Di semesta tanpa akhir, tempat miliaran ras tak berujung hidup berdampingan, berdiri banyak kekuatan tertinggi yang menguasai aliran reinkarnasi, berbicara langsung dengan Dao Agung, dan menekan seluruh era tanpa batas. Di antara semua kekuatan itu, hanya beberapa yang benar-benar mengguncang seluruh multisemesta.
Rumah Ilahi Ungu, sebuah kekuatan misterius dengan aura tak terbandingkan, hanya dengan sedikit gerakan saja mampu membuat tak terhitung banyaknya semesta bergetar ketakutan.
Keluarga Gu, keluarga kuno yang menyimpan rahasia tabu paling menakutkan. Mereka mengendalikan rahasia yang menekan seluruh era, dari masa lalu hingga masa depan.
Sekte Pedang Wuji, penguasa Dao Pedang tertinggi. Sekali pedang mereka terhunus, surga dan neraka tak terhitung jumlahnya gemetar dan bertekuk lutut.
dan anak muda bernama lu feng memiliki peradaban yang mengguncang seluruh multisemesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wusan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di serang binatang tingkat raja yao
Napas kedua wanita cantik itu menjadi berat.
Mata mereka mulai berkaca-kaca, menatap Lu Feng dengan tatapan membara.
Su Meiyao kehilangan kendali lebih dulu.
Ia memeluk Lu Feng dengan erat.
Bibirnya yang lembut dan berair, harum memikat, mulai mencium kepala Lu Feng dengan sengit.
Tak lama kemudian, Su Meiyao menahan wajahnya dan mencium bibirnya.
Bibir lembut yang menggoda itu menempel di mulut Lu Feng.
Ia merasakan embun manis, harum, dan memukau.
Su Meiyao berada dalam setengah sadar, dia seperti menemukan benua baru.
Ia mencium lagi, lebih dalam.
Lidahnya masuk ke mulut Lu Feng.
Lu Feng merasakan lidah harum itu berputar-putar.
Tanpa sadar, ia tak mau kalah dan membalasnya.
Aneh, Su Meiyao menerimanya, bahkan terlihat menikmatinya.
“Sialan!”
Lu Feng mendorongnya dengan kasar.
“Sial, wanita! Jangan sentuh aku!”
Ia ingin melawan, namun tiba-tiba pinggangnya ditahan oleh tangan putih giok yang lembut.
Kepala wanita berambut perak menempel di perutnya, memeluk erat.
Bai Youyou mengangkat wajahnya.
Matanya memerah, nadanya rendah.
“Nak, kalau sampai kau memperlakukan kami dengan buruk, awas saja.”
Tatapan Bai Youyou dipenuhi kesedihan dan kegilaan.
Ia mulai mencium perut Lu Feng melalui pakaiannya, berusaha membukanya.
Lu Feng merasakan rasa sakit dan kenikmatan bercampur.
Untungnya, pakaiannya adalah baju nano teknologi, sulit untuk dibuka.
“Pingsan sana.”
Lu Feng menekan leher mereka dan menepuknya masing-masing sekali.
Su Meiyao dan Bai Youyou merasakan tubuh mereka melemas.
Keduanya pingsan bersamaan.
“Huh…”
Lu Feng menghela napas panjang.
Wajahnya masih dipenuhi aroma ciuman wanita, tubuhnya dipenuhi wangi lembut mereka.
Harus diakui, tubuh kedua wanita itu harum seperti bunga abadi.
Roar!
Suara binatang buas tiba-tiba menggema, menyebar sejauh sepuluh ribu mil.
Lu Feng langsung merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Ia menoleh ke belakang.
Dalam pemindai inderanya, tampak seekor binatang buas berukuran ribuan meter sedang mencoba menerobos gunung besar setinggi puluhan ribu meter.
Makhluk itu jelas merasakan aura kedua wanita yang jatuh dari langit.
Makhluk itu berwujud harimau bertanduk.
“Oh?”
“Binatang tingkat Raja Yao.”
