Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manja
Bukan hanya satu porsi Bakmi yang Maura bawakan melainkan beberapa porsi Bakmi untuk orang di rumah Radit. Maura pun membayar beberapa porsi Bakmi nya pada Sang Ayah. Walaupun sempat ada perdebatan karena Pak Budi tidak ingin putri nya membayar namun Maura tetep bersikukuh untuk membayar Bakmi nya.
Karena menurut Maura bisnis is bisnis jadi maura tetap ingin membayarnya. Jadilah mereka berdua deal dengan potongan harga. Maura hanya membayar hampir setengahnya dari total yang harus di bayarkan. Pak Budi sangat bangga dengan putrinya yang tak seenaknya dengan usaha orang tua.
"Ini nanti minta Bibi untuk di hangatkan dulu ya." Pesan Maura pada Radit.
"Kok banyak banget Bakmi nya?" Tanya Radit yang melihat banyaknya Bakmi yang Maura bawa.
"Sekalian buat yang lain juga Mas. Nanti kalo ngga abis bisa di simpen di kulkas." Maura.
"Terima kasih ya.." Ucap Radit.
"Sama-sama. Udah sana gih keburu Oma nunggu lama." Maura.
"Ya Tuhan,,, apa salah ku sampai-sampai aku di usir perempuan cantik ini." Ucap Radit berpura-pura sedih.
"Ih,, ga usah gombal ngga mempan. Ngga pantes juga." Ucap Maura cemberut.
"Aku itu masih kangen loh, udah di usir aja." Radit.
"Apaan sih Mas." Elak Maura dengan pipi yang sudah memerah.
"Ikut aja yuk." Ajak Radit.
"Maass,,, jangan macem-macem deh. Besok aku kerja loh." Rengek Maura manja.
Manja nya Maura yang tiba-tiba dan tanpa di buat-buat membuat Radit semakin jatuh hati. Radit harap manjanya Maura hanya padanya. Dan Radit selalu ingin menjadi yang pertama buat Maura. Ingin menjadi tempatnya pulang.
"Ya udah sana masuk Mas pamit ibu sama Ayah dulu." Pamit Radit.
Namun, bukannya masuk Maura malah mengikuti kemampuan Radit melangkah dan menunggu hingga mobil Radit meninggalkan pelataran rumah orang tuanya setelah mobil Radit tak terlihat barulah Maura masuk ke dalam rumah.
Maulida yang memperhatikan Kakak nya dan Radit hanya tersenyum-senyum. Maulida merasa bahagia ketika melihat Kakaknya bahagia.
"Hm... Ada yang seneng nih seharian berduaan." Ledek Maulida.
"Adeekk..." Rengek Maura.
"Begitu dong Kak bahagia jangan sedih terus." Maulida.
"Aaa... Adeekk..." Tangis Maura pun pecah menghambur memeluk Maulida.
Tepat saat Maura menangis dalam pelukan Maulida Ibu Tias memasuki rumah dan terkejut melihat putri sulungnya menangis di pelukan Maulida. Sempat tertegun sebentar kemudian Ibu Tias bertanya kepada ke dua putrinya.
"Ini ada apa? Kenapa Kakak menangis?" Tanya Bu Tias.
Muara melepaskan pelukannya pada Maulida dan menghambur memeluk Bu Tias di susul oleh Maulida yang memeluk keduanya.
"Terima kasih Bu. Ibu sama Ayah sudah pilih Lala jadi anak kalian. Kalo bukan kalian yang jadi orang tua Lala, Lala ngga tau Lala bisa atau ngga menghadapi setiap ujian Tuhan. Terima kasih Bu. Terima kasih juga karena telah menghadirkan Lida sebagai adik Lala yang membuat Lala semakin kuat dalam menghadapi apapun." Ucap Maura dalam pelukan Ibu Tias.
"Terima kasih juga karena Kakak mau memilih kami sebagai orang tua Kakak. Kakak dan adik sumber kekuatan dan kebahagiaan buat Ayah sama Ibu. Jadi, kalian harus bahagia jika Tuhan meridhoi kalian harus bisa lebih bahagia daripada kami." Bu Tias.
"Terima kasih Ibu terima kasih Kakak. Lida sayang kalian semua. Jangan pernah tinggalin Lida ya." Maulida.
"Eh, kalian belum mandi ini?" Tanya Ibu Tias.
"Belum." Jawab Maura dan Maulida bersamaan.
"Ya ampun pantes dari tadi Ibu cium bau apa gitu." Goda Bu Tias.
"Ibuuu..."
Jangan sedih sedih ya... Jangan lupa bahagia...