NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Dalam Gelap

Matahari terbenam, tapi Vittoria belum pulang. Dia diundang makan malam. Lagi. Dan kali ini, Ciarán pulang tepat waktu.

Aku berada di sudut ruang keluarga, di dekat meja bar, berpura-pura sibuk mengatur gelas-gelas kristal yang tidak perlu diatur. Sebenarnya, aku sedang menguping. Aku sedang menunggu vonis.

Ciarán masuk, masih mengenakan setelan jas kerjanya. Dia terlihat lelah, tapi dia menyapa Vittoria dengan ciuman sopan di punggung tangan.

Julian duduk di kursi berlengan kulitnya, cerutu di tangan, wajahnya berseri-seri. "Duduklah, Ciarán. Vittoria dan aku baru saja melihat kalender."

Ciarán melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa di seberang mereka. Dia tidak menatapku, meskipun aku berdiri hanya lima meter darinya.

"Kalender untuk apa?" tanyanya datar, menerima gelas scotch yang disodorkan Eleanor.

"Pertunangan, tentu saja," jawab Vittoria. Dia tersenyum, tidak malu-malu, tapi percaya diri. "Ayahku ingin pesta diadakan sebelum musim dingin. Dia bilang cuaca di Milan bulan depan sangat buruk untuk resepsi outdoor."

"Milan?" Ciarán mengangkat alis. "Aku pikir kita sepakat di sini."

"Resepsi kedua di sini," koreksi Julian cepat. "Pemberkatan di Katedral Milan. Itu tradisi keluarga Russo. Kau tidak bisa menolaknya."

Ciarán menyesap minumannya. Dia memutar gelas di tangannya, menatap cairan amber itu seolah mencari jawaban di sana.

"Kapan?" tanyanya.

Satu kata itu membuat tanganku yang sedang memegang botol wine membeku.

"Tanggal 15 bulan depan," kata Julian tegas. "Tiga minggu dari sekarang."

Tiga minggu.

Dua puluh satu hari.

Itu waktu yang tersisa sebelum Ciarán resmi diikat dengan wanita lain. Sebelum aku resmi menjadi... selingan yang tidak berarti.

Aku menunggu Ciarán menolak. Aku menunggu dia bilang itu terlalu cepat. Aku menunggu dia bilang dia butuh waktu.

Tapi Ciarán hanya mengangguk pelan.

"Tanggal 15," gumamnya, seolah sedang menghitung jadwal rapat. "Itu setelah penutupan kuartal ketiga. Jadwalku kosong. Baiklah."

Baiklah.

Hanya itu.

Dia menyetujui pernikahan seolah dia menyetujui pengiriman kargo. Tidak ada emosi. Tidak ada keraguan. Hanya pragmatisme murni yang dingin.

"Bagus!" seru Julian, menepuk lututnya senang. "Vittoria, hubungi wedding planner-mu. Katakan pada Alessandro kita sudah sepakat."

Vittoria tersenyum lebar, menatap Ciarán dengan binar mata bahagia. "Ini akan sempurna, Ciarán. Kau akan lihat."

Di sudut ruangan, aku menuang wine ke dalam gelas.

Tanganku gemetar hebat. Cairan merah gelap itu tumpah sedikit, menodai taplak meja putih. Noda merah yang menyebar seperti darah.

Tik. Tok.

Jam dinding besar di pojok ruangan berdetak.

Tik. Tok.

Suaranya biasanya menenangkan. Tapi malam ini, suara itu berubah.

Setiap detikan terasa seperti hitungan mundur bom waktu. Bom yang dipasang tepat di jantungku.

Tiga minggu.

Waktu terus berjalan, memangkas sisa harapanku detik demi detik.

Ciarán tidak menoleh padaku. Dia sibuk mendengarkan rencana Vittoria tentang bunga dan orkestra. Dia sudah melupakanku. Dia sudah melupakan janji tak terucap di antara kami saat dia merawat lukaku.

Dia memilih logika. Dia memilih emas.

Aku meletakkan botol wine itu dengan hati-hati agar tidak pecah.

Di dalam dadaku, sesuatu yang gelap dan nekat mulai tumbuh. Sesuatu yang berbisik bahwa jika aku tidak bisa menghentikan waktu... maka aku harus meledakkan jamnya.

***

Malam itu, tidur adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli.

Jam dinding digital di nakas menunjukkan pukul 02.15 pagi.

Tiga minggu.

Angka itu berputar-putar di kepalaku seperti mantra kutukan yang tak henti-hentinya. Dua puluh satu hari lagi sebelum Ciarán resmi menjadi milik Vittoria. Dua puluh satu hari lagi sebelum aku kehilangan satu-satunya jangkar yang menahanku di dunia ini.

Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat wajah Vittoria yang bersinar. Aku melihat senyumnya yang sempurna, gaun emasnya, dan bagaimana dia meletakkan tangannya di lengan Ciarán dengan hak kepemilikan yang sah.

Selimut sutra terasa panas dan mencekik. Rasanya seperti dibungkus kain kafan.

Aku menendangnya, bangkit dari tempat tidur dengan napas tersengal. Aku butuh air. Aku butuh bergerak. Aku butuh apa saja selain berbaring diam menunggu eksekusi.

Aku menyambar robe panjangku, mengikatnya erat di pinggang, dan melangkah keluar kamar.

Mansion Vane di malam hari adalah labirin bayangan. Lorong-lorong panjang yang sunyi biasanya menakutkan, dengan mata lukisan leluhur yang seolah mengikuti setiap gerakanku. Tapi malam ini, hantu-hantu di kepalaku jauh lebih menakutkan daripada hantu leluhur di dinding.

Aku berjalan tanpa tujuan, membiarkan kakiku membawaku menjauh dari kamarku yang menyesakkan. Tanpa sadar, aku berbelok ke sayap timur, bagian rumah yang jarang kumasuki. Ini adalah wilayah pribadi Lucas dan Julian. Udaranya di sini lebih dingin, berbau lilin tua dan poles furnitur yang tajam.

Tiba-tiba, langkahku terhenti.

Ada suara.

Bukan suara angin yang menderu di jendela, bukan pula suara tikus di dalam dinding.

Itu suara benda jatuh. Brak. Diikuti oleh sumpah serapah tertahan yang mendesis kasar.

"Sialan! Di mana?!"

Suara itu datang dari balik pintu ganda yang terbuat dari kayu oak gelap di ujung lorong. Ruang kerja pribadi Lucas Vane.

Aku mengernyit.

Aneh. Lucas bukan tipe pekerja keras yang lembur sampai pagi mengurus dokumen perusahaan. Dia lebih suka menghabiskan malamnya di klub malam eksklusif, menghamburkan uang ayahnya, atau pingsan karena mabuk di sofa ruang tamu. Jika dia ada di rumah jam segini dan masih sadar, itu adalah anomali.

Tapi suara di dalam sana terdengar... panik.

"Mana... di mana file bajingan itu..." gumam suara Lucas lagi, kali ini lebih jelas. Suaranya bergetar, sarat dengan frustrasi dan ketakutan.

Aku menahan napas, menempelkan punggungku ke dinding lorong, menyatu dengan bayangan.

Suara laci ditarik keluar dengan kasar hingga hampir lepas dari relnya. Suara kertas-kertas dibalik dengan brutal.

"Ayolah... jangan bilang aku meninggalkannya di kantor... Mati aku..."

Firasatku menajam. Bulu kudukku merinding, tapi bukan karena takut.

Ini bukan sekadar orang mabuk yang mencari kunci mobil atau simpanan alkohol. Nada suaranya penuh urgensi. Penuh teror. Ketakutan yang sama dengan yang kulihat di wajahnya saat harga saham anjlok di meja makan beberapa minggu lalu.

Sesuatu sedang terjadi di dalam sana. Sesuatu yang Lucas sembunyikan mati-matian. Sesuatu yang membuatnya panik di tengah malam buta.

Dan dalam kegelapan malam itu, sebuah pikiran licik muncul di benakku. Sebuah peluang.

Selama ini aku merasa tidak berguna. Aku merasa hanya menjadi beban bagi Ciarán, seorang parasit yang numpang hidup. Vittoria bisa memberinya saham dan kapal. Apa yang bisa kuberikan?

Informasi.

Jika Lucas menyembunyikan sesuatu dari ayahnya, dan terutama dari Ciarán... maka itu adalah senjata.

Aku melepaskan sandalku agar langkahku benar-benar senyap. Dengan hati-hati, aku merayap mendekati pintu ruang kerja itu, menempelkan telingaku ke kayu dingin, bersiap untuk mendengarkan dosa apa yang sedang dilakukan oleh kakak tertua Vane.

1
Fauziah Rahma
bertahan hidup seperti parasit, parasit mutualisme, semoga saja
Sha_riesha
aku tak pernah mau baca novel yang masih on going tapi entahlah novel ini punya magnet kuat banget yang bikin aku bolak balik ngecek udah up lagi apa belum 😍
Sha_riesha: 😭 sebenernya aku gak suka banget dibuat penasaran. nungguin up nya mana lama lagi 😭😭😭
total 2 replies
Sha_riesha
❤️🙏
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!