Clara Adelin, seorang gadis bar bar yang tidak bisa tunduk begitu saja terhadap siapapun kecuali kedua orangtuanya, harus menerima pinangan dari rekan kerja papanya.
Bastian putra Wijaya nama anak dari rekan sang papa, yang tak lain adalah musuh bebuyutannya sewaktu sama sama masih kuliah dulu.
akankah Clara dan Bastian bisa bersatu dalam satu atap? yuk simak alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha ayunda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai mengumpulkan bukti
Bima keluar kamar lalu menuju meja makan, mbok tun yang melihat kehadiran Bima di meja makan tersebut langsung kaget, wanita tua itu ketar ketir, takut Bima lupa akan pesannya, mau mengingatkan sudah terlambat karena Marina dan Sofyan serta Alisa dan Bagas sudah duduk di meja makan itu terlebih dahulu.
"pagi Bim, ini sarapan buat kamu." Marina langsung menyodorkan sepotong roti plus selai di dalamnya.
Mbok tun mengernyit heran, dia pikir roti di piring itu milik marina sendiri, wanita yang tengah menuangkan air ke gelas majikannya itu terlihat tegang.
"makasih ma." ucap Bima seraya menerima piring tersebut.
Sofyan dan Alisa saling pandang sesaat lalu berpura pura sibuk dengan sarapan masing masing, begitu juga dengan Bagas, pria itu memilih diam sambil menyantap roti.
"bi, tolong ambilkan aku kotak bekal, aku sarapan di jalan saja karena buru buru." ujar Bima sambil tersenyum.
"oh iya den, tunggu sebentar." sahut mbok tun yang langsung bergegas masuk ke dalam untuk mengambil kotak bekal.
"makan dulu saja bim, kamu buru buru kemana sih, ini masih pagi kok." celetuk Sofyan.
Bima tak menghiraukan ucapan pria yang sudah menghancurkan kebahagiaannya itu.
"iya nak, masih ada waktu kok." timpal Marina yang tiba tiba saja berubah lembut sikapnya.
"Bima ada janji sama teman ma." balas Bima.
"sini biar mbok yang siapkan." mbok tun mendekat lalu menaruh roti tersebut ke dalam kotak bekal makanan.
"makasih mbok." ucap Bima seraya bangkit berdiri.
Setelah menerima kotak bekal Bima langsung ngeloyor pergi tanpa pamit terlebih dahulu, mbok tun yang melihat itu pun langsung tergopoh gopoh mengejar Bima dengan alasan akan membukakan pintu pagar.
"ma, apa racun itu kan langsung membuat Bima tumbang?." tanya Alisa setelah memastikan di ruang makan itu tidak ada siapa siapa kecuali mereka berempat.
"Tidak Alisa, racun itu bekerja cukup lambat, kamu yang sabar ya!."
"ck! kenapa nggak pake yang keras si ma!." proses Alisa.
"iya ma, aku juga sudah muak melihat dia, apalagi di kantor dia itu sok kuasa!." timpal Bagas.
"nggak bisa begitu, kalau ada apa apa dengan Bima, apalagi gak wajar, otomatis kita yang kena." Sofyan ikut angkat bicara.
"kalian tenang saja, dalam waktu dua bulan kondisi kesehatan Bima akan menurun, dan dia akan sakit sakitan seperti bapaknya hahahaha....." imbuh Sofyan yang di akhiri dengan gelak tawa penuh kemenangan.
"beneran begitu?." tanya Alisa dan Bagas hampir bersamaan.
"ya! Mamamu juga menggunakan racun yang sama untuk menyingkirkan si Handoko waktu itu."
Marina tersenyum sambil mengambil gelas miliknya, kini di pikiran wanita itu hanya satu, menyingkirkan Bima demi keinginan anak tirinya, yaitu Alisa yang ia pikir akan bisa menjadi tumpuan harapan di masa tuanya kelak.
****
Semen itu Bima tidak langsung ke kantornya, dia pergi ke rumah salah seorang temannya yang berprofesi sebagai ahli kimia di sebuah laboratorium.
"wah! Tumben banget seorang Bima mau datang berkunjung ke rumah ku." kelakar Andre sambil menjabat tangan teman lamanya itu.
"ya, gue kesini mau minta bantuan sama loe." ucap Bima seraya duduk di sofa.
"bantuan apa itu?." tanya Andre yang sudah paham, Bima tidak suka berbasa basi.
"gue sedang ada masalah sama keluarga baru nyokap gue, gue dapat info dari salah satu pelayan di rumah, katanya nyokap sama bapak tiri gue berusaha untuk nyingkirin gue."
"what? Serius seperti itu bro?." Andre terperanjat kaget mendengar ucapan Bima.
"ya, bahkan kematian bokap gue juga karena ulah mereka, ini gue bawa sampel makanan, tolong loe periksa, ada kandungan racunnya atau tidak." buka mengeluarkan kotak bekal makanan dari paperbag yang ia bawa dari rumah.
"gila bener bro, apa loe juga berencana membongkar makam bokap loe?." tanya Andre yang masih terlihat kaget.
"Tidak ndre, gue gak bakalan ngusik makam bokap gue, tapi kalau terbukti makanan ini mengandung racun, gue akan buat mereka menderita perlahan lahan!." sahut Bima dengan rahang mengerat.
