Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan Arkan
Malam telah larut. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh tepat ketika Kenan berdiri di hadapan Alea di ruang tengah kediaman Maheswari.
"Nona, jika tidak ada lagi yang Anda butuhkan, saya izin pamit pulang sekarang. Besok pagi-pagi sekali saya akan kembali sebelum Anda memulai aktivitas," ucap Kenan dengan nada formal.
Alea, yang sedang memegang buku, mendongak. "Oh, iya. Pulanglah, Kenan. Kamu juga butuh istirahat setelah hari yang panjang ini."
Kenan mengangguk sedikit, lalu berbalik dan melangkah pergi. Ia memacu mobilnya membelah jalanan kota yang mulai lengang. Namun, ia tidak menuju ke paviliun staf.
Ia melajukan kendaraannya menuju sebuah area eksklusif di jantung kota, berhenti di depan sebuah apartemen elit dengan sistem keamanan tingkat tinggi.
Begitu sampai di unitnya yang berada di lantai atas, Kenan langsung menuju kamar mandi. Ia membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya yang tegap.
Setelah merasa lebih tenang, ia mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek. Langkahnya membawa ia ke area balkon yang menghadap langsung ke arah kerlap-kerlip lampu kota yang tak pernah tidur. Kenan mengambil sebungkus rokok dari saku jas yang ia letakkan di kursi, menyalakan satu batang, dan mulai menyesap nikotin itu dalam-dalam.
Ia berdiri di sana, menumpukan kedua tangannya pada pagar balkon. Asap tipis mengepul dari bibirnya, terbang terbawa angin malam. Di balik sosoknya yang selalu tenang dan terkontrol saat menjaga Alea, hanya di tempat inilah Kenan bisa menjadi dirinya sendiri pria yang memiliki banyak rahasia dan beban yang tak terlihat.
Pikirannya melayang kembali ke wajah Alea. Ia merasa perih setiap kali mengingat air mata gadis itu di atas panggung. Namun, di saat yang sama, ia merasa marah. Marah pada Dafin yang pengecut, marah pada Arkan yang menjual anaknya sendiri.
"Satu langkah lagi, Al," gumamnya lirih pada angin malam. "Hanya perlu sedikit waktu lagi sampai aku bisa benar-benar membawamu keluar dari penjara ini."
Kenan kembali menyesap rokoknya, matanya menatap tajam ke arah gedung perkantoran Danuar Group yang terlihat samar di kejauhan. Ia tidak sedang hanya beristirahat otaknya terus bekerja menyusun kepingan rencana yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Di balik penampilan tenangnya, Kenan adalah pria yang memiliki kuasa dan sumber daya yang tak pernah dibayangkan oleh keluarga Maheswari.
Ponselnya yang berada di atas meja kecil di sampingnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari informannya.
“Dafin baru saja meninggalkan apartemen Maya. Dia terlihat sangat kacau. Sepertinya hubungan mereka mulai retak dari dalam.”
Kenan menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Rencananya mulai berjalan sesuai alur. Ia mematikan puntung rokoknya di asbak, menarik napas dalam.
......................
Pagi harinya di kediaman Maheswari, suasana sarapan terasa begitu dingin dan kaku. Alea duduk di meja makan yang panjang, hanya mengaduk-aduk bubur gandumnya tanpa selera. Di ujung meja, Arkan Maheswari sedang sibuk membaca berita. Sarah ibunya menatapnya dengan wajah cemas.
Arkan berdeham, suara yang selalu menjadi pertanda bahwa sebuah titah akan segera keluar.
"Alea," panggil Arkan tanpa menoleh. "Papa perhatikan belakangan ini kamu terlalu dekat dengan pengawalmu itu, Kenan. Mulai sekarang, Papa minta kamu jaga jarak. Jangan terlalu sering berinteraksi jika tidak mendesak."
Alea menghentikan gerakan sendoknya. Ia mendongak, menatap ayahnya dengan kening berkerut dalam. "Kenapa, Pa? Kenan itu pengawal pribadi Alea. Tugas dia memang untuk berada di dekat Alea supaya Alea aman, kan?"
