Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Ratu Sungai Brantas dan Syarat Gila
Bab 17: Ratu Sungai Brantas dan Syarat Gila
Fajar menyingsing di Dermaga Karang. Kabut tipis masih menyelimuti permukaan Sungai Brantas yang cokelat dan berarus deras. Di antara ratusan perahu nelayan yang kumuh dan kapal dagang yang lamban, ada satu kapal yang terlihat mencolok.
Si Walet Merah.
Kapal itu tidak besar, jenis sekoci tempur (Gunboat) yang dimodifikasi dari model Pinisi. Lambungnya ramping, terbuat dari kayu ulin hitam yang dipoles minyak hingga mengkilap. Layarnya berwarna merah darah, kini sedang digulung rapi. Tidak ada barnakel atau lumut yang menempel di lambungnya—tanda bahwa kapal ini dirawat dengan obsesif dan selalu bergerak cepat.
Bara berdiri di dermaga kayu, menatap kapal itu dengan kagum.
"Desain aerodinamis," komentar Garuda. "Kayunya dilapisi mantra pengeras. Kapal ini bisa menabrak batu karang tanpa hancur."
Bara membenarkan letak capingnya, lalu melangkah menuju tangga naik (Gangway).
"BERHENTI!"
Sebuah tombak menyilang di depan dada Bara.
Penjaganya adalah seorang wanita berotot dengan kulit terbakar matahari. Dia mengenakan rompi kulit tanpa lengan, memamerkan tato jangkar di lengan kanannya. Matanya tajam, tidak ramah.
"Ini kapal kargo khusus, Bung," kata wanita itu ketus. "Kami tidak menerima penumpang. Apalagi penumpang laki-laki yang bau lumpur."
Bara tersenyum tipis di balik capingnya. "Aku dengar Kapten Jihan suka uang. Aku punya banyak."
"Kapten Jihan lebih suka ketenangan daripada uang," balas wanita itu. "Pergi sebelum kulempar ke sungai."
"Ada keributan apa ini?"
Suara itu terdengar malas namun berwibawa, muncul dari geladak atas.
Seorang wanita berjalan turun. Penampilannya... mengintimidasi.
Dia tinggi semampai. Rambutnya dipotong pendek model Bob asimetris, berwarna hitam dengan satu highlight putih alami. Dia mengenakan kemeja putih longgar yang ujungnya diikat di pinggang, celana kargo ketat, dan sepatu bot kulit setinggi lutut.
Di pinggangnya, tergantung sepasang pedang lengkung (Scimitar) kembar. Di bibirnya, terselip cerutu kecil yang menyala.
Kapten Jihan. Ratu Sungai Brantas.
Jihan menatap Bara dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan menilai barang dagangan.
"Kau yang ingin naik?" tanya Jihan, menghembuskan asap cerutu ke arah wajah Bara.
"Namaku Elang," jawab Bara tenang, tidak terganggu asap itu. "Aku butuh tumpangan ke hulu. Ke wilayah Trowulan."
"Trowulan?" Jihan mengangkat alis sebelah. "Itu wilayah hantu. Arusnya ganas, banyak buaya siluman, dan patroli Elang Hitam sedang ketat di sana. Kau mau bunuh diri?"
"Aku mau pulang," jawab Bara singkat.
"Ongkosnya 500 koin emas. Dibayar di muka," tembak Jihan asal. Itu harga yang tidak masuk akal, sepuluh kali lipat harga normal. Dia sengaja ingin mengusir Bara.
Bara merogoh saku bajunya. Dia melempar sebuah kantong kulit berat.
Gedebuk.
Kantong itu mendarat di telapak tangan Jihan.
Jihan membukanya sedikit. Kilauan emas murni menyilaukan mata.
Jihan terdiam. Dia menatap Bara lagi, kali ini dengan tatapan lebih serius. Orang yang membuang 500 emas tanpa menawar hanyalah dua jenis: Orang bodoh yang kaya raya, atau buronan yang putus asa.
"Kau buronan?" tebak Jihan tajam.
