Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Suka Wangi Kamu
“Saya lihat kamu gelisah sekali, kenapa?” tanya Reynan, saat Zara keluar dari kamar mandi.
“Ah, nggak,” jawab Zara seraya naik ke pembaringan.
“Oh iya.” Reynan menoleh pada Zara. “Uang itu mau buat apa?” lanjutnya.
Zara diam sebentar. “Berarti keluarga kamu kaya ya?”
“Ya … ya gak usah dibahas. Apapun itu, semuanya hanya titipan,” jawab Reynan.
Zara mengangguk-anggukan kepalanya, ia suka dengan jawaban Reynan.
“Jadi?” tanya Reynan.
“Belum tau. Simpan aja dulu,” kata Zara.
Kini keduanya terdiam.
“Setelah urusan saya di pabrik, saya akan kembali ke Jakarta.”
“Ya kembalilah,” jawab Zara santai.
“Ya gak bisa gitu,” ujar Reynan.
Zara mengerutkan dahinya. “Kenapa? Kalo mau kembali, ya kembali aja.”
Reynan berdecak, ia pun berjalan ke arah Zara.
“Mau ngapain?” tanya Zara cepat, seraya menarik selimut dan menutup tubuhnya.
Reynan tidak mengindahkan pertanyaan Zara. Namun ia duduk di tepi ranjang.
“Kalo saya kembali ke Jakarta, kamu pun harus ikut. Ingat, kita sudah menikah,” kata Reynan.
Zara diam. Namun kepalanya berpikir. “Jadi?” tanya Zara.
“Ya, kamu ikut saya ke Jakarta,” ujar Reynan lagi.
“Tapi kerjaan saya gimana?”
“Ya … resign,” balas Reynan.
“Enak aja resign. Gak mau ya. Saya gak biasa jadi pengangguran,” ucap Zara.
“Ya cari kerja lagi di Jakarta, apa susahnya.”
“Males,” jawab Zara singkat. Pada dasarnya Zara malas memulai dan malas kembali beradaptasi dengan dunia kerja baru. Ia sudah nyaman kerja di sana dengan teman-teman yang menurutnya baik dan seru.
Reynan menghela napas. “Ya saya juga gak bisa tinggal di sini terus. Saya pun ada kerjaan disana,” kata Reynan.
“Ya udah sih, gak usah ribet. Kamu di Jakarta, saya disini. Beres,” ucapnya dengan enteng.
“Berarti kamu mau jadi bahan pikiran Ayah Ibu.”
“Ya nggak lah. Ngapain juga dipikirin, toh kalo kamu di Jakarta, saya kembali ke rumah Ibu dan Ayah.”
Ctak!
“Aww … sakit tau.” Reynan menyentil dahi Zara.
“Makanya, punya otak itu dipake. Katanya pintar, jangan hanya ngitung uang aja yang pintar,” ucap Reynan.
“Ish … apa sih.” Zara bicara seraya mengusap-usap dahinya yang masih terasa sakit.
“Nih dengerin. Apa gak jadi pikiran orang tua, udah nikah tapi tinggal sendiri-sendiri. Belum lagi omongan tetangga, apalagi kalo mantan sama sepupumu tau, em‐ apa gak tepuk tangan mereka,” kata Reynan.
Zara menghela napas. “Berarti, harus ikut ya?” tanyanya.
“Ya mau gak mau, ya harus ikut.”
“Memangnya kapan urusan pabrik selesai?” tanya Zara.
“Besok eksekusi, lusa atur ulang. Em-berarti tulat (H+3),” jawab Reynan. “Kalo bisa, lusa kamu resign,” lanjut Reynan.
“Ya gak bisa juga. Kontrak kerja saya masih
lama,” kata Zara.
“Berapa lama lagi?” tanya Reynan.
“Dua tahun lagi,” jawabnya.
Reynan berdecak. Bukan apa, itu masih terlalu lama.
“Kalo resign, perjanjian dalam kontrak bayar denda berapa?” tanya Reynan lagi.
“Ya hitung aja. Kalo dua tahun, gaji sebulan tujuh juta,” ujar Zara.
Lekas Reynan pun menghitungnya. “Seratus enam puluh delapan juta,” ucapnya. “Uang dari Papa satu miliar. Jika dibayarkan denda, masih ada sisanya. Masih banyak juga. Cuma keambil enam belas persen lebih dikit,” lanjutnya.
“Nama saya jadi hitam,” kata Zara.
“Ya gak apa-apa. Karena setelah ini saya gak izinin kamu untuk kerja lagi,” ujar Reynan.
