NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Tersiksa

Pembalasan Istri Tersiksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Menantu Pria/matrilokal / Penyesalan Suami / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: BI STORY

MONSTER KEJAM itulah yang Rahayu pikirkan tentang Andika, suaminya yang tampan namun red flag habis-habisan, tukang pukul kasar, dan ahli sandiwara. Ketika maut hampir saja merenggut nyawa Rahayu di sebuah puncak, Rahayu diselamatkan oleh seseorang yang akan membantunya membalas orang-orang yang selama ini menginjak-injak dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Agung Yang Senantiasa Membantu Ayu

​Pukul delapan pagi, sebuah restoran dengan nuansa vintage yang elegan menjadi saksi bisu adegan sarapan yang canggung namun manis antara Agung dan Ayu. Ayu, dengan balutan blouse berwarna soft blue dan rok selutut, terlihat kontras dengan suasana hatinya yang masih berkutat dengan dendam.

Agung memesankan nasi goreng spesial untuk mereka berdua.

​"Kamu suka pedas, kan?" tanya Agung, matanya menatap Ayu dengan lembut.

​Ayu mengangguk, masih sedikit kikuk setelah kejadian pelukan tadi.

"Sedikit," jawabnya singkat.

​Tak lama kemudian, dua porsi nasi goreng mengepul datang. Aromanya yang gurih langsung menyeruak, menggugah selera. Ayu mencoba memfokuskan diri pada makanannya, berusaha mengabaikan tatapan intens dari Agung. Namun, pria itu tak menyerah.

​"Ayu," panggil Agung.

"Ini ada udang, kamu suka?"

​Agung dengan sigap memindahkan udang-udang besar dari piringnya ke piring Ayu menggunakan sendoknya. Ayu terkesiap, jantungnya berdesir aneh. Perhatian sekecil itu, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya, tiba-tiba terasa begitu hangat dan menggetarkan.

​"Eh, terima kasih, Mas," kata Ayu, salah tingkah. Wajahnya kembali merona.

​Ia mencoba menyendok nasi gorengnya, tapi karena gugup, ia malah menyenggol sendoknya sendiri. Sendok itu jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring, dan sedikit nasi goreng terciprat ke baju Agung.

​Ayu membelalakkan matanya, panik.

"Ya ampun! Mas Agung, maafin aku! Aku ceroboh banget!"

​Agung tersenyum geli.

"Gak apa-apa, Ayu. Hanya sedikit." Ia mengambil serbet dan dengan santai membersihkan noda di bajunya.

​"Sini biar aku bersihkan," Ayu meraih serbet dari tangan Agung, tangannya gemetar saat menyentuh baju pria itu. Jarak mereka begitu dekat, napas Agung terasa hangat di wajahnya.

​"Udah, udah. Jangan terlalu dipikirin," Agung menahan tangan Ayu, tatapan matanya semakin lembut.

"Justru kamu jadi makin gemesin kalau lagi panik begitu."

​Pipi Ayu semakin memerah. Ia buru-buru menunduk, jantungnya berdebar tak karuan. Ia tidak menyangka dirinya bisa melakukan kecerobohan sekonyol ini, dan reaksi Agung yang begitu menenangkan justru membuatnya merasa semakin... aneh.

​"Aku akan minta pelayan mengganti sendoknya," Ayu mencoba mengalihkan perhatian, beranjak dari kursinya.

​"Gak perlu, duduk saja. Aku bisa mengambil sendokku yang ini," Agung meraih sendok baru dari meja sebelahnya, "atau kita bisa berbagi."

Agung tersenyum nakal, membuat Ayu semakin salah tingkah.

​Ayu kembali duduk, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik kepulan asap nasi goreng.

Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah bagian dari rencana, bahwa perhatian Agung tidak boleh mengalihkan fokusnya pada balas dendam. Tapi entah kenapa, setiap kali Agung tersenyum, hatinya terasa sedikit melunak.

​"Mas Agung..." Ayu memulai, mencoba mengalihkan topik.

"Bagaimana dengan rencana selanjutnya? Apa yang akan kita lakukan untuk bisnis Andika?"

​Agung menatap Ayu, senyumnya kini lebih serius. "Aku udah mengumpulkan beberapa informasi penting. Andika punya beberapa proyek ilegal yang disamarkan sebagai investasi. Kita bisa menggunakan itu untuk menjatuhkannya. Proyek ilegal itu bukan dari bisnis ayahmu yang ia rebut melainkan bisnis ayahnya sendiri. Keluarga Andika emang gak beres semua."

