Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Dimulai
“Baiklah, sebentar lagi permainan akan dimulai” bicara Deta lalu Fatin maju kedepan, dia berdiri ditempat yang sudah disediakan untuknya bersama Deta disampingnya.
“Silahkan pilih, permainan mana dulu yang mau kalian lakukan” ucap Deta
“Kamu saja duluan, biar kami mengalah sebagai tamu” balas Fatin
“Baiklah, jangan menyesal yah” kata Deta lalu memilih satu permainan yaitu Lomba Taman Kanak-Kanak
“Silahkan baca juknis lombanya” ucap Deta lagi lalu Fatin pun membacanya sambil memikirkan siapa yang akan dia pilih.
“Anak-anak yah?Hmm?” gumamnya mempertimbangkan lalu dia memilih Dila dan Tian.
“Yeahh” seru Tian lalu berjalan maju memasuki arena bersama Dila.
“Semangat Dila, Tian” sorak Nadin
Permainannya sederhana, mereka hanya perlu memancing para anak kecil agar bisa sampai digaris finish yang sudah ditentukan. Lalu tak lama peluit pun berbunyi.
“Hai” sapa Tian pada dua perempuan yang menjadi lawan mereka
“Kenalin nama ku Tian” ucapnya mengulurkan tanganya, awalnya dua perempuan itu diam saja namun saat Dila ikut menyebutkan namanya akhirnya mereka berdua pun juga melakukan hal yang sama.
“Aku Eva dan ini Yani” kata mereka
“Salam kenal yah” balas Tian lagi lalu mereka pun berpisah untuk memulai permainannya
“Ayo adekk, sini” kata Tian dengan lantang namun anak kecil itu sama sekali tidak bereaksi.
“Sini dek, kakak punya kue” ucap lawan mereka tapi hasilnya juga sama. Anak-anak TK itu hanya diam saja digaris start.
Walaupun sederhana tapi ternyata tidak semudah itu, karena anak-anak itu memerlukan sesuatu yang lebih agar mau bergerak. Dan ini lah tantangan untuk Tian dan Dila, mereka harus memikirkan sesuatu yang bisa menarik perhatian anak-anak.
“Dik, mai malu...ajak cang main!” ujar Eva
“Kakak ngelah ada-ada kanggo cening” bicara juga Yani lalu anak kecil yang mendengar itu pun melihat kearah mereka dan perlahan berjalan.
“Mereka pakai bahasa daerah” ucap Dila
“Curang banget” bicara Ikon yang melihatnya
“Curang!!!” teriak Anwar
“Tidak ada aturan yang melarang menggunakan bahasa daerah dalam permainan ini” celetuk Deta
“Curang pokoknya” Anwar ngotot lalu Deta memberitahu aturan baru kalau teman setim dilarang berbicara dan hanya pemimpin yang bisa melakukanya.
“Dengar itu kordes” bicara Ruka menegur Anwar agar diam, sementara itu diarena Tian masih berusaha keras untuk memanggil anak kecil didepanya agar mau jalan
“Duh gimana nih an” keluh Dila mulai gelisah karena melihat musuh mereka sudah ada kemajuan.
“Hmm, hebat juga strategi mereka” pikir Fatin lalu Deta pun meremehkannya dan mengatakan kalau timnya akan segera menang. Namun Fatin sama sekali gak terpengaruh, dia masih percaya pada teman-temanya yang sedang berlomba.
“Halo Brian, kamu lagi ngapain” ucap Dila mendekati anak TK ditim mereka tapi anak itu masih saja diam.
“Kamu mau hadiah nggak?” ujarnya lagi dengan pelan lalu anak itu seketika bereaksi
“Mau...mau” jawabnya
“Nah hadiahnya itu ada sama kakak yang disana” Dila menunjuk kearah Tian yang berada digaris finish
“Jadi kita harus kesana untuk mengambilnya” lanjutnya lalu anak kecil itu pun akhirnya berjalan
“Yeahh” penonton pun bersorak
“Mai, cepat malu!” panggil Eva dengan lantang lalu Tian pun nggak mau kalah. Dia juga melakukan hal yang sama
“Brian namanya” kata Dila
“Brian, ayo cepat” panggil Tian
“Semangat Brian”
“Go go Brian” kata Dila berjalan disamping anak TK itu dan tak butuh waktu lama untuknya berhasil menyalip lawannya sampai mencapai garis finish.
