Di tengah gelapnya dunia malam, seorang Gus menemukan cahaya yang tak pernah ia duga dalam diri seorang pelacur termahal bernama Ayesha.
Arsha, lelaki saleh yang tak pernah bersentuhan dengan wanita, justru jatuh cinta pada perempuan yang hidup dari dosa dan luka. Ia rela mengorbankan ratusan juta demi menebus Ayesha dari dunia kelam itu. Bukan untuk memilikinya, tetapi untuk menyelamatkannya.
Keputusannya memicu amarah orang tua dan mengguncang nama besar keluarga sang Kiyai ternama di kota itu. Seorang Gus yang ingin menikahi pelacur? Itu adalah aib yang tak termaafkan.
Namun cinta Arsha bukan cinta biasa. Cintanya yang untuk menuntun, merawat, dan membimbing. Cinta yang membuat Ayesha menemukan Tuhan kembali, dan dirinya sendiri.
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang dipertemukan di tempat paling gelap, namun justru belajar menemukan cahaya yang tak pernah mereka bayangkan.
Gimana kisah kelanjutannya, kita simak kisah mereka di cerita Novel => Cinta Seorang Gus.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam di Jakarta terasa lebih panjang bagi Ayesha. Di atas meja rias yang biasanya penuh dengan kosmetik mahal, kini tersaji kotak kayu cendana dari Abah Arsha. Aroma harumnya memenuhi ruangan, seolah sedang bertarung dengan bau alkohol dan asap rokok yang mungkin masih tertinggal di sudut-sudut memori apartemen itu.
Ayesha tidak bisa tidur. Ia terus memandangi tasbih putih pemberian Ummi Halimah. Di kepalanya, suara Jefry dan Arsha beradu.
"Kamu itu wanita rusak !" teriak suara Jefry.
"Islam adalah rumah bagi mereka yang ingin pulang," bisik suara Arsha.
Pukul tiga dini hari, Ayesha melangkah ke kamar mandi. Ia melakukan apa yang pernah diajarkan Arsha lewat telepon. Membasuh wajah, tangan, hingga kaki. Ia tidak tahu apakah wudhunya sah, tapi ia merasa setiap tetes air yang jatuh ke kulitnya sedang mencoba meluruhkan dosa-dosa masa lalunya yang pekat.
Pagi harinya, Arsha sudah menunggu di lobi apartemen. Wajahnya tampak segar meski ia hanya tidur sebentar di dalam mobilnya. Saat melihat Ayesha turun dengan mengenakan gamis sederhana dan kerudung yang masih agak berantakan cara pemakaiannya, Arsha menunduk dalam.
"Sudah siap?" tanya Arsha lembut.
Ayesha mengangguk, namun tangannya gemetar hebat. "Arsha... bagaimana jika Tuhan tetap tidak mau menerimaku? Bagaimana jika hatiku terlalu kotor untuk menyebut nama-Nya?"
Arsha menatap aspal di depannya. "Yesha, matahari tidak pernah bertanya seberapa gelap malam yang ia gantikan. Ia hanya terbit. Begitu juga hidayah. Jangan beri ruang untuk keraguan yang diciptakan setan."
~~
Kini mereka sudah sampai di Masjid Agung. Suasana tenang dan megah masjid itu membuat jantung Ayesha berdegup kencang. Di dalam, seorang Ustaz sepuh sudah menunggu. Arsha duduk agak jauh, memberikan ruang bagi Ayesha untuk berhadapan dengan sang Ustaz.
"Ananda Ayesha," ujar Ustaz itu ramah. "Masuk Islam bukan berarti bebanmu hilang, tapi kini kamu punya sandaran untuk memikulnya. Apakah kamu bersedia?"
Ayesha menarik napas panjang. Ia menoleh ke arah Arsha. Pemuda itu hanya mengangguk pelan, memberikan kekuatan lewat tatapan matanya. Ayesha memejamkan mata, membiarkan air mata pertama jatuh.
"Asyhadu..." suara Ayesha tercekat.
Ia teringat panggung kelab malam, ia teringat wajah ibunya yang kecewa di kampung, ia teringat setiap hinaan yang pernah diterimanya. Ia merasa seolah ada tangan-tangan hitam yang mencoba menarik lidahnya agar tidak berucap.
"Asyhadu alla ilaha illallah..." Seketika, dadanya terasa lapang seolah beban berton-ton terangkat.
"Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah."