"Keamanan itu satu hal, Alea, tapi kedekatan emosional itu hal lain," balas Arkan tajam, kini matanya menghujam langsung ke manik mata putrinya.
"Papa tidak suka melihat cara dia menatapmu, atau bagaimana kamu selalu mencarinya setiap kali ada masalah. Dafin sempat menyinggung soal ini kemarin. Dia merasa terganggu dengan keberadaan pengawalmu yang terlalu mencampuri urusan kalian."
Alea tertawa getir, suaranya terdengar tidak percaya. "Dafin merasa terganggu? Setelah video dia dengan wanita lain tersebar ke seluruh dunia, dia masih punya nyali untuk mengomentari pengawalku? Kenan adalah satu-satunya orang yang melindungiku saat semua orang mempermalukanku!"
"Alea, jaga bicaramu!" bentak Arkan.
"Kamu ini sudah tunangan! Kamu sekarang adalah calon istri Dafin Danuar. Nama baikmu bukan lagi milikmu sendiri, tapi milik dua keluarga besar. Kalau orang-orang atau keluarga Danuar mulai bergosip soal hubunganmu dengan seorang pelayan, itu akan jadi bencana bagi saham perusahaan!"
Sarah akhirnya meletakkan cangkir tehnya dan mengusap lembut punggung tangan Alea. Matanya menatap Alea dengan tatapan memohon.
"Sayang, Papa benar. Mama juga merasa kamu terlalu sering menghabiskan waktu berdua dengan Kenan," ucap Sarah dengan suara lirih.
"Sebagai perempuan yang sudah memiliki ikatan komitmen, kamu harus tahu batasan. Kamu tidak mau kan Dafin semakin tersinggung dan suasana antar keluarga semakin panas? Mama hanya ingin kamu aman secara posisi, Nak."
"Aman secara posisi? Tapi Alea tidak aman secara perasaan, Ma!" balas Alea dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Papa dan Mama cuma peduli soal saham dan reputasi. Apa ada yang tanya bagaimana hancurnya Alea semalam? Tidak ada. Cuma Kenan yang mengerti."
"Cukup!" Arkan berdiri dari kursinya, membuat suasana makin mencekam.
"Papa tidak mau dengar alasan lagi. Kenan tetap akan menjadi pengawalku karena dia memang kompeten, tapi Papa akan menempatkan satu orang lagi untuk mengawasi pergerakan kalian berdua. Jangan coba-coba melewati batas, atau Papa akan memecat Kenan saat itu juga dan memastikannya tidak akan pernah mendapat pekerjaan di mana pun di negara ini."
Ancaman itu membuat jantung Alea serasa berhenti berdetak. Ia tahu ayahnya sanggup melakukan itu. Ia bisa saja melawan demi dirinya sendiri, tapi ia tidak sanggup jika harus menghancurkan hidup Kenan.
"Mama harap kamu mengerti, Al. Ini semua demi kebaikanmu," tambah Sarah sambil menatap putrinya dengan rasa iba yang tak berdaya.
Alea bangkit dari meja makan tanpa sepatah kata pun. Ia melangkah keluar menuju teras dengan langkah gontai. Di sana, ia melihat Kenan sudah berdiri tegak di samping mobil Audi hitam.
Melihat sosok Kenan, hati Alea terasa perih. Ia ingin lari dan menceritakan betapa jahatnya tekanan yang ia terima di dalam sana, tapi ia teringat ancaman ayahnya. Jika ia terlalu dekat, Kenan yang akan menanggung akibatnya.
Kenan membukakan pintu untuk Alea. "Selamat pagi, Nona. Anda baik-baik saja? Wajah Anda sangat pucat."
Alea hanya menatap Kenan sekilas, tatapan yang penuh dengan kesedihan yang terpendam, lalu ia segera masuk ke dalam mobil dan membuang muka ke arah jendela. Ia harus bersikap dingin. Ia harus menjauh, bukan karena ia benci, tapi karena ia ingin melindungi pria itu dari murka ayahnya.
Kenan yang merasakan perubahan drastis pada sikap Alea hanya bisa terdiam. Ia menutup pintu mobil dengan perlahan, matanya sempat menangkap sosok Arkan dan Sarah yang memperhatikan mereka dari balik jendela besar lantai dua.