Baskara—menantu sampah dengan Sukma hancur—dibuang ke Jurang Larangan untuk mati. Namun darahnya membangunkan Sistem Naga Penelan, warisan terlarang yang membuatnya bisa menyerap kekuatan setiap musuh yang ia bunuh. Kini ia kembali sebagai predator yang menyamar menjadi domba, siap menagih hutang darah dan membuat seluruh kahyangan berlutut. Dari sampah terhina menjadi Dewa Perang—inilah perjalanan balas dendam yang akan mengguncang sembilan langit!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: NAGA YANG DIINCAR (4)
KOTA WAJA KENCANA - SENJA
Tawa gila menggema di halaman istana, memecah keheningan senja yang berdarah.
Adipati Lesmana berdiri tegak di atas gundukan daging dan tulang. Di bawah kakinya, terhampar dua puluh mayat.
Bukan mayat biasa. Mereka adalah kultivator Ranah Inti Emas Bintang 3 hingga 5—pasukan elit pembunuh bayaran yang diutus oleh rival politiknya, Adipati Kota Waruna, untuk mengkudeta kekuasaannya.
Dan sekarang, mereka semua mati.
Tanpa satu goresan pun di tubuh Lesmana.
Lesmana mengangkat senjata di tangannya tinggi-tinggi, membiarkan sisa cahaya matahari membelai bilah logam yang basah oleh darah.
Itu bukan pedang. Itu adalah badik.
Panjangnya hanya 30 sentimeter, bilahnya melengkung eksotis, berwarna hitam legam dengan pola merah yang berdenyut seperti pembuluh darah yang hidup.
Badik Singo Edan.
Pusaka legendaris yang konon ditempa dari taring iblis, memberikan kekuatan absolut dengan bayaran kewarasan penggunanya.
Tetua Kong melangkah santai melewati potongan tubuh manusia, terkekeh puas. Ia membungkuk hormat.
"Yang Mulia," suaranya penuh kekaguman. "Kekuatan Anda telah melampaui akal sehat. Membantai dua puluh Inti Emas tanpa keringat... Kota Waruna akan gemetar ketakutan."
Adipati Lesmana tidak menjawab. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar yang tidak wajar.
Perlahan, ia mendekatkan bilah badik itu ke wajahnya. Lidahnya menjulur, menjilat darah kental yang menetes dari ujung senjata.
"Manis..." desisnya. Matanya berkilat liar, pupilnya membesar karena kegilaan.
"Ini semua berkat Badik Singo Edan pemberianmu, Tetua Kong." Suaranya bergetar menahan gairah membunuh. "Benda ini... benda ini berbisik padaku. Ia memberiku kekuatan... dan kegilaan."
Ia tertawa lagi. Tawa yang membuat darah pendengarnya membeku.
Tatapannya beralih ke timur. Ke arah Kota Batu Karang.
"Baskara..." bisiknya, nada suaranya penuh arogansi dan kebencian. "Tunggu aku. Aku akan datang. Dan aku akan membuatmu memohon kematian sebelum aku mengizinkanmu mati."
HUTAN BELANTARA UTARA - MALAM HARI
Baskara berdiri diam di balik pohon raksasa, menyatu dengan kegelapan. Matanya menatap tajam ke sebuah bangunan kayu besar yang tersembunyi di jantung hutan.
Markas rahasia sindikat penjual budak.
Bangunan itu megah untuk ukuran persembunyian—panjang lima puluh meter, atap genteng hitam, dan jendela-jendela yang memancarkan cahaya lilin redup.
Info dari penculik anak yang ia interogasi (dan bunuh) dua hari lalu membawanya ke sini.
[Tuan,] suara Sistem terdengar ragu. [Aku merasakan sesuatu yang... familiar di dalam sana.]
Baskara mengernyit. "Familiar? Maksudmu?"
[Energi... yang mirip dengan energiku. Tapi sangat lemah. Sangat kuno. Dan terdistorsi.]
Baskara menjadi lebih waspada. "Analisis musuh."
[Mendeteksi...]
[30 Kultivator. Rata-rata Ranah Pengumpulan Prana Puncak.]
[1 Pemimpin. Ranah Inti Emas Bintang 5.]
[Dan... 17 Tawanan. 10 Wanita, 7 Anak-anak. Lokasi: Ruang Bawah Tanah.]
Rahang Baskara mengeras. ‘Anak-anak.’
