karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa pelakunya ?
4...
3...
2...
KLIK.
Layar digital itu mati tepat di angka 00:01.
Keheningan total menyelimuti ruangan itu. Reynard jatuh terduduk di lantai, napasnya memburu, paru-parunya seolah baru saja mendapatkan oksigen kembali setelah tenggelam dalam air yang dalam. Bajunya basah kuyup oleh keringat.
Pintu ruang kerja terbuka dengan kasar. Annalise berlari masuk, dikuti oleh leonard. Annelise langsung menjatuhkan diri ke lantai dan memeluk Reynard dengan sangat erat, tangisnya pecah seketika.
"Kenapa, Reynard?! Kenapa kamu tidak lari saja?!" teriak Annalise di sela tangisnya. "Kamu punya waktu untuk keluar! Kenapa kamu memilih bertaruh nyawa dengan benda terkutuk itu?"
Reynard menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih menggila. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang dalam namun tegas.
"maaf kan aku sayang, aku tidak mungkin membiarkan mu dan anak kita dalam bahaya,’’ suara Reynard serak, namun penuh keyakinan. "selain itu di gedung ini, ada ribuan nyawa yang menjadi korban apabila bom itu tidak bisa di hentikan. Aku tidak akan membiarkan tempat ini menjadi kuburan bagi mereka hanya karena aku takut."
"Jangan pernah lakukan itu lagi... jangan pernah!" isaknya di dada Reynard.
Reynard membalas pelukan itu dengan seluruh sisa tenaganya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Annelise yang beraroma vanilla. "Aku di sini, Sayang. Aku tidak akan pergi ke mana-mana," bisiknya sambil menatap tajam ke arah Leonardo.
"Leonardo, kenapa kau tidak membawa istri ku pergi jauh dari gedung ini, bagaimana jika bom itu tidak berhasil di jinakan " ucap Reynard penuh amarah.
‘’maaf kan saya tuan karena tidak bisa menghentikan Nyonya, lain kali saya tidak akan mengulanginya’’ ucap Leonard penuh penyesalan dan ketakutan.
‘’ Reynard jangan memarahinya karena ini semua salah ku, aku lah yang memaksa dan mengancamnya’’ ucap Annalise sambil terisak.
"baiklah.. sekarang tenanglah sayang. Semuanya sudah terkendali," bisik Reynard sambil mendudukkan Annelise di sofa empuk. Ia berlutut di depan istrinya, menggenggam tangannya yang terasa dingin, berusaha menyalurkan kekuatan.
"Leonard, pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang meninggalkan ruangan rapat sebelum aku tiba," ucap Reynard dengan suara rendah yang mengancam.
"Baik, Tuan. Tim keamanan sudah memblokade semua lift dan pintu keluar darurat," jawab Leonard sigap.
Tangis Annalise perlahan mereda, menyisakan isak kecil yang tersengal. Kelelahan hebat akibat trauma dan tekanan emosional yang luar biasa akhirnya membuat tubuhnya lemas. Kepalanya bersandar di dada Reynard, dan perlahan, kelopak matanya terpejam. Ia jatuh tertidur dalam dekapan suaminya karena guncangan syok yang menguras seluruh energinya.
Reynard menunggu beberapa saat, memastikan napas istrinya sudah teratur. Dengan gerakan yang sangat lembut seolah Annalise adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja ia menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung istrinya. Ia mengangkat Annalise, menggendongnya menuju ruang istirahat pribadinya.
Setelah membaringkan Annalise di tempat tidur dan menyelimutinya hingga sebatas dada, Reynard mengecup keningnya lama.
Begitu pintu ruang istirahat tertutup, kelembutan di wajah Reynard lenyap seketika. Yang tersisa hanyalah wajah sedingin es dengan tatapan yang mematikan. Tanpa bicara sepatah kata ia berjalan dengan langkah tegap menuju ruang rapat di ikuti oleh sang asisten.
.........
Saat pintu ruang rapat yang luas itu terbuka, keheningan yang menyesakkan menyambut mereka. Ada 10 orang investor yang duduk di sana, wajah mereka pucat pasi. Mereka semua tahu bahwa Reynard Aethelred bukanlah pria yang bisa diajak kompromi jika sudah menyangkut keselamatan keluarganya.
Reynard berjalan perlahan mengelilingi meja oval besar itu. Suara langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi siapa pun yang bersalah. Ia tidak langsung bicara. Ia sengaja membiarkan ketegangan membangun tekanan di dalam ruangan itu.
"Hanya ada 13 kartu akses untuk lantai ini di seluruh dunia," Reynard memulai pembicaraan sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja, menumpu beban tubuhnya saat ia menatap satu per satu wajah di depannya. "Satu ada padaku, satu pada Leonard, satu pada istriku, dan sisanya... ada pada kalian."