"oke, gue bakal bantuin loe bro! Jangan khawatir!."
"thanks ndre, kabarin gue kalau sudah ada hasil dari makanan itu."
"pasti!." balas Andre seraya menyimpan kembali kotak makanan itu ke dalam paperbag untuk ia bawa ke laboratorium.
"oke deh, gue pamit dulu." Bima beranjak dari tempat duduknya.
"Bim, gue penasaran sama keluarga Lo yang tega banget itu, dan juga tentang om Handoko."
"kapan gue bisa tau hasil tes makanan itu?." Bima balik bertanya.
"entar sore juga sudah bisa."
"Ya udah entar kita ketemuan, gue ceritain apa yang terjadi sama gue dan bokap gue sebelum beliau meninggal dunia."
"siap!." balas Andre seraya ikut beranjak lalu keluar rumah untuk mengantar Bima ke halaman rumahnya.
"gue cabut dulu." ujar Bima setelah masuk ke dalam mobil.
Andre melambaikan tangan sambil tersenyum ke teman lamanya tersebut, sedangkan Bima sendiri langsung meluncur menuju kantor.
sesampai di kantor, Bima berpapasan dengan Bagas yang terlihat tergesa gesa masuk ke ruangan Alisa, pria itu terlihat panik sambil berjalan dengan langkah terburu buru.
"mas Bima." tegur PK Adam yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"eh pak Adam, maaf saya datang terlambat, ada sedikit keperluan di luar."
"tidak apa apa mas, mari ke ruangan anda, saya ingin berbicara sebentar." ucap pak Adam.
"baik pak, mari." sambut Bima seraya melangkah ke arah ruangannya.
Mereka pun masuk lalu duduk di sofa yang terletak di ruang kerja Bima.
"ada apa pak, sepertinya ada sesuatu hal yang penting?." tanya Bima.
"betul sekali mas, sesuai arahan anda, saya sudah mulai merombak aturan dan beberapa karyawan yang terindikasi terlibat dalam pembobolan uang perusahaan, dan sekarang ada dua karyawan yang saya jamin bisa kita andalkan."
"Meraka akan mengawasi data data penting termasuk soal keuangan kantor, mas Bima tidak perlu khawatir lagi tentang uang perusahaan, Bagas dan Alisa tidak akan bisa lagi mengakses informasi barang secuil pun, termasuk keuangan perusahaan kita." imbuh pak Adam.
"terimakasih pak, saya percayakan semua ke pak Adam, karena mungkin untuk beberapa waktu ke depan saya akan sangat sibuk dengan urusan keluarga mama saya." balas Bima Seraya tersenyum puas.
"apa anda sedang dalam masalah mas?." pak Adam bertanya dengan nada penasaran sekaligus prihatin dengan anak sahabatnya itu.
"iya pak, ada informasi terbaru yang sangat mengejutkan, ternyata mama sendiri dalang di balik kematian papa."
"apa? Anda mendapatkan informasi tersebut dari mana?." pak Adam tampak terkejut.
"dari seseorang yang sangat bisa saya percaya, bahkan ada lagi yang sangat mengejutkan pak, mama saya juga sedang berusaha menyingkirkan saya demi anak tirinya itu." jelas Bima, pria tampan itu tersenyum kecut mengingat nasibnya yang cukup buruk.
"apa benar Bu Marina Setega itu mas? Kok rasanya sulit di percaya!."
"awalnya saya juga berpikiran seperti anda pak, tapi pagi ini saya sudah mendapatkan sebuah bukti yang cukup mencengangkan."
Bima membuka layar ponselnya lalu menyodorkan ke pak Adam, Bima diam diam sudah memasang cctv di setiap ruangan yang memungkinkan di jadikan tempat berkumpul mama dan keluarganya.
Dan percakapan mereka tadi pagi di meja makan cukup membuat Bima terkejut, pak Adam melihat video dari rekaman cctv itu dengan wajah tegang, sesekali pria paruh baya itu menggeleng gelengkan kepala.
"mas, sebaiknya anda segera pergi dari rumah itu, masih ada beberapa rumah lagi yang bisa anda tempati." ucap pak Adam dengan mimik wajah khawatir.
"Tidak pak, saya masih ingin melihat permainan mereka secara langsung, jika saya pergi otomatis mereka akan semakin leluasa menguasai rumah tersebut, meskipun saya tidak membutuhkan rumah itu lagi tapi saya akan merebut dari mama."
"jadi apa yang akan anda lakukan ke depannya?." tanya pak Adam.
"saya sedang menunggu hasil lab sampel makanan yang tadi pagi mama berikan untuk saya, jika terbukti makanan itu mengandung racun, saya akan memulai permainan saya yang sesungguhnya." jawab Bima lalu tersenyum penuh arti.
"saya percaya sama mas Bima, tapi pesan saya, mas Bima tolong berhati hati karena Sofyan dan anaknya itu sangat licik."
"iya pak, saya mengerti."
Setelah dirasa cukup perbincangan tersebut, pak Adam pun pamit undur diri karena masih banyak pekerjaan yang menanti di ruangannya, Bima pun juga langsung bekerja seperti hari hari sebelumnya.