"Aku harus membunuh mereka dalam senyap," bisiknya. "Jika terjadi keributan, mereka mungkin akan menyandera atau membunuh para budak."
[Setuju. Gunakan teknik Assassin yang Tuan serap. Malam ini, jadilah hantu.]
Baskara menarik napas dalam, lalu tubuhnya memudar ke dalam bayangan.
EKSEKUSI DALAM SENYAP
Target 1 & 2: Penjaga Pintu
Dua penjaga berdiri mengobrol santai. Mereka tidak menyadari maut yang merayap di rerumputan.
Dari balik semak, benang baja Baskara—yang dialiri Prana hingga berpendar merah samar—meliuk tanpa suara bagaikan ular kobra.
SRET!
Benang melilit leher penjaga pertama.
TARIK!
Orang itu tersentak ke dalam semak gelap. Matanya melotot, mulutnya terbuka untuk berteriak—
BUAGH!
Hantaman keras menghancurkan tulang dadanya. Jantungnya berhenti seketika. Mati tanpa suara.
Penjaga kedua menoleh bingung. "Hei, kau di mana—"
SRET!
Benang baja sudah melilit lehernya.
KRAK!
Dua detik kemudian, dua mayat telah disembunyikan di balik semak.
Target 3: Penjaga Koridor
Baskara menyelinap masuk lewat jendela atap. Ia merayap di balok kayu langit-langit seperti laba-laba, menekan hawa keberadaannya hingga titik nol.
Di bawahnya, seorang penjaga berjalan sambil menguap.
Baskara menunggu momen yang tepat. Saat penjaga itu tepat di bawahnya...
Benang baja turun perlahan.
JERAT!
TARIK!
Penjaga itu terangkat ke udara, kakinya menendang-nendang hampa. Tangannya mencengkeram leher, berusaha melonggarkan kawat baja yang memotong aliran napasnya.
Wajahnya membiru. Matanya memutih.
Satu menit kemudian, mayat itu tergantung kaku, tersembunyi di balik tirai langit-langit yang gelap.
Target 4-7: Ruang Judi
Empat kultivator sedang asyik bermain kartu, tertawa dan minum arak.
Baskara merayap di atas mereka. Benang bajanya turun, membentuk empat simpul hidup yang melayang diam di atas kepala masing-masing target.
Mereka terlalu fokus pada kartu.
Saat benang menyentuh kulit leher...
TARIK!
Keempat orang itu terhentak ke atas bersamaan! Kursi mereka jatuh.
Baskara melompat turun.
WUSH! WUSH! WUSH! WUSH!
Empat pukulan tangan kosong ke tengkuk.
KRAK! KRAK! KRAK! KRAK!
Tulang leher patah. Mati seketika.
Baskara menyembunyikan mayat-mayat itu di bawah meja, menutupinya dengan taplak panjang.
Sempurna. Hening. Mematikan. Tanpa jejak darah.
Sementara itu, di ruangan terdalam markas...
Pemimpin Sekte berdiri khusyuk di depan sebuah patung batu.
Patung Naga Hitam setinggi tiga meter. Matanya terbuat dari rubi merah yang bersinar jahat. Di mulutnya yang terbuka, terdapat bola kristal merah yang memancarkan aura kelam.
Sang Pemimpin—pria raksasa berjanggut lebat dengan jubah bordir naga—menyalakan dupa.
"Raja Naga yang Agung..." bisiknya hormat. "Terimalah persembahan darah kami..."
Ia hendak menuangkan semangkuk darah segar ke altar.
Namun, tangannya berhenti di udara. Hidungnya mengendus.
"Bau ini..." matanya menyipit. "Bau kematian. Ada tikus masuk."
“Saya akan memeriksanya, Tuan.”
Pria bertudung hitam yang sedari tadi berlutut di sudut ruangan menghilang bagai bayangan.
Target 8 & 9: Ruang Bawah Tanah
Baskara telah membunuh sembilan orang tanpa suara. Kini ia berdiri di koridor penjara bawah tanah. Suara isak tangis terdengar samar.
Seorang penjaga berdiri di depan sel, menyeringai menatap wanita muda di dalamnya.
"Hehe... besok kau dijual. Tapi malam ini, kau milikku," ucapnya sambil membuka kunci sel.
SRET!
Benang baja menjerat lehernya dari belakang.
TARIK!
Penjaga itu terseret mundur ke dalam cengkeraman Baskara.
KREK!
Baskara mematahkan lehernya.
Namun, dalam kejang kematiannya, tangan penjaga itu menyenggol tuas di dinding.
