Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intervensi keluarga bangsawan
Cinta yang baru saja bersemi itu akan segera diuji oleh api peperangan dan intrik yang jauh lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.
Tiga tahun telah berlalu sejak kelopak bunga sakura saksi bisu pengakuan cinta mereka gugur di tanah Sekte Tian Long. Bagi Shang Zhi dan Yun Xi, waktu tersebut adalah masa keemasan di mana kultivasi dan perasaan mereka tumbuh selaras. Namun, di dunia yang dibangun di atas fondasi hierarki dan garis keturunan, kebahagiaan seorang jelata yang bersanding dengan putri bangsawan tak ubahnya sebuah api kecil di tengah badai. Kabar itu merayap, dari bisikan di lorong-lorong asrama murid luar, mendaki puncak-puncak gunung tempat para tetua bermeditasi, hingga akhirnya menyeberangi perbatasan kekaisaran.
Sekte Tian Long, yang terletak di jantung Kekaisaran Bai Long, mendadak gempar pada suatu pagi yang berkabut. Dari kejauhan, deru roda kereta yang berat memecah kesunyian gerbang utama. Dua ekor kuda pegunungan berbulu perak makhluk langka yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang berdarah biru meringkik angkuh. Di pintu kereta itu, terukir lambang seekor naga emas yang melilit pedang: simbol Keluarga Yun dari Kekaisaran Qian Long.
Kedatangan utusan dari salah satu dari empat kekaisaran besar,Bai Long, Qian Long, Chi Long, dan Wang Long, bukanlah perkara kecil. Petinggi Sekte Tian Long menyambut mereka dengan upacara penuh penghormatan, namun di balik senyum formalitas itu, atmosfer ketegangan mulai mencekik udara.
Yun Xi tengah berlatih di taman belakang saat seorang murid inti datang dengan wajah kaku, menyampaikan perintah agar ia segera menghadap ke Aula Pertemuan Utama. Perasaannya tidak enak. Detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Saat melangkah masuk ke aula yang megah, aroma dupa cendana yang berat menyambutnya, namun yang lebih menyesakkan adalah tatapan dingin dari pria yang duduk di kursi kehormatan.
Pria itu mengenakan jubah sutra ungu dengan bordiran benang emas yang rumit. Wajahnya tegas, dengan garis-garis usia yang hanya menambah kesan otoritas yang tak terbantahkan. Dialah Yun Jian, paman Yun Xi, sekaligus pria yang bertanggung jawab atas seluruh hubungan diplomatik Keluarga Yun.
"Paman, mengapa kau datang begitu mendadak tanpa pemberitahuan?" Yun Xi mencoba menjaga suaranya agar tetap stabil, meski jemarinya sedikit bergetar di balik lengan bajunya.
Yun Jian tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir teh porselen tipis, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali ke meja kayu cendana dengan denting yang tajam. Suara itu bergema di aula yang sunyi, seolah-olah menjadi palu hakim yang menjatuhkan vonis.
"Jika aku tidak datang hari ini, mungkin besok aku akan mendengar keponakanku sudah membuang mahkotanya demi sebungkus nasi basi," suara Yun Jian rendah namun tajam seperti sembilu. "Kau adalah harapan besar Keluarga Yun untuk memperkuat aliansi dengan sekte ini. Bagaimana bisa kau menjatuhkan martabatmu dengan berkeliaran bersama seorang 'pengemis' dari tempat antah berantah yang baru kau kenal beberapa tahun ini? Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu, Yun Xi!?"
Wajah Yun Xi memucat. Rasa malu dan amarah bergejolak di dadanya. Namun, cinta yang ia bangun bersama Shang Zhi telah memberinya keberanian yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Ia berdiri tegak, menatap langsung ke mata pamannya.
"Namanya Shang Zhi, Dia bukan pengemis. Dia adalah pria yang telah menyelamatkan nyawaku berkali-kali saat maut berada di depan mata. Dia memiliki bakat yang lebih hebat, integritas yang lebih murni, dan jiwa yang lebih tangguh dari siapapun yang pernah Paman temui di istana-istana megah itu."
