Alzena Jasmin Syakayla seorang ibu tunggal yang gagal membangun rumah tangganya dua tahun lalu, namun ia kembali memilih menikah dengan seorang pengusaha sekaligus politikus namun sayangnya ia hanya menjadi istri kedua sang pengusaha.
"Saya menikahi mu hanya demi istri saya, jadi jangan berharap kita bisa jadi layaknya suami istri beneran"
Bagas fernando Alkatiri, seorang pengusaha kaya raya sekaligus pejabat pemerintahan. Istrinya mengidap kanker stadium akhir yang waktu hidupnya sudah di vonis oleh dokter.
Vileni Barren Alkatiri, istri yang begitu mencintai suaminya hingga di waktu yang tersisa sedikit ia meminta sang suami agar menikahi Jasmin.
Namun itu hanya topeng, Vileni bukanlah seorang istri yang mencintai suaminya melainkan malaikat maut yang telah membunuh Bagas tanpa di sadari nya.
"Aku akan membalas semua perbuatan yang kamu lakukan terhadap ku dan orang tuaku...."
Bagaimana kelanjutan polemik konflik diantara mereka, yuk ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-33
"Mungkin kita bisa cari tahu dari mulai kapan bapak melakukan pembelian alat penyadap, dari itu kita bisa tahu kapan dan dimana bapak menanda tangani nota pembelian...." ucap Lana setius tiba tiba saja, tanpa mengalihkan pandangannya dari depan mobil yang sedang ia kendarai.
"Kau benar!!!!" teriak Bu Jemi histeris, hingga ia lupa dengan kesedihan nya ditinggal kan sang suaminya, baginya saat ini benar kata Jasmin tidak ada waktu untuk berlarut dalam kesedihan, ia harus satu langkah lebih maju dari orang orang yang ingin menjadikan suaminya kambing hitam.
🦋🦋🦋🦋
Jasmin mampir pulang ke rumahnya dahulu sebelum kembali ke jakarta, ia datang pagi pagi sekali dan langsung menuju rumah Bu Netty tadi.
Namun baru saja ia dan putranya masuk beserta tiga pengawalnya sebuah pesan singkat langsung membuatnya bangkit dari duduknya dan berpamitan langsung untuk kembali.
"Kok buru buru?" tanya Bu Ijah saat melihat putrinya kembali bangkit dari duduknya untuk berpamitan.
"Maaf Bu, kayaknya Jasmin gak bisa lama lama dulu, kerjaan si mas banyak, Jasmin harus bantuin..." ucapnya pada sang ibu tanpa memberitahu yang sebenarnya.
"Ayok sayang kita pulang lagi...." ajak Jasmin seraya menarik lembut tangan putranya.
"Azzam gak mau pulangg.... Azzam mau sama nenek..." rengek Azzam saat Jasmin menarik nya untuk membawanya pulang kembali.
"Biarin aja Jas, Azzam di sini ,kamu kalo mau pulang, pulang ajah dulu bantuin suami kamu, Azzam biar sama ibu dulu..." ujar Bu Ijah yang tidak tega melihat cucunya menangis.
Jasmin cukup keberatan ia cukup takut Putranya dalam bahaya, namun saat memikirkan jika di sana jauh lebih berbahaya Jasmin akhirnya setuju saat Jovan berkata ia tengah libur bekerja jadi putranya cukup aman jika bersama Jovan.
Sekembalinya dari kampung halamannya, Jasmin buru buru masuk ke dalam rumahnya, ia ingin membersihkan tubuh lebih dahulu sebelum menemui Bagas untuk menanyakan hal yang ingin Bu Jemi ketahui.
'Cari tahu kapan tanggal pembelian alat yang suami saya beli'
Begitulah isi pesan yang membuat Jasmin buru buru kembali dari rumahnya meskipun badannya cukup lelah karena tidak beristirahat sedikitpun.
Sedangkan di sebuah rumah kecil khas pria single, seorang pria yang biasanya terlihat gagah, kini terlihat terpuruk saat sebuah fail berisi vidio cctv yang rusak kini telah pulih dan menampilkan sesuatu yang membuatnya berpikir seribu tahun, 'mengapa bisa begini? Untuk apa, dan apa alasannya?'
Bagas cukup kebingungan saat melihat di dalam cctv jika Leni yang menghancurkan barang barang bukti korupsi kementerian PUPR, padahal ia berpikir pelakunya adalah Jasmin, karena saat pertama kali mengetahui kebakaran hanya Jasmin yang bersikap tenang tanpa kepanikan apalagi tempat kamar tidur yang Jasmin tinggali cukup dekat dengan ruang kerjanya saat itu, sehingga Jasmin menjadi terduga pertama yang ia terka.