Lu Feng tersenyum tipis.
Harimau bertanduk itu akhirnya berhasil menembus gunung.
Begitu melihat ke dalam, ia menemukan tiga manusia.
Raungannya mengguncang ruang, niat membunuh meledak saat ia menerjang.
Lu Feng membuka tinjunya perlahan.
“Ayo bermain.”
Bang!
Ledakan sonik menggema.
Gelombang kejut meruntuhkan gunung, bebatuan beterbangan ke segala arah.
Lu Feng dan harimau itu saling bertukar pukulan.
Lu Feng jelas menahan diri, setiap langkahnya terukur.
Di tanah, Bai Youyou dan Su Meiyao telah sadar.
Mereka membuka mata, lalu refleks menunduk memeriksa diri.
Tubuh mereka dipenuhi jejak sentuhan sebelumnya.
Rasa malu langsung menyeruak.
Namun keduanya diam-diam menghela napas lega—keperawanan mereka masih utuh.
“Anak itu…”
“Dia tahu menahan diri…”
Meski begitu, pikiran tentang sentuhan itu membuat wajah mereka memerah.
Tiba-tiba pandangan mereka tertuju ke depan.
“Dia melawan harimau itu?”
“Itu… ukurannya ribuan meter!”
Su Meiyao panik.
“Adik kecil! Kau cari mati?”
“Kembali ke sini! Itu Raja Yao!”
Baginya, Lu Feng hanyalah Pemurnian Qi.
Melawan Raja Yao berarti kematian.
Namun di hatinya muncul perasaan aneh.
Sejak kejadian tadi, bayangan Lu Feng seakan terukir tanpa sadar.
Bai Youyou tetap dingin, tetapi kegelisahan tak bisa disembunyikan.
Bagi dirinya, Lu Feng sudah melihat dan menyentuh hal yang paling dijaga seorang wanita.
Ia telah menerimanya di dalam hati, hanya saja harga diri menahannya untuk mengaku.
Lu Feng merasakan mereka telah sadar.
“Hah…”
“Syukurlah.”
Ia menatap kembali harimau bertanduk itu.
Senyum tipis muncul.
Tangan kanannya bersinar transparan.
“Gravity Knuckle.”
Boom!
Harimau itu tercengang.
Tubuh raksasanya terlempar ribuan mil, kepalanya hancur seketika.
Lubang hitam muncul di atas tubuhnya, menghisap semuanya tanpa sisa.
Mati.
Tanpa suara.
Tanpa kesempatan.
Bai Youyou dan Su Meiyao membeku.
“Anak ini…”
“Dia menyembunyikan kekuatannya.”
Lu Feng muncul di depan mereka, menatap sinis.
“Sudah sadar?”
Kalimat itu membuat wajah mereka memanas.
“Kau bocah!”
“Sudah melihat dan menyentuh kami, masih berani bicara begitu!”
Bai Youyou mendengus marah.
Su Meiyao tersenyum lembut, namun matanya berbahaya.
“Hehe… adik kecil.”
“Kau harus bertanggung jawab.”
“Kau pria pertama yang melihat tubuh kami.”
“Bahkan menyentuhnya.”
“Kalau reputasi kami bocor, kau juga kena imbas.”
“Kakak tidak bercanda.”
“Para pelamar kami?”
“Bahkan satu alam semesta bisa mengantre.”
Ia mengangkat tangan, membentuk isyarat seperti gunting, senyumnya semakin tipis.
“Kalau kau tidak mau bertanggung jawab…”
“Kakak terpaksa memotong kaki ketigamu.”
Lu Feng malas menjawab dan hanya mengangguk.
“Baiklah, baiklah. Kalian berpakaian dulu.”
“Tapi kami tidak punya pakaian,”
Su Meiyao mendengus manis.
Lu Feng membuka telapak tangannya.
Nano-teknologi menyebar, melayang seperti debu cahaya, lalu menutupi tubuh kedua wanita itu.
