Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Universitas Yang Jing
Siang itu, seluruh kelas Colly telah kosong.
Mahasiswa lain sudah pulang sejak lama, meninggalkan ruangan yang kini sunyi dan hanya diterangi cahaya matahari dari jendela.
Colly masih duduk di bangkunya, fokus membaca buku. Tangannya membalik halaman dengan tenang, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
Pintu kelas terbuka pelan.
Jacky melangkah masuk sambil membawa sebotol minuman dingin. Suaranya memecah keheningan.
“Colly, semua sudah pulang. Kenapa kau masih di sini?” tanyanya sambil berhenti di depan meja Colly.
“Aku sedang belajar,” jawab Colly singkat, matanya tidak teralihkan dari buku.
Jacky tersenyum tipis.
“Aku traktir minum.”
Ia meletakkan botol itu di atas meja.
Colly akhirnya mengangkat pandangan. Ia mengambil botol itu sekilas, lalu mendorongnya kembali ke arah Jacky dengan sopan.
“Aku sudah bawa dari rumah. Terima kasih,” ucapnya tenang.
Jacky sedikit terkejut, tapi ekspresinya cepat kembali normal.
“Colly,” katanya pelan,
“kita kan teman. Kenapa kau selalu menjaga jarak denganku?”
Colly menutup bukunya perlahan.
“Karena aku belum terbiasa dengan orang asing,” jawabnya jujur.
“Kakak kelas sebaiknya pulang dulu. Sudah sore.”
Jacky mengernyit samar.
“Apakah kita tidak bisa berteman?” tanyanya.
“Apa aku pernah menyinggungmu?”
“Tidak pernah,” jawab Colly.
“Hanya saja aku lebih fokus pada pelajaranku.”
Ia kembali menunduk, seolah percakapan itu telah selesai.
Namun di dalam hatinya, Colly tetap waspada.
"Kakak pernah berpesan,"batinnya.
"Jangan mudah berteman dengan orang asing yang tiba-tiba mendekat. Jacky Yin tidak pernah menunjukkan sikap mencurigakan.
Terlalu sopan. Terlalu tenang. Tapi aku belum tahu latar belakangnya, lanjut Colly dalam hati."
Jacky berdiri beberapa detik lebih lama, menatap Colly tanpa bicara.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Baiklah,” ucapnya ringan.
“Jangan belajar terlalu keras.”
Ia berbalik dan melangkah keluar kelas.
Colly menatap pintu yang tertutup kembali. Jemarinya tanpa sadar menggenggam sudut buku.
Beberapa saat kemudian
Colly meninggalkan kelas dan melangkah menuju gerbang kampus. Langit mulai meredup, mahasiswa yang tersisa hanya beberapa orang yang berjalan cepat menuju parkiran.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti.
Beberapa pria asing muncul dari sisi lain jalan setapak dan bergerak mendekatinya. Cara mereka berdiri membentuk setengah lingkaran, jelas bukan kebetulan.
“Siapa kalian?” tanya Colly, suaranya tegas. “Berani masuk ke universitas kami?”
Salah satu pria itu menyeringai.
“Gadis kecil,” ujarnya santai.
“Gerbang kampus terbuka lebar. Siapa saja bisa masuk. Tidak ada yang aneh.”
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Colly, mundur setengah langkah.
Pria itu menatapnya dari ujung kepala hingga kaki.
“Colly Shen,” katanya perlahan.
“Siapa yang tidak mengincarmu? Namamu terkenal di mana-mana.”
Colly mengepalkan tangan.
“Ikut saja dengan kami,” lanjut pria lain dengan nada mengancam namun tenang.
“Kami tidak akan menyakitimu… asal kau patuh.”
Udara di sekitar terasa menekan.
Colly menoleh cepat ke kiri dan kanan. Terlalu sepi.
Di sisi lain, tidak jauh dari sana, Jacky Yin berdiri di balik pohon hiasan, tubuhnya setengah tersembunyi oleh bayangan.
Matanya tajam mengamati setiap gerakan para pria itu—
dan setiap reaksi kecil di wajah Colly.
Tangannya masuk ke saku jaket, senyuman tipis terlukis di wajahnya.