“Lah, ya gak bisa gitu lah.”
“Ingat, saya suami kamu dan saya berhak atas itu.”
“Iya … saya tau. Tapi saya gak bisa cuma diam saja. Saya gak bisa pokoknya!”
Reynan berdecak. “Uang dari Papa, kalo didiemin aja ya sayang. Lebih kamu jadikan modal usaha, di putar lagi. Udah betul resign aja,” ujarnya.
Zara terdiam. Ia sedikit ada pencerahan di sana.
“Entahlah. Saya mau tidur, nanti saya pikirkan lagi.” Zara bicara seraya merebahkan tubuh, selimutnya ia naikkan sampai menutupi kepala.
Reynan pun tidak lagi bicara. Ia segera beranjak dari duduknya, lalu ia pun keluar dari kamar. Tidak lupa, ia mengambil barangnya di atas meja.
Setelah Reynan keluar dari kamar, Zara membuka selimut yang menutupi wajahnya.
“Ya ‘kan dia pergi? Apa dia benar-benar menikahi gue karena kelainannya?”
“Ish … ya ‘kan gue jadi mikirin itu lagi.”
Sedangkan dengan Reynan, ia duduk di kursi meja makan.
Dengan rokok ditangan. Sesekali ia menghisapnya, lalu ia menghembuskan asap rokok itu ke udara.
Matanya menerawang jauh, entah apa yang tengah lelaki dewasa itu pikirkan.
Begitu juga sesekali menarik napas dengan dalam.
***
Pagi harinya, sepasang suami istri baru itu sibuk dengan urusannya masing-masing.
Zara sedang menata rambutnya, sedangkan Reynan dengan laptopnya dan ponsel yang sesekali berdering.
“Saya antar kamu,” kata Reynan disela kesibukannya.
“Gak usah. Saya pergi sendiri. Bukannya kamu juga ada urusan?” tanya Zara.
“Urusan ada. Tapi keselamatan istri itu kewajiban,” ujar Reynan.
Lagi dan lagi, Zara tersentuh dengan ucapan Reynan.
“Apa iya, orang kayak gini menyimpang?” batin Zara.
“Rasanya … mustahil sekali,” lanjutnya.
“Masih lama?” tanya Reynan.
Sontak Zara terkejut. Bukan apa, ia cukup kaget karena suara Reynan cukup dekat.
Saat melihat pantulan di cermin, ternyata Reynan sudah ada di belakangnya.
“Em- ya sebentar lagi,” ucap Zara.
Tangan Reynan terulur, untuk mengambil jam tangannya yang ada di atas meja rias. Wangi tubuh pria itu, merasuk pada indera penciuman Zara.
“Wangi,” batin Zara.
“Saya suka wangi kamu,” celetuk Reynan, setelah mengambil jam tangannya.
“Hah?” Zara di buat cengo oleh lelaki itu.
Reynan tersenyum kecil. “Sudahlah, ayo. Udah belum?” tanyanya.
“Ya, ya, sebentar lagi.” Zara pun lekas menyelesaikan tatanan rambutnya.
***
Setelah mengantar Zara, Reynan pun kembali. Tidak lupa, ia pun membelikan Zara sarapan, mengingat mereka dari rumah belum makan apa-apa.
Tujuannya sudah pasti, pabrik.
Di sana sudah ada Hendri yang menyambutnya.
“Siap bos?” tanya Hendri.
Reynan hanya tersenyum singkat.
“Semuanya udah kumpul?” tanya Reynan.
“Udah. Tapi Pak Kades gak datang, katanya ada urusan.”
“Ya gak apa-apa. Yang penting ada Amir,” kata Reynan.
“Ayo masuk, bos. Semuanya udah nunggu. Katanya mau ada apa lagi,” ujar Hendri disertai kekehan.
Reynan berjalan untuk masuk ke dalam pabrik, tangan kanannya ia masukkan ke saku celana.
“Pagi semuanya,” sapa Reynan pada para pegawai.
“Pagi, Pak.” Mereka menjawab serentak.
Reynan berjalan menuju meja yang sudah Hendri siapkan.
Amir langsung mempersilahkan Reynan untuk duduk.
Hendri memulai acara itu, dengan memperkenalkan siapa Reynan dan untuk apa Reynan datang ke sana.
“Ya, sesuai dengan apa yang Hendri katakan. Saat ini, saya yang akan langsung memegang pabrik ini.” Reynan bicara.
Sedangkan dengan Amir, ia masih berdiri dengan kedua tangannya yang mengepal. Wajahnya memerah, nampak sekali jika ia tengah kesal dan marah.