NovelToon NovelToon
TEROR DI ALAS PURWO

TEROR DI ALAS PURWO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Hari Kiamat / Evolusi dan Mutasi / Pusaka Ajaib
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.

Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.

Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.

Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabut Tebal

Amara yang merupakan ibu dari Sena terlihat mondar-mandir diruang kantornya.

Ia merasa cemas, sebab sudah hampir dua minggu puterinya tidak memberi kabar setelah kepergiannya bersama teman-teman kampusnya untuk mengunjungi hutan Alas Purwo.

"Mas, bagaimana? Apakah sudah ada kabar dari pihak pengelola?" tanya wanita itu pada sang suami yang baru saja memasuki ruang kerjanya.

Awan menggelengkan kepalanya. Ia sendiri terlihat sangat gelisah dan penuh rasa cemas. Bagaimana tidak, Sena yang merupakan puteri satu-satunya menghilang tanpa kabar berita.

Amara membolakan kedua matanya. Jantungnya seolah berhenti berdetak, dsn untuk sesaat dia seperti membeku, lalu mengatur nafasnya yang terasa tersengal. "Bagaimana bisa? Bukankah mereka seharusnya membiarkan para Tim SAR untuk mencari para korban yang hilang?"

Suasana hening sejenak. Awan sendiri tidak mengerti dengan apa yang akan ia jelaskan pada sang istri.

"Mas sudah melihatnya sendiri. Tempat penerimaan loket sudah tutup, semua terlihat sepi, dan juga berdebu," ia terlihat sangat berputus asa.

Tarikan nafasnya terasa berat, ia kembali mengingat beberapa jam yang lalu baru saja kembali dari Alas Purwo, dimana ia dan Tim SAR tidak menemukan tanda-tanda kehidupan disana. Semua sepi, dan bahkan rumah penduduk kosong, seperti desa mati, entah kemana para warganya, seolah ditinggal begitu saja.

"Tidak, Mas. Aku akan kesana. Aku harus menemukan Sena. Ini tidak benar. Bagaimana mungkin ia tidak ditemukan, bagaimanapun harus dicari." Amara tak lagi dapat membendung kegelisahannya.

Hatinya diliputi rasa was-was, dan juga takut tentang keberadaan puterinya.

Awan tersentak kaget. Ia merasa jika sang istri akan melakukan hal nekad lainnya, sebab sang istri jika sudah menyatakan sebuah keinginan, maka tidak dapat lagi dibantah.

"Kita hubungi Damkar saja, ataupun kita tambah lagi Tim Basarnas," saran Awan, ditengah rasa putus asanya.

Amara tak menjawab, ia beranjak dari tempatnya. Lalu berdiri tepat dihadapan sang suami, sembari melipat kedua tangannya didepan dada.

"Aku akan pergi ke sana, kalau mas ingin memanggil bantuan silahkan saja. Aku tak dapat tenang jika puteriku belum ada kabar," ucapnya, lalu berjalan meninggalkan Awan yang masih termangu.

"Sayang, kamu jangan nekad, kamu jangan pergi ke sana sendirian!" cegah Awan, tetapi Amara sudah membuka pintu, lalu keluar tanpa menoleh ke arahnya.

Sepeninggalan sang istri, Awan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa pusing dengan semuanya. Tetapi rasa khawatirnya cukup besar untuk istri dan puterinya.

Pria itu menghubungi pusat bantuan, untuk dikirimkan ke Alas Purwo, dan mencari sepuluh mahasiswa yang menghilang tanpa kabar.

****

Sebuah mobil berwarna silver berhenti didepan tepat didepan loket untuk biasanya mengambil tiket.

Ia memperhatikan sejenak, lalu turun dari mobil, dan pergi berjalan menghampiri bangunan permanen yang dibagian depan menggunakan kaca hitam tebal sebagai dinding.

Setiap pengunjung hanya dapat melihat bagian tangan kasir saja, sebab terhalang oleh kaca.

Wanita yang tak lain adalah Amara, menatap sekelilingnya, semua terlihat sunyi dan sepi.

"Kemana mereka pergi? Mengapa begini sunyi?" gumamnya dengan lirih.

Kondisi bangunan loket terlihat berdebu, seperti sudah lama tidak dihuni.

Rumah-rumah warga juga terlihat kosong, seperti tidak ada kehidupan.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" ia merasakan jika bulu kuduknya meremang. Sebuah perasaan yang tak biasa saat sosok makhluk tak kasat mata berada didekatnya, ia dapat merasakan kehadirannya.

Amara mengusap punggungnya yang meremang, ia merasa bergidik ngeri.

Ia membaca harga tiket yang tertera disebuah spanduk berbentuk persegi panjang, dan terpampang berdiri dengan menggunakan alat penyokong dari besi.

Ia membaca harga tiket tersebut, lalu memperhatikannya dengan seksama. Sesaat angin bertiup, dan membuatnya semakin merasakan hal yang begitu negatif.

"Aku harus masuk ke dalamnya, aku yakin Sena ada disana, mungkin saja sedang menantikan bantuan." ia menatap ke arah jalanan yang menuju ke gapura sebagai pintu gerbang perbatasan Taman Nasional menuju hutan Alas Purwo.

Gapura yang membentuk seperti candi dengan undakan hingga ujungnya. Lalu sebuah tulisan yang terbuat dari besi dan dilas memperlihatkan ucapan 'Selamat Datang Di Taman Nasional Hutan Alas Purwo'.

