NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 12

“Selamat datang di Happy Mart, selamat berbelanja.”

Sapaan ramah dari kasir menyambut Zaidan begitu ia melangkah masuk. Namun tujuan kedatangannya jelas bukan untuk membeli sesuatu, melainkan sosok perempuan di lorong paling ujung yang sedang berdiri membelakangi, dan sibuk menyusun makanan ringan bermicin ke rak.

“Zahra.”

Panggilan itu membuat tangan Zahra terhenti. Ia menoleh, dan matanya langsung membesar.

“Lho… Pak Zaidan?” ucapnya refleks, dan jelas terkejut. “Ada apa, Pak?”

Zaidan melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan. Tatapannya singkat menyapu wajah Zahra, memastikan kondisinya baik-baik saja, sebelum kembali fokus.

“Ada yang mau saya bicarakan,” katanya. “Kamu selesai kerja jam berapa?”

Zahra refleks mengangkat pergelangan tangan kirinya, melirik jam tangannya.

“Kira-kira satu jam lagi, Pak,” jawabnya. “Emang… kenapa, Pak?”

Alih-alih menjawab, Zaidan justru membalikkan badan, menatap ke arah luar minimarket. Matanya seperti mencari sesuatu. Dan sekilas senyum tipis tersungging di bibirnya.

“Saya tunggu kamu di kafe depan,” ujarnya ringan. “Habis kerja langsung ke sana, ya. Bisa?”

Zahra mengernyit kecil. “Emang ada apa, Pak?” rasa penasaran jelas tak bisa ia sembunyikan.

“Ada hal penting,” jawab Zaidan singkat, namun cukup membuat Zahra makin gelisah.

“Tapi… satu jam, Pak,” ucap Zahra dengan nada sungkan. “Nanti Bapak kelamaan nunggu.”

Zaidan terkekeh pelan. “Satu jam bukan waktu yang lama.”

Tanpa memberi kesempatan Zahra menyahut lagi, ia langsung melangkah pergi. Zahra sempat memanggil, namun sosok pria itu sudah lebih dulu menghilang di balik pintu kaca.

“Siapa tuh, Zah?” Rere, rekan kerjanya yang berada di kasir, melirik penuh rasa ingin tahu.

Zahra tersentak. “Nggak… bukan siapa-siapa,” jawabnya cepat, sedikit terlalu cepat.

Ia tidak ingin siapa pun tahu kalau dirinya tengah berurusan dengan polisi. Apalagi atasannya. Ia masih ingat betul bagaimana dulu ia harus mati-matian mengurus SKCK hanya untuk melamar pekerjaan ini. Ia hanya seorang karyawan minimarket, bukan pejabat negara, lalu harus susah untuk bekerja. Tak terbayang jika kabar buruk itu sampai terdengar, ia tak yakin masih punya tempat di sini.

Zahra menarik napas pelan, bersyukur Rere tidak bertanya lebih jauh.

Ia kembali fokus bekerja. Tangan-tangannya bergerak cepat, menyusun satu per satu kemasan camilan ke rak. Namun sesekali, tanpa sadar, matanya melirik keluar.

Dari balik kaca, ia bisa melihat Zaidan duduk di kafe kecil seberang jalan. Pria itu duduk santai di kursi dekat jendela, dengan ponsel di tangan. Dari cara ibu jarinya bergerak cepat, Zahra yakin jika dia sedang bermain game.

Entah kenapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus gugup.

“Fokus, Ra,” gumamnya pelan.

Ia mempercepat pekerjaannya. Tak ingin pikirannya terlalu lama dipenuhi sosok itu, Zahra memilih memindahkan diri ke lorong lain begitu tugasnya selesai. Menyapu lantai, mengecek stok dan membantu kasir, apa pun asal waktu berlalu lebih cepat.

Hingga akhirnya, jarum jam menunjukkan waktu pulang.

Zahra berganti shift dengan rekan kerjanya yang masuk untuk shift sore. Zahra kembali ke belakang, lalu merapikan rambut seadanya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang tertempel di dinding. Wajahnya terlihat sedikit pucat, tapi setidaknya rapi.

Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar.