"Apakah itu masalah?"
"Sangat," Jihan menutup kantong itu. "Aku benci laki-laki. Mereka berisik, bau, dan selalu membawa masalah. Apalagi buronan. Kau bisa membawa sial bagi kapalku."
Jihan melempar balik kantong uang itu ke Bara.
"Bawa uangmu pergi. Si Walet Merah tidak butuh masalah."
Bara menangkap kantong itu dengan satu tangan.
"Sayang sekali," kata Bara. "Padahal aku dengar Kapten Jihan adalah pelaut paling bernyali di Brantas. Ternyata cuma rumor. Kau takut pada patroli Elang Hitam?"
Suasana di dermaga seketika hening. Para awak kapal wanita yang sedang bekerja langsung berhenti. Mereka menatap Bara dengan horor.
Tidak ada yang boleh menyebut Kapten Jihan penakut.
Mata Jihan menyipit. Sudut bibirnya berkedut. Dia membuang cerutunya ke lantai dan menginjaknya.
"Apa kau bilang, Bocah?"
"Kubilang..." Bara mengangkat wajahnya, memperlihatkan mata tajam di balik bayangan caping. "Kau takut."
SRING!
Dalam sekejap mata, Jihan sudah mencabut salah satu pedangnya. Dia melompat dari tangga, menebas leher Bara.
Gerakannya cepat. Setara tingkat Bumi Pala Awal.
Bara tidak menghindar. Dia juga tidak menangkis.
Dia hanya mengangkat dua jari tangannya (jari telunjuk dan tengah) yang sudah dialiri Prana.
TANG!
Bilah pedang Jihan berhenti tepat dua milimeter dari leher Bara, dijepit oleh dua jari Bara.
Angin dari tebasan itu memotong tali caping Bara hingga terlepas dan jatuh ke tanah, memperlihatkan wajah aslinya.
Jihan terbelalak. Bukan karena wajah tampan Bara, tapi karena pedangnya—pedang baja Damaskus terbaik—ditahan oleh jari manusia?
"Kau..." Jihan mencoba menarik pedangnya, tapi tidak bergerak. Jepitan jari Bara sekuat catut besi.
"Aku bukan laki-laki biasa, Kapten," ucap Bara pelan. "Aku tidak berisik. Aku tidak bau (semoga). Dan masalah yang kubawa... bisa kuatasi sendiri."
Bara melepaskan jepitannya dan menjentikkan bilah pedang itu.
Ting!
Getaran jentikan itu merambat ke tangan Jihan, membuat tangannya kesemutan hingga pedangnya hampir terlepas.
Jihan mundur dua langkah, memijat pergelangan tangannya. Dia menatap Bara dengan campuran rasa marah dan takjub.
"Tingkat Bumi Pala? Atau lebih?" gumam Jihan.
Tiba-tiba, suara sirine berbunyi dari arah gerbang pelabuhan.
"PERIKSA SETIAP KAPAL! CARI BURONAN BERNAMA BARA WIRASENA!"
Suara megafon patroli Elang Hitam terdengar mendekat. Pasukan berbaju zirah hitam mulai menyisir dermaga.
Jihan melirik ke arah pasukan itu, lalu kembali ke Bara.
"Jadi namamu Bara? Bukan Elang?" Jihan menyeringai licik.
"Nama hanya label," elak Bara. "Jadi bagaimana, Kapten? Kau mau menyerahkanku pada mereka dan dapat hadiah kecil? Atau kau mau ambil 500 emasku dan kita lihat seberapa cepat kapalmu ini?"
Jihan tertawa. Tawanya keras dan liar.
"Naik, Brengsek," Jihan berbalik dan melompat kembali ke geladak. "Awak kapal! Angkat jangkar! Kita berangkat sekarang! Ada penumpang VIP yang mau main kejar-kejaran!"
Bara tersenyum, memungut capingnya, dan melompat naik ke kapal tepat saat mesin uap kapal itu menderu hidup.