Namun lagi lagi saat ia melihat cctv dapur tepat waktu kebakaran, ia melihat mertuanya sengaja membuat kebakaran di dapur bersih, dan benar kata Jasmin jika tidak mungkin ada api sebesar itu sedangkan kompor yang terletak di dapur bersih adalah sebuah kompor listrik, karena ucapan Jasmin saat itu Bagas semakin yakin jika Jasmin juga pelaku kebakaran nya, karena mengapa bisa ia sesantai itu menghadapi kobaran api dengan sikap tenang.
"Ahhhh siallll....." Bagas mengumpat seraya memukul mukul kepalanya dengan keras, ia sangat menyesal telah berpikir negatif tentang Jasmin.
Sedangkan Jack yang melihat temannya setengah gila, hanya bisa menggeleng dan tak habis pikir, karena sikap temannya yang pilih kasih terhadap istri hingga dengan mudah ia menuduh istri yang lemah sebagai pelakunya hanya karena cara tenang istri mudanya dalam menghadapi segala hal
"Lagian gas, gak habis pikir gue sama loh, bisa bisanya loh nuduh orang hanya atas dasar kecurigaan loh yang belum tentu benar,... Dimana otak pintar loh gas? Dimana?" tanya Jack yang ikut kesal dengan pola pikir Bagas yang di luar nalar.
"Selidiki Leni, kalau bisa pantau dan ikuti dalam jarak dekat kemanapun dan apapun yang ia lakukan...." ucap Bagas beranjak dari duduknya lalu membenarkan baju yang di pakainya seraya melangkah pergi dari rumah temannya.
Dengan langkah tegap namun dengan sedikit rasa bersalah Bagas melajukan mobil yang di kendarai nya ke arah kantor tempatnya bekerja, namun entah mengapa mobilnya malah bablas dan berhenti tepat di parkiran depan apartemen yang di tempati oleh Jasmin.
Baru saja kakinya melangkah keluar dari dalam mobil, matanya menangkap sosok Andreas yang terburu-buru masuk ke dalam gedung apartemen istri nya.
Dengan langkah otomatis ia mengikuti langkah kaki sang ajudan mengikuti nya dengan hati hati, saat ini ia tidak bisa mempercayai siapapun untuk sementara sampai ia benar benar tahu siapa musuh dan siapa kawan nya.
Langkah nya berhenti tepat di pintu apartemen milik Jasmin tempat Andreas tadi masuk, pikiran nya bertanya tanya apa yang Andreas lakukan di apartemen Jasmin di pagi hari tanpa perintah nya.
Tanpa ingin berburuk sangka lagi, ia ikut masuk ke dalam apartemen setelah menekan kode pintu.
Titttt titttt titt cklekkkk
Semua mata tertuju padanya saat pintu di buka dari arah luar, tubuh Bagas seolah membeku saat bertemu tatap dengan mata milik Jasmin, tiba tiba saja otaknya ngeblank seketika tanpa bisa berpikir apapun.
"Maaf pak, saya tidak meminta izin bapak untuk datang ke rumah ibu,..."
Mendengar ucapan Andreas, tubuh Bagas tiba tiba saja bereaksi kembali, ia berdehem seraya melonggarkan dasinya yang terasa mencekik.
"Gak apa apa... Ada perlu apa kemari?" tanya Bagas seraya berjalan dengan santai lalu duduk di ujung sofa melewati Jasmin yang hanya diam dan fokus pada layar di ponselnya.
"Maaf pak saya lancang bergerak dan berpihak tanpa izin bapak..." ujar Andreas seraya menjatuhkan dirinya ke lantai dengan berlutut.
"Saya memberitahu ibu, tanggal transaksi pembelian alat penyadap yang di beli oleh Almarhum pak Jamok..." ucap Andreas lagi dengan sedikit terbata bata karena lidahnya terasa Kelu dan hampir sulit mengeluarkan kata kata.
"Saya yang meminta, jika ingin menghukum, sekalian saja tambahkan hukuman saya dengan yang kemarin..." sela Jasmin dengan dingin yang langsung membuat semua orang menganga tak percaya dengan nada bicaranya.
"Ren, berikan datanya pada Lana, minta Lana selidiki sekarang juga, lebih cepat lebih baik..." ujarnya lagi seraya bangun dari tempatnya duduk menuju kamar miliknya.
Tangan Bagas mengepal menahan rasa kesal, ia tidak terima di acuhkan oleh Jasmin yang biasanya tersenyum hangat padanya, meskipun ia tahu ia bersalah besar pada Jasmin, namun entah mengapa sikap egois nya membuat nya tak terima di perlakukan begitu oleh istri mudanya.
"Apa?!!!"
saya siap membacanya kembali