Dalam sekejap, terbentuk gaun indah—merah menyala untuk Su Meiyao dan biru dingin untuk Bai Youyou.
“Wah, sungguh ajaib,”
Su Meiyao berkata gembira.
Ini pertama kalinya ia melihat teknologi seperti itu.
Bai Youyou juga menatap gaun di tubuhnya dengan sedikit rasa ingin tahu.
“Sudah. Tubuh kalian tertutup nano-teknologiku,”
Lu Feng berkata datar.
“Kalian bukan dari dunia ini, kan?”
Bai Youyou menjawab tenang,
“Kami memang bukan dari dunia ini.”
“Kami terlempar ke sini setelah bertarung dengan Iblis Surgawi.”
“Iblis Surgawi?”
Lu Feng mengangkat alis.
“Itu apa?”
“Hmph.”
“Kau tidak perlu tahu sekarang,”
Bai Youyou mendengus.
“Latih dirimu sampai tingkat tertentu, baru kau akan mengerti.”
Tiba-tiba, gelombang panas dahsyat menyapu langit.
Awan terbelah, dan bayangan api berbentuk phoenix muncul, membakar kehampaan.
“Itu—”
“Api surgawi?”
Su Meiyao berseru penuh semangat.
Bai Youyou mengangkat kepala dengan ekspresi serius.
“Api Phoenix Abadi,”
“Api peringkat surgawi, tingkat empat.”
“Langka di seluruh alam semesta.”
“Adik kecil,”
Su Meiyao berkata bersemangat,
“Ambil api itu.”
“Kalau berhasil, kau akan mendapat manfaat besar.”
“Oh?”
“Baiklah,”
Lu Feng mengangguk.
“Tapi kalian bagaimana?”
“Kami?”
Su Meiyao tersenyum misterius.
Tubuhnya dan Bai Youyou perlahan memudar.
“Hei—”
“Adik kecil,”
suara Su Meiyao terdengar samar,
“kami ada di dalam jiwamu.”
Lu Feng terkejut.
Kesadarannya masuk ke ruang jiwa—di sana terdapat ruang aneh, dan di dalamnya Bai Youyou serta Su Meiyao berdiri menatapnya.
“Menarik,”
Su Meiyao berkata heran.
“Kau manusia fana, tapi bisa memiliki Pemurnian Qi.”
“Dantian seorang manusia biasa?”
“Bagaimana caranya?”
Bai Youyou menambahkan dengan nada serius,
“Qi spiritualmu seluas Raja Agung.”
“Tapi kedalaman dan kepadatannya setara alam Hidup dan Mati.”
“Ini tidak normal.”
“Hei,”
Lu Feng berteriak,
“jangan macam-macam di dalam jiwaku.”
“Hmph,”
Bai Youyou mendengus dingin.
“Kau sudah melihat dan menyentuh tubuh kami.”
“Kenapa kami tidak boleh melihat jiwamu?”
Su Meiyao terkikik manis, lalu berhenti mengamati.
Lu Feng menarik napas, lalu membuka lubang hitam.
Tubuhnya melesat, melintasi ratusan juta mil.
Seratus tarikan napas kemudian, ia berdiri di puncak gunung.
Di kejauhan, sekitar sepuluh ribu li, api berbentuk phoenix terbang mengitari puncak gunung lain.
“Kwak—”
Jeritan indah bergema di langit.
“Cantik sekali,”
Su Meiyao berseru dari dalam jiwa.
“Api Phoenix Abadi.”
“Adik kecil,”
lanjutnya ceria,
“kalau kau berhasil menguasainya—”
“kakak akan mengajarkanmu cara membuat pil.”
“Kau bisa menjadi alkemis.”
“Kakak Meiyao seorang alkemis?”
Lu Feng terkejut.
“Hehe,”
Su Meiyao mengangkat dagu halusnya dengan bangga.
“Kakak bukan sombong.”
“Kakak hanya menyatakan fakta.”
“Kakak adalah alkemis tingkat dewa.”