"Colly Shen, walau kau memiliki pengawal, tapi mereka tidak bisa masuk melewati pintu gerbang. Jadi kau harus bisa mengalahkan mereka tanpa bantuan. Aku ingin lihat adik kesayangan Shen Xiao Han sehebat apa," gumam Jacky.
“Colly Shen, cukup serah diri saja. Kami tidak akan melukaimu,” kata salah satu preman itu, suaranya terdengar seperti bujukan, namun matanya penuh niat buruk.
Colly tersenyum tipis—dingin dan menantang.
“Kalian ingin aku menyerah sebelum bertarung?” ujarnya pelan.
“Tidak mungkin.”
Salah satu pria mengernyit, jelas tidak menyangka jawaban itu.
“Jangan sombong,” bentaknya.
“Kau sendirian.”
Colly melangkah satu langkah ke depan, sorot matanya tajam.
“Sendirian bukan berarti lemah,” katanya.
“Dan aku tidak pernah belajar menyerah.”
Para pria itu saling pandang. Detik berikutnya, salah satu dari mereka bergerak lebih dulu.
Colly sigap menghindar. Tas di pundaknya ia lepaskan dan lemparkan ke wajah lawan terdekat, menciptakan celah sesaat. Ia berlari ke samping, berusaha menjauh dari kepungan.
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Salah satu tangan kasar mencengkeram pergelangan tangannya.
Colly berontak, menendang lutut pria itu hingga ia terhuyung.
Dari balik pepohonan, Jacky Yin menyaksikan semuanya dalam diam.
Mereka menyerang serentak, kilatan pisau memantul oleh cahaya siang yang menyilaukan.
Colly tidak mundur.
Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan pisau lipat yang selalu ia bawa. Klik!
Bilah tajam itu terbuka di tangannya.
Napasnya ditarik dalam—pendek, terkontrol.
Tubuhnya berputar ringan, nyaris seperti tarian, sementara pisaunya bergerak mengikuti insting yang sudah terlatih. Satu tebasan cepat menggores pipi pria terdekat, darah langsung mengalir.
“Aaargh!”
Belum sempat pria itu menjerit lebih lama, Colly sudah bergerak ke arah lain. Putaran kedua, pisaunya menyambar wajah lawan berikutnya, memaksa mereka mundur sambil menutup mata.
“Gadis gila!” maki salah satu dari mereka.
Colly tidak menjawab. Wajahnya dingin, fokus, sama sekali tidak panik.
Pisau lawan mengarah ke perutnya—
Colly menepis dengan pergelangan tangan, lalu menghantam tulang rusuk pria itu dengan siku, membuatnya terhuyung sebelum ia menendang dada lawannya hingga jatuh ke tanah.
Namun jumlah tetap tidak berpihak padanya.
Sebuah pisau berhasil menggores lengan atasnya.
Darah merembes, tapi Colly hanya mengernyit.
Ia menggenggam pisaunya lebih erat.
“Kalau kalian ingin nyawaku,” ucapnya dingin,
“kalian harus siap kehilangan wajah kalian terlebih dahulu.”
Para preman itu mulai ragu.
Gadis di hadapan mereka bukan korban biasa.
Dari balik pepohonan, Jacky Yin menyipitkan mata.
“Menarik…” gumamnya.
“Lebih menarik dari yang aku perkirakan.”
Jacky Yin langsung berlari ke arah Colly.
Tanpa ragu, ia menendang salah satu preman dari samping, membuat pria itu terjungkal keras ke tanah. Tangannya kemudian menarik kerah pria lain yang masih mencoba bangkit, memutar tubuhnya, lalu membantingnya hingga punggungnya menghantam aspal.
“Argh!”
Gerakannya terlihat tegas, sigap, seolah ia benar-benar datang sebagai penolong.
“Menjauh darinya!” bentak Jacky, berdiri di depan Colly seperti tameng.
Beberapa preman yang tersisa mulai mundur. Mereka telah menerima perintah dari Jacky sudah saatnya untuk mundur dan pergi.
Jacky menoleh ke arah Colly, ekspresinya berubah lembut dan khawatir.
“Colly, kau tidak apa-apa?” tanyanya, menahan napas.
“Aku melihat mereka menyerangmu… maaf aku terlambat.”
Colly menatapnya sesaat, masih waspada.
“Aku baik,” jawabnya singkat.