Elena hanya ingin menguji. Setelah terbuai kata-kata manis dari seorang duda bernama Rd. Arya Arsya yang memiliki nama asli Panji Asmara. Elena melancarkan ujian kesetiaan kecil, yaitu mengirim foto pribadinya yang tak jujur.
Namun, pengakuan tulusnya disambut dengan tindakan memblokir akun whattsaap, juga akun facebook Elena. Meskipun tindakan memblokir itu bagi Elena sia-sia karena ia tetap tahu setiap postingan dan komentar Panji di media sosial.
Bagi Panji Asmara, ketidakjujuran adalah alarm bahaya yang menyakitkan, karena dipicu oleh trauma masa lalunya yang ditinggalkan oleh istri yang menuduhnya berselingkuh dengan ibu mertua. Ia memilih Ratu Widaningsih Asmara, seorang janda anggun yang taktis dan dewasa, juga seorang dosen sebagai pelabuhan baru.
Mengetahui semua itu, luka Elena berubah menjadi bara dendam yang berkobar. Tapi apakah dendam akan terasa lebih manis dari cinta? Dan bisakah seorang janda meninggalkan jejak pembalasan di jantung duda yang traumatis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Jantung Dua Jiwa
Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan besi yang menyengat. Di pinggiran kota Sumedang yang luluh lantak, waktu seolah berhenti. Panji berdiri terpaku, membiarkan lututnya terendam air laut yang dingin. Matanya tak lepas dari sosok wanita di depannya.
Wajah itu adalah wajah Elena. Alis yang tegas, tahi lalat kecil di dekat telinga, dan binar mata cokelat yang selalu menjadi pelabuhannya. Namun, tatapan itu bukan milik Elena. Ada sesuatu yang tajam, dingin, dan penuh perhitungan di sana, sesuatu yang sangat dikenal Panji dari masa lalunya yang paling kelam.
"Renata...?" suara Panji nyaris hilang ditelan deburan ombak.
Wanita itu tertawa kecil. Suaranya merdu, namun ada gema aneh di belakangnya, seolah-olah ada dua orang yang berbicara secara bersamaan.
"Elena sangat mencintaimu, Panji. Dia begitu berisik di dalam sini, terus-menerus memanggil namamu saat jiwanya mulai retak di ruang kendali tadi."
Wanita itu melangkah maju, membiarkan gaun putihnya terseret di pasir basah.
"Tapi hatinya terlalu lemah untuk menampung realita. Jadi, aku membantunya. Aku memberinya tempat untuk bersembunyi, dan dia memberiku kunci untuk kembali."
"Apa yang kamu lakukan pada Elena?!" teriak Panji. Dia ingin berlari memeluknya, tapi instingnya berteriak untuk menjauh.
"Keluar dari tubuhnya, Renata! Kamu sudah pergi dari hidupku sejak sebelas tahun yang lalu!"
"Pergi? Nggak ada yang benar-benar mati dalam jaringan Thomas, Sayang," Renata, yang ada dalam tubuh Elena, menyentuh dadanya.
"Kami hanya dipecah menjadi bit dan byte. Ayah Elena pikir dia mengirim virus untuk menghapus kami. Padahal, dia baru saja membuka pintu kandang. EMP itu tidak menghancurkan kami, dia hanya memutus rantai digital yang menahan kami di server, lalu memaksa kami mencari inang biologis yang kompatibel."
Di belakang Renata, ribuan orang yang keluar dari laut mulai memenuhi pantai. Pemandangan itu lebih mengerikan daripada serangan robot manapun. Mereka berjalan dengan kaku, namun mata mereka penuh dengan kesadaran. Ada anak-anak yang mencari orang tua mereka, suami yang memeluk istri yang sudah menjanda bertahun-tahun. Reuni massal yang seharusnya indah, namun terasa hambar karena kulit mereka sepucat kertas dan suhu tubuh mereka di bawah normal.
