Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Marah
Keesokan harinya Intan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter dari rumah sakit. Dengan perasaan dongkol, sedih dan marah ,Intan naik taksi untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah dengan langkah perlahan karena masih merasakan tidak nyaman di area perutnya, Intan berjalan ke kamar sang ibu.
"Ibu...buka pintunya...!'' Intan menggedor pintu kamar sang ibu beberapa kali.
Bu Yuyun yang sedang tidur karena baru pulang pukul dua pagi pun merasa terganggu dengan suara gedoran pintu. Bu Yuyun segera keluar dari kamarnya.
"Apa- apaan sih kamu Intan...! Mengganggu ibu saja...!" bu Yuyun kesal.
"Ibu baru pulang kerja... Ibu ngantuk...! Kenapa kamu mengganggu ibu...!'' seru bu Yuyun.
Melihat sang ibu marah, Intan pun semakin geram dengannya karena sang ibu sama sekali tidak merasa bersalah yang diam- diam telah mencampurkan obat penggugur kandungan ke dalam minumannya.
"Kenapa ibu marah...! Harusnya Intan yang marah sama ibu...!" seru Intan sambil memegangi perutnya.
"Ibu kan yang sudah mencampurkan obat penggugur kandungan ke dalam teh yang ibu berikan pada Intan tadi malam kan...!'' seru Intan kesal.
"Kamu ini bicara apa...! Jangan menuduh ibu sembarangan kamu ya...!'' sahut bu Yuyun tidak terima dengan tuduhan Intan.
Intan menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Iya, tentu saja Intan sudah menduganya kalau sang ibu tidak akan mengakui perbuatannya.
"Tega ya ibu sama Intan. Padahal ibu tahu, itu anak intan satu- satunya harta yang berharga buat Intan. Tapi ibu malah membunuhnya...! Ibu kejam...! Jahat...!'' seru Intan lalu dia masuk ke dalam kamar.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Sejak mengalami keguguran, hari-hari Intan kembali diisi dengan menangis dan menangis. Intan merasa bersalah pada almarhum Ridwan karena tidak bisa menjaga amanahnya. Melihat Intan terus bersedih karena kehilangan calon buah hatinya, bu Yuyun semakin kesal.
"Sudahlah Intan, jangan nangis terus... ! Kuping ibu panas denger kamu nangis setiap hari...!" ucap bu Yuyun sambil berdiri di depan kamar Intan.
Intan hanya diam tidak menyahuti perkataan sang ibu karena Intan masih marah padanya.. Lagi pula percuma saja jika dia melayani omongan sang ibu karena pada akhirnya mereka akan bertengkar seperti sebelum- sebelumnya.
"Dari pada kamu terus- terusan menangis seperti itu, lebih baik kamu cari kerja. Lanjutkan hidup kamu. Kamu ini nggak mikir ya Intan... Ibu setiap hari banting tulang buat kebutuhan rumah, buat ngasih makan bapakmu yang tidak berguna itu. Dan sekarang ibu juga harus menanggung kebutuhan kamu...!!" bu Yuyun marah.
"Kamu pikir makanan yang kamu makan setiap hari belinya nggak pakai uang...? Kamu pikir listrik, air dan kebutuhan lainnya yang ada di rumah ini tidak harus dibayar...? Jadi kamu mau enak- enakan hidup di rumah ini tanpa melakukan apapun dan mengandalkan ibu untuk kerja keras banting tulang sendirian...?'' sambung bu Yuyun semakin marah.
"Kamu itu harusnya mikir... Ibu sudah tua. Sudah kerja belasan tahun agar dapur di rumah ini bisa ngebul. Dan sekarang kamu sudah dewasa tapi tidak mau mikir buat cari uang buat bantuin beban ibu. Keterlaluan kamu Intan...!'' seru bu Yuyun.
"Iya bu iya...! Intan mau kerja...! Ibu jangan khawatir ... !nanti Intan mau kerja...! Uang ibu yang sudah Intan pakai untuk makan nanti akan Intan ganti...!'' sahut Intan ikutan emosi.