Pintu kaca terbuka, dan pandangannya langsung bertemu dengan Zaidan yang masih duduk di tempat yang sama. Zahra berjalan pelan menuju meja itu. Zaidan masih saja fokus dengan ponsel di tangannya. Zahrapun mendengar suara pria dari ponselnya Zaidan.

Zaidan yang menyadari jika ada seseorang yang berdiri di depannya langsung mendongak, lalu tersenyum tipis.

“Duduk, Zahra.”

Setelah dipersilahkan untuk duduk, Zahra akhirnya duduk yang ada didekatnya hingga ia kini duduk berhadapan dengan Zaidan.

“Tunggu sebentar,” sambung Zaidan lagi.

“Iya, Pak,” jawab Zahra.

“Om, kok ada suara perempuan? Yang Om Zaidan tunggu itu cewek?”

“Diam aja, El main dulu aja,” jawab Zaidan.

“Jadi bener, Om yang kata Papa sama Kakek kalau Om Zaidan udah punya pacar? Terus yang sering bikin Om Zaidan bengong tiap malam sebelum main sama aku tu, yang lagi disana itu ya, Om?”

Zaidan tersedak napas.

Ia yang terkejut dan takut Zahra salah paham, langsung keluar dari permainannya tanpa memikirkan kekalahan timnya dalam pertempuran game itu.

“Lho, langsung dimatikan gitu aja, Pak?” Walau tidak ikut memainkan game itu, tapi Zahra tahu. Biasanya orang-orang yang memainkan game online itu tidak akan mau langsung saja keluar dari permainan, apalagi jika pertempuran itu masih berlangsung. Nantinya pasti akan membuat turun kehebatannya.

“Nggak, udah selesai kok,” jawab Zaidan. Ia meminum minumannya untuk menetralkan degupan jantungnya akibat ucapan sembarangan Elran yang ditakutinya akan terdengar oleh Zahra.

“Mau pesan minum?” tanyanya basa-basi, sebelum masuk ke inti pembicaraan mereka.

“Tidak usah, Pak. Terima kasih,” tolak Zahra. “Kalau boleh tahu, ada apa Pak Zaidan mencari saya?”

Zaidan menghela napas pelan, lalu mengeluarkan sebuah amplop dari tas selempang hitamnya. Amplop itu ia letakkan di atas meja, mendorongnya perlahan ke arah Zahra.

“Surat panggilan dari pengadilan sudah datang.”

Jantung Zahra seakan langsung jatuh.

“Sidangnya tiga hari lagi. Sidang ini perihal kamu yang merebut senjata anggota saya,” ucap Zaidan tenang, namun tetap saja mampu membuat Zahra keringat dingin.

Dengan tangan sedikit bergetar, Zahra mengambil surat yang Zaidan letak di atas meja itu. Ia buka dan baca setiap baris dengan napas yang makin berat.

“Saya bakalan di penjara, Pak?” tanyanya pelan setelah diam beberapa saat.

Zaidan tidak langsung menjawab. Pria itu menghela napasnya berat, wajahnya serius namun tetap lembut.

“Semua keputusan dari hakim, Zahra. Saya tidak bisa memastikannya,” jawab Zaidan pelan.

Zahra menunduk. Jemarinya meremas tepi kertas surat itu. Bayangan wajah ibunya kembali muncul dibenaknya. Wajah lelah sang ibu yang sering sakit-sakitan, dan selalu mengkhawatirkannya.

“Jangan berpikir sejauh itu dulu,” ucap Zaidan pelan, namun tegas. “Ada banyak hal yang bisa jadi pertimbangan hakim. Kamu korban, dan kamu kooperatif. Dan terpenting, tidak ada korban jiwa.”

“Tapi… apakah masih ada kemungkinan saya bebas, Pak?” gumamnya yang terdengar seperti bisikan, namun masih bisa terdengar oleh Zaidan.

Zaidan menatapnya lurus. “Tidak ada yang mustahil. Keadilan itu ada, Zahra. Dan besok… saya akan berada disana juga.”

Zahra menelan ludahnya.

“Kamu tidak sendirian,” lanjut Zaidan. “Jadi jangan terlalu takut.”

Kalimat itu membuat dada Zahra terasa hangat dan perih bersamaan.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya tulus, dengan senyum tipis yang rapuh.

...****************...

Jangan lupa like, komennya ya karena itu sangat sangat berarti untuk author ❤️❤️

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!