Yun Jian tertawa. Itu bukan tawa keramahan, melainkan tawa sinis yang merendahkan. "Bakat? Di dunia kultivasi ini, bakat tanpa latar belakang hanyalah sebilah pedang tanpa gagang. Indah dilihat, tapi akan melukai tangan penggunanya sendiri. Dia tidak punya apa-apa untuk diberikan padamu selain kemiskinan dan penghinaan. Keluarga Lu sudah mengajukan protes resmi karena kau menolak lamaran Lu Feng demi bocah itu. Kau tahu konsekuensinya? Jika kau tidak segera memutuskan hubungan memalukan ini, Keluarga Yun akan menarik seluruh dukungan sumber daya, batu roh, dan pil kultivasi yang selama ini diberikan sekte untukmu. Kau akan menjadi orang buangan."
Yun Xi terdiam, namun matanya memancarkan api perlawanan yang tak terpadamkan.
Di saat yang sama, di bagian lain sekte yang lebih sunyi dan dingin, Shang Zhi berdiri di hadapan Tetua Agung Penegak Disiplin. Ruangan itu hanya diterangi oleh beberapa lilin yang berkedip, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Tetua Agung, seorang pria tua yang kulitnya tampak seperti kulit kayu kering, menatap Shang Zhi dengan mata yang menyipit.
"Shang Zhi," suara Tetua itu berat dan berwibawa. "Kau adalah murid berbakat yang jarang ditemui dalam seratus tahun di divisi murid luar. Namun, bakat tidak memberimu hak untuk melampaui batas sosialmu. Yun Xi telah dijanjikan untuk menjadi pendamping salah satu jenius dari Sekte Pusat di masa depan. Dia adalah aset politik, bukan sekadar gadis biasa. Hubunganmu dengannya hanya akan menghambat masa depannya, merusak reputasinya... dan mungkin, akan mempersingkat umurmu sendiri."
Ancaman itu nyata. Shang Zhi bisa merasakan tekanan energi yang sengaja dilepaskan sang Tetua untuk menekannya. Namun, bagi seseorang yang menyimpan jiwa Ancient Emperor, tekanan semacam ini hanyalah seperti hembusan angin sepoi-sepoi. Shang Zhi tetap berdiri dengan tenang, tangannya terlipat di belakang punggung, wajahnya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.
"Masa depan Yun Xi adalah miliknya untuk diputuskan, bukan milik keluarga yang hanya memandangnya sebagai komoditas, dan bukan pula milik sekte yang ingin menukarnya dengan pengaruh politik," jawab Shang Zhi dengan nada datar namun berwibawa. "Dan soal umurku... itu bukan sesuatu yang bisa diputuskan oleh manusia, termasuk Anda, Tetua."
Mata Tetua Agung membelalak. Ia merasa terhina oleh ketenangan murid luar ini. Seorang murid biasa seharusnya bersujud ketakutan, namun pemuda di depannya ini seolah-olah sedang berbicara dengan bawahannya sendiri.
"Sombong! Benar-benar sombong!" bentak sang Tetua, membuat api lilin di ruangan itu hampir padam. "Jika kau benar-benar peduli padanya, kau akan menjauh. Saat ini, Keluarga Yun telah menggunakan pengaruh mereka. Mereka memerintahkan sekte untuk mengirimmu ke Gurun Kematian untuk misi wajib selama enam tahun. Kau tahu tempat itu? Tak ada yang kembali hidup-hidup. Jika kau menolak, kau akan dikeluarkan dengan tidak hormat dan seluruh kultivasimu akan dilumpuhkan!"
Malam itu, bulan sabit menggantung rendah di langit, tertutup awan tipis seolah-olah ikut berduka. Di tempat rahasia mereka sebuah tebing tersembunyi yang menghadap ke lembah Yun Xi sudah menunggu. Isak tangisnya pecah saat ia melihat bayangan Shang Zhi mendekat.
Ia menceritakan semuanya. Tentang kemarahan pamannya, tentang paksaan untuk dijodohkan dengan Lu Feng, dan tentang bagaimana keluarganya akan memutus segala akses sumber daya kultivasinya. "Shang Zhi, mereka ingin menghancurkan kita. Paman akan membawaku pulang dengan paksa. Aku takut... aku takut tidak bisa melihatmu lagi."