“Yey menang” seru Tian
“Hebat banget Brian, makasih” kata Dila lalu memberikan hadiah berupa camilan kepada anak kecil itu.
“Hm begitu yah, mereka sengaja menyebutkan namanya” pikir Ruka menyadari strategi dari Dila yang berhasil mengalahkan lawanya dan memenangkan permainan. Dia ingat beberapa hari lalu pernah main-main bersama anak TK sehingga tau bagaimana cara menghadapi mereka. Teman-temannya pun menyambut mereka berdua.
“Hhm” Fatin tersenyum melihat teman-temanya tapi permainan belum berakhir. Deta langsung mengumumkan untuk permainan selanjutnya yaitu lomba makan biskuit dan kerupuk.
“Silahkan pilih perwakilan mu” ucapnya mempersilahkan Fatin memilih lebih duluan.
“Siapa yah kira-kira?” pikir Fatin sambil melihat kearah teman-temannya. Sementara itu teman-temanya juga sedang berdiskusi.
“Kamu aja Putra” ujar Ruka
“Iyah setuju, kamu yang paling besar” bicara Nadin
“Boleh-boleh aja sih” balas Putra lalu mereka pun memberitahu Fatin untuk memilih Putra.
“Baiklah” kata Fatin lalu Putra pun berjalan masuk menuju arena lomba.
“Itu saja?” tanya Deta
“Iyah” jawab Fatin
Deta membalasnya dengan senyuman lalu dia memilih perwakilan tim nya yaitu Agus. Lalu Ruka yang melihat hal tersebut terkejut kenapa ketua panitia bisa ikut bermain. Namun Deta kembali menjelaskan bahwa tidak ada aturan yang melarang untuk bermain, selagi dia masih barada dalam tim maka orang tersebut bisa ikut bermain.
“Gak apa-apa Ruka” bicara Tian
“Iyah teman-teman, percayakan semuanya padaku dan Putra” ucap juga Fatin.
“Oke para pemain siap!” tanya Deta
“Siap” jawab Putra dan Agus bersamaan lalu hitungan mundur pun dimulai dan perlombaan dimulai.
Permainannya sederhan, siapa duluan yang berhasil menghabiskan kerupuk yang tergantung diatas tali maka dia lah pemenangnya. Namun selama permainan akan ada gangguan-gangguan yang akan mengganggu pemain. Apa itu, nanti kalian akan tau sendiri.
“Putra semangat” seru teman-temanya.
“Kayaknya gak salah kami memilih Putra” gumam Fatin karena melihat Putra yang bisa dengan lancar bermainnya, mungkin karena postur tubuhnya yang lebih tinggi sehingga mudah untuk meraih kerupuk yang tergantung. Dia pun sangat yakin bisa menang lagi tapi kenyataanya tidak begitu. Tiba-tiba saja angin berhembus sangat kuat sehingga menerbangkan kerupuknya, Putra pun jadi kesusahan sekarang. Namun bukan hanya dia, Agus juga merasakan hal yang sama. Tapi Agus mengubah posisinya menghalangi arah datangnya angin sehingga kerupuknya pun terhalangi oleh tubuhnya.
“Kak Aguss....gooo” suara penonton bersorak
Putra yang melihatnya pun ikut melakukan hal yang sama tapi tiba-tiba arena berguncang sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Teman-temannya yang melihatnya pun frustasi.
“Putra, bangunn” teriak Anwar
“Tanpa kau bilang pun aku akan melakukanya” gumam Putra lalu bangkit kembali tapi terlambat Agus sudah menghabiskan kerupuknya dan dia bersorak karena menang.
“Aishh” gerutu teman-temannya lalu Putra pun kembali dan meminta maaf tapi ternyata permainan masih berlanjut.
“Putra kembali, lombanya belum selesai” suruh Fatin
“Eh, iyah kah” balas Putra dengan cepat kembali kearena untuk kembali melanjutkan lomba makan kerupuknya. Namun karena dia telat beberapa saat sehingga Agus kembali memenangkan lombanya.
“Ini gimana sih aturanya, ku kira cuman satu kali aja” keluh Putra
“Nggak, tiga kali—aku salah baca juknis tadi” balas Fatin lalu meminta maaf kepada teman-temannya.
Poin sementara STT ( 2 ) dan Mahasiswa KKN (1)