Iya bagaimana tidak, Intan begitu sakit hati dengan sikap sang ibu. Bu Yuyun bahkan tidak sedikit pun menunjukkan rasa sedih dan iba ketika Ridwan meninggal. Dan di saat Intan sudah mulai mencoba untuk bangkit, sang ibu malah menggugurkan kandungan Intan. Dan sekarang tanpa rasa bersalah pula, bu Yuyun mengungkit- ungkit soal kebutuhan rumah yang bu Yuyun tanggung selama ini.
"Ya sudah sana cari kerja... Jangan malas- malasan terus di rumah. Sudah saatnya kamu membalas apa yang sudah ibu lakukan untuk kamu dari kamu masih kecil. Ibu sudah tua, ibu hanya ingin menikmati hidup dengan nyaman..." sahut bu Yuyun.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Dan mulai hari itu Intan bertekad untuk membuka usaha. Dulu setelah lulus SMA , Intan pernah bekerja di toko kue, walaupun cuma sebentar. Dengan keahlian yang dia punya, Intan pun membuka usaha kecil- kecilan dengan berjualan kue. Tentu saja dengan modal uang yang masih tersisa di tabungan.
Intan pun mulai membeli alat- alat untuk membuat kue beserta bahan- bahan yang dia butuhkan. Rencananya Intan akan berjualan di depan rumah dengan membuat warung kecil.
Intan membayar tukang kayu untuk membuatkan warung kecil di depan rumahnya.
Setelah dua minggu, warung kecil Intan pun jadi. Intan mulai berjualan berbagai kue basah yang dia buat sendiri. Namun nasib baik belum berpihak pada Intan. Dagangannya kurang laku dan dia harus merugi.
Bukan karena kue buatan Intan yang tidak enak, melainkan karena warga sekitar rumah Intan tidak suka dengan keluarga Intan. Semua warga tahu jika ibu Intan yaitu bu Yuyun adalah seorang p*lac*r sejak Intan masih kecil.
Jadi mereka jijik jika membeli makanan buatan dari anak seorang seorang p*lacur. Mereka bilang takut jika apa yang mereka makan tidak berkah.
Mendengar berbagai omongan yang membuat panas telinga ,tentu saja Intan sedih. Iya, Intan tentu saja tidak meminta untuk dilahirkan dari rahim seorang p*lacur. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi takdirnya. Namun yang membuat Intan tidak bisa terima adalah karena dia selalu mendapatkan imbas dari pekerjaan sang ibu.
Orang- orang tidak suka pada Intan karena terlahir dari rahim seorang p*lacur. Walaupun Intan sendiri bukanlah seorang p*lacur seperti ibunya. Intan juga sudah sering kali bicara pada sang ibu agar meninggalkan pekerjaannya yang haram itu. Namun bukannya sang ibu mendengarkan perkataan Intan, dia malah memarahi Intan setiap kali diingatkan oleh Intan bahwa pekerjaannya itu tidak baik.
Bu Yuyun mengganggap Intan munafik, padahal dari kecil dia dibesarkan dari uang hasil menjual diri. Tapi setelah besar Intan berani memberi nasehat kepada sang ibu jika pekerjaannya itu haram.
Kalau sudah seperti itu Intan pun sudah tidak bisa berkata apa- apa lagi pada sang ibu. Intan memilih diam dari pada malah terjadi pertengkaran di antara mereka.
"Sudahlah Intan... Tutup saja warungmu itu. Warung sepi begitu, masih saja dibuka. Hanya menghabiskan modal saja. Orang- orang di sekitar sini tidak ada yang mau membeli barang daganganmu. Kamu tahu kan , warga di sini itu orang- orangnya munafik semua..." ucap bu Yuyun melihat Intan melamun di warungnya karena dagangannya tidak laku.