Sari dan Bram mendekat dengan senjata terangkat, namun tangan mereka gemetar.
"Panji, menjauh darinya!" teriak Sari.
"Sensor biometrikku kacau. Dia... dia punya dua pola gelombang otak dalam satu tengkorak!"
Renata menoleh ke arah Sari, matanya berkilat ungu sesaat.
"Halo, Sari. Masih hobi mengintip rahasia orang lewat layar, ya? Hati-hati, rahasia bisa membunuhmu."
Tiba-tiba, dari kerumunan orang-orang yang bangkit, seorang pria paruh baya melangkah maju. Dia mengenakan jas lab yang sudah compang-camping. Wajahnya penuh luka bakar, tapi senyumnya sangat hangat.
"Profesor Widjaja?" gumam Bram, menurunkan senjatanya. "Tapi... kami melihat kapsul kamu meledak."
"Aku selamat, Nak," suara sang Profesor terdengar parau. Dia berjalan mendekati Elena atau Renata. "Putriku... Elena, kamu berhasil. Kita berhasil membawa mereka kembali."
Panji melihat sesuatu yang salah. Profesor Widjaja nggak menatap Renata dengan rasa takut atau curiga. Dia menatapnya dengan rasa bangga. Pemujaan.
"Tunggu dulu," Panji menatap sang Profesor dengan tajam. "Kamu nggak terkejut melihat Renata di dalam tubuh putri Kamu? Kamu tahu ini akan terjadi?"
Profesor Widjaja menghentikan langkahnya. Dia menatap Panji, lalu ke arah laut.
"Kematian adalah kegagalan evolusi, Panji. Thomas ingin mengubah kita jadi mesin, itu salah. Tapi aku... aku ingin mengubah kita menjadi abadi dalam daging. Renata adalah prototipe pertama yang berhasil melakukan migrasi jiwa secara sempurna. Elena bukan korban. Dia adalah persembahan."
Dunia Panji runtuh seketika. Pahlawan yang mereka puja, ayah yang dicari Elena sampai ke ujung dunia, ternyata adalah arsitek dari mimpi buruk ini.
"Kenapa?" bisik Panji. "Elena sangat memercayaimu. Dia rela mati untukmu!"
"Dan dia memang mati untukku," jawab Profesor Widjaja dingin. "Sekarang, dia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Renata akan memimpin mereka, yang terpilih, untuk membangun kembali dunia tanpa rasa sakit, tanpa perpisahan."
Renata melangkah mendekati Panji, jemarinya yang dingin menyentuh pipi Panji.
"Bergabunglah dengan kami, Panji. Aku bisa memanggil dirimu yang asli dari bank data. Kamu nggak perlu lagi menanggung beban sebagai klon yang cacat. Kita bisa menjadi utuh kembali."
Panji memejamkan matanya. Sentuhan itu terasa persis seperti Elena, namun aura di baliknya terasa seperti racun. Di dalam kepalanya, dia mencoba memanggil Elena.
“Dek Anin, jika kamu di sana, lawan dia! Jangan biarkan dia mengambil alih!”
Tiba-tiba, tubuh Renata tersentak. Dia memegangi kepalanya, berteriak kesakitan. Matanya berubah-ubah antara coklat murni dan ungu gelap.
"Aa... ..." suara itu.
Itu suara Elena yang asli. Lirih, namun penuh penderitaan.
"Cepat lari... Kamu bawa... kotak hitam itu... kuncinya... ada di... memori ke-7..."
"Diam kamu, gadis bodoh!" Renata kembali mengambil alih, suaranya menggelegar.
Dia menghempaskan Panji dengan kekuatan fisik yang nggak manusiawi hingga Panji terlempar ke bebatuan.
"Kamu bunuh mereka semua," perintah Renata kepada ribuan orang yang bangkit di pantai. "Sisakan Panji. Dia butuh perbaikan sedikit di otaknya."