Mendengar penjelasan Agung, genggaman Ayu pada sendoknya mengerat hingga kuku-kukunya memutih. Rasa hangat yang tadi sempat menyelinap di hatinya seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk dari dasar ingatannya.

​"Proyek ilegal?" suara Ayu bergetar, bukan karena gugup, melainkan karena amarah yang tertahan.

"Jadi, selain merampas perusahaan Papa, mereka juga punya bisnis sendiri yang ilegal? Benar-benar iblis."

​Bayangan Pak Rio, ayahnya yang penyabar, kembali melintas. Enam bulan telah berlalu sejak malam kelam di mansion Andika. Ayu masih ingat bagaimana ia menunggu kedatangan ayahnya yang tak kunjung datang, hingga kemudian ia mengalami fakta pahit bahwa ayahnya telah tiada di tangan orang-orang yang Pak Rio percayai dulu.

​"Mereka masih bilang Papa hilang karena mafia bisnis," bisik Ayu pedih. Setetes air mata jatuh ke piring nasi gorengnya.

"Mereka bahkan tidak memberikan hak Papa untuk dimakamkan dengan layak. Mereka menyembunyikan kematiannya seolah-olah Papa adalah sampah yang bisa dibuang begitu saja."

​Agung menghentikan makannya. Ia melihat luka yang begitu dalam di mata wanita di hadapannya. Ia mengulurkan tangan, ingin menyentuh tangan Ayu untuk menenangkan, namun ia ragu.

​"Andika dan ayahnya mengarang cerita itu untuk melindungi reputasi mereka, Ayu. Jika publik tahu ada orang meninggal di mansion mereka, seluruh imperium bisnisnya akan runtuh dalam semalam," jelas Agung dengan nada rendah.

"Tapi mereka lupa, tidak ada bangkai yang bisa disembunyikan selamanya."

​Ayu mendongak, matanya yang basah kini memancarkan kilatan kebencian yang tajam.

"Aku gak butuh mereka runtuh hanya karena masalah bisnis, Mas. Aku ingin mereka merasakan kehancuran yang sama seperti yang Papa rasakan. Kesepian, ketakutan, dan tanpa perlindungan."

​Agung mengangguk pelan, memahami bahwa sisi lembut Ayu yang tadi sempat muncul kini telah tertutup kembali oleh perisai dendam.

​"Kita akan melakukannya perlahan," ujar Agung serius.

"Aku punya akses ke dokumen pengiriman barang di pelabuhan milik keluarga Andika. Di sana ada bukti kuat tentang pencucian uang."

​Ayu menghapus air matanya dengan kasar. Ia tidak boleh lemah. Perhatian Agung, nasi goreng ini, dan suasana vintage yang manis ini hanyalah interupsi singkat. Fokus utamanya tetap sama, keadilan untuk Pak Rio.

​"Kapan kita bisa mulai mengambil dokumen itu?" tanya Ayu tanpa ragu.

​Agung menatapnya dalam, mengagumi sekaligus ngeri melihat transformasi Ayu yang begitu cepat dari gadis yang tersipu malu menjadi wanita penuh dendam.

"Minggu depan. Ada pesta di klub milik Andika. Dia pasti lengah di sana."

​Ayu menarik napas panjang, membiarkan kemarahan itu menjadi bahan bakar yang memacu adrenalinnya. Kelembutan yang tadi sempat meluluhkan dinding pertahanannya kini telah membeku kembali menjadi tekad yang keras.

​"Minggu depan," ulang Ayu dengan suara rendah namun tajam.

"Aku akan pastikan Andika gak akan pernah melupakan malam itu."

​Agung mengangguk, lalu ia berdiri dan merapikan jasnya.

"Ayo, Ayu. Ada sesuatu yang harus kita selesaikan sebelum rencana itu dimulai. Kamu gak bisa menghancurkan imperium besar dengan tangan kosong. Kamu butuh posisi, kekuatan, dan perlindungan hukum."

​Ayu mengikutinya keluar dari restoran. Selama perjalanan di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka. Bukan lagi keheningan yang canggung, melainkan keheningan dua orang prajurit yang sedang menuju medan perang.