Hari ini pun dia hanya mendapatkan uang dua puluh ribu saja. Itu pun bukan warga sini yang membeli dagangannya. Melainkan orang lewat yang bukan warga sekitar.
"Bu... Apa Intan jualan keliling saja ya...? Ke kampung sebelah...?'' tanya Intan.
"Halah ngapain capek- capek keliling. Mending kamu ikut ibu saja. Kerja di diskotik tempat ibu kerja.." jawab bu Yuyun.
"Apa...? kerja di diskotik tempat ibu kerja..? Nggak bu, Intan nggak mau. Itu bukan tempat kerja yang baik, tapi tempat maksiat, kerja di tempat seperti itu tidak akan berkah bu..." sahut Intan.
"Halah.. dasar munafik kamu Intan...! kamu pikir selama ini ibu menghidupimu pake uang dari mana...? Dari ibu kerja di diskotik...! Buktinya ibu, kamu dan bapakmu baik- baik saja...'' bu Yuyun kesal lalu dia pergi dari warung Intan dan masuk ke dalam rumah.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Karena terus- terusan merugi, akhirnya Intan memutuskan untuk tidak berjualan lagi. Intan berinisiatif membuat lamaran pekerjaan untuk mencari kerja di luar. Namun hingga dua minggu berlalu Intan belum juga mendapatkan pekerjaan. Padahal sudah beberapa pabrik dia datangi, dan beberapa toko serta rumah makan. Namun tidak ada lowongan.
Sedangkan bu Yuyun terus- terusan mencibir Intan yang belum juga mendapatkan pekerjaan.
"Dikira cari kerjaan itu gampang apa...? Dengar ya Intan, nyari kerjaan kalau tidak ada yang bawa itu susah. Kamu harus kenal sama orang dalam baru kamu bisa dapat pekerjaan..." ucap bu Yuyun melihat Intan pulang dari melamar kerja namun belum juga membuahkan hasil.
"Ya mungin belum rejekinya Intan bu, buktinya dulu waktu Kerja di toko kue, Intan melamar sendiri bukan karena dibawa sama orang dalam..." sahut Intan lalu duduk di sofa sambil minum air putih.
"Buktinya sampai hari ini kamu tidak mendapat pekerjaan..." jawab bu Yuyun.
"Belum bu... Intan yakin cepat atau lambat Intan akan mendapatkan pekerjaan..." sahut Intan.
Bu Yuyun tersenyum sinis mendengar jawaban Intan.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Keesokan harinya Intan kembali mencari pekerjaan. Sedangkan bu Yuyun yang sedang libur kerja pergi jalan- jalan bersama teman- teman kerjanya ke pantai. Tentu saja tanpa sepengetahuan Intan. Iya, bu Yuyun pergi bersama teman- temannya setelah Intan pamit pergi melamar pekerjaan.
Ketika sedang keliling dari satu pabrik ke pabrik yang lain dan belum juga menemukan lowongan pekerjaan, tiba- tiba ponsel Intan berdering. Namun yang menelponnya nomor yang tidak dikenal.
"Siapa yang menelpon...?'' tanya Intan sambil menatap layar ponselnya.
Iya, Intan nampak ragu jika yang menelponnya nomor yang tidak dikenal. Karena dia takut hanya orang iseng saja. Intan pun membiarkan panggilan tersebut hingga berhenti sendiri. Namun tak lama kemudian ponselnya kembali berdering dengan nomor yang sama.Karena penasaran akhirnya Intan pun menerima panggilan tersebut.
"Hallo..." ucap Intan.
"Intan... Ini saya pak Rt...kamu ada di mana...?'' tanya seseorang di ujung telpon.
Tentu saja Intan bertanya- tanya dalam hati kenapa pak RT tiba- tiba menelponnya. Intan jadi merasa khawatir jika pak RT beserta warga akan mengusir dia dan keluarga karena pekerjaan bu Yuyun yang sebagai pekerja s*ks. Iya, Intan sering mendengar omongan warga jika perbuatan bu Yuyun yang termasuk pekerjaan maksiat itu bisa membuat orang- orang yang tinggal di sekitar rumahnya kena apesnya juga.