Pasukan orang mati itu mulai bergerak. Mereka nggak menggunakan senjata, hanya tangan kosong dan jumlah yang luar biasa banyak. Sari dan Bram mulai menembak, tapi peluru hanya membuat orang-orang itu terjatuh sejenak sebelum bangkit kembali. Mereka juga nggak merasakan sakit.
"Panji! Bangun!" Sari menarik kerah baju Panji, menyeretnya menuju mobil rantis yang terparkir tak jauh dari sana. "Kita harus pergi sekarang!"
Panji menatap kotak hitam di tangannya. Rekaman audio Elena tadi... memori ke-7. Dia dengan cepat menekan tombol navigasi di kotak tersebut saat mereka masuk ke dalam mobil. Bram menginjak gas, menabrak kerumunan orang-orang pucat itu untuk membuka jalan.
Di kursi belakang, Panji berhasil membuka file tersembunyi berlabel 'Memory_07_The_Lazarus_Protocol'.
Sebuah video muncul. Bukan video Elena, melainkan video ibunya Panji, wanita yang selama ini dia kira meninggal saat melahirkannya. Wanita itu tampak sedang berada di sebuah fasilitas bawah tanah yang sangat mirip dengan tempat Thomas.
"Panji, jika kamu melihat ini, berarti ayahmu, Widjaja, telah memulai kebangkitan. Dia nggak pernah mencintaiku, dia hanya menginginkan genetikku untuk menciptakan wadah bagi Renata. Kamu bukan klon, Nak. Kamu adalah anak asli yang dimodifikasi. Dan Elena... Elena adalah saudara tirimu. Kalian berbagi satu jantung genetik yang sama."
Panji merasa dunianya berputar. Fakta itu menghantamnya lebih keras dari ledakan satelit manapun.
"Hanya ada satu cara untuk menghentikan Renata tanpa membunuh Elena," lanjut ibunya dalam video itu.
"Kamu harus melakukan sinkronisasi terbalik. Kamu harus masuk ke dalam pikiran mereka berdua. Tapi risikonya... salah satu dari kalian harus tetap tinggal di sana selamanya untuk menjadi penjaga gerbang."
Tiba-tiba, mobil mereka dihantam oleh sesuatu yang sangat berat dari atas. Atap mobil rantis itu robek seperti kertas.
Tangan logam yang sangat familiar mencengkeram bahu Panji. Itu adalah klon Panji sempurna yang seharusnya sudah hancur di satelit. Namun, wajahnya kini setengah hancur, memperlihatkan sirkuit yang terbakar dan tengkorak titaniumnya.
"Kembali... ke rumah... Adikku..." suara klon itu bukan lagi suara sistem, melainkan suara Thomas yang entah bagaimana berhasil memindahkan sisa kesadarannya ke dalam sisa-sisa logam tersebut.
Panji menatap ke luar jendela yang pecah. Di kejauhan, dia melihat Renata berdiri di atas bukit pasir, memegang jantung mekanis yang berdenyut dengan cahaya ungu. Di sampingnya, Profesor Widjaja mengeluarkan sebuah suntikan berisi cairan perak.
"Satu jantung untuk dua jiwa," teriak Renata dari kejauhan. "Pilih salah satu, Panji! Selamatkan kakakmu yang ambisius ini, atau selamatkan kekasihmu yang juga ternyata adalah adikmu sendiri!"
Mobil itu terbalik. Panji merangkak keluar dari puing-puing, kotak hitam masih erat dipelukannya. Namun, di depannya kini berdiri bukan hanya klonnya, tapi juga sosok Elena yang sedang menangis, namun tangannya memegang belati yang diarahkan ke lehernya sendiri.
"Bunuh aku, Aa!" teriak Elena.
"Sebelum dia membuatku membunuhmu!"
Apa yang akan dilakukan Panji di tengah serangan Thomas, Renata, dan Profesor Widjaja?