NovelToon NovelToon
Terjebak Perjodohan

Terjebak Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Arion menatap Felicia dengan tatapan penuh arti. Satu tangannya memeluk pinggang Felicia, sementara tangan lainnya memegangi kedua tangan Felicia dalam satu genggaman.

Felicia? Jangan di tanya lagi. Gadis itu merasa semakin gugup hingga degup jantungnya berdetak tak beraturan. Tak ada jarak di antara mereka. Arion semakin mendekatkan wajahnya, membuat Felicia memejamkan matanya. Wajahnya memerah dengan bayangan tak menentu.

"Sekarang Kau sangat pandai merayu, ya? Terimalah hukuman dariku...." Arion mendekatkan bibirnya ke telinga Felicia dan melanjutkan kata-katanya. "Sayang...."

Napas hangat Arion menerpa telinga Felicia, membuat bulu kuduk Felicia berdiri. Gadis itu kehilangan kata-kata, bahkan nyalinya menciut akibat perlakuan suaminya yang begitu sensual.

Bibir Arion mendekat dan menyentuh kulit leher Felicia. Jantung Felicia terasa ingin meledak saat ini juga. Hingga terasa sebuah gigitan kecil di lehernya yang membuat Felicia merasa kesakitan sekaligus merasakan sebuah gelenyar aneh yang membuat seluruh tubuhnya menegang seketika.

Felicia tak ingin seperti ini. Arion belum mengatakan cinta padanya. Ini berarti kemenangan sepenuhnya belum ada di tangannya. Sekarang, Felicia merutuki dirinya yang selalu menggoda suaminya itu. Felicia tak pernah berpikir jika Arion akan berlaku sejauh ini.

"Bagaimana? Apa Kau menikmatinya?" Arion tersenyum penuh arti setelah memberikan sebuah stempel berwarna merah di leher jenjang Felicia. Arion segera melepaskan tangannya dan membenarkan posisi duduknya. Pria itu tersenyum puas melihat Felicia yang seperti anak kucing.

Felicia membuka matanya. Di bergegas berdiri dan sedikit menjauh dari suaminya.

"Arion... Kau ...!" Felicia tak dapat mengeluarkan kata-kata. Dia terlalu malu.

"Jika Kau ingin hal yang lebih dari ini, Kau harus menggodaku setiap harinya, Sayang...." Arion tersenyum mengedipkan matanya. Kini Arion yang berbalik menggoda Felicia.

Felicia hanya bisa menutupi wajahnya dan berlari keluar dari ruangan Arion dengan perasaan malu luar biasa. Jantungnya masih tak berhenti berdetak dengan cepat. Bayangan napas hangat Arion yang menerpanya membuatnya tak dapat berpikir secara normal.

Arion terkekeh geli melihat tingkah Felicia.

"Tunggu...! Kenapa Aku bisa sampai berbuat seperti itu padanya?" Arion mulai tersadar. Dia tidak mengerti kenapa setiap dirinya dekat dengan Felicia, rasanya Arion ingin terus mengerjainya. Namun bukankah kali ini sudah melebihi batas?

"Tapi dia istriku, jadi wajar-wajar saja bukan?" ucapnya kemudian. Pria itu masih tak percaya dirinya bisa sampai melakukan hal seintim itu pada Felicia. Dia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Arion akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.

---

"Huwaaaa! Apa yang terjadi tadi?" Felicia berteriak histeris di dalam toilet kantor. Dia melihat pantulan dirinya di depan cermin besar yang ada di toilet itu.

Tanda merah di lehernya itu terpampang jelas di sana. Membuat fantasi Felicia menjadi begitu liar. Bayangan ketika Arion memberikan gigitan kecil itu langsung membuat pipinya memanas. Felicia memegangi pipinya yang memerah itu.

"Tidak, Felicia! Buang jauh-jauh pikiran kotor dari otakmu!" gumam Felicia sembari menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Arion, Kau benar-benar mencemari otak polos ku ini."

Setelah Felicia dapat mengontrol dirinya, Felicia memikirkan cara agar orang lain tak melihat tanda merah itu ketika dirinya keluar nanti.

Hanya satu ide yang bersarang dalam otak Felicia. Yaitu, menutupinya dengan rambut panjangnya itu.

Felicia memperhatikan keadaan sekitar sebelum keluar dari toilet itu. Ketika dirasa sudah aman, Felicia langsung berjalan keluar dengan celingukan. Takut kalau-kalau dirinya berpapasan dengan salah seorang karyawan.

Ketika hampir sampai di tempat parkir, Felicia mempercepat langkahnya. Namun seseorang menariknya.

Felicia terkejut karena seseorang itu adalah Cintia.

"Kak Cintia...."

"Kenapa? Kau terkejut?" Cintia menatap Felicia dengan sinis.

Felicia langsung merubah ekspresi terkejutnya menjadi setenang mungkin. Dia ingin tahu maksud Cintia yang menghentikannya.

"Kenapa, Kak Cintia? Apa ada yang ingin Kak Cintia bicarakan padaku?" tanya Felicia tersenyum.

"Tinggalkan Arion!" seru Cintia penuh penekanan.

"Ini Aku sedang meninggalkan suamiku untuk pulang ke rumah," ucap Felicia dengan polosnya.