Tentu saja Intan jadi kepikiran jika para warga mengadu pada pak RT untuk mengusir keluarga Intan dari komplek tersebut.
"Sa...saya lagi cari lowongan pekerjaan pak RT. Ada apa ya...?'' jawab Intan.
"Intan, sebaiknya kamu cepat pulang. Tadi salah satu warga mendengar teriakan pak Wito dari dalam rumah. Saya khawatir bapakmu kenapa- napa..." ucap pak RT.
"Bapak...? Bapak saya kenapa pak RT...?'' tanya Intan panik.
"Saya tidak tahu Intan. Soalnya pak Wito ada di dalam rumah dan pintunya terkunci..." jawab pak RT.
"Pintunya dikunci...? Tapi di rumah ada ibuku pak..." sahut Intan.
Iya, karena setahu Intan saat dia pergi sang ibu ada di rumah. Bu Yuyun memang tidak pamit pada Intan kalau dia mau pergi ke pantai bersama teman- temannya.
"Ibumu tidak ada di rumah. Tadi ada salah satu warga melihat bu Yuyun pergi naik ojek langganannya..." jawab pak RT.
"Oh ya ampun..." sahut Intan
"Sudah Intan, sebaiknya kamu pulang sekarang..." ujar pak RT.
"Ba..baik pak Rt..." jawab Intan segera menyetop angkutan umum untuk mengantarnya pulang ke rumah.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Intan menghubungi sang ibu dan menanyakan keberadaannya. Dan ibunya mengatakan jika dia sedang berlibur dengan teman- temannya di pantai.
Saat Intan memberitahu sang ibu bahwa pak RT menelponnya dan memberitahu kalau pak Wito teriak minta tolong, bu Yuyun bukannya khawatir. Tapi dia malah meminta Intan pulang dan mengurus bapaknya yang merepotkan. Bu Yuyun bilang dia sedang butuh healing karena capek kerja setiap malam.
Lima belas menit kemudian Intan sampai di rumah. Di depan ruman masih ada pak RT dan beberapa warga yang sedang duduk di teras rumahnya.
"Intan... Cepat kamu lihat bapakmu, takutnya dia kenapa- bapa. Tadi pak Salim mendengar bapa kamu teriak minta tolong, tapi sekarang tidak ada suaranya lagi. Dipanggil pun diam saja..." ucap pak RT.
"Oh ya ampun..." Intan tentu saja panik.
Intan segera mengambil kunci di dalam tasnya kemudian membuka pintu rumahnya. Setelah pintu terbuka Intan segera berlari ke kamar pak Wito untuk melihat keadaannya. Setelah membuka pintu kamar sang bapa, Intan terkejut saat melihat pak Wito sudah tergeletak di lantai.
"Ya Alloh bapa...! " seru Intan.
Mendengar Intan berteriak, pak RT dan beberapa warga pun berlari masuk ke dalam kamar pak Wito.
"Intan, bapak kamu kenapa...?'' tanya salah satu warga.
"Bapak jatuh dari tempat tidur..." Intan menangis.
Namun sebelum pak RT dan warga mengangkat tubuh pak Wito ke tempat tidur, pak RT mengecek nadi dan pernafasan pak Wito karena pak Wito terlihat tak bergerak dan badannya kaku.
"Intan... Bapa kamu sudah tidak bernafas..." ucap pak RT.
"A..apa...?'' Intan kaget.
Untuk memastikannya lagi pak RT kembali mengecek nadi dan menempelkan telunjuknya di lubang hidung pak Wito. Namun hasilnya sama saja. Pak Wito sudah tidak bernafas alias meninggal.
Mengetahui hal itu tentu saja Intan syok dan langsung menangis histeris.
"Bapa...bapa bangun pak....hik..hik..." Intan menggoyang- goyangkan tubuh pak Wito yang sudah terbujur kaku.
Bersambung ...