NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: PAMER, PARENTS, DAN PERTEMUAN YANG DIHINDARI SELAMA 8 BULAN

Disclaimer: Bab ini mengandung rasa takut tidak cukup di mata orang tua, presentasi kehidupan yang dikurasi, dan satu kebenaran yang bocor karena sambal yang terlalu pedas.

---

"Orang tua gue mau main ke Jogja."

Kalimat itu Kinan ucapin sambil menatap mangkuk mi instan mereka, seperti dia baru saja umumin kiamat. Ardi yang lagi minum kopi, tersedak.

"Kapan?" tanyanya, suara serak.

"Minggu depan. Mereka lagi ada urusan di Semarang, sekalian mampir. Cuma sehari."

"Di sini? Di loteng kita?"

"Mereka pengin liat tempat tinggal gue. Katanya."

Ardi melirik sekeliling loteng yang berantakan: kabel berserakan, piring belum dicuci di wastafel, poster band norak di dinding, dan celana dalam Ardi yang nyelip di balik bantal sofanya. Dia langsung panik.

"Berapa lama lagi?"

"Lima hari."

Lima hari itu berubah jadi Operation: Impress The Parents. Sebuah misi yang mustahil, mengingat orang tua Kinan Pak Handoko dan Bu Dewi adalah tipikal orang tua kelas menengah atas yang ekspektasinya setinggi langit. Ayahnya pengusaha properti kecil, ibunya mantan guru yang sekarang bisnis katering sehat. Mereka belum pernah ketemu Ardi secara resmi, cuma liat dari foto-foto dan "dengar-dengar" dari sepupu.

"Kita harus bersih-bersih total," komando Kinan, sudah memegang sapu.

"Kita harus beli kursi yang bener. Ini cuma ada bean bag sama bangku plastik," sahut Ardi, melihat ruangan dengan mata baru.

"Dan sembunyiin semua barang lo yang... norak."

"Norak" maksudnya: koleksi action figure murahan Ardi, poster band metal, kaos-kaos belelan, dan buku komik yang sampulnya sudah lepas. Semua harus masuk kardus, disimpan di bawah tempat tidur.

Mereja juga harus menyusun narasi. Bagaimana cerita hidup mereka di Jogja? Mereka nggak bisa bilang "kadang makan mi instan karena duit mepet". Harus ada angle: "kami memilih hidup minimalis untuk fokus pada passion." Mereka nggak bisa bilang "kerja freelance kadang dapat kadang nggak". Harus: "kami sedang membangun portofolio dan jaringan di ekosistem kreatif Jogja."

Hidup mereka tiba-taya harus jadi konten yang dikurasi untuk audiens paling kritis: calon mertua.

---

Hari-H.

Orang tua Kinan datang naik Alphard serba hitam yang terlihat sangat out of place di gang sempit depan rumah. Kinan sudah berdiri di bawah, memakai dress yang jarang dipakai, rambut rapi. Ardi di atas, berkeringat dingin, cek lagi apakah ada kaos dalam yang tercecer.

"Selamat datang, Pak, Bu," sapa Ardi, salaman kaku.

Pak Handoko cuma angguk, matanya langsung scanning lingkungan seperti appraiser. Bu Dewi senyum tipis, tapi matanya juga observant.

"Kecil ya tempatnya," komentar Pak Handoko begitu naik ke loteng.

"Tapi cukup buat kami berdua, Pak. Lagi hemat biaya hidup biar bisa investasi di project," jawab Ardi dengan kalimat yang sudah dilatih.

"Project apa?"

"Kinan sedang kembangkan studio desain untuk UMKM lokal. Saya bantu di bagian riset pasar dan konten kreatif."

Kinan melirak tajam ke Ardi. Riset pasar? Konten kreatif? Itu kata-kata yang bahkan Ardi sendiri jarang pake.

Tur berlangsung canggung. Setiap pertanyaan orang tuanya seperti interview kerja. Tentang income, tentang rencana 5 tahun ke depan, tentang backup plan kalau "project kreatif" ini gagal. Ardi jawab dengan diplomatis, sambil berkeringat deras.

Saat makan siang di restoran padang yang agak bagus (yang mereka pilih dengan pertimbangan harga dan "kelas"), bencana kecil terjadi. Bu Dewi tanya soal keluarga Ardi.

"Orang tua saya di Cirebon, Bu. Ayah wiraswasta, ibu guru honorer."

"O, jadi nggak ada yang ngasih backup finansial ya?" tanya Pak Handoko polos, tapi terdengar seperti tamparan.

"Kami berusaha mandiri, Pak," jawab Kinan cepat, matanya memperingatkan.

Tapi Ardi sudah tersinggung. Dia tau maksudnya bukan jahat, tapi itu mengingatkannya pada gap yang selalu dia rasakan.