Shang Zhi melangkah maju, lalu menggenggam bahu Yun Xi dengan mantap. Tangannya terasa hangat dan kokoh, memberikan rasa aman di tengah badai yang melanda.
"Dengarkan aku baik-baik, Yun Xi," ucap Shang Zhi, suaranya terdengar sangat dalam dan menenangkan. "Mereka menyerang kita karena mereka takut. Mereka takut pada potensi yang kita miliki dan mereka takut karena mereka tidak bisa mengendalikan apa yang kita rasakan. Gurun Kematian, ancaman pamanmu, atau pengasingan keluarga... itu semua hanyalah kerikil kecil di jalan menuju puncak."
Shang Zhi kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik jubahnya. Botol itu memancarkan cahaya biru lembut yang jernih. "Ini adalah Cairan Pemurni Esensi. Aku membuatnya secara rahasia dengan teknik yang tidak mereka pahami. Gunakan ini untuk kultivasimu. Ini jauh lebih murni dari apapun yang bisa diberikan oleh Keluarga Yun atau sekte ini. Jika mereka mengambil sumber dayamu, aku yang akan menjadi sumber dayamu. Jangan pernah tunduk pada mereka."
Yun Xi menatap botol itu, lalu menatap Shang Zhi dengan cemas. "Tapi Paman bilang kau akan dikirim ke Gurun Kematian... tempat itu terkutuk, Shang Zhi! Aku tidak bisa membiarkanmu pergi ke sana demi aku!"
Shang Zhi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kepercayaan diri yang tak tergoyahkan. Ia mengusap air mata di pipi Yun Xi dan mengecup keningnya dengan lembut. "Aku akan pergi menjalankan misi itu. Bukan karena aku takut pada ancaman mereka, tapi karena aku memang butuh tempat yang sunyi. Gurun Kematian adalah tempat di mana energi alam sangat liar tempat yang sempurna bagiku untuk mencapai ranah selanjutnya tanpa ada mata-mata sekte yang mengawasi setiap gerak-gerikku."
"Aku akan kembali, Yun Xi. Percayalah padaku. Enam tahun bagi mereka mungkin waktu untuk menghancurkan kita. Tapi bagiku, itu adalah waktu yang cukup untuk membangun kekuatan yang akan membuat Keluarga Yun, Keluarga Lu, dan siapa pun yang mencoba memisahkan kita, berlutut dalam penyesalan."
Keesokan paginya, saat fajar baru saja menyingsing dan embun masih membasahi tanah, Shang Zhi melangkah meninggalkan gerbang Sekte Tian Long. Tidak ada upacara pelepasan. Tidak ada sorak sorai. Ia hanya membawa sebuah ransel sederhana dan sebuah pedang tua yang tampak rapuh di pinggangnya.
Banyak murid yang melihatnya dari jauh dengan tatapan kasihan. Bagi mereka, Shang Zhi adalah orang mati yang sedang berjalan. Mereka berpikir pemuda itu telah menyerah pada nasibnya.
Namun, di dalam diri Shang Zhi, sang Ancient Emperor tengah tersenyum. Gurun Kematian yang ditakuti semua orang sebenarnya adalah kunci untuk membuka segel ketiga dari jiwanya yang agung. Sementara itu, di balik tembok sekte, para musuhnya mulai tersenyum puas, mengira mereka telah menang. Mereka tidak tahu bahwa dengan mengirim Shang Zhi ke gurun itu, mereka baru saja melepaskan seekor naga yang selama ini tertidur ke tempat di mana ia bisa tumbuh menjadi monster yang tak terkalahkan.
Konflik cinta mereka kini memasuki babak ujian jarak dan waktu. Di tengah kesunyian gurun dan kemegahan istana, sebuah rencana fitnah besar mulai disusun oleh orang-orang dalam sekte yang iri, bertujuan untuk memastikan bahwa Shang Zhi tidak akan pernah kembali. Namun, takdir memiliki caranya sendiri untuk membalas mereka yang mencoba bermain-main dengan api.
Shang Zhi terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Di depannya, hamparan pasir yang luas menanti, dan di belakangnya, sebuah janji yang akan ia tepati dengan darah dan kekuatan.
...Bersambung.... ...