Kapal itu melesat meninggalkan dermaga. Kecepatannya luar biasa. Lambungnya membelah arus sungai, meninggalkan buih putih panjang di belakangnya.
Di belakang mereka, tiga kapal patroli Elang Hitam mencoba mengejar.
"Kapten! Mereka menembakkan meriam air!" teriak juru mudi.
"Zig-zag!" perintah Jihan dari anjungan. Dia memegang kemudi dengan santai. "Lia, siapkan Bocah Nakal di buritan!"
Seorang awak wanita bernama Lia membuka terpal di bagian belakang kapal, memperlihatkan sebuah meriam pelontar tombak (Harpoon Gun) raksasa.
"Tembak benderanya! Jangan tenggelamkan kapalnya, nanti repot urusannya!" teriak Jihan.
BAM!
Tombak besi melesat, terikat rantai. Tombak itu menghantam tiang layar kapal patroli terdepan hingga patah. Layar kapal patroli itu runtuh menimpa geladak mereka sendiri, menyebabkan kekacauan. Kapal itu melintir dan menghalangi jalan dua kapal lainnya.
"Hahaha! Makan itu!" tawa Jihan.
Bara berdiri di pinggir kapal, melihat pemandangan itu. Wanita ini gila. Menyerang kapal patroli resmi hanya untuk kesenangan?
Jihan menghampiri Bara, menyodorkan botol rum.
"Minum," perintahnya.
"Aku tidak minum alkohol di pagi hari," tolak Bara halus.
"Cih. Laki-laki membosankan," Jihan meneguk rum itu sendiri. "Dengar, Elang—atau Bara, atau siapapun namamu. Di kapal ini, akulah hukum. Kau boleh menumpang, tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Pertama, jangan menggoda awak kapalku. Kalau ada satu saja anak buahku yang mengeluh kau melecehkan mereka, kupotong 'pusaka'-mu dan kujadikan umpan ikan."
Bara mengangguk. "Adil."
"Kedua, jika ada perompak atau monster air menyerang, kau harus ikut bertarung. Aku tidak mau penumpang gratisan."
"Sudah kubayar 500 emas, itu bukan gratisan," koreksi Bara. "Tapi baiklah."
"Ketiga," Jihan mendekatkan wajahnya ke wajah Bara. Matanya yang cokelat terang menatap tajam. "Jangan mati di kapalku. Aku benci membersihkan mayat."
Bara tersenyum miring. "Aku akan berusaha."
Kabin yang diberikan kepada Bara sempit, tapi bersih. Hanya ada tempat tidur gantung (hammock) dan meja kecil.
Bara duduk di lantai, membuka bungkusan kainnya. Dia mengeluarkan Peti Teratai Emas.
Ini saatnya.
Selama di perguruan, dia tidak berani membukanya karena takut auranya terdeteksi. Tapi di tengah sungai yang luas ini, aura air akan menyamarkan segalanya.
"Hati-hati, Mitra," peringatkan Garuda. "Segel di peti itu buatan Wangsa Kuno. Jika salah buka, bisa meledak."
Bara meraba permukaan peti itu. Tidak ada lubang kunci. Hanya ada ukiran relief bunga teratai yang kuncup.
"Ini kunci Prana," gumam Bara. "Harus dialiri jenis energi tertentu."
Dia mencoba mengalirkan Prana Garuda (Api). Peti itu mendesis, menjadi panas, tapi tidak terbuka.
"Salah."
Dia mencoba mengalirkan Prana murni tanpa elemen. Tidak ada reaksi.
Bara berpikir. Peti ini peninggalan ibunya (menurut dugaan Ki Awan). Ibunya berasal dari garis keturunan apa?
Bara teringat cerita Ki Awan. Ayahnya Raden Wijaya (Api/Matahari). Ibunya... konon seorang putri dari wilayah pegunungan yang menguasai elemen...
Angin? Tanah?
Bara mencoba mengingat sensasi saat dia menggunakan Wesi Winge (meteorit). Energi kosmik.