---

Bencana besar datang dari sambal.

Mereka pesan sambal hijau. Ardi, yang sedang gugup, tanpa pikir mencampurkan sambal itu ke nasinya dalam jumlah yang biasa dia makan. Tapi sambal di restoran ini luar biasa pedasnya.

Dalam 30 detik, matanya berair, hidungnya meler, keringat bercucuran. Dia terbatuk-batuk, wajahnya memerah. Kinan buru-buru kasih air, tapi sudah terlambat. Ardi terlihat seperti orang yang sedang kesusahan bukan karena sambal, tapi karena hidup.

Di tengah kepanikan itu, Bu Dewi berkata lembut, "Kamu nggak terbiasa pedas ya? Kinan juga dulu gitu, sekarang sudah bisa karena sering makan sama kamu ya?"

Ada sesuatu di nada bicaranya yang berbeda. Bukan menghakimi. Melihat.

Ardi, sambil masih terisak-isak karena pedas, menjawab jujur: "Iya Bu... maaf... saya... nggak kuat pedasnya."

Dan entah kenapa, dari situlah es mulai mencair. Pak Handoko malah tersenyum. "Laki-laki nggak kuat pedas gini, Kinan. Harus sering-sering latihan."

Mereka tertawa kecil. Image sempurna yang mereka susun selama 5 hari retak karena sambal. Tapi justru retakan itulah yang membuat suasana jadi nyata.

---

Sesi nongkrong di angkringan (pilihan Kinan, untuk menunjukkan "budaya lokal").

Di angkringan, dengan teh anget dan gorengan, obrolan jadi lebih rileks. Pak Handoko cerita soal usaha pertamanya yang gagal. Bu Dewi cerita soal masa-masa awal nikah yang susah.

"Kami dulu tinggal di kontrakan 2x2, mandi sumur, masak pakai kayu bakar," kata Bu Dewi. "Bapaknya Kinan jualan koran dulu."

Kinan terbelalak. "Serius? Papa jualan koran? Nggak pernah cerita!"

"Ya malu dong. Tapi itu yang bikin kita kuat. Sekarang kamu... kamu berdua juga mulai dari bawah. Bapak ngerti."

Ardi mendengarkan, dan sesuatu di dadanya yang sempat sesak, mulai longgar. Mungkin mereka tidak melihatnya sebagai parasit. Mungkin mereka hanya ingin memastikan anak mereka tidak menderita seperti dulu.

Saat akan berpamitan, Pak Handoko menepuk bahu Ardi. "Jaga Kinan baik-baik. Dan jaga dirimu juga. Kerja keras itu perlu, tapi jangan lupa makan yang teratur. Kamu keliatan kurus."

Itu bukan perintah. Itu perhatian.

---

Setelah mereka pergi, Ardi dan Kinan duduk di lantai loteng, lelah tapi lega.

"Ternyata nggak semenyeramkan yang dibayangin," kata Ardi.

"Mereka suka sama lo," kata Kinan. "Ibu bilang, 'Dia jujur. Keliatan dari matanya.'"

"Karena mata gue merah gara-gara sambal ya?"

"Mungkin."

Mereka ketawa. Mereka sadar satu hal: mereka telah menghabiskan 8 bulan menghindari pertemuan ini karena takut tidak cukup. Padahal, yang ditakutkan itu justru membuat mereka terlihat kurang percaya diri. Dan kadang, kejujuran yang ceroboh (seperti tersedak sambal) lebih meyakinkan daripada presentasi yang sempurna.

"Lo tahu nggak, hal paling bikin lega apa?" tanya Ardi.

"Apa?"

"Kita nggak perlu sembunyiin action figure lo lagi. Bisa dikeluarin."

"YES! GUE UDAH KANGEEN SAMA IRON MAN MURAHAN GUE!"

---

LAST LINE: Malam itu, loteng mereka kembali berantakan seperti biasa. Action figure sudah kembali menghiasi rak, poster band kembali terpampang, dan celana dalam Ardi sudah dengan bangga kembali menggantung di kursi. Mereka makan mi instan (lagi) sambil menertawakan ekspresi wajah Ardi waktu kepedasan. Kinan berkata, "Mungkin besok kita kirim paket sambal ke orang tua lo, biar mereka tau musuh terbesar hubungan kita." Ardi tertawa. Mereka belajar bahwa persetujuan orang tua itu bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi nyata dengan segala kekurangan, ketololan, dan ketidakmampuan makan pedas. Dan terkadang, untuk menjadi nyata, kamu hanya perlu bertemu dengan sambal yang tepat di waktu yang tepat. 🌶️👨‍👩‍👧‍👦

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!