TUAS ALARM.
KRING! KRING! KRING!
Lonceng peringatan berbunyi nyaring di seluruh gedung!
"Sialan!" umpat Baskara. Ia melempar mayat itu.
Wanita di dalam sel menjerit histeris. Baskara membekap mulutnya. "Diam! Aku di sini menyelamatkanmu!"
Terlambat.
Derap langkah kaki puluhan orang terdengar mendekat.
WUSH! WUSH! WUSH!
Dua puluh kultivator anggota sekte menyerbu masuk ke koridor bawah tanah, mengepung Baskara dari dua arah. Senjata mereka terhunus.
“Siapa kau?!” seru pria bertudung di barisan depan.
Baskara melepaskan wanita itu, lalu berbalik menghadapi kepungan. Ia menarik kedua belati Taring Kembar Naga Biru.
Senyum dingin terukir di wajahnya.
"Baiklah," gumamnya, mata merahnya menyala. "Tidak ada jalan senyap lagi. Kalau begitu... kita pakai cara jagal."
PEMBANTAIAN KORIDOR
WUSH!
Baskara menghilang.
[SILENT FLASH]
Ia muncul di tengah-tengah lima musuh.
SLASH! SLASH! SLASH!
Lima kepala menggelinding ke lantai sebelum tubuh mereka sadar kalau mereka sudah mati. Darah menyembur membasahi dinding koridor.
"SERANG BERSAMA!" teriak wakil ketua sekte—pria bertudung.
Lima belas orang menyerang serentak. Bola api, jarum racun, dan gelombang pedang menghujani Baskara.
BOOM! BOOM!
Ledakan memenuhi koridor sempit. Asap mengepul.
"Kena dia!"
Namun saat asap menipis, Baskara masih berdiri. Kulitnya bersinar metalik.
[IRON BODY: AKTIF]
"Tidak mungkin..." desis mereka ngeri.
Baskara menerjang. Ia seperti serigala di tengah kawanan domba.
[KEKEBALAN SERIBU RACUN] membuatnya menembus kabut racun hijau tanpa batuk sedikit pun.
[REGENERASI TEMPUR] menyembuhkan luka bakarnya dalam hitungan detik.
“MONSTER!!!”
Jeritan wakil ketua sekte, bergema ke seluruh ruangan.
Lima menit kemudian.
Hening kembali.
Koridor itu kini banjir darah. Dua puluh mayat berserakan dalam kondisi mengerikan.
Baskara berdiri di tengah tumpukan mayat, napasnya sedikit memburu. Jubah hitamnya basah oleh darah musuh.
PROK. PROK. PROK.
Suara tepuk tangan pelan terdengar dari tangga atas.
Sosok tinggi besar berjubah naga turun perlahan.
Pemimpin Sekte.
"Luar biasa," ucapnya tenang, meski matanya menatap tajam. "Kau membantai seluruh pasukanku dalam waktu lima menit. Siapa kau? Aliansi Pemburu Naga?"
Baskara menggeleng. "Bukan."
"Bohong." Pemimpin itu mencabut pedang dari punggungnya. Pedang panjang dengan bilah merah darah yang berlekuk seperti tanduk.
Aura Inti Emas Bintang 5 meledak darinya.
Namun ada yang aneh. Auranya bercampur dengan energi... Naga.
[Tuan!] teriak Sistem. [Pedang itu! Pedang Tanduk Naga Merah! Artefak legendaris! Dan orang ini... dia mengkultivasi teknik naga sesat!]
"Dari mana kau dapat energi Naga?" tanya Baskara dingin.
"BUKAN URUSANMU!"
Pemimpin itu melesat. Kecepatannya setara dengan Baskara!
TRANG!
Pedang merah dan belati biru beradu. Percikan api menerangi kegelapan bawah tanah.
Pertarungan tingkat tinggi dimulai.
Mereka bertukar serangan dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa. Dinding koridor hancur terkena sabetan Prana.
Mereka bertarung sambil bergerak naik, menghancurkan lantai satu, hingga akhirnya menerobos dinding dan keluar ke hutan.
BOOM!
Pohon-pohon besar tumbang terkena dampak benturan energi mereka.
Baskara mulai terdesak. Stamina-nya terkuras setelah membantai 30 orang sebelumnya.
'Dia kuat. Dan armor di bahunya...'
Baskara melihat pauldron (pelindung bahu) hitam di bahu kiri musuh yang bersinar aneh setiap kali terkena serangan.
