Semua akan hadir jika kita sedang memiliki harta benda, Rumah yang mewah , harta dimana mana, semua akan di anggap KELUARGA jika kita punya segalanya, Tapi coba lihat jika kita sedang tidak punya apa apa, jangankan di anggap keluarga di tanya kabar pun tidak akan pernah, Uang yang berbicara, uang yang membuat lingkungan keluarga menjadi Cemara dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coretan Hitam.Id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Nasi Dan Garam
Singkat cerita , Tiga bulan kemudian.
Pak Warto sudah rapih dengan Pakaian nya, Kini ia akan segera berangkat menemui Adik bungsu nya Badrun yang sudah lama berdagang di Kantin yang mereka tekuni, Karena tiga bulan lalu Badrun sendiri sudah berjanji akan pulang setelah tiga bulan , Tapi kini sudah lebih dari tiga bulan belom ada kabar, atau menyuruh pak Warto untuk Aplusan.
" bapak yakin mau kesana sendirian dulu ?" tanya bu Arumi seraya menyimpan gelas berisikan teh hangat di meja tamu. " Yakin bu, Ibu sama Lesi nanti saja nyusul yah" Jelas Pak Warto kepada istrinya yang terlihat khawatir.
" kalo Badrun kekeh jangan Melawan ya pak, Iklasin saja" Pesan Bu Arumi, entah kenapa Bu Arumi punya fikiran Bahwa mereka akan di geserkan posisinya oleh Badrun.
"sudahlah bu, tenang saja, ya semoga saja Badrun tidak serakah " ucap Pak Warto, dan segera mengambil tas kecil miliknya lalu berdiri, ia akan segera Berangkat pagi ini juga ," Lesi jaga ibu ya, Bapak akan tanyakan ke om mu, biar kita bisa cari uang lagi " Ucap Pak Warto kepada anaknya yang sedang Menyapu halaman, Lesi mengangguk dan menyalimi tangan Bapaknya " baik pak, hati hati ya " ucapnya.
Bapak berangkat ke terminal di antar ojek langganan nya. Selama mereka di kampung, Uang yang di berikan oleh Om Badrun tidak lah cukup dalam seminggu , Dalam Dua hari saja sudah tersisa selembar saja, Pak Badrun selama itu juga terus bekerja serabutan ikut orang, Kadang Ikut ke bangunan, apa pun agar mereka bisa makan dan melanjutkan Hidupnya.
Lesi pun tidak tinggal diam, dia mencoba berjualan Olshop , menjual baju, Kosmetik, mainan anak dan makanan dia beberkan di media sosialnya, walau pun hasilnya tidak membuat nya Kaya raya, atau bisa ngasih ke orang tua seperti anak anak yang lain nya, tapi hasilnya cukup buat jajan dirinya saja sudah bersyukur tidak minta ke orang tuanya, Kadang jika bapak nya belom memegang uang , mereka hanya bisa menahan lapar , atau makan dengan Garam saja, tapi jika Pak Warto sudah gajihan, Pak Warto membelikan Nasi Padang dengan lauk Ayam Bakar kesukaan mereka semua.
Padahal jika mereka tidak di suruh pulang oleh Badrun, setidaknya di beri uang cukup banyak saja mungkin tidak akan seperti itu, Karena dalam setahun ini hasil dari kantin cukup besar setiap Harinya, Per hari mereka menghasilkan lima Juta rupiah dalam sehari, Padahal dulu waktu awal Pak Warto dagang, hasilnya masih lima - satu juta dalam sehari, itu pun Kalau ramai, kalo sepi ya hanya bisa menghasilkan dua ratus tibu seharinya. makan pun mereka hemat hemat hanya makan kerupuk atau gorengan yang mereka goreng tanpa sayuran, untuk mereka makan, tapi walau hasilnya seperti itu, Jika waktunya Aplus pak Warto di beri uang yang setimpal oleh pemilik kantin, walau pun tidak begitu besar tapi cukup untuk dua bulan mereka disana, dan Di kampung pun Pak Warto selalu ikut kerja sarabutan untuk menambah nambah penghasilan dan uang yang di dapat nya dari kantin itu tidak segera menipis.
sudah hampir setahun ini hasilnya begitu lumayan, bahkan Pak Warto dan bu Arumi bisa merenovasi rumahnya dari hasil Jualan di Kantin tersebut, bisa membelikan Ponsel untuk Lesi, bahkan sering makan enak jika baru pulang merantau.