kamar sebelah kembali terdengar, mengingatkannya pada kemiskinan yang nyata.
"Tapi aku harus punya saksi," ucap Rey ragu.
"Jangan khawatir. Aku sudah menemui Bianca di penjara. Dia bersedia bersaksi bahwa dia pernah mendengar Tania membicarakan lahan itu bertahun-tahun lalu. Bianca sangat ingin menghancurkan Tania, dan dia butuh biaya pengacara untuk naik banding. Ini kerja sama yang sempurna, Rey. Kamu dapat uang, Bianca dapat peluang bebas, dan Tania ... yah, dia hanya perlu kehilangan sedikit dari kekayaannya yang melimpah."
Di sisi lain kota, kebahagiaan sedang menyelimuti Tania. Ia sedang berada di lokasi studio desain barunya bersama Adrian. Ruangan itu masih kosong, tapi di mata Tania, ia sudah bisa melihat di mana letak meja sketsa, di mana rak sampel material, dan di mana area lobi yang akan dihiasi dengan elemen alam.
"Gedung ini punya struktur yang kuat, Adrian. Aku akan menggunakan konsep industrial-chic dengan banyak bukaan cahaya," ujar Tania dengan semangat. Ia sedang memegang pita pengukur, mencatat beberapa dimensi ruangan.
Adrian memperhatikannya dengan senyum bangga.
"Aku sudah tidak sabar melihat namamu terpampang besar di depan gedung ini, Tania. 'Rambani Design Studio'."
Namun, momen manis itu terganggu ketika asisten Tania, Rina, masuk dengan wajah cemas. Ia membawa sebuah amplop cokelat besar bertanda 'Sangat Rahasia & Mendesak'.
"Bu Tania, ada kiriman dari firma hukum Aris & Co. Ini ... surat somasi," suara Rina bergetar.
Tania mengerutkan kening. Ia membuka amplop itu dan membacanya. Wajahnya yang semula cerah perlahan memucat, kemudian berubah menjadi dingin sekeras es. Di dalam surat itu tertulis bahwa Tania digugat atas dugaan penggelapan aset hibah yayasan milik keluarga Pratama senilai puluhan miliar rupiah.
"Ini gila!" desis Tania. "Aku bahkan tidak pernah tahu ayah Rey punya lahan di Sudirman. Mereka menuduhku sengaja menyembunyikan ini saat perceraian?"
Adrian mengambil surat itu dan membacanya dengan cepat. Matanya menyipit penuh amarah. "Ini upaya pemerasan, Tania. Aris itu pengacara kotor. Dia tahu kamu sedang di puncak karier, dan dia menggunakan celah hukum waris yang rumit untuk menjatuhkan kamu. Jika berita ini sampai ke media internasional atau klien mu di Paris, mereka bisa membatalkan kontrak karena masalah integritas."
Tania terduduk di sebuah kursi plastik yang ada di sana. Dadanya terasa sesak. Bukan karena takut kehilangan uang, tapi karena kenyataan bahwa Rey—pria yang pernah ia layani dengan seluruh hidupnya—ternyata masih sanggup menusuknya dari belakang saat ia baru saja mulai bernapas lega.
"Rey ... jadi ini balasanmu setelah aku membiarkanmu tetap hidup tenang di rusun itu?" bisik Tania dengan suara yang gemetar karena menahan amarah yang meluap.
"Kita tidak boleh membiarkan ini, Tania," tegas Adrian. "Mereka melibatkan Bianca sebagai saksi kunci. Ini adalah konspirasi untuk menjatuhkan kamu. Aku akan memanggil tim hukum terbaik di Jakarta malam ini juga."
Tania berdiri tegak, ia mengusap air mata yang hampir jatuh. Kesedihannya kini berganti menjadi keberanian yang membara. "Jangan, Adrian. Jangan hanya tim hukum. Aku sendiri yang akan menghadapi mereka. Jika mereka ingin bermain kotor di atas reruntuhan yang mereka buat sendiri, aku akan tunjukkan bagaimana seorang desainer interior merobohkan bangunan yang fondasinya terbuat dari kebohongan."
Malam itu, berita tentang gugatan tersebut mulai bocor ke beberapa akun gosip media sosial. Aris memang sengaja menyebarkan rumor untuk menekan mental Tania.
"Desainer Interior Berprestasi Diduga Gelapkan Warisan Mantan Suami Senilai 60 Miliar!" begitulah judul-judul berita yang mulai bermunculan.
Tania duduk di apartemennya, menatap layar ponselnya. Ia melihat komentar-komentar netizen yang mulai berbalik menyerangnya tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya, tapi di tengah kekacauan itu, Tania teringat sesuatu.
Sebagai desainer interior, ia memiliki kebiasaan mengarsipkan semua cetak biru dan dokumen rumah lama Rey karena ia pernah merancang renovasi kecil di sana dulu. Ia ingat pernah menemukan sebuah brankas tua di ruang kerja ayah Rey yang terkubur di balik panel dinding kayu yang ia rancang.
"Jika lahan itu benar-benar aset yayasan, dokumen aslinya pasti masih ada di sana. Dan aku yakin Rey tidak pernah tahu letak brankas itu karena dia terlalu malas untuk mengurus administrasi ayahnya," pikir Tania.
Tania mengambil kunci mobilnya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Sebelum Aris dan Rey melangkah lebih jauh di pengadilan, Tania harus mendapatkan bukti bahwa ia benar-benar tidak tahu apa-apa, atau bahkan membuktikan bahwa aset itu sebenarnya sudah tidak ada lagi status hibahnya.
Pertempuran baru telah dimulai. Kali ini bukan soal cinta, tapi soal martabat dan karier yang ia bangun dengan darah dan air mata.