Amara diam bergeming. Tatapannya menatap ke arah gapura, yang mana jalan menuju ke arah hutan yang terbuat dari aspal tidak terlihat.

Dari gapura, terlihat kabut tebal menutupi area hutan, jarak pandang sangat terganggu, sehingga membuat Amara menatap dengan sangat dalam.

Ia menghela nafasnya dengan berat, lalu mulai melangkah secara perlahan.

Saat ujung kakinya menyentuh ambang pintu gapura, ia merasakan sebuah getaran yang sangat kuat.

Ketika diluar gapura terasa sunyi dan sepi, tetapi berbeda saat ia melangkah masuk.

Ia mendengar suara yang bising bagaikan berada disebuah pasar. Bahkan suara-suara orang sedang bertukang, seperti membangun sebuah bangunan yang cukup besar.

Kelebatan bayangan seperti melintas didepannya, tetapi ia tidak dapat menembusnya.

Hawa panas menguar diudara. Lalu aroma amis darah, bau singkong bakar dan juga aroma busuk menjadi satu.

Amara merasa jika kehadiran para makhluk tak kasat mata sedang mengintai dan mengawasinya.

Wanita berpakaian stelan celana itu mengedarkan pandangannya ke segala arah.

Ia benar merasa ada kehidupan yang lain di sebalik kabut tebal yang menutup hutan dengan cukup gelap.

Wuuuusss

"Hah!" Amara melihat ke arah sisi kiri, tempat dimana sesosok yang berkelebat dengan cepat dan kembali menghilang ditengah kabut yang cukup tebal.

Deeeegh

Deguban dijantung Amara memburu. Ia merasakan jika ia benar-benar sedang dipantau.

Ia mengatur nafasnya yang tiba-tiba tersengal akibat degupan jantungnya yang memburu terlalu cepat.

Ia menelan salivanya. Lalu merasakan jika bulu kuduknya mulai meremang

Ia masih mengingat perkataan suaminya seminggu yang lalu, dimana mengatakan, jika mereka tak menemukan apapun dihutan Alas Purwo.

Bahkan dinyatakan jika Taman Nasional itu sudah ditutup, dan tidak mungkin kesepuluh mahasiswa itu melakukan wisata spritual ke dalamnya.

Bahkan para Tim bantuan sudah menyisir lokasi hutan, tapi justru mereka yang juga ikut menghilang, sehingga pencarian dihentikan.

Setelah pencarian dihentikan, Amara kembali mengirimkan tim pencari korban yang ia bayar cukup mahal, tetapi juga tetap sia-sia.

Kali ini, ia ingin melakukan pencarian itu sendiri, sebab nalurinya terlalu kuat untuk menyelamatkan putrinya.

Amara kembali melangkah, meskipun ia saat ini sedang dilanda cemas, tetapi tekadnya cukup kuat.

Hingga tanpa sengaja, ia melihat kabut yang berbentuk seperti sebuah lubang diujung sana.

Amara merasa jika itu adalah masuk menuju ke sebuah tempat, tetapi ia tidak tahu itu mengarahkannya kemana.

Wanita itu mempercepat langkahnya, dan lubang kecil yang terbuat dari kabut tersebut semakin dekat, membuat Amara semakin merasa penasaran.

Ia semakin mendengar suara-suara yang tidak jelas, tetapi ada sebuah teriakan, dan suara itu seperti sangat ia kenal.

"Sena," bisiknya dengan nada lirih.

1
rajes salam lubis
lanjut
rajes salam lubis
tetap semangat
rajes salam lubis
ok
rajes salam lubis
lanjut lanjut
rajes salam lubis
lanjut
V3
si Gemet mpe Emosi menghadapi Sena ,,, tp ttp ja gak bisa kasar sama Sena ,, Sena itu lain dari pada yg lain kata si Gemet ,,, Wanita Istimewa 🤣
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Ai Emy Ningrum: krn wanita ingin dimengerti 😽😽
total 1 replies
Desyi Alawiyah
Kasihan keluarganya yah... Pasti mereka sedih dan khawatir karena anak-anak mereka belum pulang ke rumah.. 😢

Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏
Ai Emy Ningrum: semoga aja yah..itu mah gmn author nya ajah
total 1 replies
neni nuraeni
semoga mereka bebas,,,
kinoy
kpn klrnya ya ALLAH
V3
semoga Axel mampoes lah biar musuhnya berkurang satu 🤣
V3
aiiiiiihh ..... aku bacanya deg degan bgt loch 😱😱😱
V3
ruangan bawah tanah itu psti ruangan dmna para wanita yg HBS di tunggangi oleh si gemet 🤣🤣
V3
gsah berharap pingsan ja lah ,, si Alessa Mati jg gpa² ,,,, kn penyebab nya adalah Dia 🤬😡
neni nuraeni
ayo sena bebaskn mereka dan berhati" lah
V3
yaaa ... Naura trnyata sdh minum dn makan makanan nya ,,, apa yg terjadi PD Naura yaaa selanjutnya ❓
V3
berarti kalau di pukul kepalanya bakalan sadar donk yaaa spt Kael ,, walaupun bentuk tubuh nya belum berubah mjd manusia seutuhnya 🤔
V3: getok nya pke palu yaa kak terutama buat si Alessa dan Axel 🤣
total 2 replies
Nurr Tika
hati hati sena,lanjut
Desyi Alawiyah
Lanjut Kak.. 😆🙏
rajes salam lubis
waddidAww
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
seru yaa tp kek mana mau gambil lha wong keris e menancap di kepala ular trus piye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!