Saat kalimat itu selesai, Ayesha tersungkur dalam sujud. Ia menangis sejadi-jadinya. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis seorang tawanan yang baru saja dibebaskan. Arsha yang melihat dari kejauhan turut memejamkan mata, bibirnya tak henti mengucap hamdalah. Satu tugas besarnya telah selesai. Namun, ia tidak tahu bahwa di luar masjid, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Baru saja Ayesha keluar dari masjid dengan perasaan suci, sebuah pemandangan mengerikan menyambut mereka di area parkir. Bukan Jefry yang datang kali ini, melainkan puluhan wartawan infotainment dan fotografer yang sudah mengepung mobil Arsha.
Kamera-kamera menyala. Lampu flash menyilaukan mata.
"Ayesha! Apakah benar kamu masuk Islam hanya untuk menutupi skandal video syur yang baru beredar?"
"Ayesha, siapa pria bersarung ini? Apakah dia selingkuhanmu yang membuatmu meninggalkan kontrak dengan Jefry?"
"Apakah ini strategi marketing untuk menaikkan citramu yang sudah hancur?"
Ayesha membeku. Kakinya lemas. Video syur? Skandal? Ia tidak tahu apa-apa.
Dari kejauhan, di dalam sebuah mobil sedan hitam, Jefry tersenyum puas sambil memegang ponselnya. Ia baru saja menyebarkan potongan video lama Ayesha saat masih bekerja di dunia malam, yang telah diedit sedemikian rupa hingga tampak sangat vulgar, dan mengirimkannya ke seluruh relasi media.
"Jika aku tidak bisa memilikimu sebagai aset, maka aku akan menghancurkanmu sebagai manusia," gumam Jefry kejam.
Arsha segera melangkah maju. Ia melepaskan jas luar yang ia kenakan dan menyampirkannya ke kepala Ayesha untuk menutupi wajah wanita itu dari jepretan kamera.
"Jangan dengarkan, Yesha. Terus jalan ke mobil," bisik Arsha tegas.
"Arsha, mereka bicara apa? Video apa?" suara Ayesha histeris di balik jas Arsha.
"Nanti kita bicarakan. Sekarang, percaya padaku."
Para wartawan semakin beringas. Seseorang bahkan menarik ujung jilbab Ayesha agar wajahnya terlihat di kamera. Arsha yang biasanya tenang, kini merasakan darahnya mendidih. Ia pasang badan, lengannya menahan kerumunan itu dengan tenaga yang kuat.
"Minggir!" bentak Arsha. Suaranya menggelegar, membuat beberapa wartawan terdiam sesaat karena wibawa yang luar biasa. "Kalian bicara soal kehormatan? Dimana kehormatan kalian saat mengusik seseorang yang baru saja ingin memperbaiki hidupnya?"
Mereka akhirnya berhasil masuk ke mobil. Arsha segera mengunci pintu dan memacu mobilnya keluar dari area masjid. Ayesha meringkuk di kursi penumpang, tubuhnya gemetar hebat. Ia meraih ponselnya, dan jantungnya seakan berhenti detak.
Berita utamanya adalah - "*Mantan Ratu Dunia Malam Masuk Islam Setelah Video Syur Tersebar. Hanya Pengalihan Isu* ?"
Di bawah berita itu, ribuan komentar menghujat.
"*Pura-pura alim* !"
"*Malu-maluin agama* !"
"*Pasti laki-laki itu cuma mau hartanya atau cuma nafsu* !"
Ayesha melempar ponselnya ke lantai mobil. "Arsha, hentikan mobilnya! Turunkan aku! Mereka benar, aku hanya akan merusak namamu, merusak nama pesantrenmu! Lihat apa yang mereka katakan tentangmu!"
Arsha tidak menghentikan mobil. Ia terus melaju kencang menuju daerah pinggiran Jakarta, arah tanah warisan Abahnya.
"Ayesha, lihat aku!" Arsha bersuara lantang namun penuh kasih. "Dunia memang akan membencimu saat kamu berbalik arah menuju Tuhan. Itu adalah tanda bahwa jalan yang kamu ambil sudah benar. Setan tidak akan mengganggu orang yang sudah ada di sisinya, ia hanya akan menyerang mereka yang mencoba lari!"
"Tapi namamu, Arsha! Abahmu! Jika berita ini sampai ke Jombang, pesantren Al-Falah akan hancur!" tangis Ayesha pecah.