Ia mengeluarkan potongan logam kecil dari saku jasnya sisa dari pemicu bom yang baru saja ia jinakkan. "Seseorang di antara kalian merasa bahwa uang lebih berharga daripada nyawa orang lain. Seseorang di sini merasa cukup berani untuk mencoba membunuhku di perusahaanku sendiri."
Reynard tiba-tiba menggebrak meja dengan keras, membuat semua orang tersentak. "Bicara! Siapa yang menyerahkan kartunya?!"
Ketakutan menyebar seperti wabah. Para investor itu mulai saling tuduh dan membela diri dengan suara bergetar. Namun, mata elang Reynard tidak tertuju pada mereka yang berteriak protes. Matanya tertuju pada seorang pria paruh baya di sudut meja. Pria itu tampak sangat gelisah tangannya gemetar hebat saat mencoba memegang gelas air, dan butiran keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahinya.
Reynard memberikan kode kepada Leonard. "Keluarkan yang lain. Kecuali Leonard dan anda Tuan Hendra."
Satu per satu investor lain digiring keluar, menyisakan 3 orang yang ada di dalam ruangan itu. Reynard menarik kursi dan duduk tepat di hadapan pria itu.
"Kau tampak tidak nyaman, Tuan Hendra. Padahal AC di ruangan ini sudah diatur maksimal," ucap Reynard dingin.
Reynard berjalan ke ujung meja dan mengisyaratkan Leonard untuk menyalakan layar besar di dinding. Layar itu menampilkan rekaman CCTV beberapa saat sebelum bom ditemukan.
"insting ku memang lah tajam namun aku bergerak berdasarkan data," ujar Reynard sambil menunjuk ke layar. "Perhatikan dirimu di rekaman ini. Sejak rapat dimulai, kau gelisah. Kau terus melihat jam tanganmu setiap tiga puluh detik, seolah-olah kau tahu persis kapan maut akan menjemput gedung ini."
Reynard mematikan layar, lalu berjalan mendekat dan menarik kursi tepat di hadapan pria itu. Ia duduk dengan kaki bersilang, menatap lawan bicaranya dengan tatapan predator.
"Dan yang paling menarik... begitu aku keluar dari ruangan kaulah yang paling panik ingin melarikan diri. Kau bahkan mencoba mendobrak pintu ruangan ini. Kau bersikap seolah-olah nyawamu sedang di ujung tanduk karena kau memang tahu apa yang akan terjadi, bukan?"
"Jadi, Tuan Hendra... berapa harga yang mereka tawarkan untuk kepala ku ini?" tanya Reynard dengan nada yang sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang paling mengerikan.
"S-saya tidak tahu apa maksud Anda, Tuan Reynard... Saya tidak melakukan apa-apa," gagap Hendra, suaranya nyaris hilang.
Reynard mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jangan berbohong padaku. kau ingin mengakui semuanya sekarang atau haruskah aku membuatmu menyesal telah dilahirkan?"
Hendra runtuh. Ia jatuh dari kursinya dan berlutut di lantai, memohon di kaki Reynard. "Ampun, Tuan! Saya terjepit! Perusahaan tekstil keluarga saya di ambang kebangkrutan, dan seseorang menghubungi saya. Dia menjanjikan dana segar yang sangat besar hanya untuk meminjamkan kartu itu selama satu jam."
"Siapa dia?" tekan Reynard.
"Saya tidak tahu namanya! Dia menggunakan pengubah suara dan nomor terenkripsi. Tapi dia tahu semua rahasia keuangan saya. Saya tidak punya pilihan!"
Reynard menatap pria di bawahnya dengan jijik. "Kau selalu punya pilihan. Dan kau memilih untuk menjadi pengecut." Reynard berdiri dan menatap Leonard. "Lakukan apa yang harus dilakukan."
"Baik, Tuan," sahut Leonard. Ia segera memanggil tim hukum dan keamanan.
"Dengarkan aku baik-baik," kata Reynard pada Hendra yang masih terisak. "Mulai detik ini, namamu dihapus dari daftar investor Aethelred Group. Seluruh asetmu di perusahaan ini akan dibekukan untuk penyelidikan. Dan aku pastikan, namamu akan masuk dalam daftar hitam di seluruh jaringan bisnis global. Tidak akan ada bank yang mau memberimu pinjaman, dan tidak akan ada pengusaha yang mau menjabat tanganmu. Kau tamat."
"Tuan, tolong! Anak-anak saya masih sekolah! Jangan lakukan ini!" Hendra menjerit saat petugas keamanan menyeretnya keluar untuk diserahkan ke pihak kepolisian. Namun, hati Reynard sudah sekeras batu. Di kehidupan pertamanya, ia kehilangan Annelise karena kelalaiannya sendiri. Di kehidupan kedua ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh sehelai rambut pun dari istrinya.
orang kaya mereka harus membusuk