​Mobil berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya matahari pagi. Agung melangkah masuk dengan aura otoritas yang kuat, sementara Ayu berjalan di sampingnya, mencoba menyamai langkah pria itu.

​Setiap karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat. Mereka sampai di lantai paling atas, di mana sebuah ruangan luas dengan pemandangan kota yang membentang menanti mereka.

​Agung berhenti di depan sebuah meja besar yang terbuat dari kayu mahoni gelap. Di atas meja itu, sudah terletak sebuah papan nama yang masih terbungkus rapi.

​"Mulai hari ini, kamu gak lagi bekerja di balik layar, Ayu," ujar Agung sambil membuka bungkus papan nama tersebut.

​Di sana terukir nama lengkap sebagai – Vice CEO.

​Ayu tertegun.

"Wakil CEO? Mas, ini terlalu besar. Aku pikir aku hanya akan menjadi asisten rahasiamu untuk mengawasi dokumen."

​"Tidak," potong Agung tegas. Ia menatap Ayu tepat di manik matanya.

"Untuk menjatuhkan Andika, kamu harus berdiri sejajar dengannya di mata publik. Dengan jabatan ini, kamu punya akses ke seluruh jaringan bisnis di kota ini. Kamu bisa masuk ke pertemuan-pertemuan tingkat tinggi di mana Andika berada tanpa dicurigai."

​Agung menyerahkan sebuah map hitam kepada Ayu.

"Ini adalah kontrak resminya. Aku udah memindahkan sebagian saham atas namamu sebagai jaminan posisi ini. Mulai detik ini, kamu adalah orang paling berkuasa kedua di perusahaan ini."

​Ayu menyentuh permukaan meja kerja barunya. Dingin, namun memberikan rasa aman yang ganjil. Ia membayangkan wajah Andika saat melihatnya nanti bukan sebagai wanita yatim piatu yang malang, melainkan sebagai pesaing tangguh yang memegang kendali atas ekonomi yang selama ini Andika puja.

​"Terima kasih, Mas Agung," ucap Ayu, suaranya kini tenang namun berwibawa.

"Aku akan menggunakan posisi ini untuk menarik mereka keluar dari lubang persembunyiannya."

​Agung tersenyum tipis, ada rasa bangga sekaligus waspada di hatinya.

"Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Wakil CEO."

BERSAMBUNG

1
Sunaryati
Ayu tidak akan oleh ulash licik dan balas dendam kamu Santi
Anonymous
semoga kejahatan Santi segera terbongkar dan kembali mendekam di penjara untuk selama-lamanya
Anonymous
makin kesini makin seru, salah satu novel yg seru di nt 😍
Anonymous
hahaha rasakan kamu santi
Anonymous
Santi ketar ketir
Anonymous
kurang ajar kamu Santi dasar penjahat. semoga kamu segera mendapatkan pembalasan yg setimpal
Anonymous
sialan kamu Santi dasar iblis jahat
Anonymous
rasakan kamu Santi, gak semudah itu kamu bisa mencelakai si cantik ayu
Anonymous
ayu kamu harus lebih waspada ya cantik
Annida Annida
lanjut
Sunaryati
Kau hanya mempercepat kematian kamu Santi, Andika bodoh mau saja diperdaya Santi, hanya akan ditinggalkan di hutan
Anonymous
hati-hati ayu
Sunaryati
Nikmatilah buah kekejaman kalian demi harta yang bukan miliknya
Nora Elvina
bagus
Sunaryati
Akhirnya semua orang yang menyakiti kamu memetik karmanya bahagialah Rahayu
Sunaryati
Keserakahan harta membuat Bu Citra hiang perikemanusiaan dan sekarang menghancurkan dirinya.
Anonymous
bagus ayu, akhirnya semua dendam kamu telah terbalaskan
Ma Em
Bagus Ayu beri hukuman yg sangat mengenaskan agar mereka mengingat waktu Ayu disiksa dan lecehkan begitu juga dgn Bu Citra sebagai otak kejahatan nya buat Bu Citra hukuman yg sangat mengerikan .
Anonymous
rasakan orang-orang jahat yg dulu jahat sama Ayu, kalian sedang menuai apa yg kalian lakukan
Ma Em
Semoga niat Santi untuk mencelakai Ayu berbalik pada Santi sendiri biar Santi jadi cacat dan hancur hidupnya seperti Santi menghancurkan Rahayu .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!