Cintia merasa geram. "Apa Kau tidak mengerti arti sebuah ucapan?! Aku ingin Kau meninggalkan Arion. Tinggalkan Dia sejauh mungkin dan jangan kembali lagi!"

Felicia mengerutkan keningnya. "Atas dasar apa Kak Cintia menyuruhku untuk meninggalkan suamiku?"

"Karena Arion tidak pernah mencintaimu. Dia hanya mencintaiku sepanjang hidupnya. Jadi ku tegaskan padamu untuk menjauh darinya!" ungkap Cintia. Dia berharap Felicia tak menjadi pengganggu dirinya untuk kembali bersama Arion.

Felicia menghela napas sejenak. "Kak Cintia. Saat ini Aku merasa begitu kasihan padamu. Kau menikahi Kak Kenzo. Setelah Kak Kenzo pergi, sekarang Kau mengejar adiknya. Bahkan Arion masih berstatus sebagai suamiku. Apa Kak Cintia tidak punya urat malu?" Felicia berkata begitu lembut tapi menusuk.

Cintia menatap tajam Felicia merasa tak terima dengan ucapan gadis itu.

"Jika Kau tidak tahu apa-apa sebaiknya Kau diam! Aku dan Arion pernah memiliki hubungan spesial jauh sebelum Aku menikah. Dan Aku yakin jika sampai saat ini Arion masih mencintaiku." Cintia berkata dengan sangat yakinnya.

"Oh ya? Kak Cintia yakin?" Felicia mulai menyibakkan rambutnya ke belakang sehingga tanda merah hasil ciptaan Arion terpampang nyata. Felicia sengaja melakukannya. "Rasanya sangat gerah sekali."

Cintia membola menatap tanda merah di leher Felicia. Tangannya mengepal erat merasa tak terima.

"Kak Cintia kenapa melotot seperti itu? Ah... Apa karena ini?" Felicia menyentuh tanda merah di lehernya yang masih terasa sedikit nyeri. "Suamiku bersemangat sekali saat menciptakan ini." Felicia tertawa kecil. Dia sangat puas melihat wajah kesal Cintia saat ini.

"Maaf Kak, sepertinya Aku tidak bisa melanjutkan percakapan kita. Karena semuanya sudah jelas. Suamiku itu saat ini hanya mencintaiku. Jadi Kak Cintia jangan bermimpi terlalu tinggi ya? Takutnya nanti jatuh dan akan terasa sangat sakit," Felicia berbisik pelan.

Cintia semakin di buat panas hati dengan tanda merah di leher Felicia. Dia tidak ingin kehilangan Arion untuk kedua kalinya. Saat ini dia sudah sendiri dan akan memperjuangkan cintanya lagi kepada Arion.

"Sudah ya, Kak? Aku mau pulang dulu dan menyiapkan penyambutan untuk suamiku nanti. Aku sudah tidak sabar lagi melewati malam panjang bersama Arion," ucap Felicia dengan ekspresi malu-malu.

Segera Felicia membalikkan tubuhnya dan hendak meninggalkan Cintia. Hingga suara Cintia menghentikan langkahnya.

"Aku akan buktikan padamu jika selamanya Arion hanya mencintaiku, Felicia. Kau akan lihat nanti!" tantang Cintia.

Felicia memejamkan matanya sejenak. Bohong jika Dia tidak takut Arion akan meninggalkan dirinya dan lebih memilih Cintia. Felicia sangat takut akan hal itu. Namun Dia tidak ingin terlihat lemah di depan musuh.

Felicia menoleh ke belakang dan tersenyum manis. "Aku akan menunggunya," ucap Felicia sebelum melanjutkan langkahnya dan memasuki mobil.

Cintia kembali memasuki kantor dengan perasaan kesal. Dia marah melihat tanda merah di leher Felicia.

Sementara saat ini Felicia tengah termenung. Kata-kata terakhir Cintia tadi membuatnya sedikit tidak yakin pada dirinya sendiri.

Cintia merasa takut jika Arion akan lebih memilih Cintia daripada dirinya. Dapat Ia lihat dari tatapan Arion pada Cintia. Semua itu mengisyaratkan jika Arion masih terpaku akan masa lalunya.

"Haih...! Aku tidak pernah tahu jika ternyata cinta terlalu rumit. Pantas saja waktu itu Aluna terlihat putus asa, ternyata begini rasanya," gumam Felicia mendesah pelan.

"Tapi Aku tetap tidak akan menyerahkan apa yang sudah menjadi milikku kepada orang lain. Aku akan mempertahankannya sebisa mungkin. Semangat, Felicia!"

Felicia terus menyemangati dirinya sendiri. "Kenapa Aku malah jadi merindukan Aluna? Sebaiknya Aku ke rumahnya saja. Sekalian Aku berguru padanya tentang langkah apa yang harus ku lakukan selanjutnya," ucap Felicia terkekeh. Dia segera melajukan mobilnya menuju rumah Luna.

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
louis
dasar Arion laki2 tdk punya pendirian. bego jadi laki2.
Retno Harningsih
up
Noona Han
Eaaaa 🤣 semoga hbais ini cintia yg sadar sama perasaannya ke kenzo
Retno Harningsih
lanjut
Noona Han
keg nya masih idup, lagian lucu pamitannya🤣
Jelita S
Kenzo msih hidup kh
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Noona Han
nah yg ini baru kegnya lakinya mulai curiga
Noona Han
🤣🤣rada rada emg nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!