Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEREWANGAN ALMARHUMAH IBU
"Berarti... Ibu dulu punya perewangan itu, karena garis keturunan atau tirakat Pak?" Tanyaku lagi. Aku seperti semakin tertarik untuk cari tahu dari Bapak.
"Ibumu dulu sebelu menikah sama Bapak, memang sudah punya perewangan dari almarhum kakek nenekmu. Jadi dari garis keturunan, Ibu sudah punya. Ada banyak malah. Tapi dulu Ibu cerita sebelum menikah sama Bapak, Ibu gak mau menjalani rumah tangga dengan membawa semua perewangan orang tuanya." Jelas Bapak.
"Kenapa gak mau Pak?" Tanyaku semakin tertarik.
"Karena Ibumu gak kuat menjalani laku tirakatnya. Dan Ibumu juga merasa efeknya terlalu berat." Jawab Bapak.
"Terus Pak?" Sahutku.
"Jadi, orang tua dari Ibu, mengizinkan supaya Ibu gak meneruskan jadi tuan dari semua perewangan mereka. Tapi, orang tua Ibumu meminta supaya ada satu laku tirakat yang harus dilaksanakan. Tujuannya sih baik Nis, bukan untuk macam-macam, bukan juga untuk jahati orang lain. Tapi buat jaga diri." Tambah Bapak.
"Tirakat apa itu Pak? Puasa ya?" Tanyaku yang sudah bisa menebak sedikit.
"Nah, itu kamu udah tahu... Tapi, bukan puasa biasa, bukan juga puasa wajib kayak puasa Romadhon. Atau puasa sunnah kayak yang kamu udah pelajari dari guru ngajimu. Laku tirakat itu namanya puasa mutih." Jawab Bapak sambil berkata apa adanya tentang laku tirakat yang dulu dilakukan sama almarhumah Ibu.
"Oh... Gitu ya Pak..." Responku singkat.
"Ibumu dulu rajin tirakat puasa mutih. Malah kamu masih ingat kan dulu juga pernah diajarin puasa mutih sama Ibu?" Tanya Bapak semakin mempertegas. Dan aku menjawabnya dengan anggukan kepala.
Aku jadi teringat, memang dulu sejak SMP sampai menjelang Ibu meninggal, aku beberapa kali diajarkan tirakat puasa mutih. Namun, waktu itu aku hanya diajarkan puasa mutih selama tiga hari, dan lanjut ke tujuh hari. Tapi waktu itu Ibu tidak menjelaskan apa tujuan dibalik tirakat itu. Dan aku juga tidak banyak bertanya kenapa diajarkan tirakat itu sama Ibu. Aku hanya menuruti perintah Ibuku saja waktu itu.
Bapak melanjutkan ceritanya padaku, "Sebenarnya Bapak dikasih pesan sama Ibu, kalau kamu udah dewasa, akan ada waktunya untuk kamu melanjutkan tirakat puasa mutih itu. Pastinya dengan niat untuk mendekatkan diri sama Alloh, menyucikan batinmu, membersihkan raga dan jiwamu, sekaligus kalau memang kamu cocok, perewangan Ibu akan pindah ke dirimu Nisa."
"Hah? Pindah gimana Pak?" Tanyaku.
"Sebenarnya apa yang kamu lihat tadi sore di pendopo, itulah sosok perewangan almarhumah Ibumu. Mungkin memang sekarang saatnya ia menampakkan diri sama kamu. Memperkenalkan diri sama kamu lah. Tapi kamu jangan takut, perewangan Ibumu itu baik. Dia akan menjagamu juga sepanjang umurmu." Jelas Bapak sambil sesekali asap rokok mengepul.
"Tapi Pak, bukannya itu perbuatan syirik? Kan jadinya Nisa minta dilindungi sama selain Alloh Pak. Nisa gak mau ah kayak gitu. Dosa Pak." Aku mencoba menyangkal penjelasan Bapak itu.
"Hehehe... Perewangan itu hadir bukan karena niat kita meminta perlindungan sama sosok lelembut itu Nis, tetap niat dalam hati hanya Alloh satu-satunya pelindung kita selamanya. Tapi kan Alloh memberikan media atau perantara supaya pertolongan Alloh itu sampai ke diri kita. Bukan berarti kita minta perlindungan sama makhluk, tapi perlindungan Alloh itu datang karena adanya perantara makhluk. Begitu Nisa... Insyaa Alloh nanti seiring waktu dan tambahnya ilmu agama kamu lebih dalam, kamu akan bisa membedakan dan memahami itu semua."
Penjelasan Bapak itu semakin menambah pengetahuanku, dan semakin menambah pemahamanku tentang tirakat puasa mutih itu.