Arsha terdiam sejenak. Ia tahu Ayesha benar. Kabar ini akan sampai ke telinga Abah dalam hitungan jam. Dan di sana, martabat adalah segalanya. Namun, Arsha sudah menetapkan hati.
"Jika pesantren itu hancur hanya karena seorang anak manusia mencoba bertaubat, maka mungkin selama ini kita salah memahami arti pesantren," jawab Arsha lirih. "Tanah yang akan kita tuju ini... adalah tempat kita membangun benteng. Biarkan mereka berteriak di luar sana. Di sini, hanya ada kamu, aku, dan Tuhan."
Benar saja, ponsel Arsha bergetar. Nama 'Abah' muncul di layar. Arsha menarik napas panjang dan mengangkatnya dengan loudspeaker.
"Arsha," suara Kiai Hafidz terdengar sangat berat di seberang sana. "Ummi pingsan setelah melihat berita di televisi. Orang-orang di desa mulai berbisik. Para wali santri menuntut penjelasan."
Ayesha menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan isak tangis agar tidak terdengar oleh sang Kiai.
"Abah... semua itu fitnah yang dibuat Jefry," jawab Arsha tenang namun tegas.
"Abah tahu itu fitnah, Arsha. Abah tahu mata anakku tidak akan salah memilih wanita. Tapi dunia tidak mau tahu kebenaran, mereka hanya mau tahu tontonan," Kiai Hafidz terdiam sejenak. "Arsha... jika kamu terus bersamanya sekarang, kamu tidak akan bisa pulang ke Jombang untuk waktu yang lama. Kamu akan kehilangan hakmu di pesantren ini demi melindunginya. Apa kamu sanggup?"
Arsha menatap Ayesha yang kini menatapnya dengan mata penuh permohonan agar Arsha meninggalkannya saja demi kebaikan pemuda itu.
Arsha tersenyum tipis ke arah Ayesha, lalu menjawab ke ponselnya, "Abah, bukankah Abah yang mengajariku bahwa satu jiwa yang kembali kepada Allah lebih berharga daripada seluruh isi dunia? Jika harga untuk menjaga jiwa Ayesha adalah kehilangan gelar Gus dan tempat di pesantren, maka Arsha ikhlas. Mohon doa restu Abah, Arsha akan mulai mencangkul di tanah warisan kakek mulai besok."
Hening di seberang telepon. Terdengar suara isak tangis Ummi Halimah yang ternyata sudah sadar di samping Abah.
"Jaga dia, Nak," suara Ummi Halimah terdengar parau. "Jangan biarkan dia merasa sendirian. Jika dunia membuangnya, katakan padanya bahwa di sini, ada seorang Ibu yang selalu menunggunya pulang untuk mencuci mukenanya."
Telepon tertutup.
Ayesha tak kuat lagi. Ia bersujud di atas dasbor mobil, menangis sejadi-jadinya. Ketulusan keluarga Arsha meruntuhkan seluruh tembok pertahanannya. Di saat dunianya yang dulu mencoba menghancurkannya, orang-orang yang baru ia kenal justru menjadi tameng yang tak tergoyahkan.
Mobil itu akhirnya sampai di sebuah lahan kosong dengan sebuah bangunan semi-permanen kecil di pinggiran Jakarta. Jauh dari kemewahan, jauh dari keramaian.
"Kita sampai," ujar Arsha.
Ia keluar, membuka bagasi, dan mengeluarkan koper hitamnya serta kotak kayu cendana itu. Ia memandang langit Jakarta yang mulai jingga.
"Mulai hari ini, tidak ada lagi Ayesha sang bintang panggung. Yang ada hanyalah Ayesha yang sedang belajar menjadi hamba," Arsha mengulurkan sebuah kunci tua pada Ayesha. "Dan aku... aku hanya kuli yang akan membangun surga kecilmu di sini."
Namun, di kejauhan, sebuah mobil hitam tampak terparkir di bawah pohon rindang, mengawasi mereka. Jefry belum selesai. Ia tidak akan membiarkan mereka bahagia semudah itu. Rencana jahat berikutnya sudah tersusun.
Ia akan melaporkan Arsha dengan tuduhan penculikan dan pencucian otak terhadap anak di bawah umur - mengingat kontrak Ayesha dibuat saat ia baru menginjak usia dewasa awal dan Jefry memanipulasi datanya.
Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Antara hukum manusia yang korup dan hukum langit yang tak pernah tidur.
...----------------...
**Next Episode**.....
duh Gusti nu maha agung.... selamatkan keduanya.