[ARMOR SISIK NAGA!] Sistem mengonfirmasi. [Itu memantulkan sebagian besar kerusakan fisik!]
"Hahahaha!" Pemimpin Sekte tertawa gila, mulutnya berdarah. "Kau hebat, Nak! Tapi pengalamanmu masih kurang!"
Ia mengangkat pedangnya. Aura merah berkumpul, membentuk bayangan kepala naga yang meraung.
"MATILAH! TEBASAN NAGA MERAH!"
Serangan pamungkas.
Baskara tahu ia tidak bisa menghindar atau menangkisnya dengan belati.
'Maafkan aku, Sistem...'
Baskara melepaskan belatinya.
Tangan kanannya berubah.
Kulit menghitam. Sisik keras tumbuh menjalar hingga siku. Kuku memanjang menjadi cakar setajam obsidian. Aura hitam-merah yang jauh lebih murni, lebih buas, dan lebih agung meledak.
[CAKAR NAGA PENELAN: 30%]
Baskara menerjang lurus ke arah serangan itu.
ZRRRT!
Ia menggunakan [SILENT FLASH] untuk menembus celah serangan musuh.
Tepat saat pedang merah hendak turun—
Baskara sudah ada di depan dada Pemimpin Sekte.
Namun, bukannya menyerang... Pemimpin itu BERHENTI.
Serangannya bubar. Pedangnya jatuh dari tangan yang gemetar.
KLANG!
Mata Pemimpin Sekte membelalak lebar, menatap tangan kanan Baskara yang mengerikan.
Bukan takut.
Melainkan... pemujaan.
Ia jatuh berlutut. Bersujud di kaki Baskara.
"RAJA NAGA?!" teriaknya histeris, air mata membasahi pipinya. "KAU... KAU ADALAH PEWARIS SANG RAJA NAGA SEJATI?!"
Baskara terpaku. Cakar naganya masih teracung di atas kepala orang itu, siap memenggal.
"Akhirnya..." isak Pemimpin Sekte. "Akhirnya Tuan kami kembali... Hamba adalah Ronggolawe—"
Baskara bingung. "Apa—"
HUTAN - 2 KM DARI LOKASI
Larasati berlari menembus semak belukar. Wajahnya penuh goresan ranting, napasnya memburu. Sudah empat hari ia mencari jejak Baskara.
Tiba-tiba, ia merasakannya.
Aura Baskara. Tapi bercampur dengan aura lain yang mengerikan. Gelap. Buas.
"Baskara..."
Ia mempercepat larinya.
Namun, ia tidak sadar.
Di belakangnya, di atas pepohonan, dua bayangan hitam melesat lebih cepat darinya.
Joko dan Jodi.
Aliansi Pemburu Naga. Ranah Inti Emas Bintang 6.
Joko menyeringai, memegang jarum pelacak yang bergetar hebat.
"Target ditemukan," kekehnya. "Dan lihat... ada tikus kecil yang menuntun kita ke sana."
KEMBALI KE BASKARA
Baskara masih menatap bingung pada musuhnya yang kini bersujud menyembahnya.
Tiba-tiba, Sistem berteriak panik.
[TUAN! BAHAYA!]
[DUA AURA INTI EMAS BINTANG 6 MENDEKAT CEPAT!]
[DAN... ADA SATU LAGI... LEBIH LEMAH...]
[LARASATI!]
Jantung Baskara berhenti berdetak.
"Tidak..." wajahnya memucat. "Larasati jangan ke sini..."
Terlambat.
Dari balik pepohonan, tiga sosok muncul hampir bersamaan.
Dua sosok berjubah hitam mendarat di dahan pohon, menatap Baskara dengan senyum predator.
"Akhirnya kami menemukanmu, Anak Naga," ucap Joko riang sambil memainkan belatinya.
Dan di bawah, keluar dari semak-semak dengan napas terengah...
"BASKARA?!"
Larasati.
Dia berdiri mematung, menatap tangan kanan suaminya yang berbentuk cakar monster, lalu menatap dua pemburu di atas pohon, dan pemimpin sekte yang bersujud.
Dia datang di waktu yang paling salah. Di tempat yang paling mematikan.
Baskara menatap istrinya dengan horor.
"Lari..." bisiknya.
Joko tertawa keras. "Lari? Tidak ada yang lari hari ini. Hari ini... kita pesta darah naga!"
[BERSAMBUNG KE BAB 34]