Bara meletakkan tangannya. Dia tidak mengalirkan api. Dia mencoba menenangkan pikirannya, meniru kehampaan (Void/Akasa).
Tiba-tiba, ukiran teratai di peti itu bersinar redup. Kelopaknya perlahan bergerak, mekar satu per satu.
Klik. Klik. Klik.
Tutup peti itu terbuka.
Bara menahan napas.
Di dalamnya, di atas bantalan sutra merah yang sudah lapuk, terdapat dua benda.
· Sebuah Topeng Setengah Wajah terbuat dari perak murni yang sangat tipis dan ringan.
· Sebuah Gulungan Kitab Kuno dari kulit kayu.
Bara mengambil topeng itu. Saat dia menyentuhnya, topeng itu terasa hangat.
"Topeng Penyamar Sukma," kata Garuda kaget. "Ini artefak langka tingkat Dewaloka! Jika kau memakainya, kau bisa mengubah aura dan wajahmu sesuka hati. Bahkan Dewa pun akan sulit mengenalimu."
Bara langsung mengerti. Ibunya menyiapkan ini. Dia tahu anaknya akan diburu.
Bara memakai topeng itu. Pas sekali. Topeng itu menempel di wajahnya seperti kulit kedua, menutupi mata kanan hingga pipi.
Lalu dia mengambil gulungan kitab itu. Judulnya tertulis dalam aksara Sansekerta kuno:
"Sembilan Langkah Surya: Kitab Pertama - Fajar Menyingsing."
Bara membukanya. Halaman pertama hanya berisi satu kalimat peringatan:
"Bagi darah dagingku yang membaca ini: Jangan mencari balas dendam. Carilah Keseimbangan. Jika kau membakar dunia dengan amarah, kau hanya akan menjadi abu bersama musuhmu."
Tulisan tangan ibunya.
Bara merasakan matanya panas. Dia tidak pernah bertemu ibunya, tapi pesan ini... melintasi waktu untuk menamparnya.
"Maaf, Ibu," bisik Bara, mengepalkan tangannya. "Aku butuh keseimbangan. Tapi untuk mendapatkan keseimbangan, aku harus membakar para pengganggu dulu."
Di halaman berikutnya, terdapat diagram aliran tenaga dalam yang rumit.
Ini bukan jurus silat. Ini adalah Teknik Kultivasi Utama (Cultivation Technique). Selama ini Bara hanya mengandalkan fisik Garuda dan jurus-jurus dasar. Dia tidak punya teknik kultivasi pondasi yang benar.
Teknik ini mengajarkan cara menyerap energi matahari (Surya) dan menyimpannya di sembilan titik chakra tubuh, bukan hanya di pusar.
"Jika aku menguasai ini..." mata Bara berbinar. "Aku bisa mengendalikan Api Garuda dengan sempurna tanpa takut tubuhku hancur."
Malam itu, diiringi goyangan ombak Sungai Brantas, Bara mulai bermeditasi mempelajari warisan orang tuanya.
Namun, dia tidak sadar. Di kedalaman sungai di bawah kapal, sepasang mata merah raksasa sedang menatap lambung Si Walet Merah dengan lapar.
Penjaga gerbang Trowulan sudah menunggu.
Glosarium & Catatan Kaki Bab 17
Pinisi: Kapal layar tradisional khas Nusantara (Bugis/Makassar) yang terkenal tangguh mengarungi samudra. Di sini dimodifikasi menjadi kapal sungai tempur.
Scimitar: Pedang lengkung khas Timur Tengah/Persia. Menunjukkan bahwa Jihan mungkin memiliki latar belakang campuran atau pernah berlayar jauh.
Dewaloka: Tingkat artefak tertinggi (Dewa). Sangat langka. Topeng Penyamar Sukma adalah item Cheat yang memungkinkan Bara bergerak bebas meski buron.
Sembilan Langkah Surya: Nama teknik kultivasi warisan keluarga Bara. Mengacu pada judul novel. Ini adalah jalan Bara menuju puncak kekuatan.